
Satu unit alat berat itu terlihat sedang menimbun lobang yang baru saja di korek. Itu adalah kuburan massal bagi orang-orang yang di kirim oleh keluarga Miller dari MegaTown.
Sementara itu, tidak jauh dari tempat tersebut, tepatnya di depan rumah-rumah kosong milik warga yang diusir paksa dari kampung mereka, tampak Riko dan Arslan menjelaskan kepada warga bahwa sebenarnya mereka bukanlah bagian dari Arold Holding Company. Melainkan orang-orang dari Future of Company. Hanya saja, Arslan dengan tegas mengancam barang siapa yang membongkar identitas mereka, pasti lidahnya akan di potong.
"Tuan. Kami ini sebenarnya adalah korban atas proyek ini. Dulu, walaupun kami sederhana. Bekerja sebagai petani, peternak, dan buruh. Namun kami masih memiliki rumah. Memiliki keluarga yang bahagia. Tapi sekarang, sejak perusahaan Arold Holding Company ini memasuki daerah kami. Kami mulai dijajah. Kami di usir dari rumah kami. Ladang dan sawah kami habis di rampok dengan alasan pembangunan. Semua habis dirampas dari kami. Bahkan kami sudah tidak memiliki kampung lagi." Kata mereka dengan wajah sedih.
"Benar Tuan. Saat ini tidak ada yang bisa kami lakukan. Berkali-kali kami bertanya kepada kepala daerah tentang kompensasi yang mereka janjikan dengan membayar ganti rugi atas tanah dan rumah kami. Namun mereka selalu menghindar. Bahkan kami mulai diancam. Mereka berusaha untuk membungkam kami. para wartawan tidak diijinkan meliput. Jaringan internet terputus. Dan yang lebih parah lagi, ada kelompok-kelompok yang dengan sengaja menahan kami ketika salah satu dari kami berusaha untuk mengadukan masalah kami ini kepada wakil rakyat di ibukota provinsi."
"Sudah tidak terhitung lagi entah berapa orang yang hilang tanpa kabar setelah berangkat untuk mengadukan masalah ini. Hal ini jelas membuat kami sangat frustasi. Yang pada akhirnya membuat kami melawan dan berjuang. Namun hanya sebatas luar pagar itu saja. Karena ketika sudah masuk ke dalam kawasan proyek ini, maka tidak ada lagi jalan keluar bagi kami." Kata mereka mengadukan beban penderitaan mereka kepada Arslan dan Riko.
"Bagaimana kak. Kita pasti tidak bisa bergerak dengan leluasa jika mereka semua ada di sini." Kata Riko.
"Kita butuh tambahan orang. Aku akan menghubungi Black untuk meminta agar Tuan muda segera mengirim bala bantuan kepada kita." Kata Arslan pula.
"Memang sebaiknya kita laporkan saja semuanya tentang situasi dan kondisi di sini. Kasihan para penduduk ini. Aku yakin Tuan muda atau Jerry punya cara untuk memberantas proyek ilegal ini."
"Benar juga katamu. Jika penegak hukum tidak benar-benar menegakkan hukum, maka mari kita yang menegakkannya."
"Aku harus menelepon Black dulu." Kata Arslan lalu segera mengeluarkan ponselnya.
"Bagaimana kak?" Tanya Riko setelah Arslan selesai melakukan panggilan.
"Huh. Saat ini Tuan muda mendapat hukuman dari Tuan Besar William dan Tuan besar Smith." Jawab Arslan.
"Apa?"
"Tuan muda terlalu berhati-hati. Dia tidak mengatakan yang sebenarnya. Oleh karena itu dia terpaksa harus menerima hukuman karena telah memecat kita. Hal ini diperparah karena dua naga ompong itu mendapat tahu bahwa kita malah bekerja kepada keluarga Miller." Jawab Arslan.
"Makin sulit jika begini. Lalu apa lagi yang dikatakan oleh Black?" Tanya Riko.
"Saat ini dia sedang dalam perjalanan ke Metro City. Dia berjanji akan menyampaikan masalah ini kepada Tuan muda."
"Hmmmm. Baguslah. Tapi kak. Kemana kita sembunyikan orang-orang ini?" Tanya Riko.
"Tuan-tuan. Apakah kalian memiliki saudara di luar kawasan ini? Jika kalian memiliki sanak saudara, maka menumpang lah terlebih dahulu. Tunggu berita dari kami sambil bantu berdoa semoga kami bisa segera menyelesaikan masalah kalian ini dan menyingkapkan fakta bahwa proyek milik Arold Holding Company ini adalah proyek ilegal." Kata Arslan.
"Kami sebenarnya sudah menumpang beberapa hari di rumah saudara kami Tuan. Tapi sampai kapan? Di sini lah kehidupan kami. Jika kami menumpang, maka kami hanya akan menyusahkan mereka." Jawab salah satu dari warga yang tergusur itu.
"Coba kakak telepon Tuan Riot! Mungkin dia masih memerlukan tambahan tenaga kerja. Minimal seratus orang kan lumayan untuk mengurangi jumlah mereka di sini." Kata Riko.
"Baiklah. Riko, kau tolong siapkan truck! Kita akan langsung mengirim mereka ke bagian barat Garden Hill ini. Terima atau tidak, yang pasti mereka harus sudah keluar dari sini." Kata Arslan.
Menjelang malam, puluhan unit Truck itu pun berangkat meninggalkan Garden Hill bagian Timur ini menuju kebagian barat tepatnya di proyek bangunan yang sedang dikerjakan oleh Garden Company pimpinan Tuan Riot.
*********
Komunitas elite real estate MegaTown
Sudah beberapa hari ini Tuan Paul tidak terlihat batang hidungnya.
Hal ini tentu saja membuat Adolf Miller seperti kebakaran jenggot. Karena walau bagaimanapun, surat-surat perjanjian antara dirinya dengan walikota Garden Hill distrik Timur itu masih berada di tangan Tuan Paul.
"Orang tua ini. Kemana dia menghilang? Nomor ponselnya pun tidak aktif. Bedebah betul. Jika aku sampai menemukan orang tua bau tanah ini, aku kuliti kepalanya yang botak itu." Kata Adolf sambil mondar-mandir.
"Leo. Sebarkan anak buah mu untuk mencari di mana keberadaan Paul ini. Aku tidak masalah walaupun kau hanya menemukan bangkai orang ini. Yang penting temukan surat-surat perjanjian izin pembangunan proyek itu. Jangan lupa kau bawa anak buah mu yang lain untuk menggeledah rumahnya!" Perintah Adolf lagi.
"Segera akan saya lakukan Tuan." Kata Leo lalu segera meninggalkan ruangan itu.
Hampir juga dua jam baru Leo kembali lagi untuk melaporkan hasil dari penggeledahan yang dia lakukan bersama anak buahnya di rumah milik Paul.
"Bagaimana Leo? Apakah kau menemukan sesuatu di rumah orang tua sialan itu?" Tanya Adolf tidak sabaran.
"Kosong Tuan. Kami sudah menggeledah setiap sudut ruangan di rumah milik Paul itu. Rumah itu sama sekali kosong. Tidak satu barang pun yang dapat kami temukan di sana." Jawab Leo melaporkan.
Prak!
Saking geramnya, Adolf Miller langsung membanting gelas ke atas meja hingga hancur berderai.
"Kurang ajaaar... Sialan sekali Paul ini. Kau mencari mati dengan ku Paul."
"Leo. Aku tidak mau tau. Apapun metode yang kau lakukan, yang terpenting bagiku adalah, temukan keberadaan Paul ini. Jika kau berhasil menemukan orang tua sialan ini, aku akan memberikan mu seratus ribu USD." Kata Adolf Miller dengan mata berapi-api.
"Baiklah Tuan. Anda tenang saja. MegaTown ini tidaklah terlalu besar. Kemanapun dia lari, pasti akan kita temukan juga." Kata Leo.
Baru saja Leo selesai berucap, kini terdengar ponsel milik Adolf berdering.
"Siapa lagi ini?" Katanya sambil menatap ke layar ponselnya.
"Paul?" Gumamnya sambil memelototkan matanya.
Bersambung...