
Malam itu, kedua orang beda usia saling berhadap-hadapan dengan fikiran serta fokus yang tertuju kepada masing-masing orang.
Dengan di sinari lampu yang terbuat dari obor minyak tanah, kini Joe mengeluarkan jarum perak dari sebuah kotak peti lalu menimang-nimang jarum tersebut.
"Kau sudah siap Joe?" Tanya Tengku Mahmud.
"Siap Kek." Jawab pemuda itu.
"Sekarang perhatikan serangan!" Kata Tengku Mahmud lalu menjentikkan jarinya.
Tiba-tiba dari jentikan jemari tangan Tengku Mahmud melesat sebutir besi bulat kecil seperti kelereng. Tepat nya seperti kacangan yang terdapat pada lahar sepeda motor.
Benda bulat itu kini melesat ke arah pemuda itu membuat Joe kini terpaksa harus membalas lalu dengan cepat melemparkan jarum perak nya lalu,
Wuzz!
Desh!
Tampak dua benda itu rontok dan jatuh ke tanah.
"Sekali lagi. Lawan dengan jari hantu mu!" Kata Tengku Mahmud.
Joe kini tampak mengeluarkan sesuatu yang dia kulum dalam mulutnya.
Kini tampak sebutir bola baja kecil sebesar isi kacang tanah lalu menjepit diantara jari tangannya.
Wuzz..!
Tampak Tengku Mahmud menjentikkan jemari tangannya dan kini sebutir lagi besi yang sama seperti tadi melesat meluru ke arah tubuh Joe William.
Tanpa menunggu lama lagi, Joe pun langsung membalas dan kembali dua benda yang berkilat terkena pancaran obor itu bertabrakan di udara.
Bedanya, bola besi yang dilemparkan oleh Joe tadi terus melesat lalu tertancap di tiang obor.
Andai Tengku Mahmud tidak cepat menghindar, dapat dipastikan dia akan cedera oleh bola besi itu.
"Hmmm... Kau sudah menguasai jarum perak dan jari hantu dengan sempurna. Wajar jika aku kalah. Ini karena dua esensi kekuatan berada dalam satu tubuh. Tidak sia-sia Malik goblok itu menurunkan ilmunya kepada mu. Kini kau sudah menguasai secara sempurna." Puji Tengku Mahmud kepada anak itu dengan jujur.
"Terimakasih Kakek." Kata Joe sambil membungkuk dalam-dalam.
"Joe. Kau jangan cepat puas. Kau tidak boleh melupakan dua jurus serta kembangan nya. Jika kau tinggalkan, maka kau akan lupa. Ketika sudah lupa. Maka sia-sialah kau belajar selama ini. Sekarang sudah tidak ada lagi yang bisa aku ajarkan selain membimbing mu menyempurnakan pelajaran tentang kitab pengobatan yang ditulis oleh Malik."
"Sekali ini kau dengar perkataan ku dengan serius. Jangan di bantah dan jangan di potong perkataan ku. Kau mengerti?" Tanya lelaki tua itu.
"Joe. Mengerti kek."
"Bagus."
"Joe. Kau tentu sedikit banyaknya sudah mengetahui tentang jati dirimu dan siapa kau sebenarnya."
"Menurut surat peninggalan dari Malik, kau memang dipersiapkan untuk mewarisi segala kekayaan orang tua mu. Kau tau untuk apa kau dipersiapkan?" Tanya lelaki tua itu.
Sebagai jawaban, Joe hanya menggeleng tanda tidak mengerti.
"Yang kecil akan besar. Yang muda akan menjadi tua dan yang tua akan mati. Itu adalah hukum kehidupan yang sama sekali tidak bisa di bantah sedikitpun."
"Manusia terlahir dengan fitrahnya dan sifat semula jadi yang dia bawa. Pada hakikatnya, semua manusia itu adalah baik. Hanya saja lingkungan dan keadaan yang merubah pola hidup dan sikapnya. Oleh karena itu, kau memang sengaja di didik untuk menjadi seorang yang memiliki kerendahan, ketabahan serta kekuatan hati."
"Kau tentu sudah banyak melihat seperti apa jika seorang anak dibesarkan dengan gelimang harta. Hanya sedikit yang tidak terjerumus. Oleh karena itu, Malik membawa mu sejak dini untuk di latih."
Kau harus tau seberapa berkuasanya ayah mu dengan segala usaha dan organisasi yang dia miliki. Kau dapat membayangkan andai kau tidak pernah sakit, tidak tau seperti apa rasanya di cubit, tidak pernah menderita, tidak pernah merasa lapar dan dahaga. Tidak pernah ditindas. Maka kau tidak akan peka terhadap jeritan orang-orang kecil yang ada di sekitar mu."
"Kau harus di cubit agar tau rasanya bahwa cubitan itu rasanya sakit. Dengan begini, kau akan berfikir sebelum mencubit orang lain.
Itu tadi adalah sebuah perumpamaan kecil yang bisa aku gambarkan agar dapat kau fahami dengan baik."
"Kehidupan itu di mulai dari telungkup, merangkak, tertatih, berjalan, berlari. Itu adalah sebuah proses yang harus dilalui oleh setiap manusia yang hidup. Memulai dari bawah lebih baik daripada langsung berada di atas lalu kemudian terjatuh."
"Kau sudah beranjak dewasa. Tentunya kau tau apa yang baik dan apa yang buruk.
Satu pesan kakek kepada mu. Kau telah memulai kehidupan mu dari bawah. Sebaiknya lakukan juga pekerjaan mu dari bawah. Pelihara rasa takutmu karena ketakutan mampu membuatmu lebih berhati-hati dalam segala hal.
Pelihara keberanian mu agar ketika dihadapkan dengan satu masalah yang harus diselesaikan, kau tidak lari daripadanya."
"Dulu kau takut pada ketinggian. Apa yang kau lakukan ketika kau takut dan ditempatkan pada ketinggian?" Tanya Tengku Mahmud.
"Aku memegang, mencengkeram apa saja yang aku rasa bisa membuat ku selamat." Jawab Joe.
"Kau tau apa artinya itu?" Tanya Tengku Mahmud.
"Tidak kek. Mohon dijelaskan!" Pinta Joe.
"Itu artinya kau tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan mu sendiri."
"Sehebat apapun seorang anak Adam, dia pasti membutuhkan pertolongan dari orang lain. Tidak ada manusia yang benar-benar super power. Ketika masanya tiba, dia pasti akan memeluk dan menggenggam apa saja yang menurutnya bisa membuatnya selamat."
"Selagi papan, sandang dan pangan, masih menjadi kebutuhanmu, jangan pernah mengatakan bahwa aku hebat. Yang hebat itu satu. DIA YANG MAHA TINGGI. MAHA SATU. MAHA PERKASA DAN MAHA MELINDUNGI. Dia lah Tuhan semesta alam. Kau mengerti?"
"Joe mengerti kek." Kata anak muda itu dengan wajah serius.
"Aku menduga Malik pasti punya alasan mengapa kau di didik olehnya. Selain kau di gembleng secara lahiriyah, bathin mu juga sudah digembleng oleh nya. Maka dari itu, jangan pernah angkuh dan sombong. Karena kesombongan itu adalah milik Tuhan. Jangan rampas kesombongan itu dari-Nya."
"Kelak jika kau kembali ke Starhill, jangan langsung warisi kekayaan milik orang tua mu. Sebaiknya, sambil melanjutkan pendidikan, kau harus bekerja menjadi pegawai biasa di perusahaan kecil. Apa lagi jika kau menemukan perusahaan yang nyaris bangkrut kemudian kau berkontribusi menyelamatkan perusahaan itu tanpa bantuan siapapun. Itu adalah prestasi terbesar."
"Ingat Joe. Jangan tindas perusahaan kecil. Jangan menginvasi kawasan yang sudah ditempati oleh perusahaan-perusahaan kecil. Sebaiknya gandeng mereka untuk membentuk sebuah kekuatan baru yang bisa mensejahterakan banyak orang."
"Ingat kata pepatah. Harimau mati meninggalkan belang. Gajah mati meninggalkan gading. Orang mati?" Tanya Tengku Mahmud.
"Pasti meninggalkan hutang." Kata Joe seenaknya.
"Anak kurang ajar. Baru saja tadi kau serius. Sekarang sudah jadi setan lagi. Ku pecahkan batok kepala mu." Kata Tengku Mahmud lalu melemparkan sebutir bola besi ke arah Joe.
"Mati aku." Kata Joe sambil merunduk lalu lari berlindung di balik pohon kelapa.
"Kemari kau Joe. Kau belum di hukum." Bentak Tengku Mahmud.
"Aduh. Hukum lagi hukum lagi." Kata Joe sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kau ini ya...!"
"Aduh kek. Sakit kek. Kek!. Bisa pelan sedikit kah? Sakit kek. Woy kek. Gemblung!" Kata Joe sambil terus mengikuti Tengku Mahmud karena telinga nya yang di jewer masih belum lepas.
...*********...
Manteman, sambil menunggu Ontor up bab baru, jangan lupa mampir di karya sahabat ontor ya. cek judul pada gambar di bawah ini!