
Mobil Volvo C30 tampak memasuki pekarangan rumah mewah di bagian barat bukit Metro di Metro City ini.
Begitu berhenti di depan rumah besar itu, tampak seorang lelaki berusia sekitar 60-an keluar dan kemudian membanting pintu mobil itu dengan kasar membuat seorang lagi wanita yang berusia sekitar 50-an terkejut.
"Percuma kau marah-marah seperti ini kak. Bagaimanapun keputusan sudah diambil oleh Tuan Adolf. Salah kita mengapa tadi tidak mengajukan bantahan." Kata wanita itu. Dia adalah Diana Regnar.
Mereka baru saja kembali dari MegaTown tepatnya di komunitas elite real estate MegaTown di mana di sana berkumpulnya para elite bisnis kota itu termasuk Tuan Adolf Miller.
"Aku tidak habis pikir dengan kebijakan yang diambil oleh Adolf Miller ini. Dia sepertinya lupa daratan ketika Ryan tadi menyetujui kerja sama itu. Jika begini, kita tak ubahnya seperti sampah yang sudah tidak berguna lagi. Kemarin Tuan Paul yang berusaha untuk dia buang. Hari ini kita. Besok entah siapa lagi." Kata Frank menumpahkan kekesalannya.
"Biarkan saja dulu kak. Bagaimanapun, kita masih memiliki satu proyek lagi yang belum selesai. Kita juga sudah mendapatkan keuntungan dari beberapa proyek yang telah kita kerjakan dalam empat tahun terakhir ini." Kata Diana.
"Masalahnya sekarang ini bukan terletak kepada uang atau apalah itu. Yang membuat aku ini merasa seperti habis manis sepah di buang adalah caranya itu. Ketika dia memerlukan kita, bukan main manisnya. Ketika dia sudah mencapai kesepakatan dengan Ryan, seenaknya saja melupakan kita. Itu yang membuat aku merasa sangat marah." Kata Frank lagi lalu melanjutkan. "Aku harus menelepon Paul. Dia harus segera tau akan hal ini."
"Ayo kita masuk dulu. Tidak baik jika tetangga melihat mu seperti ini." Kata Diana sambil menarik tangan kakak lelakinya itu.
***
Sementara itu di MegaTown, Tuan Paul yang sejak tiga hari ini mengurung diri di rumahnya mendadak mendapat panggilan melalui telepon dari Frank Regnar.
Dengan menahan rasa penasarannya, dia segera menjawab panggilan itu.
"Hallo Tuan Frank!"
"Tuan Paul. Apakah anda sudah mendengar kabar?" Tanya Frank Regnar di seberang sana.
"Kabar apa itu Frank? Aku sama sekali tidak keluar rumah beberapa hari ini. Aku masih kesal dengan ayah dan anak dari keluarga Miller itu." Jawab Tuan Paul.
"Tuan Paul. Berhentilah merajuk karena tidak ada siapapun yang akan membujuk. Saat ini kau harus tau bahwa posisi mu di dalam perusahaan sudah di ujung tanduk." Kata Frank.
"Apa maksud mu Frank?" Tanya Tuan Paul dengan gusar.
"Tuan Paul. Apa kau tidak tau bahwa Tuan Adolf Miller telah berhasil menjalin kesepakatan kerjasama dengan Ryan, Riko dan Arslan?! Mereka sudah deal untuk menduduki jabatan penting di dalam perusahaan. Bahkan, Proyek yang sedang berjalan di Garden Hill berada di bawah tanggung jawab Ryan mulai esok." Kata Frank melaporkan.
"Apa?"
Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Tuan Paul begitu mendengar kabar dari Frank ini. Jika itu bukan Frank, sudah jelas dia tidak akan percaya.
"Aku mana tau. Aku mengira bahwa kau sudah diberitahu oleh Adolf Miller itu. Karena kau sedang merajuk, makanya kau tidak datang. Itu yang ada dalam fikiran ku tadi." Jawab Frank beralasan.
"Adolf ini benar-benar berhati iblis. Dia sedikitpun tidak mengenang jasa. Sia-sia aku dulu bekerja untuk dirinya. Mendapatkan banyak musuh. Bahkan melakukan percobaan pembunuhan terhadap putra Jerry. Semua aku lakukan hanya untuk dia. Tapi sekarang aku malah disingkirkan. Dia jangan main-main kepada ku. Aku tau semua rahasia dan taktik kotor nya untuk mendapatkan proyek di Garden Hill bagian Timur. Aku pasti akan menelpon dan menanyakan apa maksud dari semua ini. Kalau dia macam-macam dengan ku, aku juga bisa macam-macam dengannya." Kata Tuan Paul dengan sangat marah.
"Aku tidak ingin melaga-lagakan antara kau dengan Adolf itu Tuan Paul. Namun kembali lagi kepada dirimu. Berhati-hatilah terhadap Adolf ini. Dia datang ke negara kita ini untuk menguasai peta bisnis di sini. Dia jauh lebih kejam daripada Jerry dan Putranya. Jika Jerry hanya bertindak balas jika di usik, Adolf ini akan selalu mencari perkara dan suka mengusik. Aku ingatkan sekali lagi agar kau berhati-hati. Dia bisa saja membunuh mu." Kata Frank memperingatkan.
"Kau jangan khawatir Frank. Aku juga sudah terlalu tua untuk takut kepada Adolf ini. Sekali ini aku tidak akan diam lagi. Aku lelah menjadi setan bisu. Kematian putra ku pun bukan karena Jerry. Tapi karena Robin. Jadi, aku tidak memiliki alasan untuk dendam kepada kepala keluarga William itu." Kata Tuan Paul.
"Kau tau darimana Tuan Paul?" Tanya Frank penasaran.
"Tuan Abraham yang mengatakan kepada ku. Karena dalam kecelakaan itu, putrinya juga menjadi korban."
"Sudahlah Frank. Aku tau apa yang harus aku lakukan. Aku akan mengumpulkan bukti-bukti dulu kecurangan Adolf Miller ini dengan menyuap walikota dan memalsukan izin proyek di Garden Hill timur. Kali ini dia bukan saja berurusan dengan perusahaan Future of Company. Namun berurusan juga dengan hukum. Andai terbukti, maka perusahaan Arold Holding Company tidak akan bisa bertapak di negara ini. Mereka akan kembali terusir seperti zaman Arold Miller dulu yang kalah telah di tangan empat naga dari Metro City." Kata Tuan Paul.
"Kau berhati-hati Paul. Sebaiknya kau jangan berada di rumah mu. Kau bisa mengancam Adolf ini dari mana saja. Setelah itu kau harus bersembunyi agar mereka tidak bisa mengetahui keberadaan mu. Bila perlu, datang saja kepada Jerry William. Berlutut dan meminta maaflah kepadanya. Mungkin kau bisa selamat dari incaran Adolf andai kau ingin membongkar borok nya."
"Frank. Aku hanya percaya kepada mu. Tolonglah untuk merahasiakan apa yang sudah kita bicarakan ini. Biar pecah di perut, asal jangan pecah di mulut. Apa kau bisa menjaga rahasia?" Tanya Tuan Paul penuh harap.
"Aku akan semampuku untuk menjaga rahasia. Kau tenang saja. Diana pun tidak akan aku beritahu." Kata Frank menjamin bahwa dia akan menjaga rahasia.
Jelas saja Tuan Paul sangat ketakutan. Dia masih belum sempat melakukan apapun persiapan untuk kabur, lalu mengancam Adolf dari tempat persembunyian nya. Andai Frank ini ular berkepala dua yang kemudian mengadukan apa yang sedang mereka bicarakan ini, sudah pasti Adolf akan mengirim orang-orangnya untuk membunuh Tuan Paul. Bisa mati katak dia. Hal inilah yang sangat ditakutkan oleh Tuan Paul ini.
"Baiklah Frank. Mari kita sudahi dulu obrolan kita ini. Aku hanya butuh satu jam untuk bersiap-siap. Biarkan aku tidak memiliki pekerjaan lagi. Asalkan hati ku puas, itu sudah cukup." Kata Tuan Paul lalu segera mengakhiri panggilan dan keluar menemui para pengawalnya.
"Kalian semua. Pergi ke persimpangan jalan sana! Lihat apakah ada orang-orang dari keluarga Miller yang kemari! Jika ada, segera beritahu aku!" Kata Tuan Paul.
"Baiklah Tuan." Kata mereka lalu segera membagi beberapa kelompok dan kemudian bergegas keluar dari kawasan perumahan itu.
"Aku harus cepat. Jika tidak, mati lah. Aku tidak terlalu percaya kepada Frank ini. Bisa saja dia berkhianat." Kata Tuan Paul dalam hati. Dia lalu segera membuka berangkas miliknya kemudian mengeluarkan beberapa dokumen penting, memasukkan ke dalam koper untuk segera dia bawa ketika kabur nanti. Itu adalah bukti surat-surat izin palsu yang dia buat bersama dengan walikota.
Pemalsuan tandatangan gubernur ini bukan hanya bisa menjerat keluarga Miller. Bahkan jauh daripada itu, walikota bagian Timur Garden Hill pun akan ikut terseret juga. Ini karena, selain proyek itu adalah proyek ilegal, Adolf juga sudah banyak mengirim anak buahnya untuk melakukan kekerasan terhadap warga yang melakukan demo menolak proyek itu.
Hal ini jugalah mengapa Adolf begitu sangat menginginkan agar Arslan dan Riko juga bergabung dengan perusahaannya. Ini karena dengan kekuatan yang dimiliki oleh Arslan, maka akan semakin mudah baginya untuk membungkam orang-orang Garden Hill yang mencoba menentang berdirinya proyek itu.
Bersambung...