
Seorang pemuda tampak berjalan kaki ke arah Pintu gerbang kampus dengan santai.
Dari kejauhan, pemuda itu sudah tersenyum menampakkan barisan giginya yang putih ke arah seorang pemuda yang sebaya dengannya yang saat ini duduk di bangku batu tepat di dekat pos Security.
"Kau sudah lama menunggu Joe?" Tanya pemuda itu begitu dia tiba di hadapan Joe.
"Belum lima menit. Ayo duduk dulu. Kita tunggu Tye. Sepertinya dia sedikit terlambat," kata Joe sambil mempersilahkan sahabatnya itu untuk duduk.
Pemuda itu pun duduk di samping Joe dan segera membuka ponselnya untuk sekedar membaca berita online di situs resmi berita di Quantum City ini.
"Joe. Kabarnya seorang tuan muda dari keluarga William telah tiba di Quantum City ini beberapa hari yang lalu. Namun, sepertinya kedatangan putra dari seorang kaisar bisnis di negara Abjad ini sangat dirahasiakan,"
"Oh ya? Eh.., Sylash. Kau berasal dari mana?" Tanya Joe berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Walaupun sebenarnya dia tahu darimana Sylash ini berasal.
"Kan sudah aku beritahu kalau aku itu berasal dari Montreal. Hanya saja, di sana kami mengalami krisis. Ayahku memutuskan untuk pulang kampung ke New Village," jawab Sylash.
"Sudah berapa lama kau tinggal di New Village itu, Sylash?" Tanya Joe sekedar ingin tau. Dia tidak memberi kesempatan kepada sahabatnya itu untuk kembali membahas tentang kabar berita bahwa Tuan muda dari keluarga William itu telah tiba di Quantum City ini.
"Sejak aku berumur tujuh tahun. Ya.., begitulah kira-kira. Ada apa kau menanyakan hal itu?" Tanya Sylash.
"Ah. Tidak. Aku hanya ingin bertanya. Dulu katanya kami memiliki saudara di sana. Namun telah meninggal dunia puluhan tahun yang lalu," kata Joe.
"Oh ya.., kalau begitu, siapa nama saudara mu itu?"
"Kalau aku tidak salah, namanya adalah Yosep. Kakek Yosep ku ini mempunyai istri bernama Lina. Konon, katanya mereka mati terbunuh oleh sekelompok penjahat,"
"Ya. Dulu aku memang pernah mendengar cerita itu dari mendiang kakek ku. Tapi mungkin ketika itu, ayahku masih kecil dan hanya ada sedikit saja informasi yang aku ketahui tentang itu. Namun, yang jelas adalah, kematian Kakek Yosep itu sangat mengerikan. Masih menurut kakek ku, kakek Yosep itu mati di gantung bersama dengan istrinya dengan tubuh penuh luka," kata Sylas.
Krak!
Tanpa sadar tangan Joe meremas pinggiran bangku yang terbuat dari semen cor-coran itu hingga gompal dan mengalami kerusakan.
Kini dia dapat membayangkan betapa perihnya kehidupan ayahnya dulu ketika masih kecil.
Dia mengira bahwa kehidupannya buruk karena diasingkan di pinggir hutan bersama dengan kakek Malik. Namun, jika dipikir-pikir, kehidupan ayahnya jauh lebih sulit dibandingkan dengan kehidupannya.
Walaupun tinggal di pinggir hutan, namun dia tidak di buru seperti hewan buruan. Berbeda dengan ayahnya yang harus lari ke sana-kemari demi mencari selamat.
"Kau kenapa, Joe?" Tanya Sylash.
"Ah. Tid-tidak.., tidak apa-apa. Oh ya. Lama sekali Tya ini," kata Joe sambil menepuk-nepuk tangannya untuk membersihkan dari pecahan batu semen yang tanpa sengaja dia remas tadi karena hatinya dikuasai kemarahan.
"Sabar! Paling juga sebentar lagi dia sampai,"
Benar saja. Dari arah tikungan, kini tampak satu unit mobil BMW warna biru berhenti di bahu jalan. Begitu kaca mobil tersebut turun, tampak seorang pemuda melambaikan tangan kepada Joe dan Sylash.
"Joe.., Sylash! Ayo kita berangkat!" Ajak Tye.
Kedua pemuda itupun segera beranjak dari bangku batu itu dan setelah tiba di samping mobil, mereka langsung membuka pintu dan duduk di kursi penumpang.
Tak lama setelah itu, mobil itu pun melaju dengan mulus membelah jalan kampus menuju ke jalan raya.
"Kemana kita akan pergi, Tye?" Tanya Sylash.
"Ini mobil mu, Tye?" Tanya Sylash lagi.
"Mobil ayah ku. Aku belum diizinkan menggunakan mobil sendiri. Ini saja aku terpaksa melarikan mobil ini. Makanya aku terlambat," kata Tye sambil tertawa.
Mereka lalu tertawa bertiga mendengar jawaban dari sahabat mereka itu.
"Memangnya Ayahmu usaha apa, Tye?" Tanya Joe.
"Ayahku saat ini sedang menjalankan usaha Mabel."
"Waaah. Lumayan itu," kata Joe sambil berdecak kagum.
"Lumayan lah. Tapi akhir-akhir ini usaha ayahku sedikit terganggu dengan adanya perusahaan yang sama yang didirikan oleh keluarga Clifford," kata Tye sambil mendesah berat.
"Keluarga Clifford lagi," gumam Joe tanpa sadar.
"Apa kau mengenal keluarga itu, Joe?"
"Ah tidak. Tidak juga," jawab Joe sedikit gugup.
"Sialan sekali. Hampir saja ketahuan," gumam Joe dalam hati.
Tye kini kembali memfokuskan dirinya mengemudikan mobilnya. Dan kini mereka telah tiba di simpang empat.
Setelah mengambil jalan ke arah kanan, mobil yang ditumpangi oleh Joe, Tye dan Sylash akhirnya tiba juga di depan pusat perbelanjaan di Quantum entertainment ini.
"Waaaah. Cantik sekali di sini. Aku belum pernah sampai di sini," kata Sylash terkagum-kagum melihat bangunan-bangunan gedung berderet di sepanjang jalan dan kesemuanya adalah pusat perbelanjaan yang menyediakan berbagai barang mulai dari pakaian, perhiasan, perabot, gadget dan apa saja sepertinya ada di jual di tempat ini.
Tidak jauh dari bangunan yang akan mereka tuju, di seberang sana terdapat deretan Dealer dan Showroom kendaraan dengan berbagai trademark.
Sylash tampak melongo terkagum-kagum melihat deretan bangunan yang tampaknya menyediakan berbagai layanan tersebut. Dia baru sadar ketika Joe menepuk pundaknya sambil berkata. "Katup kan bibir mu itu Sylash! Biasa saja lah. Atau, kita akan diusir dari tempat ini!" Kata Joe memperingatkan.
"Eh. Iy-iya. Iya," kata Sylash yang tampak gugup dan malu-malu.
"Apa kau kemarin jadi datang ke Quantum entertainment ini, Joe?" Tanya Tye.
"Jadi. Tapi hanya melihat dari pinggir jalan saja," jawab Joe berdusta.
"Ayo lah kita masuk ke toko yang ada di sana itu. Aku ingin melihat-lihat dulu," ajak Tye sambil menunjuk ke arah satu toko yang tampaknya menyediakan berbagai perhiasan dan barang-barang yang sering digunakan oleh seorang wanita.
Kedua pemuda itu tidak membantah. Mereka mengikuti saja kemana Tye melangkah.
"Hallo Tuan muda. Apakah ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang wanita resepsionis dengan hormat kepada ketiga pemuda itu.
"Kami ingin membeli sesuatu untuk dijadikan sebagai hadiah kepada sahabat kami yang akan berulang tahun. Bolehkah kami melihat-lihat terlebih dahulu?" Tanya Tye kepada resepsionis itu.
"Oh.., tentu. Tentu saja boleh, Tuan muda sekalian. Silahkan!" Kata sang resepsionis sambil merentangkan tangannya membuat gestur mempersilahkan.
"Terimakasih, Nona!" Kata Tye lalu segera melangkah memasuki toko tersebut dengan diikuti oleh Joe dan Sylash.
Bersambung...