
...Manor Tasik Putri....
Kedatangan Honor Miller sambil menyeret Tiara mengagetkan Tiger Lee, Zacky, serta Paman Cheung.
Di saat orang lain sedang memikirkan bagaimana dengan nasib perusahaan, kini mereka malah disuguhkan dengan adegan dimana Honor menyeret, menampar bahkan beberapa kali menjambak rambut gadis itu membuatnya terpekik menjerit disertai dengan kata-kata makian.
"Honor. Apa yang kau lakukan?" Bentak Tiger Lee yang sudah sampai di depan pintu. Dibelakangnya tampak Zacky dan Paman Cheung menyusul dengan masing-masing dahi berkerut.
"Perempuan murahan ini sudah membuat aku kecewa. Berani sungguh dia bertemu dengan laki-laki lain!" Maki Honor sambil menyeret Tiara yang sudah sangat menderita akibat terus dipukuli oleh pemuda itu.
"Heh Honor!" Tiger Lee menarik kerah baju pemuda itu dari belakang. Setelah langkah Honor tertahan, dia kembali berkata. "Lepaskan gadis ini! Gadis ini hanya akan membuang-buang waktu mu saja. Saat ini ada yang lebih penting dari gadis ini. Apa kau tau bahwa saat ini perusahaan sedang mengalami krisis?"
"Krisis? Siapa yang mampu membuat perusahaan sebesar Arold Holding Company mengalami krisis?"
"Sialan kau itu Honor. Tau mu hanya tentang nama besar. Semenjak perusahaan jatuh ke tangan mu, perusahaan terus tergerus dan menyusut. Berhentilah berfikir bahwa Arold Holding Company adalah perusahaan terbesar. Apa yang bisa kau perbuat terdapat pertumbuhan perusahaan? Tau mu hanya foya-foya dan bermain-main saja," marah Tiger Lee.
"Paman belum menjelaskan kepadaku kan? Siapa yang bisa membuat perusahaan sebesar Arold Holding Company mengalami krisis?" Tanya Honor Miller sekali lagi.
"Lepaskan gadis itu! Kita akan bicarakan masalah ini!"
"Oh tidak. Aku tidak akan melepaskan betina ****** ini. Aku terlalu banyak habis untuk wanita sialan ini. Jika aku tidak bisa memiliki gadis ini, maka orang lain pun tidak!" Bantah Honor Miller yang membuat Tiger Lee menjadi semakin berang.
"Mau kau apakan aku Honor?" Tanya Tiara kelap.
Plak!
"Diam dan tutup mulut busuk mu itu. Atau kau akan aku buat cacat! Aku ingin tau siapa lelaki yang kau temui di apartemen itu?" Tanya Honor Miller setelah menampar sekali lagi pipi Tiara.
"Kau lelaki bajingan. Berani mu hanya dengan wanita. Jika aku beritahu, kau pasti akan terkencing di celana," ejek Tiara.
Bugh!
"Aw..!"
Sekali lagi Tiara ditampar oleh Honor. Kali ini, darah segar mengalir di sudut bibir gadis itu.
"Honor! Jika kau masih ingin bermain-main, aku pastikan akan meninggalkan kau sendirian. Aku tidak punya waktu untuk mengurusi orang yang sama sekali tidak pernah perduli dengan dirinya sendiri. Orang celaka seperti dirimu ini memang tidak pantas berada di kursi pemimpin di perusahaan," marah Tiger Lee yang langsung keluar meninggalkan ruangan tempat Honor Miller yang masih mencengkram rambut Tiara.
Honor hanya tersenyum mengejek ketika Tiger Lee meninggalkan ruangan itu. Namun, senyumnya memudar ketika dari arah luar terlihat kilatan cahaya lampu mobil yang menerobos masuk melalui pintu yang tidak di kunci.
Kini, Honor Miller melihat sekitar dua puluh orang lelaki dengan dipimpin oleh seorang lelaki setengah baya berambut gondrong diikat memasuki ruangan itu.
Sejenak lelaki itu melirik ke arah Tiara, tapi segera menatap sinis ke arah Honor.
"Hahaha. Tuan Marven. Berani sekali anda memasuki rumah ku tanpa memberi salam. Apa anda mengira bahwa rumah ku ini kandang sapi?" Tanya Honor dengan sinis.
"Honor! Kau sungguh celaka. Apa yang telah kau lakukan terhadap Future of Company hah?" Bentak Marven dengan wajah gusar.
"Future of Company? Mengapa memangnya?" Tanya Honor yang memang masih belum mengerti.
"Kau memang sialan. Gara-gara kau, saat ini Martins Group dalam bahaya. Kau telah menyerang gang Kumuh dan membakar pusat hiburan milik Tower Sole propier. Sekarang, karena tindakan mu itu, perusahaan raksasa itu telah menyerang saham milik Martins Group. Dengan kekuatan mereka pula, saat ini pabrik ikan sarden di dekat jembatan Tasik Putri telah diselidiki karena diduga hanya kedok untuk menutupi barang haram yang berada di ruangan bawah tanah. Beberapa Mahasiswa juga telah melaporkan hasil penelitian mereka terhadap limbah pabrik. dan kini, Pemkot serta pihak kepolisian masih mempelajari masalah ini. Jika mereka menemukan bukti, bukan hanya aku saja yang kembali meringkuk ke dalam penjara. Kau juga akan menjadi buruan. Mau lari kemana kau Honor. Aku tidak bodoh untuk kau jadikan bantalan. Jika aku tertangkap, kau juga akan aku seret!" Kata Marven sambil menunjuk-nunjuk ke arah wajah Honor.
Bagai di sambar halilintar, Honor terlihat menggigil ketika mendengar perkataan dari Marven barusan.
Kini dia menatap ke arah Zacky dan langsung bertanya. "Apa benar yang dikatakan oleh Marven ini, Zacky?" Tanya Honor meminta kepastian.
"Benar. Itu jugalah yang ingin disampaikan oleh Brother Lee tadi. Tapi anda terlalu sibuk dengan gadis ini!" Jawab Zacky menjelaskan.
"Panggil! Panggil kembali! Panggil Paman Lee dan suruh kembali ke sini! Ayo panggil!" Kata Honor yang terlihat kalang-kabut. Sejenak dia melupakan Tiara yang terjerembab di lantai ruangan itu karena kehabisan tenaga akibat terus di siksa olehnya.
"Cepatlah! Mengapa kalian diam saja? Panggil semuanya kemari!" Teriak Honor. Diwajahnya jelas terlihat bahwa dia saat ini mengalami ketakutan yang amat sangat.
"Sulit. Kali ini Brother Lee tidak akan kembali lagi. Apa lagi yang bisa dia harapkan untuk kembali?" Gumam Zacky. Namun, dia segera juga menuruti perintah dari Honor.
Honor saat ini benar-benar seperti kambing kebakaran jenggot.
Dia duduk sejenak di sofa sambil mengurut keningnya.
"Honor. Hanya ada satu jalan jika kau ingin selamat," tiba-tiba seorang lelaki tua yang sejak tadi hanya diam saja membuka suara.
"Kakek Cheung. Katakan! Aku mendengar," pinta Honor.
"Musnahkan laboratorium bawah tanah itu! Setidaknya, kita bisa terbebas dari tuduhan. Perusahaan yang mengalami krisis masih bisa dipulihkan. Namun, jika kau terjerat hukum di negara ini, maka akan sangat sulit untuk memulihkan nama baik. Ini karena, sudah beberapa kali nama Arold Holding Company cacat di mata dunia bisnis,"
"Bagaimana caranya kakek? Kita sudah tidak punya banyak waktu lagi," keluh Honor. Keringat dingin tampak sudah mengalir dari dahinya.
"Kau jangan khawatir. Sejak tadi pagi, Tiger dan Zacky telah mengurus semuanya. Kim dan Liem Guan juga sudah mempersiapkan tempat di Kuala Nipah. Malam esok satu kapal besar akan merapat di Kuala Nipah. Jika kau tidak memusnahkan barang itu, kau bisa memindahkan seluruh barang-barang tersebut ke Kuala Nipah. Di sana Kim sudah menunggu. Bergeraklah sesegera mungkin!" Kata Paman Cheung seperti memberikan hembusan angin segar ditengah gerah yang dirasakan oleh Honor saat ini.
"Terimakasih kakek!"
"Ayo Marven. Kita hubungi anggota geng Tengkorak dan bawa sekalian anak buah mu. Malam ini juga kita harus memindahkan barang-barang tersebut ke Kuala Nipah. Ayo!" Kata Honor menyuruh Marven agar segera mengumpulkan anak buahnya. Sementara dia segera menghubungi Butet untuk meminta bantuan tanpa dia tau bahwa saat ini geng Tengkorak sedang menghadapi bahaya yang sangat besar.
Bersambung...