Joe William

Joe William
Tuan Paul berhasil di lacak



Kriiiiiing...


Kriiiiiing...


Suara ponsel milik Black mendadak berdering membuat lelaki setengah baya itu meminta izin kepada Tuan besar Smith dan William untuk menjawab panggilan telepon tersebut.


"Maaf Tuan besar. Saya akan menjawab panggilan ini dulu." Kata Black.


Dia kemudian buru-buru melihat ke arah layar yang ternyata pemanggil tersebut adalah Leo.


"Hallo Leo. Apakah ada informasi yang akan kau sampaikan?"


"Black. Apakah Tuan muda ada bersama dengan mu saat ini?" Tanya suara di seberang sana.


"Iya. Tuan muda saat ini sedang bermain Troli. Ada apakah Leo?"


"Black. Tolong kau sampaikan kepada Tuan muda bahwa keberadaan Tuan Paul sudah ditemukan."


Mendengar berita penting tentang Tuan Paul ini membuat Black sampai terlonjak.


Ekspresi nya yang seperti ini membuat semua orang yang berada di ruangan itu serentak melirik ke arahnya lalu sama-sama bertanya.


"Ada apa denganmu Black?" Tanya Arslan.


"Black tidak langsung menjawab melainkan memandang ke arah Joe William.


"Ada apa Senior Black?" Tanya Joe.


"Tuan muda. Saat ini Leo sedang menelepon saya. Masih belum terputus. Dia mengatakan bahwa Tuan Paul sudah ditemukan keberadaan nya." Kata Black melaporkan.


"Hah? Bagus. Ini yang aku suka." Kata Joe yang langsung melompat dari troli miliknya itu.


"Ini Tuan muda." Kata Black menyerahkan ponselnya kepada Joe


"Hehehe. Terimakasih Senior Black." Ucap Joe lalu menerima ponsel tersebut kemudian mengucapkan kata, "hallo pak Leo!"


"Hallo Tuan muda."


"Ya. Bagaimana dengan pekerjaan anda? Apakah Paul itu sudah dapat di lacak?"


"Benar Tuan muda. Anak buah saya sudah dapat melacak keberadaan Tuan Paul ini yang ternyata bersembunyi di Hillstreet." Kata Leo.


"Hillstreet?"


"Benar Tuan muda. Hillstreet ini dulu adalah proyek milik Smith Group yang diakuisisi oleh Ayah anda yaitu Tuan besar Jerry William. Paul ini dulu adalah salah satu dari Manager di Hillstreet ini. Tepatnya, bagian logistik." Kata Leo.


"Bagus. Sekarang juga aku akan berangkat bersama dengan Senior Black ke Hillstreet itu. Anda tidak perlu ikut. Teruslah berada di sisi Adolf Miller itu. Pantau terus keadaan di sana!" Kata Joe mementahkan.


"Aku sudah memikirkan semuanya. Baiklah! Sekarang mari kita berbagi tugas. Anda awasi keluarga Miller ini. Ketika terjadi bentrok antara Adolf Miller dan Rudolf, anda jangan ikut campur dan melerai pertengkaran mereka. Bila perlu salah satu dari mereka ada yang mati. Aku akan segera berangkat ke Hillstreet. Mungkin menggunakan helikopter akan mempercepat dan dapat menghemat waktu." Kata Joe.


"Siap laksanakan, Tuan muda." Kata Leo lalu mengakhiri panggilan.


"Kek. Aku butuh helikopter untuk menjemput Paul. Dia memiliki barang bukti surat perjanjian palsu tentang proyek mereka di Garden Hill." Kata Joe begitu selesai melakukan obrolan telepon dengan Leo tadi.


"Kau bersiap-siap lah! Aku akan meminta Samuel menguruskan untuk mu." Kata Tuan Smith.


"Senior Black. Aku mau mandi dulu. Troli ku jangan lupa di bawa sekalian! Dan jangan lupa untuk menghubungi kakek ku dan kakek Syam!" Kata Joe lalu enak saja melompat dari bawah. Dia lalu memegang besi pembatas tangga untuk naik ke lantai dua, seperti melayang bagai alap-alap dan hinggap di pertengahan tangga tersebut.


Keisengan Joe ini membuat mereka membeliakkan mata. Terutama Arslan, Riko dan Black yang mengerti seni bertarung. Bagaimana mungkin Joe bisa ringan seperti itu.


Tindakan Joe yang iseng namun sulit untuk dilakukan oleh orang biasa ini membuat mereka berfikir bahwa anak ini memang hebat. Sedangkan tingkah konyolnya itu hanyalah tipuan untuk menutupi kehebatannya.


*********


Berita tentang terungkapnya proyek ilegal milik perusahaan Arold Holding Company di Garden Hill bagian Timur itu membuat gempar dunia kontraktor di negara ABCDEF ini. Mulai dari Metro City, MegaTown, Starhill, Country home dan Hillstreet dengan hangat dan jadi topik perbincangan antara mereka yang berkutat di bidang konstruksi.


Beberapa kalangan yang tak percaya dengan terungkapnya borok proyek milik keluarga Miller ini adalah keluarga Regnar.


Spontan saja Frank dan Diana Regnar gemetaran ketika berita itu rilis di televisi siang ini. Mereka lalu menghubungkan antara ancaman Joe William tadi pagi dengan berita siang hari ini. Semuanya sama persis. Jadi, sah lah sudah bahwa ini adalah pekerjaan anak bau jahe itu. Jika tidak, mana mungkin dia bisa berani petantang-petenteng datang ke rumah kediaman mereka dan berlagak memberikan peringatan agar menjauh dari keluarga Miller.


"Ini tidak mungkin kak. Bagaimana mungkin apa yang dikatakan anak itu sama persis seperti yang ada dalam berita ini. Ini--ini. Kak?! Bagaimana ini?" Kata Diana mendadak pucat.


Wajar saja mereka pucat. Ini karena proyek yang dimiliki oleh keluarga Miller itu terancam akan dihentikan dan bisa jadi proyek itu akan gulung tikar. Andai hal itu terjadi, bukan hanya keluarga Miller saja yang akan mengalami kerugian. Keluarga Regnar juga akan merasakan dampaknya.


Ini karena, dalam perjanjian mereka, sebelum proyek tersebut dinyatakan selesai dan serah terima, maka setiap biaya pengeluaran berupa penyewaan alat-alat berat, armada transfortasi, bahan-bahan material dan gaji pekerja, akan ditalangi dulu oleh perusahaan Regnar konstruksi. Jika proyek itu dinyatakan gulung tikar, maka jelas keluarga ini akan bangkrut. Hal ini yang sangat ditakutkan oleh kedua bersaudara Regnar ini.


"Coba kau telepon dulu Tuan Adolf Miller itu. Kita pinta penjelasan kepada mereka. Mudah-mudahan dia bersedia membayar upah dari kerja-kerja yang telah kita lakukan selama ini!" Kata Frank.


"Baiklah kak." Kata Diana lalu segera menghubungi Adolf Miller di MegaTown.


Lebih lima belas kali dia melakukan panggilan, namun sepertinya tidak mendapat jawaban dari yang mereka hubungi. Hal ini membuat keringat dingin mulai bercucuran dari dahi Diana.


"Bagaimana Diana? Apakah dia menjawab panggilan mu?" Tanya Frank.


"Tidak kak. Dia sama sekali tidak mengangkat telepon." Kata Diana yang terlihat jelas keresahan di wajahnya.


"Celaka kita Diana. Bagaimana ini. Kita bisa menjadi pengemis di kaki lima jika tidak bisa menutupi hutang di bank. Matilah kita jika begini." Kata Frank sambil membuka beberapa kancing baju nya bagian atas untuk melonggarkan pernapasan nya.


"Tetap tenang kak. Kita jangan cepat-cepat membuat kesimpulan. Ini mungkin masih bisa diatasi oleh keluarga Miller itu. Mungkin kita bisa berangkat sekarang ke MegaTown untuk menemui Adolf Miller secara langsung." Kata Diana.


"Ya sudah. Ayo kita berangkat sekarang!" Ajak Frank.


Kedua kakak beradik itu lalu segera berjalan menuju area parkir depan rumah mereka dan tergesa-gesa memasuki mobil kemudian langsung tancap gas menuju MegaTown.