
Kuala Nipah
Satu unit Taxi berhenti di ujung jalan aspal di samping pagar tambak udang milik warga di kampung tersebut.
Dua orang pemuda tampak keluar dari dalam mobil sewa itu lalu berjalan beriringan menapaki jalan berpasir.
Debur ombak dan semilir angin mengandung zat garam pun mulai terasa di telinga dan menerpa wajah kedua pemuda itu. Sensasi yang baru dia rasakan lagi setelah hampir enam bulan dia meninggalkan kampung pinggiran laut tersebut.
Salah satu dari pemuda itu menunduk lalu meraup pasir pantai dengan tangannya, kemudian mencium tanah berpasir tersebut.
"Kuala Nipah. Aku datang lagi. Semoga kau masih ramah terhadap ku, seperti dulu, saat ini dan esok," kata pemuda itu dalam hati dengan mata terpejam.
Siapa dua orang pemuda itu? Mereka berdua adalah Joe William dan Namora.
Kedua pemuda itu mengunjungi kapung Kuala Nipah ini karena ingin bertemu dengan maha guru Tengku Mahmud Badaruddin yang akan pergi meninggalkan kampung tersebut karena tidak ingin terlibat dalam masalah yang akan melibatkan dua muridnya dan lawan yang akan mereka hadapi.
Setelah selesai melatih Tigor selama kurang lebih enam bulan, maka sudah waktunya bagi dirinya untuk menyingkir dari hiruk pikuk permusuhan antara kedua belah pihak, dan memilih kembali ke kampung kelahirannya yaitu Deli Serdang.
Sementara itu, Namora hanya memperhatikan saja ulah Joe yang tampak sangat khusuk dengan ritual yang dia lakukan.
"Ayo kita ke rumah milik kakek Tengku! Tetap berada di belakang ku!" Ajak Joe kepada Namora. Mereka lalu berjalan melewati gang rumah milik Tiara kemudian berbelok ke kanan dimana di sana terlihat rumah berbentuk panggung berdinding anyaman bambu dan berlantaikan belahan batang Nibung.
Suasana di sekitarnya sedikitpun tidak ada yang berubah. Bahkan sarang tawon di sebatang pohon pun masih ada di sana. Dan Joe memiliki banyak kenangan pahit dan manis dengan sarang tawon tersebut.
Begitu mereka hampir sampai di rumah tersebut, Namora tampak sangat waspada dan berdiri tepat di belakang Joe. Namun, matanya sangat liar memperhatikan di sekelilingnya.
"Kakek..! Kakek Tengku. Joe pulang kek!"
Tidak ada jawaban. Hanya ada hembusan semilir angin pantai yang bertiup menerpa wajah Joe. Tapi jangan salah! Keheningan seperti itu bahkan mengandung ancaman bahaya yang setiap saat bisa saja datang.
"Kek. Apakah Kakek masih hidup?" Tanya Joe lagi.
Wuzzz...!
Sebutir kulit kerang melesat dengan cepat ke arah kening pemuda itu.
"Hahaha. Aku suka!" Kata Joe lalu menjentikkan bola besi miliknya.
Wuzzz..!
Cetar!
Bola besi yang dihentikan oleh Joe tadi bertabrakan di udara membuat kulit kerang yang datang tadi hancur berantakan. Kini terlihat bola besi itu terus meluncur lalu amblas di tiang penyangga bagian depan rumah panggung tersebut.
Wuzzz....!
Cetar!
Ngung... Ngung..! Ngung!
"Mati kita! Lari Namoraaaaaa!" Teriak Joe sambil menanggalkan tas ranselnya kemudian lari pontang-panting ke arah pantai.
Melihat deru ratusan tawon mengejar ke arahnya, Namora juga tidak tinggal diam. Dia juga segera melarikan diri pontang panting kemudian menceburkan diri ke dalam air laut.
"Hahahaha. Anak Jin Iprit. Rasakan bagian mu! Itu lah kalau kurang ajar dengan orang tua!" Tampak seorang lelaki yang sudah sangat tua keluar dari dalam rumah tertawa terbahak-bahak melihat ke arah Joe dan Namora yang sudah menceburkan diri ke dalam air laut.
Dia tau bahwa percuma saja menyerang Joe. Tidak mungkin berhasil. Karena, Joe ini menguasai seluruh ilmu yang dia miliki. Bahkan, Joe juga menguasai dengan sempurna ilmu silat yang dikuasai oleh mendiang Kakek Malik. Jadi, bisa dikatakan bahwa apabila terjadi pertarungan, Tengku Mahmud pasti kalah dengan Joe di samping usia pula.
"Nasib ku selalu sial. Dapat guru, kedua-duanya tidak waras," maki Joe dengan wajah memerah karena kelamaan berendam dengan menahan nafas.
Tak lama setelah itu, giliran Namora pula menyembulkan kepalanya ke atas. Tampak wajah pemuda itu merah padam.
"Mati kita Joe!" Kata Namora ketakutan.
"Kau diam saja ya! Dia datang," kata Joe sambil memperhatikan seorang lelaki tua melangkah dengan langkah yang sangat ringan kearahnya.
"Heh anak Jin Iprit! Untuk apa kau datang ke sini hah? Kemari kau! Aku akan menjambak gigi mu itu!" Bentak Tengku Mahmud.
"Apa salah ku Kek?"
"Diam muncung kau itu! Kemari kataku, maka kemari!"
"Baiklah Kek. Aku akan datang!" Kata Joe lalu melangkah terseok-seok menuju pinggiran pantai.
Dia tau bahwa untuk meluapkan ekspresi kerinduan, maka Tengku Mahmud pasti akan menyiksa Joe ini dengan cara yang sangat tidak masuk akal.
"Heh. Tadi kau mendoakan aku agar cepat mati ya?" Tanya Tengku Mahmud begitu Joe tiba dihadapannya.
"Sumpah, tidak Kak! Joe hanya bertanya apakah Kakek masih hidup?" Kata Joe sambil mengatur jarak.
"Sama saja. Itu berarti kau mendoakan aku cepat mati!"
"Loh. Kok kesitu. Konteks nya sudah berbeda lah Kek!" Elak Joe sambil menirukan gaya Tengku Mahmud yang mencak-mencak.
Namora yang melihat kelakuan dua lelaki berbeda usia itu menyeringai sangat jelek. Entah ekspresi apa itu. Entah senyum atau tawa. Yang jelas, ekspresi wajah Namora sangat jelek. Persis seperti orang kebelet buat air besar.
"Pokoknya ya begitulah. Hukuman harus dijatuhkan! Sini kau anak Jin!" Perintah sang Guru.
"Mati aku," kata Joe dalam hati. Dia lalu berjalan mendekat ke arah Tengku Mahmud dengan wajah penuh kepasrahan.
"Sini kau Jin Ipriiiit!"
"Aduh kek. Jangan kek. Kuping kalau putus tidak ada suku cadang di supermarket! Jangan keekkkk!" Kata Joe sambil diseret oleh Tengku Mahmud dengan telinganya di jewer.
"Kek. Paman Tigor kemana?" Tanya Joe disela-sela ringisannya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan. Kau sedang di hukum!"
Joe mulai pasrah dan menuruti saja kemana orang tua itu menyeretnya.
Tiba di depan tangga, barulah Tengku Mahmud melepaskan jewerannya di telinga Joe.
"Heh anak Jin! Untuk apa kau datang ke sini hah? Apa kau tau bahwa ada ramai orang-orang dari Hongkong berdatangan ke Indonesia ini terutama kota Kemuning, kota Tasik Putri dan Kuala Nipah ini untuk melacak keberadaan mu?!" Tanya Tengku Mahmud.
Mendengar pertanyaan ini, Namora dan Joe saling pandang dengan dahi berkerut.
"Ingat Joe! Jauhi orang-orang yang kau sayangi. Atau, mereka akan menjadi sasaran mereka!"
"Saat ini, paman Tigor mu sedang berangkat ke kota Kemuning. Aku juga akan berangkat meninggalkan kampung ini sebentar lagi. Ingat pesan ku! Jauhi orang-orang yang kau sayangi! Atau, kau akan kehilangan mereka," kata Tengku Mahmud sambil beranjak dari duduknya di anak tangga, lalu masuki rumah. Tak lama setelah itu, dia pun keluar sambil membawa buntalan kain berisi pakaian miliknya.
Bersambung...