
Sudah dua hari Joe Luntang-lantung di jalanan tanpa ada tujuan yang jelas.
Sudah berbagai macam tempat yang dia kunjungi. Tidak jarang Joe mencoba untuk tidur di kaki lima dan berbaur dengan pemulung, pengamen, bahkan dengan anak-anak jalanan lainnya. Benar-benar kurang kerjaan.
Hari ini, Joe mengunjungi kota Batu. Dia dulu pernah mendengar bahwa di bukit batu, tepatnya sebelum memasuki kawasan elite di bagian bukit batu, terdapat salah satu dari dua universitas ternama di kota ini.
Kini, dia ingin mengamati seperti apa universitas tersebut, dan sekaligus ingin melihat-lihat apakah dia bisa melanjutkan pendidikannya di tempat itu atau memilih kota Kemuning saja.
Berjalan layaknya seperti seorang gelandangan, Joe kini memasuki gerbang kampus tersebut dimana di sana tertera bacaan, 'SELAMAT DATANG DI UNIVERSITAS KOTA BATU' tersebut.
Setelah mendapat izin dari pak Security, Joe pun kini dapat dengan leluasa melihat-lihat disekitaran kampus tersebut.
"Hmmm... Sepertinya di sini sangat bagus untuk melanjutkan pendidikan. Aku akan menyewa salah satu rumah di kondominium bukit batu. Eh tidak. Kondominium terlalu mewah. Sebaiknya rumah kontrakan saja," gumam Joe dalam hati.
Joe kini mengeluarkan ponselnya miliknya dan mulai menghubungi seseorang.
Tut... Tut... Tut..!
"Hallo Tuan muda," sapa satu suara dari seberang sana.
"Tuan Baron! Apakah anda sudah mengurus surat pindah ku dari Globe's University?" Tanya Joe kepada orang yang dia hubungi tadi.
"Sudah, Tuan muda. Apakah ada lagi yang harus saya kerjakan?" Tanya Joe.
"Ya. Tentu saja aku mengharapkan agar anda segera mengirim surat pindah tersebut ke kota Kemuning. Anda bisa mengirimkan ke alamat, Kompleks elite. Selengkapnya, akan aku kirim sebentar lagi," kata Joe.
"Baiklah, Tuan muda. Saya akan segera mengirimkan kepada anda. Oh ya, di mana Anda akan melanjutkan pendidikan anda?" Tanya Tuan Baron.
"Di kota Batu. Hanya saja, anda jangan kelepasan bicara ya! Aku tidak ingin ada lagi yang mengetahui kemana aku melanjutkan pendidikan. Anda mengerti, Tuan Baron?"
"Saya mengerti, Tuan muda!"
"Baiklah! Kita akhirnya dulu panggilan ini. Aku akan segera mengirim alamatnya. Anda bisa langsung bersiap-sedia untuk mengirimkan segala sesuatu yang aku butuhkan sebagai mahasiswa pindahan!"
"Dengan senang hati, Tuan muda!"
Joe memasukkan kembali ponselnya lalu berjalan ke arah taman dan duduk di sana.
"Hmmm. Lumayan teduh juga di sini. Tapi yang namanya tempat baru, aku kembali harus menyesuaikan diri dengan keadaan. Mencari sahabat baru. Bahkan mungkin akan menemukan musuh baru," kata Joe lagi dalam hati.
Setelah puas melihat-lihat, dan berpapasan dengan beberapa mahasiswa yang memandang heran kepada dirinya, Joe pun akhirnya menetapkan hatinya untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Kota Batu sebagai mahasiswa pindahan dari Globe's University Quantum City.
*********
"Namora. Kamu di mana?" Tanya Joe melalui pesan WhatsApp.
"Ketua.., saya saat ini berada di rumah dinas milik Paman Rio," jawab Namora.
"Hilangkan sebutan sialan itu! Apa kau lupa kau harus menyebut aku dengan sebutan nama saja?" Kata Joe menegur.
"Maafkan aku Joe! Oh ya. Kamu ada di mana sekarang?"
"Kau yakin Joe? Tiara juga kuliah di sana,"
"Apa? Kau tau dari mana?" Tanya Joe sambil terbelalak menatap layar ponselnya.
"Selama Ayah ku digembleng oleh Kakek Tengku Mahmud di Kuala Nipah, dia tau bahwa Tiara sudah kuliah. Bahkan, mungkin saja dia akan jadi senior kita," kata Namora.
"Ah sialan. Tapi tidak apa-apa. Ini akan menjadi sesuatu yang seru. Oh ya?! Jika kau tidak sibuk, kau harus menjemput aku di sini. Aku masih belum terlalu faham kawasan kota Batu ini,"
"Baik. Dengan senang hati saya akan menjemput anda. Jangan pergi kemana-mana ya! Takutnya nanti anda nyasar!" Balas Namora becanda.
Joe hanya membalas pesan Namora tersebut dengan emoji ketawa.
Tak lama setelah itu, satu sepeda motor Yamaha R1 pun berhenti di depan kampus tersebut. Dan setelah membuka helmnya, baru lah Joe tau kalau itu adalah Namora.
"Wah. Bagus sepeda motor mu?!" Kata Joe sambil mengelilingi sepeda motor bertenaga besar itu sambil berdecak kagum.
"Jangan mengejek ku, Joe. Sepeda motor ini adalah warisan dari Ayah ku. Katanya dulu, sepeda motor ini adalah pemberian dari Boss nya bernama Martin. Ketika Ayah ku di dalam penjara, hanya motor ini yang aku ketahui adalah peninggalan darinya,"
"Jujur saja bahwa ini sangat bagus. Aku ingin punya seperti ini. Oh tidak. Itu terlalu mencolok. Aku ingin menjadi mahasiswa yang cupu, culun, dan layaknya seperti seorang kutu buku. Pakai kacamata bulan dan tebal, lalu berpura-pura ketakutan ketika dibentak oleh mahasiswa yang lainnya. Pasti seru," kata Joe sambil membayangkan bagaimana nantinya dia diperlakukan oleh orang-orang disekitarnya.
"Entah ulah apa lagi yang akan dilakukan oleh Tuan muda dan ketua yang sedeng ini?!" Kata Namora dalam hati.
"Kau jangan memaki ku dalam hati, Namora!"
"Uhuk uhuk uhuk. Maafkan aku Joe!" Kata Namora mendadak batuk.
"Ya sudah. Aku dapat menebak wajah orang dingin seperti dirimu. Tapi ingat Namora! Kau di sini cukup terkenal. Selain sebagai anak Paman Tigor yang terkenal di berbagai kota, kau juga keponakan dari seorang pegawai polisi yang berpangkat tinggi. Bersikaplah seolah-olah kita tidak kenal!"
"Saya mengerti. Anda tenang saja. Saya mengetahui seperti apa anda menyelesaikan setiap permasalahan yang anda hadapi. Bahkan, otak ku pun tidak dapat menyelami pemikiran anda yang terlalu dalam. Saya menyerah. Bahkan jika anda perintahkan kepada saya untuk mencabut ke laut pun, saya akan menuruti saja," ujar Namora bersungguh-sungguh.
"Kau terlalu merendah. Sebenarnya, pengalaman adalah guru yang paling berharga dalam hidup. Aku terlalu banyak menghadapi berbagai macam ancaman dan siasat. Andai kau berada di posisi ku, kau mungkin akan sama. Yang jelas, bisa memposisikan antara rasa takut dan keberanian. Bisa membaca situasi, kapan kau harus menjadi besi, dan kapan kau harua menjadi karet. Namun, yang paling jelas adalah, aku tidak akan bisa sendirian. Aku pasti akan membutuhkan dirimu. Terbukti bahwa seringkali aku gagal dalam sebuah rencana. Kadang, aku merencanakan seperti ini. Tapi pada akhirnya, semuanya berubah menurut situasi. Kau bersiap-siap saja!"
"Saya selalu siap setiap saat."
"Bagus! Aku tau bahwa kita bisa berkolaborasi dengan baik."
"Apakah anda akan mendaftar besok? Saya rasa sangat tanggung. Besok hari Sabtu."
"Hari Senin saja. Karena, besok aku akan mengadakan pertemuan di kota Kemuning. Ada beberapa hal yang harus di bahas. Kau jangan ikut! Karena, aku akan meninjau beberapa proyek di kota Kemuning, kota batu dan gang Kumuh,"
"Baiklah. Ayo kita berangkat sekarang! Kau sudah seperti gelandangan benaran. Salut sama Tuan muda somplak yang satu ini," kata Namora. Dia ingin tertawa. Tapi dasar Namora. Dia sama sekali tidak bisa tertawa.
"Eh. Tunggu dulu! Apa itu somplak?" Tanya Joe.
"Anda cari saja artinya di Google!" Jawab Namora lalu segera menyalakan mesin motornya.
Bersambung...