Joe William

Joe William
Pertemuan di mulai



Tiger Lee hanya mengangguk saja mendengar jawaban yang menggantung dari calon Tuan besar nya itu.


Dia tidak jadi bertanya banyak lagi setelah seorang lelaki yang berusia sekitar hampir 60-an datang menghampiri mereka sambil berkata perlahan. "Tuan muda, dan kau Tiger Lee. Harap bersiap-siap! Karena, sebentar lagi pertemuan akan di mulai," kata lelaki tua itu.


"Paman Cheung. Apakah semuanya sudah hadir?" Tanya Tiger Lee.


"Benar. Mereka saat ini sudah berada di ruangan utama. Mari silahkan, Tuan muda!" Ajak lelaki bernama Cheung yang bertugas sebagai kepala pelayan di keluarga besar Miller ini sejak dari zaman kakek mereka.


Setelah berkata begitu, dia langsung menghampiri yang lainnya termasuk Paman Kiem dan Lim Guan untuk turut bergabung dalam pertemuan itu.


Mereka kini mulai melangkah menuju ke ruangan yang besar di Villa mewah itu dengan lebih dua ratus orang telah berada di sana menunggu kehadiran Honor.


"Silahkan anda duduk di kursi milik kepala keluarga Miller ini, Tuan muda!" Kata Cheung sambil mempersilahkan setelah mereka tiba di ruangan besar itu.


"Terimakasih Paman Cheung!" Kata Honor. Namun, sebelum dia duduk, dia memperhatikan semua orang yang berada di dalam ruangan itu satu persatu. Setelah memperhatikan setiap wajah dari mereka, barulah dia segera duduk.


"Silahkan kalian duduk semuanya!" Kata Paman Cheung mempersilahkan setelah Honor Miller duduk di kursi kepala keluarga Miller itu.


"Tuan muda. Saat ini anda harus mendengarkan semua pembentangan Budget di perusahaan. Serta, ada berbagai laporan dari setiap cabang perusahaan kita di berbagai daerah baik itu dari daratan dan dari Hongkong ini," kata Paman Cheung mempersilahkan.


"Tuan muda. Nama saya adalah Zacky. Saya adalah ketua dari distrik Timur. Saat ini, proyek kita yang berada di sana telah berhenti melakukan kerja-kerja pembangunan. Ini karena, pemerintah setempat telah membekukan izin perusahaan. Mereka melakukan ini semua karena termakan berita dari Garden Hill. Saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain melaporkan kepada anda. Telah berulang kali kami melakukan berbagai usaha termasuk melobi pemerintah daerah diikuti dengan banding yang kami lakukan. Namun, mereka seperti sudah tidak memiliki minat lagi. Mereka bahkan akan melelang proyek tersebut kepada perusahaan dari Metro City yaitu Patrik Group Company," kata lelaki bernama Zacky itu menjelaskan.


"Lanjut!" Perintah Honor sambil menghempas nafasnya dengan berat.


"Tuan muda. Perkenalkan. Nama saya adalah Stevan. Sama dengan yang dialami oleh proyek milik perusahaan di distrik Timur. Bahwa kami juga mengalami hal yang sama. Pemerintah setempat juga telah memutuskan kesepakatan kerja sama dengan kita secara sepihak. Mereka juga membekukan seluruh proyek yang akan dan sedang berlangsung. Maafkan saya yang tidak kompeten ini, Tuan muda!" Kata Stevan pula sambil tertunduk lesu.


"Apakah semua laporan isinya adalah sama? Jika semuanya sama, keluar saja kalian dari ruangan ini. Tidak ada lagi gunanya kita membahas masalah ini. Hasil nya adalah sama. Daripada aku semakin sakit hati, sebaiknya tidak usah memberikan laporan lagi. Dan perusahaan Arold Holding Company akan melakukan pemecatan massal karena perusahaan sudah tidak memiliki lagi anggaran untuk menggaji para staf," kata Honor yang membuat seisi ruangan itu bergemuruh.


Ada yang setuju karena memang saat ini perusahaan benar-benar mengalami penurunan yang sangat drastis. Namun, bagi mereka yang mengharapkan pekerjaan itu untuk menampung kebutuhan mereka, maka mereka sedikit meminta pertimbangan kepada Honor untuk kembali mengusahakan sebuah proyek yang bisa memberikan mereka pekerjaan dari proyek yang akan dikerjakan oleh perusahaan. Namun, proyek apa yang bisa mereka dapatkan saat ini. Nama perusahaan saat ini benar-benar tidak bisa lagi mengarungi persaingan karena sudah terlanjur tercemar nama baiknya.


Setiap kepala semakin tertunduk ketika Honor saat ini sama sekali tidak bisa berbuat banyak untuk mencari solusi dalam masalah ini.


"Sebaiknya kalian bubar saja. Aku masih dalam keadaan berduka!" Kata Honor lalu segera bangkit dari kursinya kemudian melangkah meninggalkan ruangan itu.


********


Prang!


Gubrak!


Terdengar suara sesuatu di banting di lantai di Villa besar itu.


Tampak di sudut ruangan Honor terduduk menangis sambil mendekap wajahnya dengan kedua tangannya.


Di belakangnya tampak Tiger Lee, Kiem dan Lim Guan hanya menghela nafas saja menyaksikan semua ini.


Mereka lalu menghampiri pemuda yang baru selesai mengamuk itu lalu segera membantunya untuk berdiri.


"Tuan muda. Semuanya belum selesai. Kita belum bangkrut. Mengapa anda begitu emosi saat ini?" Tanya Lim Guan dengan nada lembut.


"Apa lagi yang kita miliki, Paman Lim? Perusahaan sudah hancur. Jangankan untuk bersaing dengan perusahaan Future of Company. Untuk mengaji para karyawan nya saja pun sudah tidak sanggup," kata Honor.


"Hahahaha. Anda terlalu pesimis, Tuan muda. Perusahaan Aglonima Company masih ada. Perusahaan Global Invest juga masih berdiri dengan kokoh. Semua ini adalah anak perusahaan milik Arold Holding Company. Apa yang anda khawatirkan?" Tanya Lim Guan sambil tersenyum.


"Maksud anda, Paman?"


"Arold Holding Company adalah kedok. Sebenarnya, perusahaan terbesar milik mendiang kakek anda adalah sebuah jaringan raksasa Internasional yang melakukan penyelundupan narkoba, manusia, pusat perjudian internasional, dan banyak lagi. Arold Holding Company hanyalah kacang saja," kata mereka.


"Lalu, jika ini hanyalah masalah kecil, lalu mengapa Ayahku sampai meninggal?" Tanya Honor merasa heran.


"Ayah anda meninggal sebenarnya bukan karena takut bangkrut atau lain sebagainya. Melainkan, ayah anda memang tidak bisa menerima tekanan. Sejak kecil dia memiliki penyakit pada jantungnya. Oleh karena itu, walaupun ayah anda melakukan kesalahan, dia tidak pernah di marah. Ayah anda selalu diperlakukan seperti perhiasan yang terbuat dari kaca. Tekanan yang diterima oleh ayah anda lah yang membuat dia terkejut lalu jantungnya gagal berfungsi dengan baik," kata Kiem menjelaskan.


"Berarti.., aku faham sekarang. Paman Rudolf adalah penyumbang terbesar dari kematian ayah ku,"


Kini Honor bangkit dari duduknya kemudian berkacak pinggang.


"Aku adalah kepala keluarga Miller mulai sejak hari ini. Paman Tiger Lee! Apakah kau akan mematuhi perintah ku?" Tanya Honor dengan mata berkilat-kilat.


"Saya sudah terikat sumpah terhadap mendiang kakek anda bahwa saya akan setia kepada siapa saja yang menjadi kepala keluarga di keluarga besar Miller ini," kata Tiger membuat Honor tersenyum penuh arti.


"Bagus. Sekarang, aku ingin nyawa Rudolf Miller. Apakah kau sanggup melakukannya?" Tanya Pemuda itu sekali lagi.


"Hahaha. Hanya nyawa Rudolf? Itu hanya urusan sepele. Seperti seekor nyamuk," kata Lim Guan sambil tertawa.


"Baiklah. Jangan hanya mengumbar kesombongan di depan ku! Aku perlu bukti. Segera bunuh Rudolf Miller ini. Apapun caranya, itu terserah kalian. Yang aku tau, dalam tiga hari ini, dia sudah mati!" Kata Honor dengan mata berkilat-kilat.


"Tunggu kabar baik dari kami, Tuan besar!" Kata mereka lalu segera meninggalkan ruangan itu.


Jangan lupa like nya ya!


Bersambung...