
...Pukul 3 dini hari...
Mobil Audi Q3 melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan area Villa milik mendiang Birong yang saat ini sedang dilalap oleh si jago merah.
Di dalam mobil, terlihat sosok serba hitam yang tidak dapat dikenali wajahnya itu mengemudikan kendaraan roda empat tersebut dengan tenang.
Mobil yang bergerak dari bukit batu itu seolah-olah terlihat akan menuju ke gang Kumuh. Namun, setelah sedikit melewati jalan simpang empat dimana salah satu simpang tersebut menuju ke universitas Kota Batu, mobil itu malah banting stir ke kanan dan memilih jalan berputar dengan tujuan kembali ke bukit batu. Namun kali ini jalan yang diambil melalui jalan bagian belakang universitas tersebut. Jika diperhatikan, maka jelas-jelas bahwa mobil ini seperti hendak mengecoh perhatian.
Sepertinya si pengendara sudah sangat hafal dengan jalan tersebut. Sehingga, tidak sulit baginya melintasi jalan yang tidak terlalu ramai pengendara tersebut. Terlebih lagi saat ini sudah dini hari. Orang-orang yang memang tidak memiliki kepentingan akan berfikir tiga kali untuk keluar. Lebih baik mereka mengakrabkan diri dengan selimut dan bantal daripada harus berkendara di subuh gelap nan dingin itu.
Tidak sampai lima belas menit, akhirnya mobil itu tiba lagi di bagian sisi Utara bukit batu. Tepatnya di salah satu bangunan apartemen. Namun, mendadak si pengemudi mobil Audi Q3 itu berhenti di depan mobil Honda jazz berwarna merah yang terparkir di sana.
"Mobil ini... Bukankah ini adalah mobil milik Tiara?" Gumam seseorang yang berpakaian serba hitam tersebut.
Merasa tidak enak hati, sosok hitam itu membuka jaketnya dan melepaskan masker yang dia kenakan, lalu keluar dari mobil dengan niat untuk menghampiri mobil Honda jazz yang terparkir tersebut.
Merasa penasaran, pemuda itu mencoba membuka pintu di bagian sopir.
"Aneh. Pintu tidak dikunci?!" Katanya dalam hati.
"Sialan. Apa sesuatu telah terjadi kepada Tiara?" Katanya lagi.
Sosok berpakaian serba hitam itu tadi tidak lagi memperdulikan mobilnya yang terparkir di pinggir jalan. Dia terus berlari menuju ke apartemen miliknya. Dia bahkan tidak sempat membuka pagar. Baginya, membuka pagar hanya akan membuang waktu.
Hanya sedikit menggenjot tubuhnya menggunakan ujung sepatu, tangan kanannya berhasil menjangkau ujung besi seperti mata tombak di bagian atas pagar itu. Lalu, sekali ayun, tubuhnya melayang melompati pagar dan langsung berlari menuju ke arah pintu.
Seperti kesetanan, pemuda itu terus berlari menuju ke sebuah ruangan dan langsung berhenti di depan sebuah layar, dia segera duduk dan kini mulai memutar ulang rekaman cctv.
Kini, di layar dia melihat dirinya dan Tiara berpisah. Di sana dia juga melihat Tiara sedang berjalan menuju ke arah mobilnya sebelum menoleh ke arah seseorang yang tiba-tiba Langsung memberikan tamparan ke arah wajah gadis itu.
Pemuda itu menghentikan video, lalu menekan Zoom untuk melihat wajah lelaki yang telah berani menampar wajah gadisnya.
"Celaka. Bukankah pria ini adalah Honor Miller?!"
"Berarti Tiara dalam bahaya!"
Pemuda itu segera merogoh ponselnya. Dia ingin menghubungi seseorang untuk segera diberi tugas agar bisa segera melacak kemana Tiara di bawa.
"Siaaaaal!" Maki pemuda itu ketika mendapati bahwa ponselnya ternyata tidak bisa menyala.
"Batere nya habis," katanya sambil menggaru kepala dengan kasar.
Pontang panting pemuda itu mencari pengisi daya.
Setelah bertemu, dia masih harus menunggu dulu ponselnya untuk mengisi daya. Setidaknya butuh waktu lima menit untuk bisa menyalakan kembali handphone miliknya.
Lima menit dirasakan olehnya bagaikan lima jam.
Pemuda itu tampak tidak sabaran. Berulang kali dia menggigit kukunya. Entah apa arti dari tindakannya itu. Mungkin dia ingin mengusir rasa gusar dihatinya saat ini.
"15%" katanya. Dia lalu menekan tombol on pada ponselnya itu.
"Ayo lah cepat loading mu! Cepat lah...!" Tingkahnya kini persis seperti cacing kepanasan.
Beberapa saat berlalu, akhirnya ponsel itu normal dan sudah bisa digunakan.
Dengan sangat cekatan sekali, pemuda itu langsung mencari nomor kontak dan langsung melakukan panggilan.
"Hallo ketua!" Sapa orang di seberang sana.
"Bent! Aku memerlukan bantuan mu!"
"Silahkan anda memberikan perintah, ketua!" Ujar suara di seberang sana.
"Bent! Kau ajak Alex! Teman wanita ku sedang dalam masalah. Dia telah di culik oleh kepala keluarga Miller. Aku telah mengirim nomor plat mobil ke ponsel mu. Lacak keberadaan mobil ini! Berangkat sekarang ke bangunan Manor di Tasik Putri! Jika kau menemukan mobil ini berada di sana, berarti teman wanita ku telah di sekap di Manor itu. Laksanakan segera!"
Tak lama setelah itu, pemuda tadi segera membiarkan agar handphone miliknya mengisi daya. Sementara dirinya sendiri kini mulai menyibukkan diri untuk mempersiapkan segala kemungkinan.
"Genderang perang telah di palu. Aku tidak bisa tinggal diam lagi. Sudah terlalu banyak alasan untuk melakukan serangan besar-besaran!"
Kini, pemuda itu meloloskan kalung berlambang naga dan harimau dari lehernya.
Setelah kalung tersebut tergenggam ditangannya, dia segera menarik kedua sisi pada lencana berlambang naga pada kalung tersebut sehingga lencana itu kini terbelah menjadi dua bagian dengan sisi sama rata.
Pemuda itu kini menekankan salah satu dari lencana tadi di atas tinta stempel, lalu menekannya pada kertas kosong.
Setelah lencana itu diangkat, kini pada kertas tadi tertera lah sederetan nomor telepon dengan kode area, Metro City.
"Sudah saatnya peperangan besar. Kali ini seluruh dunia harus tau siapa Joe William, dan kekuatan sebesar apa yang berada dibelakang seorang pemuda bernama Joe William!" Kata pemuda itu dengan geram sambil menekan angka pada ponselnya sesuai dengan nomor yang tertera di kertas tadi.
Tut.., Tut.., Tut..,
"Selamat siang, Ketua. Anda telah melakukan panggilan darurat. Silahkan menunggu sebentar, saya akan menghubungkan panggilan anda dengan seluruh ketua bagian distrik lainnya!" Terdengar suara seorang wanita di ujung sana.
"Siang? Bukankah ini subuh?" Pikirnya dalam hati. Tapi dia keburu sadar bahwa dia saat ini sedang berada di Indonesia, bukan di Starhill atau Metro City.
Lama juga pemuda itu menunggu, sampai akhirnya..,
Tut.., Tut.., Tut..!
"Multi calling party. Silahkan tekan 1 untuk memulai, dan silahkan tekan 0 untuk mengakhiri panggilan!"
Pemuda itu segera menekan angka 1. Panggilan pun segera terhubung, dan kini terdengar suara batuk-batuk di ujung sana.
"Uhuk.., uhuk.., uhuk! Cucu kurang ajar. Keisengan apa lagi yang kau perbuat hah?"
"Selamat siang Ketua!"
"Selamat siang Ketua!"
"Selamat siang Ketua!"
"Selamat siang!" Jawab pemuda itu.
"Silahkan anda memberi perintah!"
"Dengarkan kepada kalian semua ketua setiap distrik! Saat ini genderang perang telah di palu oleh keluarga Miller. Persiapkan diri kalian!"
"Kakek Jeff! Anda telah berulang kali bolak-balik antara Country home ke Kuala Nipah. Gunakan Speedboat tercepat dan pimpin orang-orang kita di Kuala Nipah!"
"Kakek Regan! Kerahkan seluruh orang-orang Dragon Empire bagian Metro City. Tugas kalian adalah berangkat memasuki Hongkong. Tugas kalian adalah, menebas habis setiap pelarian dari Indonesia menuju ke pelabuhan-pelabuhan di Hongkong!"
"Kakek Syam dan Kakek Drako! Bantu cucumu ini dengan Doa!"
"Paman Arslan, Paman Riko, Paman Herey, Senior Black dan Senior Leo! Berangkat sekarang juga dari bandara internasional Starhill menuju ke bandara internasional Kuala namu! Aku membutuhkan tenaga kalian di sini!"
"Paman Tigor! Persiapkan diri kalian! Perang ini adalah perang terakhir. Aku telah membakar Villa mewah milik Birong di bukit batu. Tidak ada seorang pun yang selamat. Kalian segera menuju ke Kuala Nipah melalui tanjung karang!"
"Siap laksanakan!" Jawab mereka serentak.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk menjawab pertanyaan. Jangan mencari aku di bukit batu. Karena, aku sudah tidak berada lagi di sini!"
Tut Tut Tut...,
Panggilan itu pun diakhiri begitu saja.
Bersambung...