Joe William

Joe William
Joe Arvan



...Klasik Mansion...


Di salah satu ruangan di lantai paling atas bangunan mewah tersebut, Joe tampak duduk di sebuah kursi yang membelakangi meja. Sebelah kakinya sengaja dia naikkan di bagian jendela yang terbuka sambil memperhatikan kendaraan para pengunjung yang seakan tidak putus-putusnya mengunjungi Highland Park ini.


Sejak peristiwa yang terjadi beberapa hari yang lalu, yang menyebabkan tumbangnya keluarga Clifford, dirinya kini harus ekstra hati-hati. Karena, bukan mustahil bahwa dirinya kini sedang diintai oleh orang-orang suruhan dari keluarga Miller.


Sejak meninggalkan Castle milik keluarga Clifford, dia telah menugaskan kepada Black untuk memperketat penjagaan di setiap badara maupun pelabuhan baik itu di Metro City, Starhill, MegaTown dan Country home. Baginya, lebih baik bergerak untuk menjaga segala kemungkinan daripada harus kalang kabut menanggulangi kedatangan musuh.


Kini, firasatnya mengatakan bahwa jika tidak hari ini, maka besok atau lusa, dia pasti akan menerima kabar dari salah satu anak buahnya baik itu dari Dragon Empire, maupun dari Tiger Syam. Dan benar saja. Di saat dia sedang larut dalam fikirannya, telepon seluler miliknya pun berdering.


Ketika melihat ke layar ponsel, Joe pun langsung mengetahui nama yang menelepon ke ponsel milik nya.


"Senior Black?!" Kata Joe dalam hati. Lalu dia pun segera mengusap layar untuk menjawab panggilan tersebut.


"Senior Black, Joe di sini. Apakah ada kabar yang anda dapatkan?" Tanya Joe setelah menjawab panggilan tersebut.


"Tuan muda. Baru saja ada enam orang pendatang asing yang turun di bandara Country home. Dan orang-orang ini semuanya berasal dari Hongkong," jawab sang penelepon yang ternyata adalah Black sahabat Herey.


"Hahaha. Sudah ku duga. Berita tentang hancurnya keluarga Clifford di tangan ku pasti akan menimbulkan sensasi yang akan menggemparkan sekaligus memancing pihak musuh ku. Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang dulu pertama kali tiba di Starhill?" Tanya Joe.


"Ada empat orang pendatang asing yang terlebih dahulu tiba dan mencoba mencari tahu tentang keberadaan anda. Saat ini, mereka masih terus dibuntuti oleh anak buah ku," jawab Black.


"Hmmm. Begini saja, Senior Black! Anda cukup menyuruh beberapa orang untuk membuntuti mereka. Jangan lakukan apapun! Aku ingin tau kemana mereka akan bergerak. Apabila mereka menuju ke Quantum City melalui jalur penerbangan lokal, maka anda segera mengabarkan kepada ku. Aku tau apa yang harus aku lakukan untuk menjebak orang-orang ini," kata Joe memberi perintah.


"Baik Tuan muda. Saya akan melakukan apa yang anda perintahkan. Tapi, mengapa terlalu susah-susah? Bukankah kami bisa membantai mereka di Country home?" Tanya Black.


"Tidak. Aku tidak mau kita salah dalam menjatuhkan tangan kepada orang lain. Biarkan mereka tertangkap basah. Hanya itu cara satu-satunya untuk membuktikan apakah mereka ini memang benar-benar orang-orang suruhan dari keluarga Miller, atau bukan,"


"Siap, Tuan muda! Saya akan melakukan seperti yang anda katakan,"


"Terimakasih, Senior Black."


Setelah berkata demikian, Joe pun mengakhiri panggilan itu lalu meletakkan ponselnya di atas meja di belakangnya.


"Mau melacak informasi tentang diriku? Tidak semudah itu sobat!" Kata Joe dalam hati dengan senyuman yang sangat sinis.


*********


Joe yang memiliki segudang rencana di dalam benaknya langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian ala tukang parkir kemudian keluar meninggalkan ruangan pribadi miliknya menuju ke lantai bawah. Namora adalah satu-satunya orang yang ingin dia temui saat ini.


Begitu dia tiba di bawah, dia segera mengendarai mobilnya menuju ke Villa mewah miliknya kemudian terus memasuki garasi lalu tidak keluar-keluar lagi dari garasi tersebut.


Di dalam garasi, ada sebuah pintu yang langsung menghubungkan ke salah satu ruangan di bagian sayap kiri Villa mewah tersebut.


Beberapa pelayan yang melihat kehadirannya langsung menunduk hormat dengan sapaan, "selamat datang Tuan muda,"


"Terimakasih," kata Joe lalu segera menuju lift.


Tiba di lantai paling atas Villa tersebut, Joe pun kini menelepon Namora untuk segera menemuinya.


Tok tok tok..!


Setelah mempersilahkan masuk, kini muncul seorang pemuda berwajah tampan namun sangat dingin, dengan tatapan mata yang sangat tajam, wajah tanpa ekspresi berjalan melangkah menuju meja tempat Joe duduk.


Setelah membungkukkan badannya, namun mata tetap menatap tajam ke atas, pemuda itu pun bertanya, "Anda memanggil ku, Ketua?"


"Duduk lah, Namora! Tidak perlu terlalu formal. Kita adalah sahabat!" Kata Joe mempersilahkan.


"Terimakasih, Ketua,"


"Sebenarnya, ada apa anda memanggil ku ke ruangan anda ini? Apakah ada sesuatu yang harus aku kerjakan?" Tanya Namora tanpa notasi di setiap perkataannya.


"Namora. Apakah kau memang disuruh oleh Paman Tigor secara khusus untuk mendampingi ku, atau kau memang sengaja ingin kuliah di Quantum City ini?" Tanya Joe langsung ke inti pembicaraan.


"Aku, Namora Habonaran memang sengaja di kirim oleh Ayah ku untuk mendampingi Anda. Bukan sebagai pengawal, karena anda memang tidak membutuhkan kawalan. Aku di kirim hanya untuk menjadi pendamping anda. Dan, harus berada di manapun anda berada," jawab Namora.


"Baiklah. Jika begitu, berarti kau tidak perlu memanggil ku dengan sebutan ketua. Ubah cara mu memanggil ku mulai hari ini. Jadi, kau bisa memanggil ku dengan sebutan Joe saja. Ingat! Joe saja tanpa ada William nya. Atau, kau bisa memanggilku Joe Arvan, Joe Mahmud atau Joe Iprit. Bagaimana?" Tanya Joe.


"Aku akan mencobanya. Tapi, apakah anda memanggilku kemari hanya untuk itu? Lalu, siapa pula Arvan itu? Kalau Mahmud, aku tau. Itu adalah nama Unyang Tengku Mahmud," Tanya Namora.


"Arvan itu adalah nama belakang dari Kakek Uyut Malik,"


Namora mengangguk tanda mengerti dan dia mulai dapat membaca apa maksud dari Joe ini.


"Kau ingin tau apa tujuan ku memanggil mu ke sini?"


Namora segera menganggukkan kepalanya.


"Namora. Kita sudah tidak bisa tinggal lebih lama lagi di Quantum City ini. Orang-orang dari keluarga Miller telah mencium keberadaan ku di kota ini. Kita harus pindah ke lain tempat. Mari kita tanggalkan identitas kita! Waktu dua tahun masih lama untuk kembali ke Kota Kemuning. Kita bisa berpetualang ke berbagai tempat. Tapi setelah satu misi berhasil kita kerjakan!"


"Misi apa itu, Ketua? Maksud ku, misi apa itu, Joe Arvan?" Tanya Namora.


"Keluarga Miller telah mengirim lebih kurang sepuluh orang untuk melacak keberadaan ku. Bersama dengan R4, kita akan menjebak mereka. Kau yang tampil di depan menggantikan posisi ku untuk menjebak mereka. Kemudian, habisi!" Kata Joe dengan senyuman yang sangat jahat.


Untuk pertama kalinya Namora tersenyum. Walaupun senyuman itu sepertinya sangat jelek.


"Kau bisa saja menyenangkan hati ku. Ok lah! Aku suka misi ini. Kita bantai mereka tanpa sisa," kata Namora menyeringai menampakkan barisan giginya yang sedikit bertaring.


"Ini kunci mobil ku! Kau bebas menggunakannya di sekitar kota Quantum ini," kata Joe sambil melemparkan kunci mobil Lykan hypersport miliknya kepada Namora yang langsung disambut oleh pemuda itu.


"Baiklah. Aku permisi dulu, Joe Arvan!"


Setelah menunduk hormat, Namora pun meninggalkan ruangan pribadi milik Joe tersebut.


Tiba di bawah, dia segera menuju ke garasi dan memerintahkan kepada penjaga Villa tersebut untuk membukakan garasi.


Tak lama setelah itu, satu unit mobil super sport Lykan hypersport berwarna hitam metalik pun meluncur laju meninggalkan kawasan Highland Park tersebut menuju ke arah pusat Quantum City.


Bersambung...