
Begitu menghilang di balik tikungan, kini Joe William tampak sudah berada di depan rumah Tiara.
Entah kapan tepatnya, tau-tau dia sudah berada di depan pintu dan langsung mengetuk pintu rumah papan tersebut.
Tok tok tok.
"Siapa di luar?" Tanya satu suara dari dalam.
"Bi. Ini aku Joe. Apakah Tiara ada?" Tanya pemuda itu.
"Oh. Tiara ada. Mari masuk!" Kata wanita setengah baya itu begitu membuka pintu, langsung mempersilahkan.
"Terimakasih Bi." Kata Joe sambil sedikit malu-malu dan menggosok telapak tangannya.
"Duduk dulu Joe! Bibi panggilkan Tiara." Kata wanita itu sambil melangkah ke arah ruang bagian belakang rumah itu.
"Sekali lagi terimakasih Bi." Kata Joe. Namun wanita itu sudah tidak terlihat lagi.
Tak lama setelah itu, tampak seorang gadis remaja sambil tersenyum menghampiri pemuda itu dengan senyuman yang sangat manis.
"Kau datang Joe?" Tanya gadis belia itu.
"Ya. Udah tau nanya lagi." Jawab Joe acuh tak acu. padahal dalam hatinya bagaikan beduk menandakan waktu berbuka puasa.
"Maaf jika aku bertanya. Ada apa kau datang Joe?" Tanya Tiara ingin tahu.
"Em... Apa ya?! Yang jelas aku merindukanmu." Jawab Joe membuat wajah Tiara bagai kepiting rebus. Merah padam.
Gadis itu hanya tertunduk saja dengan sedikit melirik ke arah Joe.
"Tiara. Malam ini ada acara di kota Tasik Putri. Apa kau mau kita pergi ke sana?" Tanya Joe.
"Acara apa itu Joe?" Tanya Tiara penasaran.
"Aku juga tidak terlalu jelas. Tapi katanya seperti pesta rakyat begitu lah. Aku ingin mengajak mu ke sana. Bagaimana?" Tanya Joe.
"Aku mana berani Joe. Kau tanyakan saja kepada ibu Ku." Kata Tiara.
Jelas sebagai seorang gadis pedalaman, dia mana berani pergi jika tanpa izin dari orang tua nya.
"Nanti aku minta kepada Bibi dengan cara baik. Andai tidak diizinkan, kita lari." Kata Joe.
"Kau jangan gila Joe. Lari kemana? Rumah ku di sini. Apa iya aku tidak kembali? Giliran kembali, mati aku kena hajar." Kata Tiara yang tau kalau Joe hanya becanda.
"Hahaha. Ok aku akan meminta izin dulu." Kata Joe lalu terbungkuk-bungkuk berjalan ke arah dapur.
"Bi!" Sapa Joe ketika melihat ibu Tiara sedang khusuk memilih ikan teri di dalam tampah yang terbuat dari anyaman bambu.
"Hmmm... Ada apa Joe?" Tanya wanita itu.
"Di Tasik Putri ada pesta rakyat Bi. Apakah aku boleh mengajak Tiara untuk melihat-lihat keramaian di sana?" Tanya Joe.
"Pukul berapa kalian pulang? Lalu siapa saja yang berangkat dari sini?" Tanya Ibu Tiara.
"Nanti kami pulang pukul sepuluh Bi. Ada ramai yang berangkat. Tapi mereka sudah duluan. Rencananya, aku akan mengajak Lestari juga." Jawab Joe berusaha untuk meyakinkan ibu Tiara ini.
"Sama seperti beberapa hati yang lalu. Jangan langgar kepercayaan yang Bibi beri!" Kata wanita itu.
"Baik Bi. Kalau begitu, kami pergi dulu ya Bi." Kata Joe sambil menyalami ibu Tiara itu.
"Ayo! Sudah dapat izin!" Kata Joe sambil menarik tangan Tiara.
"Aku belum berganti pakaian. Bagaimana ini?" Tanya Tiara.
"Beli saja nanti di sana. Pasti ada Mall. Uang ku banyak. Banyak sekali malahan. Ayo lah!" Kata Joe berlagak sombong sambil terus menarik tangan Tiara.
Dengan pakaian biasa dan sendal jepit, Tiara akhirnya pasrah juga di tarik oleh Joe.
Ketika mereka tiba di luar, Joe kemudian mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.
Tak lama kemudian, enam unit mobil pun tampak berhenti di ujung jalan beraspal tepatnya di samping tambak udang lalu dari dalam tampak enam orang lelaki berbadan tegap menghampiri mereka.
"Silahkan Ketua!" Kata mereka mempersilahkan.
"Ayo Tiara. Kita tidak boleh lama. Waktu kita tidak banyak." Kata Joe.
"Pak pengawal. Keluarkan skill mengemudi mu yang terbaik. Aku ingin lekas sampai di Tasik Putri." Kata Joe memberi perintah.
"Hahaha. Tenang saja ketua. 30 menit untuk Tasik Putri." Jawab lelaki itu lalu memain-mainkan gas mobil tersebut menuju ke kampung Indra sakti untuk menjemput Lestari.
*********
"Waaaah... Ramai sekali." Kata ketiga anak muda dan mudi itu begitu tiba di kota Tasik Putri.
Ketiga muda-mudi yang tak lain adalah Joe, Tiara dan Lestari itu kini seperti orang udik masuk kota begitu melihat keramaian dalam acara pesta rakyat itu.
Maklum lah jarang mendapat kebebasan. Sekali dapat, mereka langsung terpesona.
Beberapa pemuda tampak merasa iri melihat Joe yang menggandeng dua gadis cantik sekaligus. Dan yang paling mengherankan adalah, kedua gadis itu tampak sangat rukun.
Mereka bertiga tidak memperdulikan tatapan sinis dari orang-orang yang iri tapi tak mampu itu. Mereka terus saja melangkah cepat lalu berhenti di salah satu toko yang menjual kerajinan tangan.
"Joe. Aku mau itu." Kata Tiara dengan manja sambil menunjuk patung burung yang terbuat dari kayu berukir.
"Kau mau burung Tiara? Aku akan sangat senang hati memberi mu burung." Kata Joe sambil terkikik geli.
"Kau jangan mulai!" Kata Tiara sambil mencubit pinggang pemuda itu.
"Kau Lestari. Mau burung juga?" Tanya Joe sambil memegang perutnya.
"Aku ingin baling-baling itu Joe." Kata Lestari sembari menunjuk ke arah baling-baling mainan yang apa bila berputar terkena angin, mengeluarkan suara yang unik.
"Bu. Berapa harga kedua barang ini?" Tanya Joe.
"Anak muda. Karena ini adalah hasil kerajinan tangan dan membutuhkan waktu yang lama untuk membuatnya, maka harganya sedikit mahal. Untuk patung burung ini, harganya seratus lima puluh ribu rupiah. Sedangkan yang baling-baling ini enam puluh ribu rupiah." Jawab wanita tua pemilik toko itu.
"Ya saya mau Bu." Kata Joe sambil mengeluarkan dompetnya.
Setelah selesai dengan transaksi nya, Joe pun kembali mengajak kedua gadis itu untuk kembali melihat-lihat.
Kini mereka tiba di salah satu toko yang menjual aneka ragam kerajinan tangan dari tembaga.
Sambil memperhatikan, kini Joe melihat sepasang lampu semprong yang terlihat sangat unik.
Lampu itu sendiri memiliki bingkai yang terbuat dari Kuningan serta untuk tabung tempat minyak tanahnya, seperti terbuat dari mineral glass yang sangat bening.
Joe sangat tertarik melihat sepasang lampu itu. Lalu meminta kepada pemilik toko untuk menurunkan lampu tersebut.
"Lihat Tiara. Apa kau suka dengan lampu ini? Ketika mati lampu, kau bisa menggunakannya untuk menerangi waktu tidur mu. Kau kan takut gelap." Kata Joe.
"Kalau kau mau membelikannya, aku akan dengan senang hati menerima." Jawab Tiara.
"Kau Lestari? Apa kau suka juga?" Tanya Joe.
Sebagai jawaban, gadis itu hanya mengangguk lalu dengan malu-malu merangkul pundak Tiara.
"Pak, berapa harga lampu ini?" Tanya Joe kepada lelaki tua yang menjual lampu itu.
Mendengar pertanyaan dari Joe ini, lelaki tua itu tidak langsung menjawab. Melainkan memperhatikan anak muda itu dari atas sampai ke bawah.
"Hehehe. Anak muda. Lampu semprong ini hanya ada sepasang ini saja di toko ini. Dan ini sudah di pesan oleh seseorang." Jawab Lelaki tua itu.
"Sebaiknya kalian cari barang yang lain saja. Karena orang yang memesan lampu ini adalah orang terpandang dari Dolok ginjang." Kata lelaki tua itu lagi.
"Terimakasih pak. Tapi, saya hanya menginginkan lampu ini. Jika tidak di jual, tidak apa-apa." Kata Joe pula sambil menahan rasa malu nya di depan Tiara dan Lestari.
"Maafkan aku Tiara, Lestari, aku minta maaf. Lampu itu sudah dipesan oleh orang lain." Kata Joe kepada kedua anak gadis itu.
"Siapa yang berani sekali menurunkan lampu ini dari tempatnya? Apakah kau bosan hidup?"
Baru saja Joe ingin mengajak Tiara dan Lestari untuk pergi, tiba-tiba langkah mereka terhenti ketika dari arah samping terdengar suara bentakan.
"Heh anak muda. Siapa nama mu hah? Berani sekali kau menurunkan lampu antik itu dari tempatnya. Seluruh kota Tasik Putri ini tau jika aku telah memesan lampu itu dari penjual nya."
Di depan Joe saat ini tampak seorang lelaki dengan rambut pendek di depan berwarna pirang namun memiliki kuncir panjang dan di kepang seperti ekor kuda di bagian belakangnya.
Di belakang lelaki itu tampak beberapa orang lelaki berbadan tegap seperti pengawal juga melangkah mengiringi lelaki itu dengan tatapan tajam ke arah Joe William.
"Maaf paman. Aku tidak tau. Tapi aku akan meletakkan kembali lampu itu di tempatnya semula." Kata Joe meminta maaf lalu berinisiatif untuk mengembalikan sepasang lampu itu di tempatnya.
"Tidak perlu. Aku hanya ingin tau, keberanian apa yang kau miliki berani bersaing dengan Roger. Menantu Lalah dari Dolok ginjang?" Kata lelaki bernama Roger itu.
"Aku sudah katakan Paman. Bahwa aku tidak tau. Tolong jangan terlalu menekan ku paman!. Bukankah aku sudah meminta maaf?" Tanya Joe sambil memberi isyarat agar Lestari dan Tiara segera menyingkir.
Joe, walaupun suka becanda, tidak pernah serius dan tampak seperti orang tolol, namun jika amarahnya tersulut, anak ini sangat berbahaya dan andai kemarahannya terpancing, bisa hancur toko itu nantinya.
"Berani sekali kau. Siapa yang kau andalkan hah?" Tanya lelaki bernama Roger itu sambil menarik baju kemeja yang di pakai oleh Joe menyebabkan beberapa kancing baju tersebut putus.
Ketika dia menarik baju Joe, lelaki bernama Roger itu merasakan sesuatu yang terdapat di dada anak itu.
Dengan rasa penasaran, dia segera merogoh ke dalam dan kini tampaklah seuntai kalung dengan dua lencana tergantung di kalung tersebut.
Lencana pertama bergambar Naga merah yang sedang menyemburkan api. Sedangkan lencana ke dua bergambar kepala harimau yang sedang mengaum.
"Ini.., ini. Apakah aku sedang bermimpi?" Kata lelaki bernama Roger itu.
Kini jika diperhatikan, raut wajahnya tampak memucat serta lutut nya tidak berhenti bergoyang.
"Jika kau merusak kalung ku paman, aku akan pastikan bahwa kau tidak akan melihat matahari lagi esok pagi. Jangan membuat aku marah!" Kata Joe yang mulai dingin nada suaranya.
Bersambung...