
...Quantum City...
Satu unit Taxi berhenti tepat di depan pintu gerbang sebuah university bernama Globe's University.
Tampak seorang pemuda turun dari taxi tumpangannya. Setelah membayar ongkos, pemuda yang tampil bersahaja dengan memakai baju T-shirt abu-abu dipadu dengan celana jeans biru dan sepatu sport Nike berjalan dengan menyandang sebuah tas ransel berukuran sedang yang sudah tampak lusuh, memasuki pelataran kampus tersebut.
Hari ini adalah hari di mana Globe's University sedang membuka penerimaan mahasiswa baru.
Sambil berjalan santai mengitari sekeliling Kampus yang memiliki lima lantai itu, pemuda itu sedikit tersenyum dan merasakan bahwa disinilah tempatnya untuk memulai sesuatu yang baru, sambil menunggu perkembangan informasi dari musuh-musuhnya yang saat ini mungkin sedang mengatur kekuatan serta rencana.
Dia tidak memperdulikan semua itu. Baginya adalah, ketika dia di usik, maka dia pasti akan melakukan tindak balas yang mungkin akan mengakhiri keluarga itu sampai ke akar-akarnya.
Pemuda itu segera mengenakan kacamata hitamnya kemudian berjalan menuju ke asrama tempat mahasiswa yang memang disediakan oleh pihak kampus. Karena, tidak semua mahasiswa yang menimba ilmu di university ini berasal dari kota ini. Banyak juga mahasiswa yang berasal dari kota-kota lain. Bahkan ada yang berasal dari luar negeri.
Pemuda itu kini telah selesai melihat-lihat di sekitar kampus yang akan menjadi tempatnya belajar kelak.
Setelah itu, dia barulah menyelesaikan segala sesuatu yang diperlukan bagi pendaftarannya sebagai mahasiswa di kampus tersebut.
Setelah selesai dengan serba serbi yang dibutuhkan bagi memenuhi persyaratan sebagai seorang mahasiswa, dia pun segera meninggalkan kampus tersebut dan segera singgah di salah satu kafe yang tidak terlalu jauh dari kampus tempat dia tadi mendaftar.
Setelah memesan makanan dan secangkir capuccino, dia lalu membuka ponselnya untuk sekedar melayari laman sosial media.
"Hmmm. Pemberitaan tentang kedatangan ku di kota ini cukup menyita perhatian. Bagaimana semua ini bisa bocor?" Pikir pemuda itu dalam hati.
Dia merasa heran, bagaimana bisa kedatangannya ke kota ini bisa terendus oleh media. Tapi, setelah menimbang-nimbang dan berfikir bahwa dia adalah seorang Tuan muda dari rajanya bisnis di negara ini, maka bukanlah sesuatu yang mengherankan apabila keberangkatan nya kemarin telah menjadi buah bibir dikalangan staf dan Manager di perusahaan cabang Quantum City ini.
"Ini pasti karena ayah ku yang memberitahu kepada staf perusahaan cabang bahwa aku akan melanjutkan pendidikan ku di kota ini. Sulitnya menjadi aku. Padahal, aku ingin melepaskan identitas ku dan fokus terhadap kuliah ku," kata pemuda itu dalam hati sambil mengangkat gelas minuman nya lalu menyeruput minuman itu sehingga menimbulkan Bunya.
Slreep!!!
Pemuda itu kini meletakkan kembali gelasnya di atas meja, lalu kembali membaca berita melalui ponselnya.
*********
Quantum entertainment
Terhitung ada lima orang lelaki dengan salah satu dari mereka duduk di kursi bagian kepala meja. Sepertinya, lelaki berkacamata ini adalah orang yang memiliki jabatan yang tinggi di perusahaan tersebut.
"Tuan besar kita telah mengatakan bahwa Tuan muda, putra satu-satunya dari Tuan besar akan melanjutkan kuliah nya di kota Quantum ini. Tapi, sampai saat ini masih belum ketahuan apakah Tuan muda itu masih berada di Starhill, dalam perjalanan, atau bahkan sudah tiba di kota ini. Ini karena, tidak adanya kabar kepada kita yang mengatakan tentang Tuan muda kita ini," kata lelaki yang mengenakan kacamata tersebut.
Lelaki itu bernama Baron. Orang-orang di Quantum City ini tidak ada yang tidak kenal dengan presiden Perusahaan Future of Company cabang Quantum City ini. Mereka bisa menyebut lelaki berkacamata itu dengan sebutan, Tuan Baron.
Sebenarnya, lelaki bernama Tuan Baron ini adalah pemilik dari perusahaan Quantum entertainment. Namun, atas masalah keuangan yang dia alami, Tuan Baron ini menjual perusahaan dan seratus persen saham miliknya ke perusahaan Future of Company.
Oleh karena pemilik perusahaan yang baru tidak memiliki banyak waktu untuk menangani perusahaan yang dia anggap terlalu kecil itu, maka dia tetap memakai jasa Tuan Baron sebagai CEO di Quantum entertainment ini, dan tetap mempertahankan jajaran staf yang dulunya bekerja untuk Tuan Baron.
"Tuan Baron. Mengapa anda merasa heran? Bukankah seperti apa yang kita dengar, bahwa Tuan muda ini katanya memiliki keanehan. Kita bukan sekali dua kali mendengar kabar tentang sepak terjerang yang dia lakukan. Oleh karena itu, kita jangan sampai menyinggung perasaan Tuan muda ini jika tidak ingin mendapat penyakit," kaya seorang lelaki yang berusia dalam lingkungan 30-an.
"Benar kata mu, Xavier. Tuan muda ini memiliki angin yang kadang ke timur dan kadang ke barat. Lebih tepatnya, tidak bisa di tebak. Tapi, apakah kita hanya akan duduk saja di sini tanpa berusaha untuk mencari tahu apakah Tuan muda ini sudah tiba di Quantum City ini atau masih berada di Starhill?" Kata Tuan Baron pula.
"Saya juga tidak tau, Tuan. Wajah, kita tidak kenal. Pernah bertemu, juga tidak. Petunjuk juga tidak kita dapatkan. Yang kita tau, bahwa Tuan muda itu akan ke kota ini. Hanya itu saja," jawab Xavier sambil merentangkan kedua tangan nya.
Tik tik tik!
Terdengar suara ketukan jari telunjuk Tuan Baron di atas meja yang menandakan bahwa lelaki paruh baya itu saat ini sedang berfikir keras.
"Begini saja. Aku akan menyebarkan seluruh anak buah ku untuk mencari informasi tentang keberadaan Tuan muda ini. Jika dia telah tiba di kota ini, aku akan segera menyerahkan kunci Villa ini kepadanya. Sekarang, kalian juga harus membantu ku untuk mencari informasi tentang Tuan muda kita ini!" Perintah Tuan Baron.
"Baiklah. Mari kita bersiap-siap!" Kata keempat orang lainnya sambil bangkit dari kursi yang mereka duduki tadi.
"Jangan lupa untuk mencari tau keberadaan Tuan muda ini di Globe's University. Aku yakin, apabila dia telah tiba di kota ini, kemungkinan terbesar adalah, dia akan menuju ke kampus tersebut terlebih dahulu," kata Tuan Baron memprediksi. Dia tau betul tujuan sebenarnya dari kedatangan anak majikannya itu ke kota ini yang tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menyambung studi nya.
"Siap, Tuan Baron!" Kata mereka serentak lalu segera keluar meninggalkan ruangan tempat pertemuan mereka kali ini.
Kedatangan Tuan muda itu kali ini benar-benar membuat mereka merasa sangat sibuk. Namun, jika mereka ingin dipertahankan, maka sedaya upaya mereka adalah untuk membuat Tuan muda ini merasa puas dengan kinerja mereka. Jika Tuan muda itu tidak menyukai mereka, kemungkinan terburuknya adalah, mereka tidak akan di pakai lagi di perusahaan.
Like jangan lupa!
Bersambung...