
Siang yang begitu terik terasa membakar kulit.
Sebagian orang yang memang merasa tidak memiliki kepentingan, terasa sangat enggan untuk keluar dari rumah. Bagi mereka, mereka lebih baik berdiam diri di rumah. Atau, duduk di bawah pohon rambutan atau pohon mangga yang terdapat dibelakang rumah mereka. Namun anehnya, ada saja seorang pemuda yang nekat berjalan di bawah terik matahari yang siap memanggang kulit tubuh tersebut.
Pemuda yang tidak lain adalah Joe William itu terus saja berjalan menuju ke perkampungan Kuala Nipah yang dijangkakan bahwa dia akan tiba di sana sore menjelang senja. Itupun kalau dia tidak berhenti.
Kemeja putihnya telah basah oleh keringat. Bahkan, kini kemeja tersebut sudah berubah menjadi sedikit kecoklatan karena daki. Namun semuanya seperti tidak dihiraukan olehnya. Saat ini otaknya benar-benar sudah sangat kacau oleh kejadian yang tidak pernah dia bayangkan akan seperti itu.
Terbukti.., dia punya uang yang cukup untuk menyewa taksi atau minimal menumpang becak motor. Tapi yang mengherankan, mengapa dia berjalan kaki. Pasti ada yang salah dengan otak pemuda ini.
Tepat di tikungan yang menuju ke Kuala Nipah, Joe William yang masih saja menunjukkan kegalauannya dicegat oleh empat orang pemuda yang tampak sedang duduk-duduk di sana sambil meminum minuman yang memabukkan. Sekilas tampak minuman itu seperti susu. Tapi itu bukanlah susu. Melainkan tuak.
"Hei Lae.., mau kemana kau?" Tanya salah satu dari keempat orang pemuda yang duduk di bawah sebatang pohon mangga di tikungan tersebut.
"Aku mau ke Kuala Nipah, Bang!" Jawab Joe.
"Punya uang kau Lae? Minuman kami kurang. Atau, kau mau minum bersama-sama?" Tanya orang itu lagi.
Joe tidak banyak bertanya. Karena baginya yang terpenting adalah segera tiba di Kuala Nipah. Dia merogoh sakunya secara acak lalu kini ditangannya terlihat dua lembar uang lima puluh ribu Rupiah.
"Ini, Bang!" Kata Joe menyodorkan uang tersebut.
"Hanya segini uang mu? Mana cukup ini?! Bentak lelaki yang satunya lagi.
"Abang mau atau tidak?" Tanya Joe yang mulai merasa emosi.
"Tambah lagi lah! Ini mana cukup,"
"Jika tidak mau, maka aku tidak ada lagi. Aku permisi!" Kata Joe lalu segera hendak meninggalkan tempat itu.
"Tidak ada uang, maka tidak boleh lewat!"
"Bang! Aku sudah memberikan. Tapi kau menolak. Jangan paksa aku meminum darah mu!" Ancam Joe yang kini sudah terlihat memerah matanya.
"Nantang kau ya? Anak mana kau?" Tanya lelaki itu berusaha untuk memegang kerah baju milik Joe.
Kraaak!
"Arrrrrgh..."
"Tangan ku...!" Teriak lelaki itu sambil mengibaskan tangannya yang terkilir akibat diplintir oleh Joe.
"Sekali lagi. Jangan paksa aku meminum darah kalian!"
Joe segera berlalu.
Wuzzz...!
Prak!
Tampak orang yang berada di belakang melemparkan teko kosong ke arah Joe yang membelakangi mereka. Namun, enak saja Joe mengangkat sebelah kakinya ke belakang. Dan hasilnya, teko kosong itu berhasil dia tendang dan kembali kepada si pelempar tadi hingga mengenai wajahnya.
"Uh..." Keluh lelaki itu. Seketika dia merasakan wajahnya seperti ditampar oleh tangan besar.
"Ini uang yang tadi. Gunakan untuk berobat. Jika kurang, kau bisa mencari ku di Kuala Nipah. Tanyakan kepada orang-orang di sana siapa Joe murid Tengku Mahmud!" Kata Joe sambil melemparkan dua lembar uang lima puluh ribu rupiah tadi.
Keempat lelaki itu membelalakkan matanya begitu mendengar nama yang disebutkan oleh Joe tadi.
Siapa yang tidak mengenal Tengku Mahmud. Hanya mencari penyakit saja jika mereka berani mencari orang tua aneh yang berbuat sesuka hatinya tersebut. Jangankan mereka. Tigor saja dibikin babak belur oleh orang tua aneh yang selalu dipanggil dengan sebutan maha guru tersebut.
*********
Hampir pukul 6-30 sore, Joe pun akhirnya tiba juga di Kuala Nipah.
Rasanya, betis pemuda itu sudah sampai di paha. Tapi semuanya tidak dia perdulikan. Baginya yang penting adalah, segera ke rumah Tiara. Ini demi meluruskan kesalahpahaman yang terjadi pada pagi menjelang siang tadi.
Dengan menarik nafas pasrah bahwa dia akan didamprat oleh gadis itu, dia lalu mengetuk pintu rumah. Baginya, biarkan saja dia dimarahi oleh gadis itu. Asalkan dia bisa meluruskan kesalahpahaman agar tidak berlarut-larut.
Tok.., tok.., tok..!
"Siapa di luar?" Terdengar suara orang bertanya dari dalam.
"Bu. Ini saya, Joe. Saya ingin bertemu dengan Tiara." Jawab Joe dari luar.
"Sebentar ya Nak!" Lalu pintu rumah berdinding papan tersebut pun terbuka dan dari dalam kelihatan sosok wanita paruh baya yang diketahui adalah ibu Tiara.
"Nak Joe?! Mengapa keadaan mu sungguh sangat mengenaskan seperti ini?" Tanya wanita itu.
"Tidak apa-apa Bu. Joe hanya sedikit lelah. Oh ya.., apakah Tiara ada Bu?"
"Tiara ada. Sebentar Ibu panggilkan!"
Joe hanya mengangguk saja dan duduk di ruang tengah rumah tersebut.
"Tiara. Bangun Nak! Joe datang mencari mu,"
Tidak ada jawaban dari sang gadis. Mungkin dia masih merajuk.
"Tiara. Apakah kau tertidur?"
"Tiara tidak tidur. Hanya saja, Tiara tidak ingin bertemu dengan Joe itu. Suruh saja dia pulang Bu!" Terdengar jawaban dari dalam kamar.
"Tiara.., tidak baik seperti itu, Nak. Temui lah Joe itu! Mungkin ada sesuatu yang ingin dia jelaskan kepada mu!"
"Aku tidak mau. Pokoknya aku tidak mau Bu!" Tegas Tiara yang tetap tidak ingin bertemu dengan Joe.
Mendengar jawaban dari anak gadisnya itu, Ibu Tiara hanya mengangkat bahu lalu segera berjalan kembali ke ruang tengah dimana Joe tadi sedang duduk.
"Saya sudah mendengar, Bu. Saya hanya ingin meluruskan kesalahpahaman. Saya bukan ingin meminta maaf. Karena, tidak ada yang perlu dimaafkan. Saya hanya ingin meluruskan kesalahpahaman. Namun, jika saya tidak dihargai, maka saya akan pergi!" Kata Joe lalu segera bangkit dari tempat duduknya.
"Pergi saja jika ingin pergi. Aku kan memang tidak ada artinya untuk mu!" Terdengar jawaban dari dalam.
Mendengar ini, Joe hanya menarik nafas. Dalam hatinya dia berkata, "apa maunya wanita ini? Mengapa sungguh sulit untuk dimengerti?"
"Pujuk lah Tiara, Joe! Ibu masih ada pekerjaan. Harapan Ibu, yang sabar ya Nak!" Kata sang Ibu lalu segera kembali ke belakang untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda akibat kedatangan pemuda itu tadi.
"Iya Bu!" Jawab Joe lalu keluar dari rumah untuk menuju kebagian samping rumah tersebut dan berhenti tepat di depan jendela kamar Tiara.
"Tiara. Kau jangan marah kepada ku! Semuanya tidak seperti yang kau sangka. Aku dan Lestari tidak memiliki hubungan apa-apa. Aku harap kau bisa mempercayaiku!"
"Semuanya sudah jelas. Aku tidak membutuhkan alasan apa-apa lagi," jawab Tiara yang masih saja berada di dalam kamarnya.
"Aku harus bagaimana untuk membuat mu percaya bahwa aku memang tidak memiliki hubungan khusus dengan Lestari? Aku itu tadi hanya membantu keluarganya untuk melunasi hutang mereka dengan orang-orang dari kota Tasik Putri. Sebagai ungkapan rasa terimakasih, Lestari lalu memeluk ku,"
"Dan kau menikmati pelukan itu kan?" Sergah Tiara.
"Aku tidak! Akh. Kau cobalah sedikit saja mempercayai ku!"
"Kau tau, selama enam bulan ini aku terus menunggu kedatangan mu. Tapi setelah bertemu, hanya rasa sakit yang aku dapat. Aku tidak perlu mengatakan secara rinci. Karena, kau pasti tau dimana kesalahan mu!"
"Iya. Aku tau. Tapi beri aku sekali lagi kesempatan. Aku ingin Tiara ku yang dulu. Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada menemukan kembali Tiara ku yang dulu. Yang sangat menyayangi diriku!" Kata Joe sambil mengeluarkan jurus rayuan pamungkasnya.
"Semua pasti berubah seiring berjalannya waktu. Kau juga berubah. Aku juga berubah menurut keadaan," jawab Tiara.
Tidak ada lagi yang bisa dikatakan oleh Joe. Dia hanya berdiri saja di depan jendela yang tertutup rapat itu dengan harapan, bahwa Tiara akan membuka pintu tersebut dan melihat dirinya.
"Aku akan menunggumu di sini. Sampai kau mau bertemu dengan ku!" Kata Joe lalu duduk bersandar di dinding bagian luar rumah gadis itu.
Bersambung...