Joe William

Joe William
Para karyawan melakukan demo



Berita tentang kematian Adolf Miller yaitu kepala keluarga Miller sangat cepat merebak ke seantero negeri bahkan dunia.


Saat ini Dunia perbisnisan dilanda kegemparan atas berita meninggalnya pengusaha kaya raya tersebut.


Berbagai spekulasi bermunculan dari kalangan para elite konglomerat.


Ada yang mengatakan bahwa dia terkena serangan jantung akibat desakan dari Rudolf Miller yaitu adiknya. Ada pula yang mengatakan bahwa dia terserang gagal jantung karena tidak kuat menghadapi tekanan paska terbongkarnya kasus proyek ilegal miliknya di Garden Hill.


Namun, apapun spekulasi dan seperti apapun bentuknya, yang jelas Adolf Miller sudah mati dan mustahil untuk bisa hidup kembali.


Saat ini memang keluarga Miller dilanda gelombang badai silih berganti.


Di dalam suasana berduka, mereka masih harus menyelesaikan kasus proyek yang terbukti ilegal dan ini menyangkut beberapa pejabat daerah di Garden Hill.


Antara badai besar yang melanda keluarga Miller serta perusahaannya itu adalah, kematian pemilik perusahaan yaitu Adolf Miller. Yang ke dua, perusahaan harus membayar denda kerugian akibat dari berdirinya proyek ilegal milik perusahaan yang berjumlah tidaklah kecil. Yang ke tiga adalah, retaknya hubungan kekeluargaan antara mendiang Adolf Miller dengan Rudolf Miller. Yang ke empat adalah, bahwa perusahaan Holding beserta anak-anak dari perusahaan Arold Holding Company ini tidak boleh lagi memasuki negara ABCDEFG untuk selama lamanya. Dan yang terakhir adalah, runtuhnya nilai pasar perusahaan, anjloknya harga saham dan banyak investor yang menarik diri dari perusahaan itu.


Hal ini tentu saja membuat putra mendiang Adolf merasa, sudah jatuh, tertimpa tangga berikut tong cat. Kan sakit?!


Sementara itu, di kediaman Keluarga Regnar, para buruh bangunan yang bekerja untuk perusahaan di Garden Hill telah datang menggeruduk kediaman mereka. Hal ini tentu saja karena masalah gaji.


Awalnya mereka telah bersabar menunggu sampai Tuan Frank Regnar datang ke lokasi proyek yang sudah di segel oleh pemerintah itu bagi menyelesaikan tunggakan gaji mereka. Namun, setelah lebih seminggu tidak ada kepastian, maka mereka pun sepakat untuk berangkat ke Metro City lalu memaksa Regnar bersaudara untuk melunasi tunggakan gaji mereka.


"Tuan Regnar. Saya harap anda keluar dan jelaskan kepada kami tentang tunggakan gaji kami. Kami tidak mau tau apa pun alasannya. Maupun itu proyek sudah di tutup, atau bangkrut, yang jelas kami menjual tenaga dan kewajiban anda adalah membayar gaji kami." Kata mereka menggunakan pengeras suara di depan pagar rumah besar milik keluarga Regnar itu.


"Kami memberi anda waktu satu jam untuk menemui kami. Atau kami akan melakukan tindakan anarkis. Silahkan bayar gaji kami dan kami akan pergi dari halaman luar rumah anda ini." Kata mereka lalu segera memasang tenda kecil untuk berlindung dari sengatan matahari.


Di dalam rumah, saat ini Frank dan Diana sama-sama ketakutan. Mereka sama sekali tidak memiliki uang lagi untuk membayar gaji pekerja itu setelah aliran dana dari perusahaan Arold Holding Company telah terputus.


Sementara itu, untuk mengajukan permohonan pinjaman kepada Bank juga sudah tidak mungkin. Bahkan waktu tenggang pun telah habis. Kapan saja pihak bank bisa datang dan menyita segala aset serta properti milik mereka.


"Kak. Bagaimana ini. Kita akan menjadi pengemis sebentar lagi." Kata Diana sambil menangis.


"Aku juga tidak tau, Diana. Saat ini aku ingin mati saja rasanya. Ini semua gara-gara Paul. Coba kalau kita tidak terbujuk rayuan nya, pasti kita tidak akan mengalami kebangkrutan seperti ini." Kata Frank pula.


"Tolong fikirkan jalan keluarnya kak. Jika tidak, mereka akan memaksa masuk lalu membunuh kita." Kata Diana ketakutan.


"Aku juga buntu ini. Untuk gaji kuli kasar saja mencapai delapan puluh ribu Dollar. Itu belum lagi sopir, operator alat berat, Security dan sewa armada transfortasi. Jika di total, semuanya mencapai 250 ribu USD." Kata Frank sambil memijit keningnya.


"Lalu bagaimana ini kak?" Tanya Diana. "Apa sebaiknya kita kabur saja?"


"Mau kabur kemana? Rumah kita sudah di kepung."


"Atau, begini saja. Coba kau hubungi Kenny! Hanya dia satu-satunya yang bisa membantu kita saat ini." Kata Frank memberikan saran.


"Baiklah." Kata Diana lalu melangkah menuju meja kecil tempat pesawat telepon berada.


Setelah menekan beberapa tombol nomor, akhirnya panggilan itu pun terhubung.


Terdengar suara seorang lelaki bernada cemas di seberang sana.


"Kenny! Kenny putraku. Tolong ibu nak. Saat ini para karyawan sudah mengepung rumah dan mengancam akan membakar rumah ini jika gaji mereka tidak di bayar." Kata Diana membesar-besarkan cerita.


"Apa?"


"Bu. Katakan berapa anggaran yang harus di bayar?" Tanya Kenny.


"Semuanya mencapai 250 ribu Dollar nak. Tolong ibu. Jika tidak, kau tidak akan bisa lagi bertemu dengan ibu mu ini." Kata Diana lalu mulai menangis tersedu-sedu.


"Ibu tunggu di sana Bu! Aku akan datang secepatnya." Kata Kenny.


Kenny saat ini benar-benar khawatir dengan keselamatan ibunya. Baginya, walaupun ibunya selalu culas dan curang, namun ketika menghadapi masalah seperti ini, maka dia harus membantu ibunya itu dengan segala kemampuan yang dia miliki.


"Bagaimana Diana?" Tanya Frank.


"Dia akan segera datang kak."


"Oh Tuhan. Syukurlah. Anak itu cukup berbakti. Kau saja yang selalu menganggap dirinya sebagai musuh."


"Kak. Sebaiknya jangan bahas masalah itu dulu. Saat ini otak ku sedang kacau." Kata Diana merengut.


Berjarak dua puluh menit dari Diana menelepon putranya tadi, kini tampak rombongan mobil mewah berjumlah sekitar sepuluh unit berhenti tepat di depan pagar.


Puluhan pengawal tampak keluar dari mobil dan langsung memagari mobil Rolls-Royce phantom yang berada di tengah-tengah barisan orang-orang itu.


Kini dari dalam, tampak seorang lelaki berusia sekitar 60-an keluar bersama seorang lelaki setengah baya. Mereka berdua ini adalah Jackson William dan Kenny William.


Mereka berdiri lalu melihat seratusan lebih para karyawan yang dengan tertib berlindung di bawah tenda tersebut sambil memperhatikan saja.


"Siapa kepala dari rombongan ini?" Tanya Jackson sambil mengarahkan pandangannya ke arah kerumunan orang-orang itu.


"Kami tidak memiliki kepala rombongan. Karena kami datang ke sini untuk menuntut gaji kami yang sudah tertunggak." Jawab mereka.


"Hmmm... Baiklah. Apa kalian bisa bersabar? Saya akan membayar gaji kalian. Tapi ingat! Jangan mengacaukan suasana. Jika tidak, aku akan menyuruh orang-orang dari Dragon Empire untuk menghajar kalian semua." Ancam Jackson.


"Maaf Tuan. Dengan siapakah kami berbicara saat ini?" Tanya mereka


"Nama ku adalah Jackson William. Paman kandung dari Jerry William. Pemilik perusahaan raksasa bernama Future of Company. Apa kalian pernah mendengar nama itu?" Tanya Jackson.


Mendengar jawaban dari Jackson ini, semua mereka saling pandang lalu membungkuk hormat.


"Maafkan kami yang buta ini Tuan. Yang tidak tau tingginya gunung dan dalamnya samudera." Kata salah seorang dari mereka.


"Ya sudah. Hak kalian pasti akan dipenuhi. Oleh karena itu, saya berharap agar kalian mau bersabar." Kata Jackson lalu memerintahkan agar penjaga pintu gerbang itu segera membukakan pintu untuk mereka.