Joe William

Joe William
Ayah Tiara ingin mengajukan pinjaman



...Kuala Nipah...


Lelaki paruh baya, berjalan melenggang dengan bibir menyunggingkan senyum.


Tiba di sebuah rumah berdinding papan, dia segera mengetuk pintu.


Tok tok tok..!


Kreeeek...


Pintu rumah tersebut terbuka, dari dalam, tampak wanita paruh baya menyambut kedatangan lelaki paruh baya tadi sambil mencium tangannya. "Sudah pulang Pak?"


"Sudah. Hari ini tidak banyak pekerjaan, tapi untungnya lumayan besar," jawab lelaki paruh baya itu.


"Bagaimana bisa, Pak?" Tanya sang istri penasaran.


Bukannya kau tidak tau, dikampung kita ini kan sudah kedatangan pengusaha. Mereka juga berencana ingin mendirikan pabrik ikan sarden. Semua ikan tangkapan ku telah mereka borong semuanya dengan harga tinggi," jawab lelaki paruh baya itu duduk sambil berkipas-kipas menggunakan topi.


"Wah. Kalau dari dulu begini, kemungkinan masyarakat di kampung ini akan makmur. Coba saja dari dulu ada seorang yang mau menampung hasil tangkapan ikan dengan harga yang memadai,"


"Bu. Aku berencana untuk meminjam uang di koperasi simpan pinjam yang mereka dirikan. Rencananya, aku akan menggunakan uang tersebut sebagai modal awal. Kita beli ikan dari para nelayan, lalu kita jual kepada mereka. Ya, sebagai tauke kecil lah. Bagaimana menurut ibu,"


"Bagus juga tuh, Pak. Cepatlah! Sebelum orang lain mempunyai pikiran yang sama dan mendahului. Kira-kira, berapa pinjaman uang yang ingin bapak ajukan?" Tanya sang istri.


"Untuk membangun gudang, membeli segala perlengkapan seperti peti es, mobil pengangkut, dan lain sebagainya. Juga untuk modal membeli ikan-ikan mereka sebelum kembali di jual kepada tauke besar tersebut. Lima ratus juta mungkin cukup!" Kata lelaki itu membuat sang istri terkejut.


"Lima ratus juta rupiah? Banyak sekali? Pak. Apakah nantinya kita mampu membayarnya?" Tanya sang istri yang mulai khawatir.


"Kau tidak perlu khawatir. Jika hari ini saja penghasilan kita lumayan, apalagi jika kita membeli ikan milik orang lain dan menjualnya kembali. Keuntungannya bisa berkali lipat!" Jawab sang suami.


"Aku tetap khawatir jika kita tidak mampu membayar hutang itu Pak,"


"Kau tenang saja Bu. Inilah masanya untuk memperbaiki perekonomian keluarga kita. Jika kita tidak berani mengambil resiko, maka kita hanya akan jalan ditempat selamanya. Tiara juga butuh biaya untuk kuliah. Kasihan anak itu. Dia satu-satunya putri kita, tapi selalu mengalami kesulitan," tegas sang suami.


"Iyalah bang. Kalau memang begitu, coba saja. Lalu, apa jaminan Abang untuk meminjam uang sebanyak itu?" Tanya sang istri.


"Rumah ini beserta tanahnya. Lalu, aku berencana untuk menyerahkan surat tanah kebun kelapa warisan ku kepada koperasi simpan pinjam itu. Semoga saja itu cukup untuk meyakinkan mereka," jawab sang suami.


Sang istri, walaupun tampak sangat khawatir, tapi dia tidak bisa mencegah kemahuan yang keras dari suaminya. Dalam hati dia berdoa, semoga saja ini bukan awal malapetaka yang akan menimpa keluarga mereka, dan juga masyarakat kampung Kuala Nipah ini.


*********


"Ayah.., Ibu. Aku pulang!" Teriak seorang gadis berusia sekitar dua puluh tahun dari arah halaman rumah berdinding papan tersebut.


Dengan senyum mengembang di wajah kedua pasangan paruh baya itu, mereka berdua segera menyambut gadis tadi.


"Kau sudah pulang, Tiara!" Tanya sang ibu sambil membelai rambut gadis yang baru saja tiba tadi.


"Iya Bu. Tiara rindu sama Ibu dan Ayah!' jawab gadis itu.


"Bagaimana dengan kuliah mu, nak?" Kini gantian sang ayah pula yang bertanya.


"Alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar. Oh ya. Tiara lihat, sepertinya ada sesuatu yang sangat serius nih?" Tanya sang gadis sekaligus menebak.


Pasangan paruh baya itu saling pandang sejenak. Sepertinya mereka saling meminta pendapat, apa yang harus mereka katakan kepada putri semata wayangnya ini.


Setelah beberapa saat sang gadis menunggu, akhirnya sang Ibu pun menjelaskan juga semua yang tadi mereka diskusikan.


"Meminjam uang di koperasi? Pasti bunga yang mereka pasang sangat tinggi?!" Kata Tiara.


"Itulah, Ayahmu,"


"Semuanya ini untuk kita juga. Demi sebuah kesuksesan, semua orang harus berani mengambil resiko. Lebih baik gagal, namun sudah mencoba, daripada tidak gagal, tapi tidak juga berhasil dikarenakan takut dalam mengambil resiko," kilah sang ayah membela diri.


"Aku khawatir bahwa mereka ini adalah orang-orang yang diceritakan oleh Joe sebagai musuhnya," gumam Tiara antara terdengar dan tidak.


"Apa yang kau katakan Tiara?" Tanya sang Ayah.


"Eh.., tidak."


"Kapan rencana Ayah akan mengajukan pinjaman?" Tanya gadis itu.


"Ayah masih akan mengurus persyaratannya. Mungkin dua hari lagi baru ayah akan mengajukan permohonan pinjaman. Kalian bantu saja dengan doa!" Jawab si Ayah.


"Tiara permisi dulu Bu. Tiara cape. Mau istirahat dulu!"


"Tiara. Kau tampak sangat kusut. Apa kau bertengkar lagi dengan Joe? Kali ini, masalah apa lagi?" Ejek sang ibu.


"Sudah lah Bu. Jangan sebut nama dia. Aku malas," kata gadis itu. Lalu, dia pun buru-buru pergi untuk menghindari pertanyaan yang mungkin akan sangat sulit untuk dia jawab.


Sepeninggal Tiara, kedua orang tuanya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anak gadisnya itu.


"Sudahlah. Mereka masih kecil. Masih labil!" Kata sang ayah sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.


Bersambung...