Joe William

Joe William
Honor kembali mengamuk



Prang..!


"Setaaaan!" Teriak seorang pemuda sambil membalikkan meja hingga seluruh yang berada di atas meja tersebut berhamburan berserakan di lantai.


Seorang lelaki berpakaian warna kelabu dipenuhi bercak darah tampak tertunduk sambil berlutut. Sedikitpun dia tidak berani menatap ke arah pemuda yang mengamuk tadi.


Di tangannya, tampak masing-masing hanya memiliki empat jari. Dan pada bagian jari kelingkingnya sudah kudung seperti sengaja ditebas oleh benda yang sangat tajam.


Melihat orang tadi hanya tertunduk saja, pemuda itu semakin berang. Dengan kasar dia menjambak rambut lelaki itu kemudian mengirimkan tendangan.


Bugh..!


"Hoek!" Lelaki itu tampak terbungkuk dan seketika perutnya merasa mual diakibatkan oleh tendangan tadi.


"Ampun, Tuan Miller. Kami di jebak!"


"Kemana perginya Zacky?" Teriak pemuda itu menggelegar.


"Aku di sini. Ada apa Tuan?" Tanya Zacky yang langsung memasuki ruangan ketika mendengar namanya diteriakkan.


"Bagaimana kau mengatur rencana? Semuanya sudah gagal. Bukan hanya gagal, akan tetapi, semuanya mati terbunuh. Jelaskan kepada ku! Bagaimana kau mengatur rencana?"


Zacky tidak langsung menjawab. Melainkan dia kini melihat kearah lelaki yang sudah babak belur oleh kejadian pembantaian di kebun kelapa Tanjung Karang tersebut.


"Ceritakan kepadaku bagaimana semuanya bisa gagal?" Pinta Zacky.


"Kami ternyata telah dijebak oleh Joe William. Dia sengaja menyebarkan berita bahwa Albern akan datang ke Indonesia. Memang Albern benar-benar datang. Kami melihatnya sendiri di bandara internasional Kuala namu. Hanya saja, kedatangan Albern ini dimanfaatkan oleh Joe William. Dia telah mengetahui bahwa anda ingin mencelakainya. Oleh karena itu, dia telah menempatkan orang-orangnya pada titik-titik tertentu. Dan akhirnya, terjadi perkelahian antara kami dan orang-orang yang datang dari kota Kemuning. Tidak ada yang selamat kecuali saya!" Jawab lelaki itu menuturkan semua kejadian yang merenggut lebih dari dua puluh nyawa anak buahnya.


"Kau pun sebentar lagi akan mati!" Kata Honor lalu segera mendekat ke arah lelaki itu, kemudian mengirimkan cekikan ke arah lehernya.


Krek..!


Suara tulang patah disusul dengan ambruknya lelaki tadi mengakhiri penjelasannya.


Ketika lelaki itu jatuh ke lantai, nyawanya pun sudah lepas dari raga nya.


"Apa lagi yang bisa aku harapkan dari dirimu, Zacky?" Tanya Honor tanpa ada embel-embel paman dalam penyebutannya.


Tidak ada jawaban dari lelaki paruh baya itu. Dia hanya tunduk menatap ke arah lantai ruangan tempat mereka berada.


"Dulu, ketika di Macau, kau juga menolak untuk membunuhnya. Alasan mu adalah, Albern ini sama sekali bukan ancaman bagi ku. Sekarang apa? Dia sengaja meminta bantuan kepada keluarga William. Ini jelas adalah ancaman yang besar buat ku!"


"Mengapa kau mendadak menjadi orang gagu? Ayo katakan! Apa lagi yang bisa aku harapkan dari mu?"


"Masih banyak waktu untuk menyusun kembali rencana. Tidak semua yang anda inginkan bisa terlaksana dengan segera. Jika anda tidak sabaran, dan menginginkan sesuatu yang instan, jawabannya hanya satu. Semua orang akan meninggalkan anda. Aku telah bekerja untuk keluarga Miller ini sejak anda belum lahir. Belum pernah aku ditekan seperti ini. Lihatlah Brother Tiger Lee. Dia kini menghilang karena anda. Apakah anda ingin aku meninggalkan anda juga?"


Belum lagi Zacky meninggalkan ruangan itu, Honor segera berteriak. "Cari Paman Tiger Lee. Ajak dia untuk kembali. Jika menolak, katakan bahwa ini adalah perintah dari kepala keluarga Miller!"


Zacky bergeming sejenak. Lalu, tanpa menoleh, dia segera berlalu pergi.


*********


Di kota Kemuning, Joe yang saat ini mengadakan pertemuan dengan seluruh kepala organisasi di setiap kota, hanya bisa garu-garu kepala ketika melihat seorang lelaki berusia sekitar 65-an berbadan tegap tinggi sedikit berperut besar. Ini karena, dia telah merusakkan bumper depan mobil lelaki tua itu ketika kejadian tadi.


Siapakah lelaki tua itu? Dia adalah Lalah. Sang penguasa Dolok ginjang.


Di samping lelaki tua itu, tampak ada seorang lelaki tua berkepala botak yang sama usia dengannya. Lelaki itu adalah Poltak. Raja bawah tanah untuk pasar senjata gelap di kawasan Dolok ginjang sampai ke Tanjung Karang.


"Selamat datang, Kakek Lalah, dan Kakek Poltak!" Kata Joe sambil bangun dan berjalan ke arah lelaki tua itu untuk menyambutnya.


"Hehehe. Ketua. Anda sangat sopan. Tetapi, mengapa anda tampak sangat salah tingkah?" Tanya Lalah sambil mengusap kepala Joe.


"Mobil anda!"


"Mengapa dengan mobil ku?" Tanya Lalah dengan mata mendelik. Hal ini membuat Joe menelan ludah.


"Mobil anda.., hehehe. Mobil anda. Hancur oleh ku!" Jawab Joe dengan tangannya tak henti menggaru kepala.


"Hah? Hancur? Lalu, di bagian mana yang rusak?" Tanya Lalah pura-pura kaget.


"Bumpernya sudah tidak terlihat seperti bumper lagi. Bentuknya seperti orang sakit gigi!" Jawab Joe.


Kali ini Lalah sudah tidak kuasa lagi menahan ledakan tawanya. Sambil mendecakkan lidahnya, dia berjalan menuju ke kursi dengan geleng-geleng kepala.


Namora yang berada di samping Joe segera menatap ke arah pemuda yang sebaya dengannya itu.


"Kau mau ganti rugi?" Tanya nya.


"Ganti lah. Kau 400 juta, aku 600 juta. Kau juga terlibat!" Jawab Joe. Enak saja dia melenggang sebelum menoel hidungnya, membuat Namora sungguh makan hati melihat tingkah Joe barusan.


Setelah Joe sampai di kursi ketua, dia segera memandang satu persatu mereka yang ada di ruangan itu sebelum berkata, "apakah semuanya sudah berada di tempat?"


"Sudah, Ketua!" Jawab mereka serentak. Di sana Ada Tigor, Andra, Ameng, Acong, Timbul, Ucok, Jabat, Sugeng, Thomas, Monang dan Roger. Untuk angkatan senior, ada Lalah, Poltak dan Lamhot yang bekerja di bawah Lalah.


"Silahkan semuanya untuk menempati kursinya masing-masing!" Ujar Joe sambil mempersilahkan.


Semua orang segera duduk untuk mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh Joe yang saat itu ditemani oleh Namora yang berdiri di belakangnya. Sama sekali tidak terlihat keberadaan R4 di sana.


Bersambung...