
Sore itu, seorang lelaki berkulit sedikit hitam menghampiri seorang pemuda yang sedang menunggu di lobby hotel.
Sambil membawa sebuah koper di tangan kiri nya, lelaki setengah baya itu langsung menghampiri pemuda tadi lalu segera membungkuk hormat sembari berkata, "Tuan muda. Semuanya sudah dipersiapkan. Di anda mungkin tidak memerlukan uang karena uang Anda terlalu banyak. Maka dari itu, saya hanya mengatakan kepada Tuan besar bahwa anda akan berangkat ke Quantum City dan beliau mengatakan akan meminta kepada seluruh jajaran staf yang berada di sana untuk menyambut kedatangan anda," kata lelaki separuh baya itu.
"Akan ada lagi kegemparan di Quantum City. Senior.., aku tidak ingin memancing perhatian. Maka dari itu, sebaiknya aku pergi secara diam-diam saja. Apakah kau sudah menyelesaikan segala proses prosedur nya?"
"Sudah, Tuan muda. Anda tidak perlu repot-repot lagi. Begitu anda tiba di sana, anda bisa langsung melanjutkan studi anda,"
"Terimakasih atas kerja keras anda, Senior. Kalau begitu, mari kita berangkat ke Country home, lalu menyebrang ke pelabuhan Quantum. Aku akan menanggalkan identitas ku dan memulai petualangan yang baru," kata pemuda itu sambil membayangkan bagaimana rasanya pergi ke suatu tempat yang tidak ada orang yang mengenalinya. Pasti ini adalah suatu tantangan yang sangat mengasyikkan.
"Tuan muda. Di sana nanti, anda juga akan mengurus perusahaan. Maksud saya, anda cukup memantau saja. Ini kunci Villa anda di sana!" Kata lelaki itu pula.
"Apa?"
"Apakah Ayah ku yang mengatakan seperti itu?" Tanya Pemuda itu.
"Benar, Tuan muda. Tuan besar tidak memiliki waktu untuk bepergian ke sana ke mari. Apa lagi perusahaan di Quantum City hanyalah perusahaan kecil yang sama sekali tidak di pandang. Namun begitu, perusahaan di sana juga memiliki nilai pasar yang tidak rendah. Total nilai pasar perusahaan Future of Company cabang Quantum City ini mencecah dua miliar USD," kata lelaki itu.
"Ayah selalu begitu. Tidak pernah membiarkan aku tanpa beban," kata pemuda itu merengut.
"Tuan muda.., anda harus berlatih dan terus melatih diri. Waktu begitu cepat berlalu. Jika anda tidak mengejarnya, maka waktu pasti akan meninggalkan anda. Membentuk sesuatu itu memang harus dari dini. Agar, kelak ketika sudah dewasa, anda menjadi terbiasa. Anda lihat tanaman bonsai di depan sana itu, Tuan muda?" Tanya lelaki itu.
"Ya. Ada apa dengan tanaman itu, Senior?"
"Anda melihat tanaman itu sangat bagus bukan? Memiliki bentuk dan keunikan tersendiri. Tapi apakah anda tau berapa lama mereka membentuk tanaman itu sehingga menjadi bonsai yang bagus? Mereka membentuknya dari mulai kecil. Sehingga setelah pohon tersebut dapat memiliki bentuk yang bagus. Begitu juga dengan anda. Jika anda tidak membiasakan diri dari sekarang, maka jangan menyesal jika kelak anda tidak mengerti apa-apa!"
Pemuda itu saat ini berfikir keras tentang apa yang baru saja dikatakan oleh lelaki yang dia panggil dengan sebutan Senior itu.
Kini, sedikit demi sedikit dia mulai dapat memahami maksud dari ayahnya yang memberikan beban di pundaknya. Terlebih, memang dirinya adalah anak tunggal yang memang harus mengemban amanah di pundaknya.
"Baiklah, Senior. Aku mengerti sekarang. mari kita segera berangkat. Semakin cepat tiba di Country home, semakin baik," kata pemuda itu mendahului melangkah keluar dari lobby hotel itu.
*********
Siang itu di kantor perusahaan milik Rudolf Miller, seluruh jajaran staf di perusahaan itu sedang berkumpul membahas langkah yang akan diambil oleh perusahaan setelah pemilik dari perusahaan tersebut mengalami kecelakaan yang merenggut nyawa.
Albern sendiri, yang kini sedang berduka tidak memiliki waktu untuk larut dalam rasa kehilangan atas meninggalnya sang Ayah. Walaupun bagaimanapun, kehidupan harus di lanjutkan. Andai berduka bisa membuat yang mati kembali hidup, maka dia akan berkabung selama-lamanya demi kembalinya sang Ayah. Namun, yang sudah mati tidak akan bisa kembali hidup walau menangis darah sekalipun. Hal ini lah yang membuat Albern harus segera move on dari kesedihan dan tetap berdiri tegar demi melangsungkan hidup.
Kini, sebagai pewaris dari seluruh aset milik mendiang ayahnya, otomatis Albern lah yang menjadi pemilik baru di perusahaan itu. Hidup dan matinya perusahaan miliknya itu tergantung seperti apa kredibilitas nya sebagai pemimpin.
"Aku tau siapa yang telah mencelakai ayah ku dan apa tujuan dibalik semua ini. Manusia berhati binatang seperti Honor ini tidak akan pernah berhenti sebelum aku bersujud di bawah telapak kakinya. Dia menganggap bahwa kematian ayah nya adalah atas perbuatan dari ayah ku. Padahal memang ayahnya lah yang memiliki banyak musuh di sana sini. Aku tidak akan diam saja. Jika mereka ingin memberantas keluarga ku, maka aku akan menggabungkan diri bersama perusahaan Future of Company dan lihat apa yang bisa dia lakukan setelah ini," kata Albern.
"Apakah anda sudah memikirkan semuanya, Tuan muda?" Tanya salah satu dari staf yang memiliki jabatan tinggi.
"Tidak perlu memikirkan hal yang macam-macam. Aku dari dulu memang telah memiliki rencana untuk bernaung di bawah perusahaan Future of Company itu. Hanya saja ketika itu ayahku terlalu menjaga agar tidak di cap sebagai pengkhianat di dalam keluarga Miller. Tapi, setelah apa yang dilakukan oleh Honor ini, sudah saatnya aku akan membalas setiap perbuatan yang telah mereka lakukan. Aku bersumpah dengan tangan ku ini, akan mencabut nyawa sepupuku itu untuk membalaskan dendam atas kematian ayah ku!"
"Baiklah. Saat ini anda adalah pemimpin di perusahaan. Kami akan mengikuti anda sebagai nakhoda nya. Semoga saja anda bisa membawa perubahan dan kemajuan besar di dalam perusahaan ini,"
"Siapkan dokumen yang dibutuhkan. Aku akan segera berangkat ke Starhill. Kemungkinan aku akan melanjutkan kuliah ku di sana. Kalian akan menyertai ku pindah dari Macau ini. Arold Holding Company tidak bisa lagi memasuki negara ABCDEFG karena pernah tersandung kasus proyek ilegal. Ini kesempatan bagi kita untuk membangun kekuatan dan kita akan kembali membuat perhitungan dengan Honor ini setelah kita cukup kuat,"
"Paman Renesh, pantau terus keadaan di dalam keluarga Miller itu. Kemana mereka akan berinvestasi, dan proyek apa yang akan mereka jalankan. Aku ingin tau setiap langkah yang mereka ambil. Kemudian, barulah aku bisa mengatur perencanaan untuk menjegal langkah mereka," kata Albern memerintahkan kepada salah satu senior di perusahaan itu bernama Renesh.
"Baik Tuan muda,"
"Panggil aku Albern saja. Aku lebih nyaman dengan panggilan seperti itu. Sekarang, aku menunggu kalian mempersiapkan segala yang diperlukan untuk keberangkatan ku ke Starhill,"
"Baiklah, Albern. Kau bisa menunggu. Aku akan menghubungi dirimu setelah semuanya selesai kami urus," kata Renesh.
Mereka lalu membubarkan pertemuan itu untuk mengatur segala keperluan bagi Albern yang akan berangkat meninggalkan Macau menuju ke Starhill.
...Like nya jangan lupa!...
Bersambung...