Joe William

Joe William
Joe kesal gara-gara di kawal



Pagi itu. Seperti biasa, Joe dan Tiara sama-sama berangkat ke sekolah. Namun hari ini berbeda dengan hari-hari yang lalu. Ini karena beberapa pengawal mulai membuntuti anak muda itu membuatnya merasa sangat tidak nyaman.


Kemanapun Joe pergi, ke situ pula lah mereka mengikuti. Walaupun masih tetap menjaga jarak.


"Aduh. Pusing sekali aku kalau begini ceritanya." Kata Joe mengeluh kepada Tiara yang duduk di sampingnya.


Berkali-kali dia menelepon Tigor untuk segera menarik para pengawal yang berjumlah enam orang itu. Namun berkali-kali pula Tigor menolak permintaan itu dengan alasan bahwa keselamatan Joe saat ini sudah menjadi tanggung jawabnya.


Tiara hanya bisa tersenyum saja melihat Joe yang menjadi manyun.


"Mereka ini belum pernah dikerjai oleh aku." Kata Joe dengan kesal sambil meninju-ninju paha nya sendiri.


"Apa yang akan kau lakukan Joe?" Tanya Tiara penasaran.


"Nanti, ketika kita akan pulang dari sekolah, kau tunggu aku di luar gerbang ya! Aku akan mengecoh mereka ini. Mana nyaman kalau apapun yang akan aku lakukan selalu dalam pengawasan." Kata Joe dengan senyum jahat.


Tepat ketika bel sekolah berbunyi menandakan masa belajar sudah habis, Joe langsung mengambil tas nya lalu segera menuju ke toilet.


Sesuai dengan rencana, maka Tiara pun langsung keluar dan menunggu Joe di luar area sekolah.


Ketika itu, Joe langsung berjalan cepat menuju toilet dengan diikuti oleh ke-enam lelaki tadi yang bertugas sebagai pengawal.


Begitu Joe masuk ke toilet, dia segera mengunci pintu lalu dari kamar yang dia masuki dia segera memanjat dan memasuki kamar lain. Begitulah seterusnya sampai dia mencapai bagian paling pinggir kemudian merangkak kebagian atap yang renggang lalu melompat kebagian belakang Toilet itu.


Sampai di luar, Joe langsung memanjat pagar.


Sungguh ringan gerakan Joe ini hingga ke-enam bodyguard yang menunggunya di pintu depan sama sekali tidak menyadari bahwa Joe sudah tidak berada lagi di dalam toilet itu.


Setelah Joe tiba di luar, dia lalu mengitari pagar tersebut di mana Tiara sudah menunggu.


Dengan sebutir kerikil, dia melempar gadis itu lalu memberi isyarat agar mereka segera pergi melalui jalan pintas menuju rumah Lestari.


Sambil tertawa Joe menceritakan kepada Tiara seperti apa dia mengelabui pengawal itu.


Mendengar semua penuturan dari Joe, Tiara mau tak mau akhirnya tertawa juga.


"Kau keterlaluan Joe. Bagaimana nanti jika mereka kena marah oleh Paman Tigor?" Tanya Tiara.


"Itu urusan nanti. Yang penting kita bebas dulu." Kata Joe lalu menatap wajah Tiara.


Menyadari bahwa Joe menatapinya, Tiara langsung menghentikan langkahnya lalu bertanya. "Ada apa Joe? Mengapa kau menatap ku seperti itu?" Tanya Tiara merasa kaku juga ditatap seperti itu.


"Aku baru menyadari ternyata kau ini cantik juga Tiara." Kata Joe sambil merapikan rambut Tiara dan menyelipkan rambut itu di Balik daun telinga gadis itu.


"Kau tidak sedang becanda kan Joe?" Tanya Tiara mendadak gugup.


"Sepertinya aku serius. Apakah aku terlambat menyadari hal ini?" Tanya Joe kepada gadis itu.


"Ketua. Mengapa anda melarikan diri. Kami bisa kena marah jika tidak mengawal anda."


Terdengar suara teguran dari dekat pagar bagian belakang toilet membuat Tiara Batal menjawab pertanyaan Joe tadi.


"Ah sialan sekali. Ayo lari Tiara!" Kata Joe sambil menarik tangan gadis itu.


"Ketua. Tunggu kami." Kata mereka sambil mengejar.


*********


Tak henti-hentinya dia menendang apa saja yang ada di hadapannya.


Sambil menggerutu, dia melepaskan sepatunya lalu melemparkannya begitu saja dengan sangat kesal.


Beberapa lelaki langsung mencari sepatu Joe yang dia lempar tadi lalu meletakkan sepatu tersebut di anak tangga nomor dua.


"Kalian ini. Apa tidak lelah mengikuti ku terus-terusan?" Tanya Joe William dengan kesal.


"Ketua. Keselamatan anda adalah tanggung jawab kami. Jika ketua lecet atau luka sedikit saja karena ulah dari orang lain, maka kepala kami ini taruhannya. Tolonglah berikan kerjasama anda dengan kami ketua." Kata salah satu dari pengawal itu.


"Baiklah. Terserah kalian saja." Kata Joe lalu segera memasuki rumah milik Tengku Mahmud itu lalu bergegas mengambil beberapa sapu yang terbuat dari lidi pohon aren.


"Kalian bantu aku menyapu halaman. Lalu dua diantara kalian mengambil air di sana itu." Kata Joe menunjuk tempatnya biasa membeli air.


"Air itu tidak mahal. Lima ribu rupiah sudah cukup untuk membeli beberapa liter. Kalian pasti punya uang kan?" Tanya Joe.


"Kami punya ketua. Jangankan lima ribu rupiah. Air beserta dengan mobil tangki nya pun bisa kami beli." Kata mereka.


"Pergilah!. Nanti kakek ku mau minum kopi." Kata Joe memerintahkan.


Dia lalu segera turun dari pintu belakang sambil membawa cangkul lalu mulai menggaruk rumput yang ada di sekitar halaman itu dengan cangkul tadi.


Entah sedang kesal atau bagaimana, pekerjaan Joe kali ini persis seperti cakar ayam.


Berulang kali dia mengeluh lalu dengan perasaan kesal dia membanting cangkul itu lalu pergi ke dalam untuk sekedar berbaring.


"Gagal semuanya gara-gara pengawal ini. Aku tidak bisa bebas begini. Harusnya aku sudah pergi mengajak Tiara ke rumah Lestari kemudian bermain di sana. Sial sekali." Kata Joe dalam hati lalu meletakkan sebelah lengan tangan nya di atas kening.


"Ada apa dengan mu Joe?" Tanya satu suara membuat lamunan pemuda itu buyar.


"Kakek. Kapan sampai?" Tanya Joe bergegas bangkit lalu menyalami dan mencium tangan lelaki tua itu.


"Sudah dari tadi." Jawab lelaki tua itu dengan acuh.


"Joe. Daripada kau membuang waktu seperti ini, lebih baik kau latihan. Asah lagi kemampuan mu. Perhatikan di mana yang kurang!" Kata Kakek nya itu.


Joe duduk sejenak sambil berfikir lalu bangun dan berkata. "Aku takut dengan ketinggian. Sebaiknya aku belajar memanjat pohon kelapa itu. Biar aku tidak takut lagi." Kata Joe lalu bergegas keluar.


"Kalian siapkan jaring. Pasang di sekitar pohon kelapa itu. Kalau aku jatuh, aku bisa mendarat di atas jaring. Aku masih muda. Belum mau mati." Kata Joe lalu segera berjalan menuju ke arah sebatang pohon kelapa yang berusia puluhan tahun.


Para mengawal itu saling pandang lalu segera mengerjakan tugas dari Joe tadi.


Saat ini Joe sudah berada di bawah pohon kelapa itu lalu segera memanjat.


Awalnya kakinya sangat menggigil karena ketakutan. Tapi setelah di lawan dan dapat menguasai diri, akhirnya Joe nekat juga memanjat lebih tinggi lagi.


"Hohoho... Sungguh menakutkan." Kata Joe sambil memeluk batang kelapa itu erat-erat.


"Joe. Lebih tinggi lagi. Ambilkan aku buah yang masih muda!" Kata Tengku Mahmud.


"Iya kek. Aku akan naik lebih tinggi lagi." Kata Joe lalu memanjat semakin tinggi.


Para pengawal yang berjaga-jaga di bawah berdoa dalam hati mereka masing-masing agar Joe tidak terjatuh. Andai itu terjadi, maka mereka akan tamat oleh Tigor.