Joe William

Joe William
Tigor yang tersiksa



Sekarang, kita tinggalkan dulu si Joe anak jin Iprit dengan segala tingkah konyol dan perencanaannya untuk melawan Duff Clifford.


Kini, mari kita pergi ke sebuah perkampungan di pinggir laut yang terletak di negara kepulauan bernama, Indonesia.


...***...


...Kuala Nipah...


Seorang lelaki setengah baya, tampak sedang menelungkup di atas pasir putih di pantai dengan seorang lelaki tua mencak-mencak di atas punggung nya.


Sesekali lelaki tua itu berjongkok di atas punggung lelaki setengah baya itu, sesekali dia enak saja ongkang-ongkang sambil mengunyah sirih.


"Ke sekolah pergi belajar,


Belajar sejak dari anak-anak.


Beginilah kalau malas belajar,


Seluruh badan mu ditimbuni lemak,"


"Jika sudah malas berburu,


Alamat binatang, mati di jerat.


Aku lihat bentuk tubuh mu,


Seperti orang mau sekarat,"


"Sudah selesai pantun mu kek? Aku lelah. Kakek sama sekali tidak bisa diam berada di atas punggung ku ini," kata lelaki paruh baya itu mengeluh.


"Diam muncung kau itu, Tigor! Sudah aku katakan dari dulu, bahwa kau jangan malas bergerak. Enak kau dipenjara makan tidur saja ya kan? Sekarang, matilah kau aku siksa. Aku tidak mau tau. Pokoknya, dalam tiga bulan, berat badan mu harus bisa hanya tinggal 65 kilo gram!" Kata lelaki tua itu sambil dengan usilnya mencabut sehelai bulu ketiak lelaki paruh baya bernama Tigor itu.


"Adaaaaaw. Apa yang kakek Tengku lakukan? Sakeeeeet kek sakeeeeet!" Jerit Tigor sejadi-jadinya.


"Diam kau setan! Mau kau, bulu hidung mu itu ku jambak?" Bentak lelaki tua yang ternyata Tengku Mahmud adanya.


"Ampun kek. Sesuka hati kakek saja lah. Badan saja yang kurus kering. Tapi bobotnya Nauzubillah,"


"Kau menghina ku ya? Awas kau!" Kata lelaki tua itu. Enak saja dia berdiri di atas tubuh Tigor sambil mencak-mencak.


Entah karena sakit, atau karena sengaja, Tigor pun menggerakkan badannya membuat lelaki tua itu hilang keseimbangan lalu jatuh tertungging menghantam pasir pantai.


"Ladalaaah. Biyuuung. Kau mau mencelakai aku hah?"


"Salah sendiri seperti monyet kebakaran ekor," rutuk Tigor dalam hati.


"Apa? Mengapa kau diam? Pasti kau sedang merencanakan sesuatu yang tidak baik kepada ku. Ayo mengaku kau!"


"Rencana tidak baik apa? Jika aku punya rencana buruk, sejak enam bulan yang lalu aku sudah kabur dari sini," kata Tigor. Saat ini dia meratap di dalam hatinya kapan penderitaan ini akan berakhir.


"Aku salut sama Joe. Dia bisa tahan menghadapi lelaki Sintink ini selama tiga tahun lebih. Sedangkan aku, baru enam bulan saja, rasanya seperti enam abad," kata Tigor dalam hatinya.


"Gor. Sekarang kau harus memikul ku di atas punggung mu. Tong drum ku sudah dirusak oleh anak jin itu. Maka, kau harus menggendong ku di atas pundak mu. Kau harus berlari dari ujung sana sampai ujung sana itu sebanyak sepuluh putaran!" Kata Kakek Tengku Mahmud kepada Tigor.


"Ayo naik, Kek! Nanti aku akan menggendong mu," kata Tigor pasrah.


Dia lalu bangun dan berjongkok untuk memberi Tengku Mahmud kemudahan untuk memanjat pundaknya.


Bugh!


"Aduh... Duh duh duh duh!"


"Kalau begini, bukan ilmu yang aku dapat. Tapi, gelar mendiang!" Kata Tigor seperti mau menangis.


"Kau jangan lembek kali Gor! Joe dulu lebih parah dari ini. Hmmmm... Apa kabar anak jin itu sekarang ya? Sudah lama dia tidak memberi kabar," kata Tengku Mahmud sambil menatap lurus ke tengah lautan.


"Bagaimana dia mau memberi kabar. Mau memberi kabar dengan cara apa? Telepati? Menggunakan ponsel saja tidak pandai. Makanya kakek itu harus up to date! Emang ini masih jaman Jepang?"


"Makanya, kau kan ada di sini. Mengapa tidak kau hubungi saja dia?" Tanya Tengku Mahmud tak mau kalah.


"Aku harus menjalani siksaan ini terlebih dahulu. Lagi pula, tidak ada kabar buruk di sini. Semuanya lancar dan terkendali. Kabar yang aku dengar dari Tuan Jerry, dia mengatakan bahwa anaknya itu sedang melanjutkan studinya. Aku lupa nama tempatnya," kata Tigor.


"Ya sudah. Biarkan saja dia belajar bersungguh-sungguh! Dan kau. Kau harus segera menyelesaikan belajar mu. Karena, setelah kau mewarisi seluruh yang aku miliki, aku akan segera meninggalkan kampung Kuala Nipah ini. Aku ingin kembali ke Deli Serdang. Di sana adalah tempat kelahiran ku. Aku juga mau mati di sana. Makanya kau jangan goblok!"


Kletuk!


"Aduh. Kapan pintarnya kalau kepala ku diketuk terus?" Kata Tigor sambil mengusap keningnya.


"Heh. Kau sengaja mengalihkan perhatian agar kau tidak jadi menggendong aku? Enak saja kau. Ayo cepat!" Bentak Tengku Mahmud sambil memaksa Tigor agar kembali berjongkok.


"Apa sudah benar duduk mu, kek?" Tanya Tigor.


"Sudah. Ayo segera berlari!"


"Kalau pinggang mu patah, jangan salahkan cucu mu ini!" Kata Tigor lalu berlari sambil menghentakkan kakinya. Dia sengaja menginjak batang kayu balok yang hanyut ke pinggir pantai terbawa ombak. Setelah berada di atas kayu balok tersebut, dia segera melompat dan menghentak-hentakkan badannya.


"Kau! Heiiiiii! Jangan kau tiru kelakuan anak jin Iprit itu!" Bentak Tengku Mahmud sambil meraba telinga Tigor. Begitu tangannya menjangkau telinga tersebut, dia langsung memelintirnya.


"Ampun. Iya ampun," kata Tigor sambil meringis.


"Aku tidak akan bisa diperdaya lagi dengan cara yang sama sebanyak dua kali. Pokoknya, kau harus menggendong ku sepuluh putaran!"


"Iya kek!"


"Oh Tuhan ku yang maha Agung. Apakah hari ini nyawa hamba-Mu terlepas dari raga?" Ratap Tigor.


Kletuk!


"Hentikan Drama sialan mu itu! Apa kau kira aku tidak tau akal kura-kura mu?" Kata Tengku Mahmud.


"Akal bulus kek.., bukan akal kura-kura!"


"Apalah itu. Pokoknya, terus jalan!"


"Namora! Tabahkan hati mu nak, kalau ayah mati di sini," kata Tigor sambil kembali melangkah.


"Serius lah, Tigor! Kau harus bersungguh-sungguh belajar! Kalau dulu lawan mu hanya sebatas Birong, kedepannya lawan mu akan semakin sulit. Itulah makanya aku ingin segera meninggalkan kampung ini. Aku tidak mau terlibat dengan urusan kalian. Jika aku berada di kampung ini, maka aku pasti akan ikut campur. Kapan Taubatnya aku jika terus-menerus terlibat dalam urusan duniawi. Aku ingin memutihkan diri ku. Dosa ku banyak, namun pahala ku sedikit. Di dunia aku memang hebat, tapi kelak di akhirat, aku tidak akan mampu menahan siksa atas dosa-dosa ku. Makanya sebelum aku mati, aku mau bertaubat," kata Tengku Mahmud.


"Untung umur mu panjang, Kek. Jika pendek, maka kau tidak sempat bertaubat. Neraka kek, neraka!" Kata Tigor sengaja mengerjai lelaki tua itu.


"Entahlah, cucu ku. Kau juga. Jangan mentang-mentang masih muda, maka kau lalai dan menganggap bahwa usia mu masih panjang. Usia bukan ukuran. Kurang muda apa lagi usia anak-anak? Tapi banyak juga yang meninggal. Jika sempat, beramal lah! Awalnya sedikit, awalnya terpaksa, namun kelamaan akan biasa. Lebih lama lagi, biasa akan menjadi cinta. Ketika perasaan cinta kepada Allah itu wujud di dalam hati, dunia ini akan terasa kecil bagimu. Aku hanya bisa berkata. Namun, walaupun tidak seratus persen, setidaknya lima puluh persen. Segala sesuatunya di mulai dari nol. Jika tidak memulai, maka sampai mati akan begitu terus!"


"Sudah selesai ceramahnya kek? Kalau sudah, ayo kita pulang. Aku lelah!" Kata Tigor dengan nafas Senin Kamis.


"Ya sudah. Ayo kita pulang. Sudah mau masuk waktu ashar!" Ajak Tengku Mahmud


Dengan sambil menggendong lelaki tua itu, Tigor pun kini melangkah menuju sebuah gubuk panggung berdinding anyaman bambu dan berlantaikan belahan batang Nibung.


"Alhamdulillah. Akhirnya terbebas juga aku dari siksaan ini. Besok entah apa lagi musibah yang menanti ku," kata Tigor dalam hati.


...Bersambung......