
Joe berjalan melenggang dengan sebelah tangannya memasuki saku celananya.
Ketika dia melewati beberapa pengawal yang berbaris, para pengawal itu langsung membungkukkan badan mereka. Bahkan, Namora juga tidak terkecuali.
Ketika dia sudah berdiri di depan kursi miliknya, Joe pun segera berucap dengan senyuman mengembang di wajahnya.
"Selamat datang untuk sahabat-sahabat ku yang telah sudi memenuhi undangan dari ku ini. Maafkan jika pesta ini terlalu kecil karena memang aku mengadakannya khusus untuk merayakan hari pertama sahabat ku, Namora Habonaran, Talia Gordon dan Xenita Patrik yang baru saja tiba hari ini di Quantum City. Baiklah. Tanpa membuang-buang waktu lagi, mari kita nikmati acara ini. Jangan sungkan. Anggap saja ini adalah rumah kalian sendiri," kata Joe.
Prok prok prok..!
Tuan Baron segera menepuk tangannya sebagai isyarat. Dan tak lama setelah itu, dari arah salah satu ruangan, berdatangan pelayan serta koki dengan masing-masing mereka membawa nampan berisi hidangan yang akan disajikan di atas meja para tamu.
Setelah semua meja terisi, Joe pun merentangkan tangannya mempersilahkan kepada seluruh mereka yang ada di situ untuk menikmati hidangan yang telah disediakan.
"Mari silahkan dinikmati! Tidak perlu khawatir. Jika kurang, bisa ditambah. Untuk meja Sylash, aku telah memerintahkan untuk memberikan kepadanya tiga kali lipat dari porsi di meja lain," kata Joe.
Spontan saja semua sahabat Joe tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan dari Joe ini sambil melihat ke arah meja dimana Sylash duduk.
"Hahaha. Sahabat ku, Joe! Kau paling tau apa yang aku mau," kata Sylash tanpa rasa malu-malu lagi.
Jika orang lain makan menggunakan pisau dan garpu, berbeda dengan Sylash. Dia langsung menggunakan tangannya.
Dengan diiringi alunan musik dan penyanyi yang memang diundang secara khusus oleh Tuan Baron, mereka semua kini menikmati makan malam tersebut.
Semuanya yang berada di Rooftop bangunan Mansion itu tampak puas dengan hidangan yang disajikan.
Melihat piring di meja Sylash sudah kosong, Joe segera memerintahkan kepada pelayanan untuk membawakan kembali makanan yang langsung disambut dengan senyuman oleh pemuda itu.
"Aku bisa gemuk kalau begini," kata Sylash membuat sekali lagi mereka tertawa.
"Ayo, Sylash! Setahannya dirimu saja. Makanan tidak akan habis. Kau jangan khawatir. Sampai perut mu pecah pun makanan di sini tidak akan habis," kata Joe sambil tertawa.
Kembali semuanya tertawa. Termasuk Daniel dan Riko.
Terutama Daniel, dia melihat kelompok pemuda ini jadi teringat akan dirinya bersama dengan Ryan dan Jerry sekitar 20 tahun yang lalu. Ketika itu ceritanya hampir sama. Yaitu, Jerry mentraktir mereka makan di Lotus Mansion.
Persis seperti yang lainnya. Daniel dan Ryan ketika itu juga sama-sama tidak pernah memakan makanan lezat di tingkat paling atas Lotus Mansion tersebut.
Dua puluh tahun berlalu, kenangan itu kembali terbayang. "betapa waktu begitu cepat berlalu," kata Daniel dalam hati.
Dia kini dengan jiwa kebapakan mengelus pundak Joe dengan penuh kasih sayang.
"Paman. Apakah Paman tidak mau makan yang banyak? Ayo paman makan saja. Tidak bakalan gemuk," kata Joe sambil tertawa.
"Hahaha. Kau ini. Kalian saja makan yang banyak! Bukankah kalian ini semuanya sedang dalam masa pertumbuhan?" Balas Daniel sambil tersenyum.
"Aku sudah cukup. Nanti kalau kekenyangan, aku bisa ketiduran sampai siang. Padahal setiap Subuh, aku harus berlatih," kata Joe mengelak.
"Kalian semua. Ayo makan!" Kata Joe berdiri dengan piring penuh makanan ditangannya lalu menyuapi R1 dan yang lainnya.
"Tuan! Kami tidak pantas," jawab R1 gugup.
"Apa itu tidak pantas? Kalian milik ku. Pantas kata ku, maka pantas bagi kalian. Ayo! Sekarang kalian duduk di sini! Kita semua sama. Betul kan Paman?" Tanya Joe kepada Daniel dan Riko.
Kedua lelaki paruh baya itu serempak menganggukkan kepala mereka tanda setuju.
Keempat gadis itu pun mau tak mau terpaksa duduk juga. Mereka lalu memakan makanan yang diberikan oleh Joe dengan malu-malu.
"Nah. Begini kan bagus. Apa kalian pintar berdansa?" Tanya Joe yang langsung membuat Talia tersedak.
Talia ingat bagaimana Joe menyiksa dirinya dalam acara di Hotel Mutiara Metro City.
Dengan gaya dansa yang dia namai sebagai dansa hukum rimba, tidak terhitung berapa meja yang porak poranda karena Sambaran dari kaki Joe ini. Bahkan, kakinya juga dengan ringan naik ke atas pundak para pedansa lainnya membuat acara itu benar-benar hancur lebur oleh ulah Joe ini.
"Apa kau bisa berdansa Kak? Jangan sampai...,"
"Hahaha. Kau trauma?" Tanya Joe memotong pertanyaan Talia barusan.
"Joe. Ini adalah acara pesta yang bukan hanya kalian yang berada di sini. Jangan kau hancurkan pesta ini atau kami akan menjewer telinga mu?!" Ancam Daniel.
"Aku tidak, Paman. Mereka saja yang berdansa.
Melihat ini, Namora Habonaran mendadak pucat dan melihat ke kiri dan ke kanan.
"Ayo lah Namora! Jangan jadi ayam sayur!" Kata Joe sambil tertawa.
"Mati aku," gumam Namora yang saat ini mendadak haus.
Pemuda dingin itu terpaksa menyambut uluran tangan dari Xenita. Mereka berdua kemudian berjalan menuju lantai dansa dengan diikuti oleh Sylash dan Ruby, Tye dan Melissa.
Beberapa pemuda yang lainnya mulai mengajak Naomi dan Aurelie untuk berdansa juga.
Kini tibalah giliran Albern yang mengajak Talia Gordon untuk berdansa.
"Ayo Talia. Jika dengan ku, kau pasti akan pingsan," kata Joe mempersilahkan.
Talia akhirnya menerima juga uluran tangan dari Albern Miller. Sepasang muda-mudi ini pun kini berjalan menuju ke lantai dansa.
Setelah semuanya berada di arena dansa, lampu yang tadinya terang pun padam dan berganti dengan lampu remang-remang sehingga membuat suasana kini berubah menjadi romantis.
Belum ada setengah jam mereka melantai, kini terdengar suara nada dering di ponsel milik Naomi.
Naomi yang memang sudah mewanti-wanti akan adanya telepon dari sang Ayah segera meminta diri lalu menjawab panggilan tersebut.
"Hallo, Ayah!" Kata Naomi dengan menutup sebelah telinga nya agar fokus mendengar apa yang Ayahnya sampaikan.
"Naomi. Dimana sekarang kau berada Nak?" Tanya Sang Ayah.
"Naomi sedang berada di Klasik Mansion, Ayah. Ada apa ayah menelepon ku? Apakah ada sesuatu yang buruk terjadi?" Tanya gadis itu.
"Benar Nak. Tuan Clifford beserta anak buahnya baru saja kembali dari rumah kita. Mereka mengancam jika kau tidak segera datang ke sana dan meminta maaf dengan cara berlutut, maka besok mereka akan mendatangi kampus dan memaksa mengosongkan kampus tersebut. Saat ini, ayah telah dipaksa oleh mereka untuk menandatangani surat perjanjian bahwa jika sampai besok sore hutang perusahaan tidak dilunasi, maka, besok lusa mereka akan merobohkan Globe's University," kata Tuan Johnson menceritakan semua ancaman dari Tuan Clifford kepada gadis itu.
Mendengar kabar bahwa kini keluarganya mendapat tekanan dari keluarga Clifford, tanpa sadar Naomi menangis sejadi-jadinya. Beruntung ketika itu suara alunan musik mampu menutupi suara tangisnya. Namun, itu tetap saja tidak bisa menipu telinga tajam milik Joe.
Tanpa sepengetahuan Naomi, sejak tadi Joe telah berdiri di belakang gadis itu.
"Ayah. Apakah menurut ayah, aku harus melakukan seperti yang diinginkan oleh Duff Clifford itu?" Tanya Naomi sambil terisak.
"Putriku. Ayah tidak tau harus berbuat apa lagi. Di satu sisi, ayah juga tidak ingin melihatmu menderita nantinya jika harus menjalani pernikahan dengan putra Clifford itu. Di sisi lain, kita akan kehilangan Globe's University yang telah diwariskan secara turun temurun dari nenek moyang kita. Ayah benar-benar tidak memiliki solusi yang tepat," jawab Tuan Johnson.
"Ayah jangan khawatir. Aku akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan Globe's University," kata Naomi.
"Baiklah Nak. Ayah akan menunggu mu kembali. Kita akan membicarakannya di rumah," kata Tuan Johnson lalu segera mengakhiri panggilan itu.
Naomi masih berdiri mematung dan belum berani memutar badan.
Dia ingin terlebih dahulu menenangkan perasaannya agar para sahabatnya tidak mengetahui bahwa dia sedang dalam masalah. Tapi yang tidak dia duga adalah, satu tangan kini memegang pundaknya dari belakang. Dan, ketika dia berbalik, dia melihat Joe kini telah berdiri dibelakangnya dengan tatapan penuh iba.
"Tidak perlu dijelaskan. Aku sudah tau semuanya. Kau tenang saja. Aku telah menyiapkan jebakan untuk memusnahkan keluarga Clifford ini," kata Joe dengan santai.
"Apa maksud mu Joe?" Tanya Naomi tidak mengerti.
Sebagai jawaban, Joe kini mengeluarkan ponselnya. Dia lalu mengirim pesan kepada Ryan.
"Paman. Mulai malam ini, lancarkan serangan ke perusahaan Clifford Kryptonite! Aku ingin mereka mengalami kebangkrutan besok siang!" Kata Joe tepat di depan Naomi.
"Bagus Joe. Kau mengirim pesan di saat yang tepat. Paman telah mengetahui bahwa semua rekan bisnis di keluarga itu adalah sebagian besar perusahaan yang berada di bawah naungan Future of Company. Hanya dalam sekali serang saja, mereka pasti akan membatalkan seluruh kesepakatan bisnis dengan perusahaan itu," kata Ryan dalam balasan pesan audio tersebut.
"Terimakasih, Paman. Besok aku akan menghubungi Paman lagi," kata Joe lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku.
"Sudah beres. Besok, Quantum City ini akan menjadi gempar," kata Joe lalu menarik tangan Naomi menuju ke kursinya untuk duduk.
"Apa kau yakin dengan cara ini mampu menyelamatkan Globe's University?" Tanya Naomi.
"Kau jangan terlalu banyak berfikir. Aku tidak pernah setengah-setengah dalam menghabisi lawan ku. Sudah saatnya Quantum City ini terbebas dari cengkraman keluarga Clifford yang semena-mena terhadap perusahaan lain. Kali ini, mereka akan menuai apa yang mereka tanam," jawab Joe lalu segera menghampiri Herey.
Entah apa yang mereka bicarakan, karena, Naomi hanya melihat bahwa lelaki berbadan tegap berotot itu hanya mengangguk saja lalu segera pergi meninggalkan tempat acara pesta tersebut.
Bersambung...