
Bandara internasional Starhill.
Seorang pemuda menggunakan masker tampak berjalan dengan santai menuju pos pemeriksaan.
Setelah selesai dan lolos pemeriksaan, pemuda itu berjalan melenggang meninggalkan bandara menuju ke pangkalan taksi.
Setelah mengatakan bahwa tujuannya adalah Mountain Slope dan di setujui oleh sang sopir, pemuda itu pun memasuki taksi tersebut dan mulai meninggalkan kawasan bandara internasional Starhill menuju ke sebuah perkampungan besar bernama Mountain Slope yang terletak sekitar delapan atau tujuh jam perjalanan dari Starhill ini.
Ketika itu sudah pukul sembilan malam. Jika tidak ada halangan, maka pemuda yang diantar oleh taksi tersebut akan tiba di Mountain Slope sekitar pukul empat atau lima subuh.
Tidak ada pilihan lain baginya selain menyetujui ongkos yang terbilang sangat mahal karena sang supir meminta bayaran ekstra berhubung kesulitan perjalanan malam serta jarak waktu yang akan mereka tempuh.
***
Subuh itu, tepat hampir pukul 5, taksi yang membawa pemuda itu sudah memasuki kawasan perkampungan pinggir sungai dan bukit itu.
Ketika sudah memasuki area pabrik penggilingan padi, sang sopir pun membangunkan pemuda itu.
"Anak muda. Kita sudah sampai di Mountain Slope. Di mana alamat yang akan anda tuju agar saya bisa mengantar anda tiba di alamat tersebut." Kata sang sopir.
"Oh. Maaf pak. Saya ketiduran. Tidak apa-apa. Saya turun di sini saja. Apakah anda menerima pembayaran selain tunai?" Tanya pemuda itu.
"Oh. Anda bisa membayar melalui Transfer." Kata Pak sopir sambil menunjukkan Koda QR kepada pemuda itu.
Pemuda itu tanpa banyak bicara lagi langsung memindai/scanner barcode tersebut lalu pembayaran pun berhasil.
"Terimakasih pak. Saya turun di sini saja." Kata pemuda itu.
"Sama-sama." Jawab Sang sopir lalu membantu membukakan pintu untuk pemuda tersebut.
Setelah taksi itu bergerak untuk kembali ke Starhill, barulah pemuda itu membalikkan tubuhnya lalu segera berjalan menuju ke salah satu gang kemudian memasuki gang tersebut.
Pemuda itu berhenti di salah satu rumah milik warga di Mountain Slope ini lalu berfikir sejenak apakah dia langsung mengetuk pintu atau menunggu saja pemilik rumah tersebut bangun dari tidurnya. Namun karena tidak sabaran, dia langsung saja mengetuk pintu rumah tersebut.
Tok tok tok!
"Harvey. Apakah kau sudah bangun?" Tanya pemuda itu sambil mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban.
Pemuda itu kembali mengetuk pintu.
Tok tok tok!
"Harvey. Ini aku Joe. Jika kau sudah bangun, bukakan pintu!" Kata pemuda yang ternyata adalah Joe itu sekali lagi.
Kreeet!
Suara pintu ketika di buka lalu muncul seseorang dari dalam sambil mengucak matanya.
"Siapa?" Tanya pemuda yang baru saja membukakan pintu itu.
Tak lama kemudian keluar sepasang lelaki setengah baya dari dalam kamar lalu meninjau kebagian depan pintu.
"Salam untuk anda Bibi dan Paman." Kata Joe memberi hormat.
"Kau kenal orang ini Vey?" Tanya lelaki setengah baya itu.
"Entahlah Ayah. Memang sepertinya aku pernah melihat orang ini. Tapi mengapa berbeda sekali?" Kata Harvey sambil terus memperhatikan Joe yang juga tak kalah herannya.
"Ada apa dengan ku?" Pikir Joe dalam hati.
Lama dia berfikir sampai dia teringat bahwa Tengku Mahmud kemarin berkata jika dia telah mengubah penampilan Joe sedikit dekil dan memiliki kulit hitam dan sangat kusam berkat ramuan yang dilumuri oleh Tengku Mahmud di seluruh tubuh badan nya.
Awalnya Joe hendak menangis melihat perubahan pada kulit nya itu. Tadinya dia berharap bisa seperti Sharukh Khan, mala kini penampilan dirinya nyaris seperti gembel. Tentunya gembel elite.
"Harvey. Kau tidak mengenali aku lagi? Ini aku sahabat mu ketika sekolah dasar dan sekolah menengah. Aku Joe. Joe William!" Kata Joe sambil menegaskan kembali siapa dirinya.
"Sepertinya iya. Tapi mengapa kau begitu hitam dan dekil sekali?" Tanya Harvey.
"Sering berjemur di pantai." Jawab Joe singkat.
"Di mana Lilian?" Tanya Joe kepada Harvey.
"Sebaiknya suruh masuk saja sahabat mu itu Vey! Kita bicara di dalam saja!" Kata Ibu Harvey lalu mendahului berjalan ke ruang tengah.
"Lilian ada di rumah neneknya. Nantilah aku suruh dia kemari jika sudah terang." Kata Harvey.
"Apa benar kamu ini Joe William anak Tuan besar Jerry William? Jangan mengaku-ngaku. Nanti aku laporkan kau ke polisi." Ancam Ayah Harvey dengan tatapan penuh selidik.
"Ya ampun Paman. Ini aku Joe William. Jika tidak percaya, ini Pasport ku. Lihat saja sendiri!" Kata Joe sambil menyerahkan pasport nya kepada ayah Harvey.
"Oh ternyata benar." Kata ayah Harvey sambil menunjukkan paspor milik Joe kepada Istrinya.
"Maafkan kami Tuan muda." Kata Ibu Harvey sekalian mewakili suaminya juga.
"Aku pulang karena ingin menyelesaikan masalah antara keluarga Lilian yang ditindas oleh Mario, Charles dan Milner. Kau mau ikut Vey?" Tanya Joe.
"Iya boleh juga tuh." Jawab Harvey sambil memperhatikan Joe yang mulai mengirim pesan suara kepada seseorang.
"Kakek Jeff. Aku sudah tiba di Mountain Slope. Tepatnya di rumah keluarga Harvey. Jika kakek berada di kawasan ini, segera temui aku!" Kata Joe mengirim pesan suara melalui aplikasi WhatsApp.
Saat itu pagi baru terang-terangan tanah ketika tiga unit mobil Mercedes Benz S-class parkir di depan rumah Harvey.
Dari dalam mobil tampak Jeff, Regan, Arslan, Riko, Herey dan Black keluar dari mobil.
Melihat pentolan organisasi Dragon Empire dan Tiger Syam berdatangan secara bersamaan seperti ini, tentu lah masalah yang mereka tangani kali ini bukan masalah biasa.
Kehadiran tujuh orang yang sangat berpengaruh di Metro City, Starhill, Country home, New Village, dan Mountain Slope ini di rumahnya membuat Ayah dan Ibu Harvey gemetaran juga.
Mereka baru menarik nafas lega ketika Joe menyuruh mereka untuk biasa-biasa saja dan bersikap tenang.
"Ketua. Kami telah sampai. Apakah anda ada perintah untuk kami?" Tanya kakek Jeff yang sedikit mengernyitkan kening melihat penampilan Joe yang sangat berbeda dari yang dia temui kemarin malam di Kuala Nipah. Hanya karena kalung yang sengaja dikeluarkan oleh Joe lah yang membuat dia mengenali pemuda dekil yang kusam itu.
"Kakek. Bagaimana dengan orang-orang yang kau kirim untuk mengintai orang-orang yang menjual nama organisasi Dragon Empire?" Tanya Joe.
"Kami sudah menyelidiki dan semua yang terlibat sudah diidentifikasi. Mereka berjumlah tiga puluh orang dan memang mereka ini adalah anggota yang baru di rekrut dari kawasan Garden Hill?" Jawab Jeff.
"Siapa yang bertanggung jawab atas perekrutan anggota baru dalam organisasi?" Tanya Joe langsung bangkit berdiri.
Melihat Joe sudah seperti itu, Arslan dan Riko segera menjatuhkan diri berlutut.
"Maafkan kami ketua, karena ketidakbecusan kami dalam merekrut anggota." Kata mereka berdua.
"Kalian berdua akan mempertanggung jawabkan semuanya nanti di Starhill. Biar semuanya bisa menjadi contoh bagi siapa saja yang berada di dalam organisasi. Tindakan tegas perlu di ambil."
"Kalian semua harus berada besok di," Joe berfikir sejenak lalu bertanya. "Kek. Kantor besar milik ayah ku di mana?"
"Oh. Ada di Starhill, Ketua. Tepatnya di Mountain Lotus." Jawab Kakek Jeff.
"Hehehe. Maaf aku tidak tau itu. Terlalu lama merantau." Kata Joe sambil nyengir.
Sejenak wibawa yang tercipta tadi mendadak hilang. Kini dia harus memulai lagi dari awal.
"Kalian semua besok harus berada di Mountain Lotus tepatnya di kantor besar Future of Company. Kita akan membahas ini secara bersamaan. Ingat! Jangan sampai bocor. Aku tidak segan-segan menyumbat mulut orang yang membocorkan rencana ini dengan tanah." Kata Joe dengan tatapan mata penuh pancaran kematian.
"Kami mendengar perintah!" Kata mereka serentak.
"Sekarang aku sedang menunggu sahabat ku yang keluarganya ditindas oleh sampah-sampah ini. Ketika aku sudah mendengar semuanya dan selesai mengatur rencana, kita akan kembali ke Starhill." Kata Joe sambil memasukkan kembali kalungnya ke dalam baju.
BERSAMBUNG...