
Di universitas Kota Batu, Joe yang sedang berada di kelas terpaksa terganggu dengan getaran yang bertubi-tubi di ponselnya.
Sambil melirik ke arah Dosen yang memberi materi pelajaran pagi itu, dia kini bergantian melirik ke arah bawah, dimana dia menyembunyikan handphone miliknya.
"Ketua. Misi telah berhasil," begitulah isi pesan teks yang dia terima.
"Marven telah keluar dari tempat persembunyiannya,"
"Apakah ketua ada perintah lain yang harus kami kerjakan?"
"Woy. Aku sedang ada kelas. Jangan ganggu!" Balas Joe melalui pesan teks, lalu menonaktifkan ponselnya. Dia menggerutu dihatinya karena orang-orang dari Tiger Syam ini tidak tau bahwa dia adalah anak kuliahan.
Tidak ada lagi pesan yang masuk setelahnya.
Keletuk!
"Aduh," spontan Joe mengaduh ketika merasakan sesuatu menghantam jidatnya. Setelah dia perhatikan, ternyata yang terbang tadi adalah kapur tulis sepanjang satu inci melesat dengan sangat manja mencium keningnya.
Dia segera melihat ke arah datangnya kapur tulis tadi. Di depan, dia melihat lelaki gendut tua dengan kacamata tebalnya menatap geram kearahnya.
"Hehehe. Maaf pak prof," kata Joe cengengesan dengan kedua tangannya mengatup di depan dada.
"Perhatikan materi yang aku berikan. Atau, keluar dari kelas ku!"
"Baik Pak. Saya memperhatikan!" Jawab Joe.
Dosen tadi kembali memberikan materi pelajaran. Namun, Joe tetap saja tidak bisa tenang. Karena, gangguan kini datang dari arah lain.
Swiit!
Swiiiit..!
"Haduuuh. Apa lagi ini?" Gerutu Joe sambil melirik ke arah siulan tadi.
Di seberang sana, dia melihat Xenita Patrik mengejek ke arahnya.
"Rasakan kau!" Ejek gadis itu membuat Joe geram seperempat mati.
"Nih untuk mu!" Kata Joe menunjukkan bogem nya.
Xenita Patrik cekikikan dan segera membuang wajah ke arah Talia Gordon yang juga tersenyum lucu.
"Kalian bertiga belajar dengan benar! Sebelum aku mengusir kalian keluar dari kelas," bentak sang Dosen yang sudah naik darah.
Hening seketika. Yang ada hanya tawa tersembunyi dari Joe yang langsung dibalas cekikikan tertahan oleh kedua gadis tadi.
"Profesor ini galak sekali," bisik Xenita Patrik kepada Talia Gordon.
"Sudahlah. Apa kau mau bernasib sama dengan Kak Joe?"
"Iiiih. Takut!" Jawab Xenita yang langsung berpura-pura memperhatikan mata kuliah yang diberikan oleh Dosen.
***
"Kak. Kau harus mentraktir kami!" Tagih Xenita begitu kelas berakhir.
"Aku tidak punya uang," jawab Joe lesu.
"Sudahlah. Jangan menagih traktiran dari orang yang berambisi menjadi kaisar bisnis. Sudah pasti dia akan sangat kikir," ejek Talia pula.
Geram sungguh hati Joe mendengar ejekan yang sangat merendahkan tersebut. Darah muda nya segera memanas.
"Jangankan makanan. Kursi kantin pun jika kau makan, akan aku bayar!" Marah Joe karena mendapat ejekan tadi.
"Apa kakak anggap kami ini rayap? Huuh.., dasar kikir," ejek Xenita yang langsung ngeloyor pergi sambil menarik tangan Talia.
"Kalian itu dua wanita sialan. Pantas saja Namora menjadi kurus kering karena mu!" Maki Joe sewot.
"Bodo amat lah. Daripada Tiara melihat ku dengan mereka, lebih baik aku mencarinya," kata Joe pula yang langsung mengambil jalan berlawanan untuk segera turun ke pelataran kampus.
Tiba di bawah, Joe melihat Xenita sedang memeluk tangan Namora yang terlihat sangat tertekan dan menggigil.
Dia menduga bahwa sudah pasti saat ini Namora merinding disko mendapat perlakuan seperti itu.
"Namora. Aku kita makan. Aku akan mentraktir apa saja yang kau mau," ajak Xenita Patrik sambil terus memeluk lengan pemuda yang seperti terserang demam tinggi.
Namora melirik kebelakang. Ketika dia melihat ada seorang yang menatap penuh ejekan kearahnya, wajah Namora semakin berubah menghitam.
"Apa yang sedang kakak lihat?" Tanya Xenita manja.
"Kakak?" Tanya Namora dalam hati. "tumben panggilan untukku sekarang berubah jadi kakak?" Batinnya lagi.
"Aku.., aku.., aku sedang melihat Joe," jawab Namora tergagap.
"Biarkan saja Kak Joe itu. Dia sudah terlalu sial hari ini," acuh Xenita yang langsung menarik tangan Namora. Mendadak pemuda merasakan kebelet pipis diperlakukan seperti itu.
"Talia. Kau tidak ikut sekalian?" Tanya Xenita berbasa-basi. Padahal, dalam hatinya dia ingin sekali agar Talia menolak ajakannya.
Sialnya, Talia malah mengangguk seraya berujar. "Ya. Aku juga lapar,"
Pupus sudah harapan Xenita Patrik untuk berdua-duaan dengan Namora. Didalam hatinya, seribu satu kejengkelan yang tidak mungkin dia ungkapkan.
Di sisi lain, Joe yang tidak memperdulikan lagi keadaan Namora yang seperti barang diseret ke sana dan kemari segera mencari Tiara.
Begitu dia melihat bahwa gadisnya berada diantara kelompok anak-anak J7, Dia pun langsung menghampiri mereka dan ikut duduk bersama di sana.
"Hei, Ketua!" Sapa Jericho yang langsung dijawab dengan mata melotot oleh Joe.
"Ku tonjok baru tau kau!" Maki Joe membuat Jericho tertawa kecut.
"Kalian pada ngumpul di sini. Apakah saya boleh join?" Tanya Joe basa-basi. Padahal, dia sudah duduk diantara mereka.
"Silahkan. Tidak diizinkan pun kau sudah duduk," cibir Jaiz becanda.
"Sepertinya kalian sedang membicarakan sesuatu yang sangat serius. Boleh aku tau apa itu?" Tanya Joe lagi.
Tiara yang duduk tidak jauh dari Joe segera merapatkan dirinya, lalu berbisik. "Joe. Kami telah melakukan riset terhadap sampel limbah di pabrik dekat jembatan Tasik Putri. Dari hasil investigasi yang kami lakukan beberapa waktu lalu, kami menemukan bahwa ada ribuan zat kimia yang terkandung dalam limbah tersebut. Salah satunya adalah Kokain. Dapat dipastikan bahwa pabrik itu bukanlah pabrik ikan sarden. Melainkan ada sesuatu yang tersembunyi di sana. Jika memang limbah dari pabrik itu adalah hasil dari pemprosesan ikan sarden, sudah pasti limbah tersebut tidak akan mengandung zat kimia yang sangat berbahaya,"
"Hmmm. Lalu, apa rencana kalian selanjutnya?" Tanya Joe kemudian.
"Kami akan melaporkan hasil penelitian ini kepada pihak yang berwenang. Tindakan harus segera diambil. Jika tidak, para penduduk Kuala Nipah bisa tercekik," jawab gadis itu.
"Berat, Tiara. Kau tidak akan mampu melakukannya. Mereka ini adalah musuh yang selama ini aku ceritakan kepada mu. Jika kau mengusik mereka, kau akan dicelakai. Percuma saja aku menjauhi mu jika kau malah mencari bahaya sendiri,"
"Lalu, apakah kau menjauhiku dengan alasan tidak ingin aku dalam bahaya kau manfaatkan untuk mendekati Talia Gordon?" Tembak Tiara tanpa tedeng aling-aling.
Merah padam wajah Joe mendapat jawaban yang meluncur begitu saja dari bibir Tiara.
"Kapan kau bisa mengerti tentang keadaan ku, Tiara? Tingkah kekanak-kanakan mu itu lama-lama membuat aku muak," kata Joe segera berdiri.
Tiara berusaha menahan tangan Joe dengan cara menariknya. Tapi Joe segera mengibaskan tangan Tiara, kemudian berlalu pergi.
Semua orang melongo menyaksikan kejadian itu. Tidak ada yang tau pasti mengapa tiba-tiba Joe jadi naik darah seperti itu. Bahkan, kini Joe telah bersikap kasar kepada Tiara.
"Tega sekali kau Joe?!" Kata Tiara dalam pesan teks yang diterima oleh Joe.
"Hidupku aku dedikasikan untuk misi ku. Cinta terlalu kecil untuk menghambat langkah ku. Sikap ku tergantung seperti apa kau memperlakukanku. Jika aku diperlakukan baik, maka kau adalah ratu di hatiku. Tapi jika sebaliknya, maka maaf saja. Aku lebih mengutamakan kepentingan keluarga ku,"
Joe segera memasukkan smartphone miliknya, lalu berjalan menuju ke area parkir. Dia harus segera kembali untuk menemui anggota Tiger Syam yang mungkin sedang menunggunya di apartemen bukit batu.
Bersambung...