Joe William

Joe William
Tiara tiba di Kuala Nipah



Sehari sebelum Tiara disuruh pulang ke Kuala Nipah.


Seorang lelaki berjalan cepat memasuki rumah layaknya seperti bangunan Manor dengan diiringi oleh beberapa orang lelaki yang turut berjalan dibelakangnya.


Tiba di ruangan yang luas dan penuh dengan perabotan serba mewah, lelaki itu segera membungkuk.


"Tuan Besar," sapa lelaki yang baru masuk tadi. Dia kemudian melihat ada sekitar tujuh orang yang berada di ruangan itu. Sepertinya sedang ada pertemuan penting.


"Kau telah kembali, Bruno? Sepertinya kau berhasil dengan tugas yang aku berikan?!" Kata lelaki yang paling muda, namun paling berkuasa di dalam ruangan itu.


"Seperti yang anda inginkan. Saya telah melacak informasi gadis yang berada di dalam foto itu. Nama gadis itu Tiara. Dia adalah mahasiswa di universitas Kota Batu berasal dari Kuala Nipah. Nama orang tua gadis itu adalah Madun!" Jawab lelaki bernama Bruno tadi secara rinci.


"Kuala Nipah.., Madun...?!" Salah seorang lelaki bertubuh gemuk seperti berfikir sejenak. Lalu, tidak ada angin tidak ada hujan dia malah menepuk pahanya sendiri membuat semua orang yang berada di ruangan itu memperhatikan kearahnya.


"Sepertinya kau mengetahui tentang orang yang bernama Madun ini, Tuan Kim?" Tanya Honor serius.


"Tuan besar. Hanya ada satu orang bernama Madun di Kuala Nipah. Jika benar Madun yang itu, berarti dia adalah peminjam di koperasi kita," jawab Tuan Kim pula.


"Berapa banyak hutang yang dimiliki oleh Madun ini?" Tanya Honor penasaran.


"Hutangnya mencecah lima ratus juta. Ditambah dia tidak mampu melakukan pembayaran selama dua bulan berturut-turut. Kami bahkan sedang mempertimbangkan untuk menyita seluruh aset yang dia miliki andai tidak mampu membayar cicilan tiga bulan berturut-turut," jawab Tuan Kim lagi.


"Tuan. Saat ini Tiara sudah melakukan penyelidikan di laboratorium universitas tentang kandungan dari limbah pabrik yang anda jalankan. Kemungkinan terbesar adalah, sekumpulan mahasiswa itu telah mendapatkan hasilnya. Ini berarti, pabrik dan perusahaan Martins Group dalam bahaya," lapor Bruno.


"Kembali ke Kuala Nipah! Aku ingin agar kau menekan Keluarga Madun ini!" Perintah Honor kepada Tuan Kim.


"Kami akan segera berangkat sekarang!"


Dua dari tujuh orang yang berada di ruangan tadi segera berdiri. Mereka adalah Tuan Kim dan Tuan Liem Guan.


Setelah memberi hormat, kedua orang itu segera meninggalkan ruangan itu sambil diiringi senyum sinis dari Honor.


"Mereka kira sudah terlalu kuat untuk melawan Honor Miller. Hahaha...!" Honor tertawa terbahak-bahak. Kemudian, mata jalangnya berkilat-kilat menatap selembar foto di atas meja.


"Paman Lee. Apakah uang keamanan dari Tower Sole propier sudah sampai?"


"Belum. Mungkin sore ini atau besok," jawab Tiger Lee.


"Aku menginginkan sekarang! Jika tidak, bakar saja pusat hiburan di gang Kumuh itu. Aku juga ingin agar proyek milik Tower Sole propier di Kuala Nipah dihancurkan. Aku tidak ingin rencana Mega Proyek ku di sana terhambat karena pengembangan pusat wisata oleh Tower Sole propier ini,"


"Apa itu tidak keterlaluan? Bagaimana jika mereka memberikan perlawanan. Kita malah akan terjerat banyak masalah, nantinya," ujar Tiger Lee pula keberatan.


"Hahaha. Sekumpulan orang-orang sampah seperti mereka? Bisa apa mereka?" Cibir Honor yang memandang sebelah mata terhadap kekuatan yang dimiliki oleh Joe.


"Saya setuju dengan anda, Tuan besar. Kita sapu rata saja proyek milik Joe William itu. Jika tidak sekarang, maka akan semakin sulit nantinya," kini giliran Zacky pula yang berbicara.


"Telepon Tigor itu! Aku ingin bayaran dilakukan sekarang. Jika tidak, nanti malam segera bergerak ke Gang Kumuh! Kalian tau apa yang harus kalian lakukan. Aku akan pergi dulu ke Kuala Nipah!" Kata Honor sambil menyambar kunci mobilnya, kemudian segera meninggalkan ruangan itu.


*********


Ketika sampai di depan rumah berdinding papan, gadis itu segera memberi salam yang disambut dengan salam pula dari seorang wanita paruh baya dari dalam.


"Bu. Ayah dimana?" Tanya gadis itu sambil menjenguk ke dalam.


"Ayah mu ada di dalam. Kau masuklah!" Ajak wanita paruh baya itu sambil menarik lengan anak gadisnya tersebut.


"Kau sudah pulang, Tiara?" Tanya seorang lelaki paruh baya yang tampak sangat kusut sekali. Terlihat bahwa lelaki itu mendapat tekanan yang cukup berat.


"Ayah. Kenapa ayah seperti ini? Apakah ayah sakit?" Tanya gadis bernama Tiara itu sambil bersimpuh didepan kursi yang diduduki oleh lelaki paruh baya tadi.


Tiara memegangi tangan ayahnya yang terlihat gemetaran.


"Ayah mu mendapat ancaman dari pihak koperasi. Bahwa, jika dua hari lagi tidak membayar cicilan, maka rumah, kebun dan apa saja yang kita miliki akan mereka sita,"


"Hah..? Jadi, bagaimana dengan kita, Bu? Dimana kita akan tinggal?" Tanya gadis itu terkejut.


"Tiara. Apakah kau masih ingin meneruskan penelitian mu? Apakah kau jadi untuk melaporkan pabrik yang beroperasi di jembatan Tasik Putri itu?" Tanya sang ibu.


Tiara menatap heran ke arah ibunya. Yang dia heran kan adalah, mengapa masalah itu saja yang dipertanyakan sejak tadi siang. Namun, gadis itu tetap menjawab juga walaupun hanya dengan anggukan kepala.


"Apa kau masih sayang dengan keluarga kita?" Tiba-tiba pak Madun memberikan pertanyaan yang mulai dapat difahami oleh gadis itu.


"Maksud ayah? Bukankah dulu ayah yang sangat bersemangat mendorong Tiara untuk melakukan penyelidikan terhadap ikan-ikan yang semakin menjauh ke tengah. Kini, setelah kami menemukan jawabannya, mengapa ayah sepertinya keberatan?" Tanya gadis itu. Dia dapat meraba maksud dari ayahnya itu. Hanya saja, dia ingin memastikan langsung dari kedua orang tuanya ini, apa sebenarnya yang terjadi. Apakah mereka mendapatkan tekanan?.


"Kemarin orang-orang dari koperasi datang dan menekan Ayahmu supaya segera membayar cicilan. Jika tidak, semua harta kita akan di sita oleh mereka. Kecuali..," sang ibu memutus perkataannya, membuat Tiara semakin tau bahwa dugaannya benar adanya.


"Kecuali agar aku menghentikan penelitian dan melaporkan tentang pabrik mereka?" Tanya Tiara.


Kedua orang tua gadis itu mengangguk berbarengan.


"Mereka akan datang lagi nanti untuk memastikan apakah kau akan melanjutkan niatmu untuk melaporkan mereka atau tidak. Jika kau melaporkan pabrik itu, maka bukan hanya keselamatan mu yang terancam. Kita juga dan bahkan seluruh penduduk Kuala Nipah ini yang berhutang terhadap koperasi simpan pinjam itu akan diusir dan harta mereka akan disita,"


"Benar-benar mereka itu adalah komplotan penjajah. Wajar saja jika Joe sangat mewanti-wanti agar aku tidak terlibat dalam masalahnya terhadap keluarga Miller ini. Joe berusaha keras agar aku tidak terseret ke dalam masalahnya. Tapi ayah.., ayah malah mendatangi perangkap yang sengaja mereka pasang untuk kita," keluh Tiara lesu.


"Siapa yang tau bahwa koperasi ini adalah milik keluarga Miller? Awalnya mereka sangat baik terhadap penduduk Kuala Nipah ini. Tapi semakin lama mereka semakin menunjukkan belang mereka. Mau menyesal pun sudah tidak berguna lagi," kilah sang Ayah.


"Sudah terjadi. Tidak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini. Yang bisa kita lakukan hanya menunggu seperti apa nantinya keinginan mereka," kata sang ibu pula.


"Apa maksud ibu dengan mengatakan seperti apa nantinya keinginan mereka? Jika mereka menginginkan ku, apakah ibu akan menjual aku kepada mereka?" Tanya Tiara dengan mata berkaca-kaca.


"Aku akan mengadukan semuanya kepada Joe. Dia pasti akan menyelamatkan kita," kata gadis itu lalu mengeluarkan ponselnya.


"Jangan nak. Sebelum Joe tiba, mungkin kita sudah akan dibunuh oleh mereka. Saat ini mata-mata mereka tersebar di seluruh kampung," cegah pak Madun. Dia tidak ingin Tiara semakin memperkeruh keadaan.


Seisi rumah itu begitu tidak bersemangat. Yang bisa dilakukan oleh mereka saat ini hanyalah menunggu kedatangan utusan dari pemilik koperasi simpan pinjam Kuala Nipah yang baru-baru ini mereka ketahui adalah milik keluarga Miller.


Bersambung...