Joe William

Joe William
Karman jual mahal



Tepat seperti yang telah diperhitungkan oleh Tigor.


Satu Minggu setelah kebebasan Marven dari penjara, kini orang-orang yang mencari keberadaan Karman pun telah tiba di tanjung karang.


Mereka yang memulai pencarian dari Dolok Ginjang, Tasik Putri, Kuala Nipah, Indra Sakti, Kota Batu, Kota Kemuning dan sekitarnya akhirnya tiba juga di tanjung karang.


Bermodalkan foto Karman ketika masih muda dulu, akhirnya ada juga yang mengenal Karman dan memberitahukan alamat rumah lelaki yang sehari-harinya adalah pelaut itu kepada mereka.


"Ini lah rumah orang yang anda cari itu bang! Mungkin saja bisa salah. Tapi, tidak ada salahnya jika Abang menemui pemilik rumah itu!" Kata sang penunjuk tadi.


"Tidak apa-apa bang. Ini sekedar duit rokok untuk Abang. Kami akan menemui si pemilik rumah itu!" Kata utusan dari Marven sambil memberikan lima lembar uang seratus ribu rupiah.


"Wah. Terimakasih bang!" Kata orang itu dengan senyum mengembang diwajahnya. Bagaimana dia tidak bahagia, hanya jadi penunjuk jalan saja sudah dapat 500 ribu rupiah.


"Hari ini cuti lah aku ke laut!" Kata orang tadi sambil mencium uang yang diberikan oleh utusan dari Marven itu.


Sementara itu, para utusan yang berjumlah empat orang itu kini telah berdiri di depan pintu rumah Karman yang sedang tertutup.


Berulang kali mereka mengetuk pintu rumah tersebut, tapi tidak ada jawaban dari dalam.


Entah karena merasa terganggu dengan suara ketukan pintu tadi, tetangga yang lebih dekat dengan rumah Karman segera membuka pintu.


"Mencari siapa kau Bang?" Tanya orang itu dengan logat Batak nya.


"Maaf inang Boru. Kami sedang mencari pemilik rumah ini. Apakah inang Boru tau orangnya kemana?"


(Kira-kira, Inang Boru itu seperti panggilan Bibi dalam bahasa Jawa)


"Bah. Tak nampak ku pulak dia. Mungkin kelaut dia. Alah kau tau lah di sini kalau orang tidak ada di rumah, pasti kelaut lah mencari ikan!" Jawab tetangga tadi.


"Terimakasih lah Inang Boru. Agak-agak, jam berapa lah dia pulang?"


"Tak tau lah aku kalau itu bah. Tunggu saja lah! Kalau tak pulang, berarti tenggelam lah dia di laut!" Kata tetangga tadi dengan cuek. Lalu segera masuk kembali ke rumah.


"Celaka sungguh tetangga Karman ini!" Bisik utusan Marven kepada orang yang berada disampingnya.


"Hahaha. Dia belum tau siapa kita. Kalau tau, kencing dia di celana!"


"Ah. Jangan menambah urusan. Kita harus bertemu dengan orang yang entah lah. Banyak kali nama dia. Entah yang mana satu yang betul. Karman apa Carmen Bond?"


"Carmen Bond kata ketua kita, ya Carmen Bond lah kata kita. Persetan dengan nama. Yang penting orangnya!" Jawab temannya.


"Kemana lah kita mau menunggu di Mr. Carmen Bond ini. Tak mungkin lah kita berdiri seperti orang minta sedekah di sini. Apa kata dunia?!"


"Warung pun tak ada di sini. Alamak Jang! Parah kali bah kalau begini!"


Setelah menimbang-nimbang sejenak, akhirnya keempat orang itu memutuskan untuk duduk di bagian belakang rumah milik Karman yang terdapat sebatang pohon mangga besar di sana.


"Cocok kau rasa di sini?" Tanya orang tadi.


"Cocok kali lah. Daripada seperti pengemis."


"Memang menunggu adalah pekerjaan yang sangat membosankan!" Celetuk salah satu dari mereka.


"Yang penting kan cair. Uang makan, uang jalan, uang rokok, uang uang dan uang kan cair. Kapan lagi kita jalan-jalan dapat gaji?!" Ujar seorang lagi sambil tertawa.


Mereka berempat pun lalu sama-sama tertawa terbahak-bahak.


*********


Menjelang senja, sebelum matahari benar-benar tenggelam di ufuk barat, seorang lelaki paruh baya berjalan dari arah pantai menuju ke sebuah rumah berdinding papan.


Dengan langkah sedikit lesu, lelaki itu segera berjalan menuju pintu rumahnya, lalu mendorong pintu tersebut.


Kreeek...! Suara berderit dari engsel pintu yang berkarat itu membuyarkan lamunan keempat orang utusan Marven yang berada di bagian belakang rumah tadi.


"Udah pulang orangnya. Ayo kita temui!" Ajak salah satu dari mereka.


"Ayo lah!" Sambut yang lain lalu segera berdiri.


Sambil menepuk-nepuk bagian belakang celananya, keempat orang itu pun segera berjalan menuju bagian depan rumah tersebut.


Benar saja. Ketika mereka tiba di depan, mereka melihat seorang lelaki kurus paruh baya sedang meletakkan jaring yang berada di pundak nya tadi di dekat dinding dapur.


"Em. Sampurasun! Eh. Kulo nuwun!"


"Salah kau itu. Coba kasih salam saja!" Kata temannya.


Temannya langsung mengangguk lalu mengucapkan salam. "Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!" Jawab orang yang berada di dalam rumah.


"Mohon maaf bang. Apakah kami sedang berada di depan rumah milik Mr. Carmen Bond 070?"


Orang yang berada di dalam rumah sedikit mengernyitkan dahinya. Lalu dengan cuek dia segera melangkah menuju ke pintu untuk menemui keempat orang tamu yang tidak di undang tersebut.


"Darimana kalian tau nama itu?" Tanya orang yang diduga bernama Carmen tadi.


"Maaf bang. Kami ini datang dari kota Tasik Putri atas perintah dari majikan kami bernama Marven. Dia menyuruh kami untuk mencari keberadaan orang yang bernama Mr. Carmen Bond. Jika melihat dari foto, maka aku merasa bahwa Abang adalah orang yang bernama Mr. Carmen Bond itu. Hanya saja, bedanya adalah, Abang hitam dan berkilat!" Jawab orang tadi yang terasa sangat jujur.


"Coba berikan kepada ku foto itu!" Pinta Karman.


"Ini bang!" Kata orang tadi sambil mengeluarkan selembar foto.


"Ah. Ini hanya filter saja. Makanya terlihat putih. Tanpa filter, aku bukan siapa-siapa!" Ujar Karman sembari menyerahkan kembali foto tadi kepada orang itu.


"Kau memang bertemu dengan orang yang benar. Sekarang, katakan tujuan kedatangan mu!"


"Apakah kami tidak dipersilahkan masuk bang?"


"Oh. Tentu. Tapi kalian harap maklum! Seperti inilah keadaan ku sekarang. Tidak mewah seperti kalian. Jadi, kalau mau minum teh atau kopi, bawa sendiri gula dan kopinya dari Tasik Putri!" Kata Karman. Mulai lah ilmu padi nya keluar.


"Begini bang. Kedatangan kami ke mari atas keinginan dari ketua kami, Marven. Ok. Kita langsung saja ke intinya! Ketua kami, menginginkan Abang untuk kembali bergabung dengannya. Karena, saat ini dia sedang membangun kembali kekuatan geng kucing hitam."


"Marven ingin mengajakku untuk kembali bergabung? Wani Piro?" Tanya Karman. Tengil sungguh pertanyaannya ini, membuat keempat orang itu saling pandang.


"Itu kami tidak tau, bang! Yang jelas, kedatangan kami kemari khusus mencari Abang, dan menyampaikan maksud dari ketua kami!" Jawab orang tadi setelah dibuat makan hati oleh Karman.


"Kalian berempat pulanglah ke kota Tasik Putri. Katakan kepada Marven, apakah begini caranya kepada kawan lama? Aku sudah cukup menderita di sini. Semuanya aku lakukan untuk dia. Jadi, jika hanya kalian berempat saja yang dia kirim, kalian tidak layak untuk ku anggap! Mungkin, sebelum kalian bisa merangkak, aku sudah malang melintang di geng kucing hitam. Aku adalah kepercayaan Martin. Setelah Martin terbunuh, aku menjadi orang kepercayaan Marven. Aku tidak gila hormat. Tapi, jika begini caranya, lupakan saja!" Marah Marven dengan kata-kata kesat.


"Baiklah bang. Abang jangan marah! Kami akan menyampaikan semua yang Abang katakan kepada ketua kami!"


"Bagus! Sampaikan kepada Marven bahwa dia harus belajar menghargai kawan lama!" Pesan Karman kepada keempat orang itu.


"Kalau begitu, kami permisi dulu bang. Sampurasun!" Kata mereka sambil bergegas menuju pintu.


"Rampes!" Jawab Karman yang langsung menutup pintu.


"Masoook!" Kata Karman sambil tertawa geli.


Bersambung...