Joe William

Joe William
Air kolam sudah keruh



Berita tentang keluarga Miller yang ingin menyingkirkan Paul dari jabatan Manager serta ingin membunuhnya kembali merebak di sekitaran MegaTown dan kota-kota lainnya.


Kali ini, bukan hanya Tuan Paul saja yang merasa habis manis sepah di buang. Dua Regnar bersaudara pun merasakan bahwa keluarga Miller ini benar-benar keluarga yang tidak tau berterimakasih.


Dulu mereka seperti mengemis untuk merekrut orang-orang yang memusuhi keluarga William. Kini setelah mereka merasa kuat dan mempunyai cukup pijakan di negara ini, mereka mulai menampakkan tabiat asli mereka.


Setidaknya seperti itu lah yang saat ini sedang bermain di dalam pikiran Frank dan Diana Regnar.


Untuk Tuan Paul sendiri, dia merasa sudah sangat dibodohi selama ini oleh Adolf Miller. Bagaimanapun, dia sudah banyak berkorban untuk menjilat ke keluarga ini dan sudah banyak menyinggung keluarga William termasuk rencana untuk menyingkirkan ahli waris dalam keluarga itu yaitu Joe William.


Seperti memakan buah simalakama. Tak di makan ibu mati, di makan Ayah yang pula yang mati.


Berulang kali Tuan Paul tersandar di sudut kamarnya sambil menggaru-garu kepala botaknya itu.


Sudah tidak terhitung lagi berapa kali kepala itu menjadi sasaran kekesalannya sehingga garis-garis merah tampak terlihat di atas kepala botak licin itu.


"Bodohnya aku yang mau saja terperangkap diantara dua kekuatan ini. Sekarang kemana lagi aku harus lari. Di satu sisi putra Jerry ingin membunuh ku. Di sisi lain aku juga tidak selamat karena Honor si sialan ini juga ingin mencelakai aku. Oh Tuhan. Apa yang harus aku lakukan?" Kata Tuan Paul dalam hati.


Pikirnya benar-benar runsing saat ini.


Hal ini jelas seperti yang diharapkan oleh Joe. Dengan mengandalkan ribuan orang-orang Dragon Empire yang tersebar di seluruh kota, maka apa pun isu yang coba untuk dia hembuskan layaknya seperti membakar lalang kering. Sungguh cepat merebaknya.


Menurut pemikirannya, jika rencananya ingin mulus, tentu saja kehadiran Paul di sisi keluarga Miller akan berdampak buruk bagi pergerakan ketiga orang itu. Maka, dengan memutar otak, Joe akhirnya tidak menyangka bahwa perkataan yang dia katakan kemarin secara iseng bisa mengelabui musuh. Karena menurutnya, tidak mungkin Ryan, Riko dan Arslan yang meminta Tuan Paul untuk di singkirkan. Pasti akan menimbulkan kecurigaan di pihak musuh.


Dengan berbekal aji mumpung kemarin itu lah, Joe mulai mengatur ulang kembali rencananya untuk mengadu-domba antara Tuan Paul dan keluarga Miller. Dengan begitu, biarkan keluarga Miller sendiri yang memecat Paul dan langkah yang akan ditempuh oleh Ryan, Riko dan Arslan akan berjalan dengan mulus.


Kini, dengan hati yang kusut serta fikiran yang benar-benar buntu, Tuan Paul mulai keluar dari kamarnya untuk menemui Adolf Miller di kediaman di komunitas Elite Real estate MegaTown. Tujuannya jelas yaitu, meminta kejelasan dari isu yang saat ini sedang santer diperbincangkan.


*********


Komunitas elite real estate MegaTown


Serombongan mobil tampak berhenti di depan pintu pagar rumah besar tiga lantai itu.


Dari dalam, tampak Tuan Paul dengan dikawal oleh puluhan orang keluar dari mobil dan langsung menuju pos penjaga untuk meminta agar mereka membukakan pintu.


Namun sekali lagi Tuan Paul kecewa. Hal ini karena dengan sangat tidak sopan, pengawal yang menjaga pintu itu malah berkata bahwa Tuan mereka sedang tidak berada. Padahal jelas tadi Tuan Paul melihat kelibat manusia di lantai dua rumah itu.


"Kau hanya mengawal. Mengapa berkata sangat tidak sopan kepada ku?" Tanya Tuan Paul dengan nada penuh amarah.


"Tuan Paul. Apakah anda tidak faham bahasa? Sudah aku katakan bahwa Tuan besar Adolf Miller dan Tuan muda Honor sedang tidak berada di tempat. Anda bisa datang lagi ke sini besok atau lusa!" Kata Pengawal itu tidak kalah garangnya.


"Tuan Paul.., Tuan Paul. Lihatlah diri mu itu. Kau masih saja sombong. Aku beritahu kepada mu satu hal. Kau ingin mengancam aku sedangkan aku bukan bawahan mu. Aku bekerja di sini dengan Tuan besar dan bukan dengan mu. Sebaiknya pulang saja atau aku akan menuduh mu sebagai perampok yang ingin menjarah isi rumah besar ini?!" Ancam sang pengawal pula tak kalah sengitnya.


"Ada apa Bro?" Tanya seorang lagi pengawal yang baru tiba.


"Lihatlah orang tua ini. Dia tidak tau bahwa posisinya sudah tidak aman di dalam perusahaan. Tapi lagaknya sangat sombong sekali. Dia memaksa untuk masuk." Jawab pengawal pertama tadi.


"Pak Paul. Anda seharusnya tau diri. Sekarang pulang saja. Bos besar tidak ingin bertemu dengan anda hari ini. Mereka sedang membahas sesuatu yang sangat penting. Kalau anda masih di sini, kemungkinan anda akan di usir karena sebenarnya gara-gara anda, berbagai isu mulai menerpa di keluarga Miller ini bahkan sampai ke perusahaan. Sebaiknya anda pulang saja dulu. Tahun depan datang lagi. Hahahaha." Kata pengawal yang baru tiba tadi sambil tertawa mengejek.


"Kurang ajar kalian semua. Kalian akan mendapat balasannya kelak. Ingat itu!" Kata Tuan Paul lalu memasuki mobilnya.


Setelah Tuan Paul berangkat meninggalkan halaman luar pagar rumah besar itu, kini dua orang pengawal itu tersenyum jahat lalu kembali berpura-pura serius menjalankan tugas mereka.


Kini, Tuan Paul yang mulai dikuasai oleh kemarahan, kekecewaan dan merasa hanya sebagai keledai tunggangan benar-benar kalap dan dengan kasar membuka kunci ponselnya lalu mencari nomor Adolf Miller kemudian menekan tombol panggil.


Sekali.


Dua kali.


Tiga kali.


Masih belum di jawab panggilan itu. Hal ini benar-benar membuat Tuan Paul merasakan bahwa dirinya benar-benar seperti sampah yang sudah tidak di anggap lagi oleh keluarga Miller.


Apa sebenarnya yang terjadi?


Karena isu yang dengan sangat santer berhembus bahwa Paul ini akan disingkirkan oleh Keluarga Miller bahkan ada yang menuduh kaki tangan keluarga itu ingin melenyapkan Tuan Paul, membuat keadaan di dalam keluarga ini menjadi kisruh. Hal ini semakin diperburuk dengan datangnya Rudolf Miller dan Albern yang dengan terang-terangan menegur saudara Tuanya itu.


Rudolf Miller telah mengetahui bahwa Tuan muda dari keluarga William ini telah tiba di Starhill berencana ingin melakukan pendekatan. Tapi, jika mereka masih bertahan di perusahaan Arold Holding Company, maka itu pasti sangat mustahil untuk dilakukan.


Dengan adanya isu seperti ini, maka inilah kesempatan bagi Rudolf untuk menekan saudara tua nya itu dan ingin memisahkan diri dari perusahaan Arold Holding Company dengan membentuk perusahaan sendiri yang berbasis di Macau.


Hal ini juga yang membuat Adolf Miller tidak punya waktu untuk menyambut kedatangan Tuan Paul. Karena dia sedang sibuk bertengkar dengan saudara muda nya itu yang di bantu oleh Albern yang kukuh ingin memisahkan diri dari perusahaan Arold Holding Company.


Pengawal sudah terlanjur kasar. Tuan Paul sudah terlanjur merasa dipermainkan. Sementara keluarga Regnar sepertinya akhir-akhir ini tampak seperti mengatur jarak. Keberadaan Ryan, Riko dan Arslan sama sekali belum diketahui. Kini ada pula isu tentang mereka ingin menyingkirkan Tuan Paul. Maka kini keadaan di dalam tubuh keluarga Miller benar-benar seperti di aduk. Belum selesai satu perkara, malah Rudolf dan putranya tiba dari Macau membuat keadaan benar-benar memusingkan.


Intinya, keluarga Miller saat ini sedang retak dan sudah di ambang perpecahan.


Selesai baca, wajib Like!


BERSAMBUNG.