Joe William

Joe William
Menyekap Ferdy



Helikopter yang membawa Ferdy akhirnya tiba juga di bagian belakang yayasan Martin di kota Kemuning.


Terlihat di sana ada Tigor, Rio, Monang, Andra, Ameng, Acong dan yang lainnya sudah berada di sana sejak tadi.


Begitu seorang lelaki berwajah kaku, berbadan tegap dan mengenakan pakaian tentara berwarna loreng hitam keluar dari helikopter, dia segera melemparkan kantong besar berwarna hitam tepat di ujung kaki Tigor sehingga mengeluarkan suara bergedebug.


"Aku telah menyelesaikan tugas ku. Selebihnya terserah kepada kalian!" Kata lelaki berbadan tegap itu. Suaranya terdengar serak. Membuat orang yang mendengar kata-katanya itu sedikit merinding. Ditambah lagi postur tubuh nya yang tinggi. Bahkan, Rio saja yang anggota kepolisian hanya sebatas dagu nya saja.


Dapat dipastikan, jika satu bogem mentah saja mengenai wajah mereka, sangat besar kemungkinan bahwa orang yang terkena bogem itu akan pingsan ditempat.


"Terimakasih. Anda boleh beristirahat. Seseorang akan mengantar anda ke Martins Hotel!" Kata Tigor sambil mengangguk.


"Merokok?" Tanya lelaki itu sambil mengulurkan rokok kepada Tigor.


"Terimakasih. Tapi saya tidak merokok!" Jawab Tigor.


Lelaki itu tersenyum sambil memasukkan kembali rokok yang tadi dia tawarkan ke dalam saku celananya.


Tampak nikmat sekali dia menghisap rokok tadi sambil bersandar di helikopter.


Beberapa menit berselang, satu unit mobil berhenti di sana. Lalu, Tigor pun mempersilahkan lelaki raksasa itu memasuki mobil untuk segera diantar ke Martins Hotel.


Lelaki berbadan tegap tadi segera memasuki mobil, lalu menurunkan kaca setengahnya, sambil berucap, "thanks. See you another time!" Katanya sebelum mobil itu berlalu.


Ketika mobil itu meninggalkan mereka, kini Monang mendekati Tigor sambil berkata, "gila. Besar sekali orang itu. Dari mana Joe mendapatkan gorila itu?" Tanya Monang becanda.


"Itu baru satu. Joe malah memiliki orang seperti itu sekitar 10 ribu orang!" Jawab Tigor acuh tak acuh.


"Ha?!" Monang melongo mendengar kata-kata dari Tigor ini.


"Mereka itu adalah kelompok tentara bayaran. Sudah lah! Kita tidak usah membahas itu lagi. Nanti buruk akibatnya!" Kata Tigor kemudian.


"Meng. Mari urus pengkhianat ini. Aku ingin tau sejauh mana dia bekerjasama dengan keluarga Miller!" Kata Tigor.


Mereka kini memasukkan tubuh Ferdy ke dalam mobil, lalu segera berangkat ke perumahan elite kota Kemuning.


*******


Byuuur!


Terlihat lelaki tua yang duduk di kursi itu kelabakan ketika seember air disiramkan ke wajahnya.


Lelaki tua yang tadinya pingsan tersebut mulai sadarkan diri dan menatap keheranan. Ketika dia memperhatikan disekelilingnya, kini dia baru sadar bahwa di sana ada satu sosok orang yang sangat dia kenal. Bahkan, orang ini lah yang ingin dia singkirkan melalui bantuan anak buah Irfan.


"Bagaimana keadaan mu, Pak Ferdy?" Tanya lelaki paruh baya yang tampan itu.


"Kau.., kau Rio?!"


"Sudah aku katakan. Berjalanlah di rel yang benar, Pak! Tapi bapak tidak mendengarkan aku. Bapak bahkan ingin membunuh ku dengan bantuan orang-orang Irfan," kata Rio dengan sinis.


"Kau ingin memfitnah ku, Rio? Kau jangan main-main! Ketika aku melaporkan kepada Pak Rulian, kau bisa dicopot dari jabatan mu sebagai Kapolres kota Batu!"


Prok... Prok... Prok...!


Begitu suara tepukan tangan itu lenyap, kini pintu di ruangan itu terbuka. Dan kini, terlihatlah tiga orang lelaki dengan yang satu bertubuh gemuk, yang satunya berbadan tinggi, dan yang satunya lagi berbadan sedang. Mereka ini adalah Mokmok, Ganjang dan Panjol.


"Kenal dengan mereka?" Tanya Rio dengan senyum mengejek.


"Ka-kau. Sialan kau!"


"Masih mau mengelak? Apa harus Irfan yang aku seret kemari agar kau mau mengakui?"


"Sudah aku katakan kepada mu, Pak Ferdy. Bahwa aku ini adalah adik seorang yang cukup berpengaruh di kelima kota ini. Kau lupa bahwa aku adalah adiknya Tigor. Sudah ku peringatkan. Mengapa kau tidak percaya, Pak Ferdy? Sekarang kau baru tau ketika sudah seperti ini," sambung Rio lagi.


"Mau apa kau Rio? Kau harus ingat bahwa aku ini adalah sahabat seperjuangan mendiang ayah mu,"


"Puih!" Rio segera meludah mendengar perkataan dari Ferdy tadi.


"Ayah ku adalah seorang polisi yang jujur. Andai dia tau, dia pasti malu pernah memiliki bawahan seperti dirimu. Kau tidak berfikir bahwa tanah sudah lama memanggil mu. Kau itu sudah tua dan selayaknya memperbanyak amal ibadah. Masih saja mau memperkaya diri sendiri. Kau tau, karena ulah mu itu, berapa ratus bahkan ribuan anak muda yang rusak? Kau mengkhianati seragam mu. Mengkhianati kepercayaan masyarakat. Kau di gaji dengan titik peluh mereka. Tapi apa yang mereka dapat dari mu? Cuma pengkhianat gini. Mengeruk keuntungan dari seragam yang kau kenakan!" Maki Rio tepat didepan wajah Ferdy.


"Lepaskan aku Rio! Aku berjanji tidak akan melakukan kesalahan lagi!"


Spontan Rio menggeleng mendengar permintaan dari Ferdy ini.


"Pak Ferdy. Aku tidak biasa menjilat kepada atasan. Aku tidak seperti dirimu. Aku pasti akan kalah dihadapan pak Rulian. Jadi, sebaiknya kau tetap di sini saja. Sampai aku berhasil menumpas sindikat ini dengan tuntas!" Tegas Rio.


"Jangan buang waktu mu untuk omong kosong itu, Rio. Patahkan saja kakinya, atau congkel saja sebelah matanya! Aku tidak butuh banyak bicara kepada pengkhianat ini! Semuanya sudah kita ketahui dari Panjol dan kawan-kawannya. Untuk apa lagi manusia busuk yang sudah bau tanah ini?" Kali ini Tigor yang sejak tadi diam saja, mulai berbicara.


"Ampun. Jangan bunuh aku. Bagaimana dengan keluarga ku jika aku mati?" Rengek Ferdy memohon.


"Hahaha. Lalu, bagaimana dengan keluarga Rio? Kau menyuruh orang untuk membunuhnya kan? Sekarang posisi mu tidak menguntungkan, kau merengek seperti celaka sialan. Ku tendang remuk dada mu!" Bentak Tigor geram.


"Kau tetap di sini sampai masalah ini tuntas. Berdoalah kepada Tuhan agar umur mu panjang. Jika umur mu pendek sebelum kasus ini selesai, kau akan kami lempar ke laut Tanjung Karang. Biar menjadi santapan hiu!" Kata Rio pula.


"Rio. Tolong lepaskan aku. Tolong lepaskan aku Rio...!"


"Brisik! Ku bunuh kau!" Kata Tigor yang langsung mencengkram leher lelaki tua itu.


"Uhuk.., uhuh.., uhuk!" Ferdy terbatuk-batuk sambil kelojotan.


Tak tega juga hati Tigor melihat nafas orang tua itu yang sudah mulai Senin Kamis. Dia berusaha meredam kemarahannya, lalu melepaskan cekikan nya di leher Ferdy.


"Jangan bilang aku tidak tega membunuh calon bangkai seperti mu itu. Duduk diam dan jangan membuat masalah. Atau, aku akan mempercepat ajal mu!" Ancam Tigor.


"Tetap di sini, Pak Ferdy. Karena, jika diberi kesempatan, kau akan menjadi batu sandungan terhadap tugas ku. Tugas ini tetap akan aku tuntaskan walau apa sekalipun yang terjadi. Aku tidak perduli. Jika pihak kepolisian tidak sanggup, maka aku akan meminta bantuan dari mafia. Asalkan orang itu berniat memberantas sindikat ini, aku bersedia bekerjasama dengan mereka!" Jelas dan lugas kata-kata dari Rio ini.


"Anak buah ku tidak memiliki hati nurani. Jika mereka habis kesabaran gara-gara ulah mu, maka aku tidak akan menyalahkan mereka andai kau mati di tangan mereka. Bagiku, sampah lebih baik daripada manusia setan macam kau ini!" Kata Tigor lagi memberi peringatan.


Setelah semua orang yang berada di ruangan penyekapan itu pergi, tinggallah Ferdy meratapi nasibnya yang salah dalam memilih lawan.


Bersambung...