Joe William

Joe William
Turun gunung



Keesokan harinya di rumah Tengku Mahmud di Kuala Nipah, tampak Beberapa orang sedang duduk sambil membincangkan sesuatu.


Di sana terlihat ada Tigor, Monang, Ameng, Ucok, Jabat, Andra, Sugeng, Thomas, Acong dan Timbul. Juga terlihat Tengku Mahmud dan Joe saling duduk berdampingan.


Terlihat dari wajah-wajah mereka ini tampak sangat serius membahas sesuatu yang sepertinya sangat penting itu.


"Ketua. Lawan bisnis Ayah anda sedang mengatur rencana untuk melacak keberadaan anda dan ingin berkolusi dengan sisa-sisa anggota organisasi geng tengkorak dan geng kucing hitam untuk melawan kekuatan yang dimiliki oleh Ayah anda."


"Walaupun ini hanya sebatas pemikiran kami saja, namun melihat cara mereka bermain dengan merekrut banyak orang yang menentang ayah anda, sudah dapat di tebak bahwa kedatangan mereka kemari pastilah untuk menambah kekuatan mereka. Saat ini peperangan bisa terjadi di mana saja. Apakah ketua sudah siap menghadapi segala kemungkinan?" Tanya Tigor kepada Joe yang saat ini sedang duduk di samping Tengku Mahmud sambil cengar-cengir.


"Aku selalu siap dengan segala kemungkinan paman. Ketika hal ini anda sampaikan, aku malah merasa sudah gatal." Jawab Pemuda itu.


"Darimana kau mengetahui tentang kedatangan mereka ke negara ini Gor?" Tanya Tengku Mahmud ingin tau.


"Kemarin Tuan besar menghubungi ku. Dia mendapatkan laporan dari mata-mata yang mereka tempatkan di MegaTown bahwa orang-orang anak buah Honor Miller yang dikendalikan oleh lelaki bernama Paul sudah bergerak memasuki negara ini tepat di hari Tuan besar meninggalkan Kuala Nipah ini." Jawab Tigor.


"Hmmm... Sepertinya akan terjadi lagi perang seperti tujuh belas tahun yang lalu." Kata Tengku Mahmud sambil mengelus-elus jenggot putihnya.


"Kek. Aku meminta saran dari mu untuk menanggulangi masalah ini. Karena sesuai dengan pesan dari Tuan Jerry, dia ingin akar komplotan ini di patahkan sebelum bertunas." Kata Tigor meminta pendapat dan saran dari lelaki tua yang sangat dihormati oleh nya itu.


"Hmm... Aku ingin bertanya kepada mu. Di mana Karman berada?" Tanya Tengku Mahmud sambil menatap tajam ke arah wajah Tigor.


Plak!


"Astaga. Celakanya aku. Mengapa aku seperti melupakan sahabat ku yang sudah banyak berjasa itu?" Kata Tigor sambil menampar jidatnya sendiri.


"Itu lah bodoh mu itu. Begitu bebas dari penjara, kau tidak teringat sama sekali kepada sahabat mu." Kata Tengku Mahmud sambil memarahi Tigor.


Mendengar omelan ini, Mereka semua yang ada di situ hanya bisa saling pandang dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Apa kalian tau di mana Karman berada?" Tanya Tigor kepada sembilan sahabatnya itu.


"Aku juga tidak mendengar lagi kabar dari Karman ini. Terakhir kali aku dengar, dia berada di Tanjung karang. Namun kalau di tanya bertemu terakhir kali, itu sekitar 17 tahun yang lalu." Jawab Monang.


"Benar bang. Karman seperti menghilang setelah kejadian itu." Kata Acong pula menambahkan.


"Baiklah. Sekarang kita berbagi tugas saja. Cari Karman ini di mana pun dia berada. Kemungkinan dia menghilang karena takut dengan kasus yang menimpa diriku dan Marven. Karena walau bagaimanapun, dia dikenal sebagai orang kepercayaan Marven." Kata Tigor.


"Itu dia maksud ku. Biarkan Karman ini kembali menjadi mata dan telinga kalian di sana. Dengan adanya orang seperti Karman ini di kubu musuh, semua akan menjadi lebih mudah bagi kalian untuk merencanakan sesuatu."


"Sekarang pergi dan temui Karman itu. Kalian jangan berlama-lama di rumah ku ini. Aku malas terlibat dengan urusan kalian. Terus terang aku tidak ingin lagi mencabut nyawa orang. Kapan taubatnya aku ini jika masalah datang karena ulah kalian." Kata Tengku Mahmud membuat mereka satu persatu turun dari teras panggung rumah milik Tengku Mahmud tersebut.


"Ketua. Untuk tidak melibatkan orang-orang yang anda sayangi di sini, sebaiknya tinggal lah di kota Kemuning." Kata Tigor memberi usul.


Joe, tidak langsung menjawab ajakan dari Tigor ini. Melainkan memandang terlebih dahulu ke arah Tengku Mahmud untuk meminta pendapat.


"Lalu bagaimana dengan Kakek di sini?" Tanya Joe dengan hati berat.


"Anak bodoh. Apa kau kira dengan keberadaan dirimu di sini akan meringankan beban ku? Kau akan mempersulit orang-orang di kampung ini nantinya. Kasihan jika keluarga Tiara akan terlibat dalam masalah kalian ini. Maka dari itu, pergilah dan jangan kembali lagi ke Kuala Nipah ini."


"Setelah nanti urusan mu selesai, kau langsung saja pulang ke Starhill. Kelak jika ada umur panjang, kita bisa bertemu lagi."


"Ingat pesan ku Joe. Jangan mudah ringan tangan kepada siapa pun. Biarlah kau di anggap bodoh daripada belagu pintar padahal tidak mengerti apa-apa."


"Ingat juga pesan ku dulu. Memulai sesuatu itu harus dari bawah. Kau harus bisa memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar mu terlebih dahulu. Utamakan menggunakan otak daripada otot!" Pesan Tengku Mahmud.


"Joe akan mengingat semua yang kakek pesankan." Kata Joe sambil mencium tangan lelaki tua itu lalu bergegas masuk ke kamarnya lalu mengemas semua barang-barang kepunyaannya.


Kini tampak Joe keluar dari dalam rumah itu sambil menyandang tas ransel dan memeluk sebuah peti kayu berukir.


"Joe pamit kek. Jika aku tidak bertemu dengan Tiara, Tolong kakek sampaikan kepadanya bahwa aku sudah berada di kota Kemuning." Kata Joe dengan mata berair.


"Pergilah cucu ku. Memang sudah saatnya kita berpisah. Ingat untuk terus belajar dan mengasah kemampuan mu terutama dalam ilmu pengobatan. Karena aset utama bagi manusia yang masih hidup adalah kesehatan. Ketika badan sehat, barulah bisa beramal baik. Dari badan yang sehat akan timbul idea yang sehat pula. Sekarang lekas lah pergi!" Kata Tengku Mahmud sambil memalingkan wajahnya ke dalam rumah karena tidak sanggup melihat kepergian Joe yang selama tiga tahun ini bersama dengannya di rumah reyot itu.


"Kek!"


"Pergi kata ku!" Bentak Tengku Mahmud.


"Huhuhu..."


Joe hanya bisa menangis lalu segera menuruni tangga kayu itu kemudian melangkah menuju samping tambak milik warga di mana mobil milik Tigor dan teman-temannya terparkir.


Joe yang memang ingin berpamitan dengan Tiara mengurungkan niatnya karena tidak ingin nantinya kepedihan sekali lagi mengiris hatinya.


Dia dengan cepat mengeluarkan buku lalu menulis surat untuk gadis pujaan hatinya itu.


"Ingat Tiara! Jika aku menjauhi dirimu, itu tandanya aku menyayangimu." Seperti itu lah salah satu bait kata yang di tulis oleh Joe di selembar kertas itu.


Setelah dia melipat kertas tadi, dia segera memberikannya kepada Ameng.


"Paman Ameng. Paman jangan kembali dulu ke kota Kemuning. Tunggu sampai bertemu dengan Tiara lalu serahkan surat ini kepadanya." Kata Joe berpesan.


"Baik Ketua." Jawab Ameng sambil menunduk hormat.


Tak lama setelah itu, rombongan Tigor yang membawa ketua mereka itu pun segera berlalu meninggalkan kampung Kuala Nipah menuju kota Kemuning.


Kini yang tinggal hanya Ameng untuk menunggu Tiara dan menyerahkan surat dari Joe sesuai dengan perintah ketuanya itu.


Bersambung...