Joe William

Joe William
Hanya butuh kata Alasan



Kota Tasik Putri


Mobil BMW hitam itu kini meluncur mulus dari jalan raya lalu berbelok ke jalan menuju perumahan Top kota Kemuning lalu berhenti di salah satu rumah besar tiga lantai di kawasan tidak jauh dari pusat kota Kemuning tersebut.


Seorang lelaki hitam manis yang tampak sudah berumur sekitar 45 tahun keluar dari mobil itu lalu memencet bel di depan pintu pagar rumah besar tersebut.


Setelah menunggu beberapa saat, tampak seorang petugas penjaga menghampiri pagar lalu membukakan pintu dan dengan hormat mempersilahkan lelaki setengah baya tadi untuk masuk.


"Silahkan bang Sugeng! Bang Tigor sudah menunggu mu dari tadi." Kata pengawal itu.


"Terimakasih!" Kata lelaki setengah baya bernama Sugeng itu lalu segera masuk kembali ke mobilnya dan memarkir mobil itu di area parkir rumah besar tersebut.


***


"Bang. Benar dugaan Abang bahwa ternyata mereka menargetkan Irfan dan Marven sebagai antek-antek mereka di kota Tasik Putri." Kata Sugeng begitu dia tiba di ruang tamu rumah besar itu.


Di satu kursi, seorang lelaki setengah baya yang seumuran dengan dirinya sedang duduk sambil membaca beberapa berkas.


"Kau yakin Geng?" Tanya lelaki itu.


"Kami terus memantau rumah mendiang Beni di pinggir kompleks elite Tasik Putri bersama Ucok. Kemarin, mereka kedatangan tamu asing bang. Sedangkan tadi menjelang siang, Irfan datang mengunjungi Marven di pusat tahanan kota Batu.


"Apakah ada yang membuntuti orang asing itu?"


"Karena terus membuntuti mereka lah makanya kami mendapat kesimpulan bahwa mereka ini datang dari MegaTown. Seperti yang sudah kita atur. Kami membagi tugas dengan memata-matai area kompleks elite, pusat tahanan kota Batu, bandara Kuala Namu, serta pelabuhan. Dan memang dua orang asing itu memang datang dengan pesawat dari MegaTown." Jawab Sugeng.


"Hmmm... Ayo kita temui ketua. Hal ini harus kita diskusikan bersama. Panggil yang lainnya dan susul aku di Martin Hotel!" Kata lelaki itu.


"Baik bang. Kita berpisah di sini. Nanti kita ketemu di Martins Hotel." Kata Sugeng lalu bangkit dari duduknya kemudian berjalan keluar menuju mobilnya.


Sedangkan Tigor pun langsung bersiap-siap menuju Martins Hotel untuk menemui Joe William yang sudah hampir dua Minggu ini berada di sana.


Dengan menggunakan mobil sport BMW i8 miliknya yang dia terima dari mendiang Martin dulu ketika baru bergabung dengan organisasi kucing hitam, dia pun berangkat langsung menuju Martins Hotel.


Tiba di depan Martins Hotel, tampak Sugeng, Ameng, Acong, Andra dan Monang sudah berada di sana.


"Apa kalian sudah bertemu dengan Ketua?" Tanya Tigor sebaik saja dia keluar dari mobilnya itu.


"Belum Bang. Kami menunggu Abang lah. Biar sama-sama kita menemui ketua." Jawab Acong.


"Ayo kita ke lantai atas. Ada banyak hal yang harus kita bahas kali ini." Kata Tigor lalu mendahului sahabat-sahabatnya itu memasuki lobby hotel dan langsung saja ke ruang lift yang akan mengantar mereka ke lantai atas


*********


Tok tok tok!


"Ketua. Apakah anda ada di dalam?"


"Masuk saja!" Kata Joe mengizinkan mereka Untuk masuk.


Tak lama setelah itu kini tampak sekitar enam orang memasuki kamar hotel yang ditempati oleh Joe itu. Mereka adalah Tigor, Ameng, Monang, Andra, Acong dan Sugeng.


"Mereka sudah datang paman? Apakah mereka menemui musuh mu?"


Pertanyaan Joe ini membuat mereka saling pandang dan merasa heran. Bagaimana Joe bisa tau sedangkan sepanjang hari bahkan setiap hari Joe ini sangat jarang keluar dari kamar hotelnya jika tidak sedang ingin naik Troli.


"Mengapa heran Paman?" Tanya Joe.


"Darimana ketua dapat kabar?" Tanya Tigor sambil duduk.


"Apa paman lupa bahwa orang Dragon Empire berada di setiap pelosok dan penjuru? Mereka ada di setiap kota. Bahkan jika kota itu hanya khayalan semata, orang-orang Dragon Empire pasti ada di kota khayalan itu." Kata Joe tanpa sedikitpun ada raut wajah bercanda di wajahnya.


"Aku hanya ingin memastikan. Apakah ada orang asing menemui salah satu dari musuh Paman?" Tanya Joe.


"Benar Ketua. Mereka menemui salah satu dari sisa-sisa organisasi kucing hitam di Tasik Putri. Dugaan ku adalah, mereka sengaja menjaring sebanyak-banyaknya musuh Dragon Empire dan merekrut mereka. Sepertinya mereka ini ingin mendirikan organisasi atau aliansi anti Future of Company." Jawab Tigor.


"Lalu apa yang anda pikirkan ketua?" Tanya Ameng.


"Mereka belum mengusik kita kan Paman? Bagaimana aku bisa memberikan reaksi jika aku tidak merasa terusik. Aku ingin mereka menyakiti ku. Baru aku bertindak. Namun, sepertinya orang-orang ini terlalu suka terhadap musuh kita. Sungguh suatu hobi yang menyimpang." Kata Joe sambil duduk.


"Aku telah mencari tau siapa Tuan Paul itu. Ternyata dia adalah mantan Manager di perusahaan milik Uyut ku yaitu Smith Group. Setelah ayah ku mengambil alih perusahaan dan menjadikannya sebagai satu perusahaan baru bersama William Group yaitu Future of Company, jajaran Staf masih terus dipertahankan walaupun perusahaan itu telah berganti nama. Tidak terkecuali dengan Tuan Paul ini. Tapi dia memilih jalannya sebagai penghianat. Mengkhianati kepercayaan yang telah di beri oleh Ayah ku. Alih-alih membawa perusahaan ke arah yang lebih baik, dia malah menjadi tikus kepala hitam dan berkomplot dengan musuh sehingga perusahaan mengalami kerugian."


"Berarti, jika Tuan Paul itu adalah bekas manager di perusahaan Future of Company, alangkah berbahayanya orang ini. Dia jelas mengetahui banyak tentang agenda perusahaan serta seluk-beluk dalaman di jajaran orang-orang penting di dalam perusahaan. Jika informasi tentang perusahaan ini bocor ke pihak musuh, maka Future of Company dalam bahaya." Kata Tigor.


"Makanya itu paman. Aku ingin menargetkan orang ini sebagai buruan ku yang paling utama sambil berdoa semoga saja aku dapat menciptakan musuh baru bagiku untuk aku susupkan ke dalam lingkungan mereka ini." Kata Joe.


"Maksud anda ketua? Jika itu yang anda inginkan, kami siap untuk bersandiwara dengan menjadi musuh anda."


"Tidak bisa sembarangan Paman. Hal yang semacam ini perlu acting yang sangat alami dan terkesan seperti tidak di buat-buat. Saat ini aku sedang menunggu adanya jajaran tinggi dalam perusahaan yang bisa melakukan acting yang sangat sempurna. Karena, mereka juga pasti sedang mengintai setiap pergerakan kita. Menurut paman, jika dua kerajaan besar akan menghadapi perang besar, apa langkah pertama yang mereka ambil jika perdamaian menemukan jalan buntu?" Tanya Joe.


"Jika peperangan sudah di ambang mata, maka mata-mata memiliki peran kunci dalam mengatur strategi. Dengan adanya informasi yang di dapat dari sekitar lingkungan pihak lawan, maka rencana akan semakin mudah untuk di matangkan baik itu menetapkan target serangan, ataupun antisipasi adanya serangan balasan." Kata Monang menjawab.


"Tepat!. Seperti kita, Bukankah kita ada menyebar mata-mata di setiap daerah? Jika kita begitu, musuh juga sama paman. Mana mungkin mereka tidak mengutus mata-mata?! Oleh karena itu, aku membutuhkan konflik internal yang terlihat sangat alami. Dengan begitu, aku akan dengan sangat mudah menjatuhkan hukuman kepada orang ini, lalu kami pun bermusuhan. Mereka kan suka sekali merekrut orang-orang yang bermusuhan dengan Future of Company?! Sekali ini aku akan mempersiapkan umpan yang sangat langka untuk mereka. Semoga saja Tuhan membuka jalan untuk ini semua." Kata Joe penuh harap.


"Lalu ketua, apa yang harus kita lakukan terhadap mereka yang mencoba menjalin kerjasama dengan Marven ini?" Tanya Tigor.


"Biarkan saja dulu. Biarkan mereka membuat kekacauan. Aku hanya butuh satu kata, Paman. Kata Itu adalah 'Alasan.' alasan untuk aku dapat melakukan tindak balas. Mengusik Joe William yang tidak pernah mengusik orang lain adalah kesalahan terbesar bagi mereka. Menjadi mayat pun mereka akan tetap menyesal karena telah membuat silang sengketa dengan ku." Kata Joe dengan mata berkilat.


Selesai baca jangan lupa Like nya ya!


Bersambung...