
Sore itu, setelah Joe mengantar Tiara ke rumah kontrakannya, entah kenapa Joe tidak seperti biasanya.
Jika biasanya dia langsung kembali ke apartemen miliknya di bukit batu, namun sore itu dia sengaja ingin jalan-jalan di sekitar kota Batu ini untuk melihat-lihat beberapa dealer sepeda motor. Jika ada nanti yang pas dan tidak terlalu mencolok, dia ingin membelikan satu untuk Tiara. Ini semua agar gadisnya itu tidak jalan kaki lagi jika bus mini yang biasanya ditumpangi penuh sesak.
Baru saja Joe memarkir Vespa butut miliknya di area parkir di salah satu dari deretan showroom motor, kini dia sudah dikejutkan oleh suara ribut-ribut di salah satu kafe yang tidak jauh dari tempat dia berhenti tadi.
Merasa penasaran, Joe segera berpaling ke arah suara itu dan dia kaget ketika melihat tiga orang gadis yang sangat dia kenal sedang diganggu oleh sekelompok pemuda.
"Bukankah itu adalah Mira, Dewi dan Janet?" Pikir Joe dalam hati.
Melihat raut wajah ketakutan dari gadis itu, membuat Joe merasa perlu untuk ikut campur. Namun, ketika mengingat perlakuan dari ketiga gadis itu kepada dirinya selama ini, maka, spontan rasa kasihan itu hilang dari dalam hatinya.
"Tujuan ku bukan untuk membuang waktuku. Aku lelah dan ingin segera kembali ke bukit batu. Urusan mereka bukan urusanku!" Kata Joe lalu segera mencopot helm miliknya dan meletakkan di stang motor miliknya.
Begitu helm di copot, satu teriakan melengking memanggil namanya.
"Joe..!"
Joe berpaling ke arah datangnya suara. Kini dia melihat bahwa ketiga gadis itu sudah di giring oleh para pemuda itu sampai di bibir gang antara kafe dan showroom motor.
Menduga akan ada bahaya bagi ketiga gadis itu, Joe pun segera berlari kearah gang tadi dan langsung membentak. "Hoi! Apa yang kalian lakukan kepada gadis itu hah?" Bentak Joe yang telah berdiri di depan gang tersebut.
"Sobat! Ini bukan urusan mu. Ketiga gadis ini telah berhutang kepada majikan kami. Ketika di tagih, selalu ada saja alasannya. Hanya untuk pamer dan foya-foya supaya terlihat seperti anak orang kaya, mereka telah meminjam sejumlah uang. Kini, mereka harus membayar. Dengan cara apapun itu!" Kata salah seorang dari lelaki itu.
"Lalu, untuk apa kalian menyeretnya memasuki gang ini?" Tanya Joe.
"Sudah aku katakan! Ini urusan kami. Jika kau mampu dan merasa bagaikan pahlawan, silahkan membantu mereka untuk melunasi hutang tersebut. Jika tidak, mereka akan kami bawa menemui majikan kami. Terserah mau diapain. Yang penting, setara dengan hutang yang harus mereka bayar!"
"Berapa hutang mereka?" Tanya Joe.
"Nah. Ini yang aku suka. Pertanyaan seperti inilah yang sangat aku suka. Hei sobat! Asal kau tau saja, setiap dari mereka berhutang 50 juta rupiah dan setiap bulannya ada bunga sebesar 15%. Lima puluh juta harus mereka lunasi selama dua tahun. Jika tidak, mereka bisa dijadikan sebagai pelacur di Tasik Putri sampai jumlah hutang mereka lunas. Kini, mereka sudah menunggak dua bulan. Kau bisa hitung sendiri berapa bunga dari tunggakan tersebut. Oh ya. Jangan di kira tidak ada hitam di atas putih! Surat perjanjian hutang itu ada dan lengkap!"
"Hmmm. Sekarang izinkan aku bertanya kepada ketiga gadis itu!" Kata Joe sambil menatap ke arah Mira, Dewi dan Janet yang sangat ketakutan.
"Silahkan!"
"Terimakasih!"
"Kalian bertiga. Jika aku mampu membayar hutang kalian bertiga, apa yang akan kalian berikan sebagai imbalan untukku?" Tanya Joe dengan senyuman yang sangat jahat.
"Kami rela melakukan apa saja untukmu, Joe!" Jawab mereka pasrah.
"Jilat telapak kaki ku ini!" Ujar Joe sambil membuka sepatu miliknya dan mengarahkan telapak kaki tersebut tepat di batang hidung Mira.
Ketiga gadis itu saling pandang. Ada keraguan di hati mereka. Apakah Joe ini serius membantu mereka atau hanya ingin mempermainkan saja.
"Bang. Jika saya boleh tau, siapa nama majikan anda itu?" Tanya Joe yang merasa penasaran.
"Baiklah. Boleh kau hubungi dia? Aku akan menelepon Dhani ini. Kebetulan aku mengenalnya," kata Joe.
"Hei sobat! Kau jangan membuang-buang waktu kami! Sekarang, apakah kau mau membantu gadis ini untuk membayar hutangnya atau tidak? Jika tidak, segera pergi dari sini sebelum terjadi keributan diantara kita!"
"Hubungi saja Dhani itu! Katakan kepadanya bahwa aku, Joe Iprit ingin berbicara dengannya!"
"Kau?!"
Salah satu dari lelaki itu tampak sangat jengkel melihat ketenangan Joe William ini. Namun, untuk lebih jelasnya, dia segera menghubungi ke nomor Dhani dan mengatakan seperti yang dikatakan oleh Joe tadi.
"Hallo Dhani. Ini aku kakek mu! Apakah kau masih ingat aku?"
"Heh sialan. Aku belum selesai dengan mu! Kau pasti akan membayar perbuatan mu kepada ku. Gara-gara kau, aku nyaris lumpuh!" Bentak Dhani di telepon seluler tersebut.
"Aku akan mematahkan batang leher mu apabila kau masih mengusik ketiga mahasiswi di kampus kota Batu ini. Mereka adalah Mira, Dewi dan Janet. Lepaskan mereka atau aku akan datang ke markas mu dan mengobrak-abrik port mu di sana!" Ancam Joe bersungguh-sungguh.
"Celaka kau Joe! Aku pasti akan membalas mu!"
"Suruh anak buah mu untuk kembali dan tidak lagi mengusik gadis ini. Jika tidak, aku akan datang!" Kata Joe tanpa menghiraukan caci dan makian dari Dhani. Dia lalu menyerahkan ponsel tersebut ke tangan pemiliknya.
"Hallo Boss!"
"Kembali kalian semua! Bangsat itu bukan lawan kalian. Cepat kembali atau dia akan membunuh kalian!" Bentak Dhani sehingga membuat beberapa orang lelaki itu tercengang.
"Hanya dia seorang saja, Boss! Apa hebatnya?"
"Jangan bodoh kalian. Jumlah ku dua puluh orang, dengan mudah dibuat cedera olehnya. Apalagi kalian yang hanya sepuluh orang saja. Cepat kembali. Aku masih mencari cara untuk membalas dendam kepadanya. Kembali kalian sekarang!"
"Baik Boss!" Jawab lelaki itu.
Dengan mata melotot garang tanda tidak senang, mereka akhirnya keluar juga dari gang tadi. Namun, enak saja Joe menjambak kerah baju salah seorang dari mereka dari belakang sambil berkata, "katakan kepada Dhani untuk menandatangani surat hutang ketiga gadis ini! Pokoknya lunas!"
"Huh!" Orang itu hanya mendengus sambil mengibaskan tangan Joe pada kerah bajunya.
Joe hanya tersenyum saja melihat kejengkelan di wajah mereka yang merasa bahwa mereka pasti bisa menumbangkan Joe hanya dalam sekali gebrakan saja.
"Tutup mulut kalian atas kejadian ini. Jika kalian banyak bicara, ku potong lidah kalian!" Kata Joe dengan dingin kepada ketiga gadis itu.
Mira, Dewi dan Janet langsung ketakutan melihat sorot mata Joe. Dia tidak menyangka bahwa Joe yang selama ini sering mereka bully bisa seganas ini. Jika tidak mengalami sendiri, seribu kali mereka tidak akan mempercayai bahwa Joe ternyata bisa sangat mengintimidasi.
Seperti tidak ada kejadian, Joe pun melangkah dengan santai ke arah Vespa butut miliknya lalu melihat wajahnya sebentar di kaca spion sebelum memasuki salah satu showroom motor di kawasan tersebut.
Bersambung...