
"Namora! Tinggal empat orang lagi. Giring mereka ke pinggir pantai!" Sosok bertopeng dan berpakaian hitam itu kini tampak mengirim pesan melalui WhatsApp. Setelah itu, dia memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celananya.
Sementara itu, dari dalam mobil, Namora dan R1 yang memang sengaja tidak keluar, kini mulai keluar juga dari mobilnya kemudian melangkah menuju pinggiran pantai dengan ditemani oleh R1.
Melihat sasaran jepretan kera mereka telah keluar, empat orang yang tersisa kini mengarahkan kamera mereka ke arah Namora.
Namora yang menyadari bahwa dirinya kini menjadi sasaran lensa kamera dari orang-orang yang berlindung segera menarik R1 seolah-olah mereka berdua akan berciuman. Hal ini membuat wajah Namora terhalang dari bidikan lensa kamera yang tampak dilengkapi dengan infrared dengan ISO tinggi tersebut.
Melihat bahwa target jepretan kamera mereka sangat sulit, mereka lalu semakin mendekat ke arah target. Dan kini mereka hampir tiba di pinggir pantai.
Entah kapan tepatnya, kini sosok hitam bertopeng sudah berdiri saja diantara Namora -R1 dan keempat lelaki asing tersebut.
Bukan hanya empat lelaki asing itu saja yang terkejut, Namora dan R1 juga tidak kalah terkejutnya.
Sosok berpakaian hitam dan bertopeng itu menjentikkan jari tangannya tiga kali berturut-turut. Dari ujung jari sosok berpakaian serba hitam itu melesat butiran bola besi yang mengenai tepat ke arah tiga orang dan hanya menyisakan seorang saja.
Seorang lelaki yang memang sengaja tidak dicederai itu sampai terkencing didalam celana menyaksikan ketiga temannya di kiri dan kanannya ambruk begitu saja.
Sosok hitam itu menjentikkan jarinya seperti memberi perintah. Kemudian dari arah yang tidak jauh, muncul tiga orang wanita berwajah cantik menyeret tiga sosok tubuh yang sudah tidak bernyawa itu ke arah pantai yang sedikit semak lalu melemparkan mayat-mayat itu di sana.
Kini, ketiga gadis tadi langsung mengelilingi seorang lelaki yang tersisa.
"Ampun. Ada apa ini? Mengapa kalian menyerang kami? Apa kesalahan yang telah kami perbuat kepada kalian?" Tanya lelaki asing yang tadinya berjumlah sepuluh orang itu.
"Kesalahanmu adalah, salah dalam menargetkan orang. Hahaha. Kalian sengaja dikirim dari Hongkong untuk melacak identitas ku kan? Ini aku tunjukkan kepada mu seperti apa wajah kakek mu ini. Nih lihat!" Kata sosok serba hitam itu sambil membuka topengnya. Dan kini tampaklah wajah tampan dengan senyum dingin yang sangat sinis.
"Aku adalah Joe William. Orang yang telah membuat keluarga majikan mu pulang kampung dengan cara yang sangat terhina,"
"Saya tidak mengetahui apa yang anda maksudkan. Kami di sini adalah turis. Aku pasti akan mengadukan hal ini kepada pihak yang berwajib," ancam lelaki yang sudah sangat ketakutan itu. Namun, walaupun dia ketakutan, dia masih sempat melemparkan ancaman kepada Joe.
"Hahaha. Pihak berwajib katamu? Presiden di negara itu hanya menang pangkat saja dengan ku. Kau jangan berpura-pura bodoh. Aku adalah penguasa di negara ini. Dengan kekuatan yang aku miliki, aku bahkan bisa membentuk sebuah negara di dalam negara,"
"Heh. Bangun kau!" Bentak Joe sambil mencengkram kerah baju lelaki tadi. "Aku tidak suka berbelit-belit. Jika kau sayang terhadap nyawamu, cepat hubungi orang yang menyuruh mu. Atau kau akan aku siksa?!"
"Orang yang mana? Siapa yang anda maksudkan?" Tanya lelaki itu lagi masih berpura-pura bodoh.
"R1! Lakukan metode mu!" Perintah Joe.
R1 langsung melangkah mendekati lelaki itu. Lalu dengan sangat kasar, wanita berdarah dingin itu menjambak kantong menyan lelaki tadi kemudian meremasnya.
"Aaaaa..., Ampun. Aku mohon tolong lepaskan. Aku bisa mati!" Teriak lelaki itu.
"Nyawa mu sama sekali tidak ada harganya bagi ku. Perkeras remasan mu!"
"Ampun. Ampun. Iya aku akan menghubungi majikan ku!"
*********
Sambil menyeka keringat di tubuhnya, Tiger Lee pun melangkah mendekati ponsel miliknya dan melihat ke arah layar. "Lee Cheng?" Katanya dalam hati lalu segera menjawab panggilan itu.
"Hallo Lee Cheng?"
"Halo kak, kami telah...,"
"Kemari kan ponsel mu itu sialan!"
"Hallo. Lee Cheng?! Bagaimana dengan tugas yang aku berikan kepada mu?" Tanya Tiger Lee tidak sabaran. Karena dia mendengar bahwa ada suara lain seperti sedang memaksa anak buahnya untuk merebut ponsel miliknya.
"Hahaha. Apakah kau yang bernama Tiger Lee?" Tanya suara dari seberang sana.
"Hallo. Siapa ini?" Tanya Tiger Lee yang mulai merasakan perasaan yang tidak enak.
"Aku adalah kakek mu. Perkenalkan nama kakek mu ini adalah Joe William,"
"Hallo. Jangan main-main dengan ku jika tidak ingin mencari penyakit!"
"Aku suka dengan sesuatu yang menyakitkan. Aku kecanduan dengan rasa sakit tersebut. Baik disakiti, maupun menyakiti. Aku sangat suka dengan semua itu. Aku hanya ingin mengatakan kepada mu bahwa kecoak-kecoak yang kau kirim ke Quantum City ini belumlah cukup untuk mengetahui tentang diriku. Sembilan dari sepuluh orang anak buah mu sudah menjadi mayat. Sekali lagi aku katakan, jadilah cucu yang baik! Atau kau yang akan aku buat menyesal!"
"Bangsat sialan anda itu. Kelak aku pasti akan mengorek jantung mu lalu memakannya!" Bentak Tiger Lee dengan gusar.
"Aku menantikan saat-saat pembuktian dari ucapan mu. Kau belum terlalu pintar untuk melawan ku. Persiapkan dirimu dengan matang wahai cucu ku! Jika tidak, kau dan majikan mu akan menjadi bangkai yang tidak ada harganya. Sekali lagi aku katakan! Kau salah mencari lawan!"
Tut.., tut.., tut..!
"Setaaaaan...!"
Prak!
Karena terlalu marah, Tiger Lee melemparkan ponselnya ke arah dinding ruangan itu hingga hancur berderai. Tampak urat-urat di tangan dan lehernya bersembulan menandakan bahwa lelaki gaek ini sedang dikuasai oleh kemarahan.
"Ada apa Paman?" Tanya Honor yang tiba di sampingnya.
"Maafkan Paman mu ini. Aku gagal. Semua orang yang aku kirim gagal menjalankan tugas mereka. Bahkan mereka semua sudah tewas ditangan Joe dan anak buahnya yang sangat ramai. Kau bayangkan saja. Sepuluh orang anak buah ku dikeroyok oleh ratusan orang anak buah Joe William ini. Tentu saja mereka kalah walaupun mereka telah berjuang habis-habisan," jawab Tiger Lee berbohong.
Mendengar kegagalan ini, Honor pun langsung terduduk. Berulang kali dia memukul-mukul pahanya dengan tangan.
"Biarkan mereka menang kali ini. Kita masih memiliki waktu. Kelak, jika kasino milik kita telah di buka secara merata di kota Tasik Putri, serta pabrik pengolahan ikan dan pabrik pupuk milik kita di Kuala Nipah selesai dijalankan, aku akan memaksa Joe ini yang akan mendatangi ku. Kita lihat saja. Dia pasti akan keluar dari sarangnya. Ketika itu terjadi, dia atau aku yang akan mati!" Kata Honor geram.
Tidak menunggu tanggapan dari kedua lelaki paruh baya yang berada di ruangan itu, Honor melempar handuknya lalu melangkah keluar meninggalkan ruangan itu.
Bersambung...