
"Permisi.., permisi!"
"Maaf untuk kalian semua. Saat ini kami, pihak kepolisian belum bisa memberi keterangan yang jelas kepada kalian semua, para wartawan. Karena, saat ini kami sedang mendalami kasus ini, dan siapa-siapa saja yang terlibat di dalamnya. Jadi, kami hanya bisa menyimpulkan bahwa kejadian ini murni pembunuhan berencana. Tapi, pihak kepolisian akan terus memburu tersangka yang lain dalam kasus ini. Tidak akan ada yang terlepas dari buruan pihak kepolisian. Pelaku, maupun otak dari kejadian ini yang bermain di Bali layar juga akan kita buru sampai dapat," kata seorang polisi setengah baya berusaha menjawab pertanyaan dari para wartawan di lokasi kejadian.
"Apakah pembunuhan ini ada kaitannya dengan persaingan antar Gengster?" Tanya salah satu wartawan kepada kepala kepolisian yang bertugas sebagai komandan dalam operasi kali ini.
"Sekali lagi saya katakan, bahwa kami, dari pihak kepolisian belum bisa memberi kesimpulan. Kami akan mendalami kasus ini. Andai terbukti dari pengakuan tersangka bahwa mereka adalah para anggota dari organisasi bawah tanah, maka pihak kepolisian akan memburu mereka sampai dapat,!"
"Mungkin bapak bisa menjelaskan apa motif dari pembunuhan ini. Apakah ada unsur balas dendam, atau perebutan kekuasaan?"
"Mohon maaf. Saya sudah mengatakan bahwa untuk saat ini, kasus sedang kami dalami. Mohon maaf!" Kata petugas kepolisian tadi yang langsung memerintahkan kepada bawahannya untuk langsung memasuki mobil.
Gerak cepat pun dilakukan. Mereka tidak memperdulikan lagi kekecewaan wartawan yang terus melontarkan pertanyaan. Jelas mereka harus cepat menuju ke bukit batu dan mengawasi pergerakan komplotan yang menamai diri mereka sebagai Geng Tengkorak.
...***...
...Kantor polisi Kota Batu...
"Komandan. Mereka tampaknya lebih memilih di siksa daripada mengakui dengan siapa mereka berkomplot,"
"Oh ya. Mari, antar aku ke sana!" Kata seorang polisi dengan nama Rio di bagian dada seragamnya.
Kreeeng..! Suara pintu besi di buka.
Di salam, terlihat beberapa orang dalam keadaan babak belur akibat dari introgasi yang dilakukan oleh bawahan Rio.
"Katakan dengan siapa kalian bekerja!?" Tanya Rio sembari mengangkat dagu salah seorang dari pelaku pembangunan tadi.
"Kami adalah orang-orang yang bergerak sendiri. Kami tidak memiliki majikan, karena kami tidak suka diatur-atur," jawab lelaki tadi.
"Apakah mereka memiliki KTP?" Tanya Rio kepada bawahannya.
"Tidak, Komandan,"
"Hmmm. Kalian kira bisa mengelabui kami, orang-orang yang bertugas di kepolisian? Ambil sidik jari mereka, lalu periksa identitas mereka melalui sidik jari! Aku pastikan kalian akan meringkuk di sini, bersama dengan majikan mu. Andai pun tidak, mereka pasti akan berakhir tertembus peluru ku!" Kata Rio yang segera meninggalkan ruangan introgasi tadi.
Para tahanan yang di tangkap tadi hanya tersenyum saja. Bagi mereka, lebih baik busuk di dalam penjara, daripada bernyanyi di depan petugas kepolisian.
Di ruang kerjanya, Rio segera menyebarkan para bawahannya, terkhususnya para petugas kepolisian bagian kriminal. Rio sengaja tidak menempatkan kepolisian kota batu, melainkan dia meminta izin kepada pak Rulian untuk menugaskan puluhan personel di kota batu. Sementara itu, petugas kepolisian bagian kriminal dari kota batu, di kirim untuk menggantikan posisi yang ditinggalkan oleh para petugas yang dipinjam oleh Rio.
Kini, di bawah komando dari Rio sendiri, para intelijen dari kepolisian pun segera menyebar untuk menyelidiki bukit batu, khususnya di villa peninggalan mendiang Birong.
...*********...
Di universitas Kota Batu, Joe tampak mengikuti perkembangan yang terjadi dalam penyergapan yang dilakukan oleh anggota kepolisian kota Batu yang bekerjasama dengan pihak kepolisian Tasik Putri.
Sepanjang waktu, dia hanya duduk saja sambil memperhatikan ponselnya, tanpa dia tau beberapa pasang mata memperhatikan dirinya dari tadi.
Prok!
Pundak Joe di tepuk, dengan diikuti seseorang yang duduk di sampingnya.
"Serius sekali kau Joe?!" Sapa orang tadi.
"Eh. Ternyata kamu, Jericho," kata Joe seraya tersenyum.
"Apa yang sedang kau perhatikan, Joe? Kelihatannya, itu sesuatu yang sangat menarik perhatian mu," tanya Jericho ingin tau.
"Ah.., tidak apa-apa. Aku hanya melihat-lihat koleksi barang-barang di toko online," jawab Joe berbohong.
"Hmmm. Selera belanja mu ternyata besar juga."
"Oh ya, Joe?!. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepadamu!" Kata Jericho pula dengan mimik wajah serius.
"Wah. Sepertinya ini adalah sesuatu hal yang sangat penting. Silahkan! Aku mendengar," pinta Joe.
"Ini tentang penyelidikan kami di Kuala Nipah. Ternyata, penyebab dari menjauhnya ikan-ikan di laut Kuala Nipah berhubungan dengan pabrik ikan sarden yang berada di dekat jembatan Tasik Putri. Mereka ternyata membuang limbah pabrik itu ke sungai yang langsung mengalir ke laut Kuala Nipah," ujar Jericho menjelaskan.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan? Apakah kalian sudah punya rencana?" Tanya Joe berbasa-basi.
"Kami telah menyusun laporan. Rencananya, kami akan melaporkan pabrik tersebut ke dewan perwakilan rakyat Tasik Putri. Juga ke kantor polisi. Ini semua agar mereka dapat menindak lanjuti dan mencabut izin pengoperasian pabrik tersebut," jawab Jericho pula.
"Bagaimana jika pengaduan kalian diabaikan? Bukan tidak mungkin perut para anggota dewan dan aparat sudah kenyang makan uang suap dari pemilik pabrik itu?!" Tanya Joe cuek.
"Jika demikian, maka jalan satu-satunya adalah melakukan unjuk rasa. Kami mungkin akan bersama-sama dengan orang-orang kampung Kuala Nipah untuk melakukan orasi di depan balai dewan,"
"Hmmm... Itu sungguh sangat berbahaya. Aku khawatir bahwa keselamatan kalian pasti akan terancam," ujar Joe yang sudah mengetahui seperti apa cara main Keluarga Miller ini.
"Aku tidak bisa berdiam saja Joe. Kita adalah mahasiswa. Kita adalah kumpulan orang-orang terpelajar yang tidak akan diam saja. Bagaimanapun, kita adalah pewaris dari bangsa ini, yang tidak ingin mewarisi sesuatu yang telah dirusak oleh pendahulunya dikarenakan ulah dari segelintir pihak. Kau juga pasti berfikiran sama denganku,"
"Ini lah sulit nya. Aku akan mencari jalan untuk membantu kalian," ujar Joe memberi harapan.
"Kau memiliki kepentingan di sana, Joe. Kau memiliki proyek pengembangan pariwisata di pantai Kuala Nipah. Tapi, aku melihat cara mu yang terlalu santai. Ini di luar ekspektasi ku. Aku selalu mendengar dari ayah ku bahwa ketua mereka adalah pemuda yang pintar dan tidak suka bersantai. Tapi kenyataannya, sungguh jauh sekali dari apa yang aku pikirkan," kata Jericho mengungkapkan kekecewaannya.
"Hahaha. Kau tau apa tentang aku? Kau hanya mengetahui sedikit saja dari kulitnya. Jelas aku memang memiliki kepentingan di Kuala Nipah. Tapi, mereka belum cukup. Sudahlah. Aku tidak ingin membahas masalah ini lagi," kata Joe yang langsung bangkit berdiri.
Dalam hati, Joe hanya bisa bergumam bahwa dia tidak akan mungkin santai apabila semuanya benar-benar jelas.
"Perseteruan ini di mulai oleh Kakek Uyut ku. Dilanjutkan oleh Ayah ku, dan dimenangkan oleh aku. Joe William, sang pewaris tunggal!"
Bersambung...