Joe William

Joe William
Bertemu dengan Roger



Kelap-kelip lampu malam mulai menghiasi kota kecil melewati kampung Indra sakti.


Di bahu jalan, tampak dua orang pemuda berjalan. Yang satu di depan, dan yang satunya lagi dibelakang.


Tidak ada banyak cerita. Mereka hanya berjalan dan sesekali meminggir ketika klakson dari bus berbunyi memberi peringatan.


"Sudah dimana kita ini, Namora?" Tanya pemuda yang berada di depan.


"Entahlah, Joe. Aku juga pusing ini. Sebenarnya, kemana tujuan kita?" Tanya Namora.


"Aku juga tidak tau. Aku hanya ingin merasakan seperti apa menjadi gelandangan itu. Aku merasa, Paman Tigor dulu pasti lebih parah dari yang kita rasakan ini. Namun, hati ku jauh lebih parah dari yang dirasakan oleh Paman Tigor," kata Joe. Dia kini menjatuhkan pantatnya di depan salah satu teras toko yang berada di jejeran pinggir jalan.


Beberapa orang anak-anak pengamen berlalu lalang di depan mereka sambil membawa gitar dan berbagai alat musik lainnya.


Tiba di giliran seorang pengamen yang sebaya dengannya, Joe langsung menghentikan pengamen tersebut. Dia menyerahkan selembar uang seratus ribu rupiah, lalu meminta pengamen itu menyanyikan lagu 'Sejauh mungkin' dari group band ungu.


"Terimakasih, Bang. Abang ada permintaan lagu yang lainnya lagi atau tidak?" Tanya sang pengamen.


"Tidak. Hanya lagu itu saja!" Jawab Joe.


Sang pengamen pun langsung memetik senar gitar nya lalu menyanyikan lagu permintaan dari Joe tadi.


Kini, di pelupuk mata Joe terbayang ketika dia berjalan bersama dengan Tiara, melompati tembok sekolah dan melarikan diri dari kawalan Ameng bersama Tiara, duduk di pantai dan ketika dia berulang tahun, bagaimana ketika itu, Tiara adalah orang yang pertama mengucapkan selamat ulang tahun untuknya dan menemaninya sampai larut malam.


Belum lagi habis lagu yang dinyanyikan, dia langsung berdiri kemudian berjalan meninggalkan pengamen itu dengan terus diikuti oleh Namora.


"Kejam sekali kehidupan ini. Untuk apa banyak uang jika aku tidak bisa membahagiakan orang yang aku cintai. Aku hanya ingin bahagia bersamamu, Tiara. Tapi, mengapa begitu sulit?" Rintih Joe sambil berjalan.


"Keluarga Miller akan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Aku tidak akan melepaskan mereka. Bumi ini akan aku jadikan sempit untuk mereka,"


Tin tin tiiiin...!


"Woy. Mau mati kau ya?" Bentak seorang pengendara mobil sedan karena Joe berjalan semakin ke tengah jalan.


Joe menoleh ke arah orang yang meneriakinya tadi. Dan begitu melihat siapa yang berteriak, Joe langsung mengernyitkan dahinya.


"Ketua! Apakah benar ini adalah ketua?"


"Menurut mu aku siapa?" Tanya Joe acuh.


"Maafkan saya ketua!" Kata lelaki tadi. Dia langsung keluar dari mobil lalu membungkuk hormat dihadapan Joe.


"Kemana tujuan anda, Ketua?"


"Aku masih belum tau. Oh ya, Paman Roger. Kau akan kemana?" Tanya Joe.


"Saya akan kembali ke Dolok ginjang. Saya sengaja melalui jalan ini untuk menghindari macet. Lalu, bagaimana dengan anda? Mengapa anda tampak begitu kusut?" Tanya lelaki bernama Roger itu.


"Panjang ceritanya. Aku kemari ingin bertemu dengan guru ku yaitu Tengku Mahmud. Hanya saja, aku terlambat," jawab Joe.


"Ya. Saya juga mendengar bahwa Tengku Mahmud sudah kembali ke Deli Serdang. Tadi pagi saya bertemu dengan bang Tigor."


"Oh. Ternyata ada Namora juga di sini. Bagaimana jika ketua dan Namora saya antar ke penginapan? Sebelum Tasik Putri, ada satu tempat bernama Gang kumuh. Di sana juga ada restoran, penginapan dan bar milik bang Tigor. Tidak jauh dari sana, juga ada proyek milik Tower Sole propier yang sudah selesai delapan puluh persen dan sebagian sudah beroperasi," kata Roger mengusulkan.


Roger dengan senang hati membukakan pintu mobilnya dan tampak sangat senang bisa mengantar Joe. Ini adalah sebuah kehormatan baginya.


*********


Mobil sedan hitam berhenti tepat di sebuah gedung tiga lantai.


Begitu keluar dari mobil, Roger yang menjadi pengemudi langsung setengah berlari untuk membukakan pintu.


Dari dalam, keluar lah Joe dengan didampingi oleh Namora.


Mereka bertiga lalu memasuki bangunan tersebut.


Di dalam, kini Joe dan Namora melihat ramai pengunjung yang sedang melantai. Sambil menepuk pundak seorang penjaga keamanan, Roger langsung mengajak kedua pemuda itu ke lantai paling atas. Lantai ini khusus bagi mereka yang berduit tebal saja. Karena, selain pelayanan yang lengkap, mereka yang berada di lantai atas ini akan dilayani bagaikan seorang Raja.


Beberapa pasang mata tampak memperhatikan ke arah Joe. Mungkin karena mereka tidak mengenal siapa pemuda ini. Lain halnya dengan Roger dan Namora. Mereka begitu ramah dan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya dihadapan kedua orang tersebut.


Joe tidak perduli dengan semua itu. Dia sudah terlalu lelah. Dia kini menarik sebuah kursi secara acak. lalu enak saja dia duduk sambil menaikkan kakinya di atas meja.


Tak lama setelah itu, datang seorang gadis membawakan minuman dengan pakaian yang sangat seksi.


Begitu mata gadis itu beradu pandang dengan Joe, kedua orang ini sama-sama terkejut. Dari keterkejutan si gadis, nampan yang dia bawa berisi botol dan gelas yang berada di atasnya langsung terjatuh. Hal ini tentu saja membuat kaget semua yang ada di tempat itu.


Begitu mendengar bunyi sesuatu yang terjatuh dan pecah, seorang manager wanita pun datang. Dengan sangat galak, dia membentak gadis itu.


"Kurang ajar sekali kau Lestari! Kau tau berapa harga anggur itu? Satu botol nya setara dengan gaji mu satu tahun. Kau telah memecahkan tiga botol sekaligus. Kau ini?!"


Sang manager langsung melayangkan tangannya hendak menampar si gadis. Namun hal itu urung dia lakukan ketika Joe tiba-tiba saja menahan tangan si wanita.


"Sedikit saja kau berani menyentuhnya, akan aku buat kau menjadi pengemis di jalanan!" Bisik Joe ke telinga sang manager.


Melihat seorang pemuda yang tidak dia kenal mengancam ke arahnya, membuat wanita itu semakin mengamuk.


Wanita itu langsung mendamprat ke arah Joe dengan kata-kata yang sangat kasar.


"Darimana datangnya gembel ini? Siapa yang membawanya masuk ke Club elite ini? Dimana penjaga?" Teriak sang manager.


Beberapa penjaga langsung berdatangan dengan maksud untuk memberi pelajaran kepada siapa saja yang membuat onar di Club' elit tersebut.


"Aku berkata sekali saja. Siapa yang berani menyentuh gadis ini, aku pastikan bahwa dia akan menjadi pengemis di kaki lima!" Kata Joe dengan nada dingin.


Joe langsung duduk di kursinya kembali. Lalu dia memerintahkan kepada Roger yang berada sedikit jauh darinya untuk datang.


Sang manager langsung mereda kemarahannya ketika melihat Roger menantu Lalah membungkuk dihadapan pemuda itu.


"Panggil gadis itu kemari! Aku ingin berbicara banyak dengannya," perintah Joe.


"Siap, Ketua!" Kata Roger lalu segera melambaikan tangannya untuk memanggil gadis yang bernama Lestari tadi.


Bersambung...