
Suara telepon berdering memenuhi ruangan yang luas itu membuat ke-empat orang lelaki terpaksa menghentikan sejenak perdebatan mereka.
"Kak. Kau urus lah terlebih dahulu urusan mu itu. Bulan depan aku akan datang lagi ke sini bersama dengan pengacara. Aku akan memisahkan diri dari perusahaan dan mendirikan perusahaan lain."
"Apakah kau tidak bisa bersabar Rudolf? Aku saat ini sedang berusaha melebarkan sayap perusahaan di MegaTown ini. Kau jangan menambah keruh suasana. Jika kau ingin memisahkan diri, aku tidak masalah. Tapi jangan sekarang."
"Kak Adolf. Kau terlalu pintar. Tapi jujur saja bahwa aku tidak bodoh. Kebijakan yang kau buat bersama dengan putra mu Honor ini sama sekali tidak membawa keuntungan apapun bagi perusahaan. Dengan cara mu bersaing seperti ini, merekrut siapa saja dan menghambur-hamburkan uang perusahaan, apakah aku harus menunggu perusahaan Arold Holding Company ini bangkrut baru memisahkan diri? Aku tidak sebodoh yang kau kira."
"Aku memiliki 30% saham dalam perusahaan. 10% lebih sedikit dari milik mu. Tapi mana keuntungan dari 30% saham yang aku miliki itu? Jika kau berani, ayo kita sama-sama bentangkan budget tahun kemarin! Berani atau tidak?"
"Kau selalu mengatakan keuntungan tahun kemarin kau gunakan untuk merotasi keuangan di MegaTown ini. Tapi yang aku lihat, tidak ada perkembangan apa-apa selain Casino di MegaTown ini, lalu beberapa pusat hiburan yang baru akan di dirikan di Garden Hill bagian Timur. Yang aku pertanyakan, kemana semua keuntungan perusahaan ratusan juta dalam enam bulan tahun yang lalu?" Tanya Rudolf Miller kepada kakak lelakinya itu.
"Apakah kau begitu perhitungan dengan ku, Rudolf? Kau lupa jika aku ini adalah kepala keluarga dari keluarga besar Miller ini?" Tanya Adolf sambil mendelikkan matanya.
"Justru karena kepala keluarga itu lah kau harus bisa mensejahterakan seluruh keluarga. Bukan malah meraup semua keuntungan lalu kau gunakan untuk mendanai ambisi mu itu. Aku tidak mau berputih mata Kak. Yang lalu biarlah. Ambil semua untuk dirimu. Yang akan datang aku tidak mau lagi hanya berdiam diri. Bulan depan aku akan kembali lagi ke sini membawa notaris. Jika kau tidak memenuhi tuntutan ku, kita selesaikan secara hukum." Kata Rudolf lalu segera mengajak putranya Albern untuk meninggalkan rumah milik kakaknya itu.
"Ayah. Aku rasa paman Rudolf ini sudah sangat keterlaluan. Dia ingin mengintimidasi Ayah. Menurut ku, dia ingin memojokkan ayah lalu berusaha mempengaruhi orang lain untuk menjadi kepala keluarga Miller ini." Kata Honor.
"Tidak mungkin. Tidak mungkin dia berfikiran sampai sejauh itu. Dia pernah berjanji kepada mendiang Kakek Arold bahwa dia tidak ingin bersaing dengan ku untuk masalah siapa yang akan menjadi kepala keluarga. Namun itu tidak berlaku bagi kalian nanti. Antara kau dan Albern pasti akan terjadi persaingan sengit dikemudian hari. Makanya kau harus bijak mendekati orang-orang penting dan para sesepuh di dalam perusahaan. Jika tidak, maka dia akan merebut hati mereka dan kau akan tinggal gigit jari saja." Kata Adolf.
"Aku tidak ingin hal itu terjadi. Cepat atau lambat, aku akan membunuh ayah dan anak itu." Kata Honor sambil mengepalkan tinjunya.
"Hahaha. Kau bersabar lah. Saat ini kita sedang sibuk. Hindari menambah masalah yang bisa menguras tenaga. Kita selesaikan dulu satu persatu. Kelak ketika tiba masanya, Rudolf dan Albern ini akan mendapatkan bagiannya masing-masing." Kata Adolf.
Kriiiiiing..
Kriiiiiing..!
Kembali suara ponsel milik Adolf berdering.
"Leo. Sialan Rudolf tadi. Gara-gara dia aku sampai lupa dengan Leo yang aku beri tugas untuk mengejar rombongan Ryan itu." Kata Adolf dan langsung menjawab panggilan itu.
"Hallo Leo! Bagaimana dengan Tugas yang aku berikan kepada mu"? Tanya Adolf setelah menjawab panggilan itu.
"Apa maksudmu dengan mengatakan bahwa Ryan ini tidak sesederhana yang aku bayangkan?" Tanya Adolf penasaran.
"Begini Tuan. Ternyata orang yang bernama Ryan, Riko dan Arslan ini tidak mudah untuk didekati. Mereka terlalu menekan harga tinggi untuk per kilogram nya. Upst... Maksud saya. Mereka ini, walaupun telah di pecat oleh Tuan muda dari keluarga William itu, tapi menurut mereka bahwa masih banyak perusahaan yang ingin merekrut mereka. Bahkan keluarga Patrik dan Keluarga Walker telah mengajukan tawaran kepada mereka. Jadi, mereka ini terlalu merasa disepelekan jika hanya kami saja yang berbicara dengan nya. Bukannya anda sendiri." Kata Leo menambahi pula lagi bumbu-bumbu yang membuat semuanya terasa sedap di telinga.
"Hmmm... Begini saja. Kau berikan ponsel kepada Tuan Ryan itu. Aku ingin berbicara langsung dengan nya." Kata Adolf Miller meminta Leo untuk memberikan ponselnya kepada Ryan.
"Hallo Tuan Adolf." Terdengar suara lelaki menyapa di seberang sana.
"Iya. Tuan Ryan. Apakah benar apa yang dikatakan oleh anak buah saya yang bernama Leo tadi bahwa anda sepertinya tidak berminat untuk bekerja dengan perusahaan Arold Holding Company saya?" Tanya Adolf.
Mendengar pertanyaan ini, Ryan setengah mati menahan tawa. Di mana-mana, orang yang melamar pekerjaan dan menjilat kepada seorang Bos. Hari ini, seorang bos yang menjilat kepada orang yang akan dijadikan staf di perusahaan miliknya. Dunia sedikit terbalik hari ini. Namun di balik semua itu, Ryan dapat menangkap bahwa Adolf ini memiliki ambisi besar untuk menenggelamkan perusahaan Future of Company milik Jerry William.
"Tuan Adolf. Apakah begini cara anda untuk menarik minat seseorang terhadap perusahaan milik anda? Apakah dengan mencegat orang di jalan seperti perampok? Perusahaan anda adalah perusahaan yang sangat besar. Tapi cara anda sama sekali tidak mencerminkan bahwa anda adalah orang yang memiliki moral yang tinggi. Saya menolak untuk bekerjasama dengan anda Tuan Adolf." Kata Ryan dengan berpura-pura jual mahal.
"Oh. Bukan begitu Tuan Ryan. Sejujurnya dalam beberapa hari ini saya sudah menyuruh puluhan anak buah saya bahkan sampai ratusan untuk mencari keberadaan anda. Baru hari ini saya mendapatkan alamat anda. Namun terlambat karena pada hari yang sama anda malah memutuskan untuk meninggalkan Starhill. Tidak ada cara lain selain mencegat anda di tengah jalan. Harap anda dapat memakluminya." Kata Adolf Miller beralasan.
Jujur saja dia merasa seperti di tampar oleh perkataan Ryan ini. Tapi mau bagaimana lagi. Jika dia bisa memanfaatkan Ryan, Riko dan Arslan ini, maka kekuatan yang dia miliki sudah sebanding dengan Future of Company. Bukannya di dalam perusahaan Arold Holding Company tidak ada orang yang jenius dan pintar. Tapi, walau bagaimanapun, Ryan ini adalah bekas bawahan Jerry. Segala rahasia perusahaan ada di tangan orang ini. Itulah sebabnya mengapa dia begitu ingin menarik Ryan dan dua orang lainnya untuk bergabung dengan perusahaan miliknya.
Di sisi lain, dia juga merasa bahwa Tuan Paul, Frank dan Diana sama sekali tidak memenuhi ekspektasi nya. Baginya, Tuan Paul, Frank dan Diana ini sudah terlalu tua untuk bersaing dengan orang-orang muda seperti Ryan, Riko dan Arslan ini. Malah dia sudah memikirkan untuk menyingkirkan Tuan Paul dan tidak lagi memberikan proyek kepada Frank dan Diana ketika nanti Ryan, Riko dan Arslan bergabung dengan dirinya.
"Saat ini biarlah aku seperti mengemis. Kelak jika rencana ku menghancurkan perusahaan Future of Company telah tercapai, kau juga akan bernasib sama seperti Paul, Frank dan Diana." Kata Adolf dalam hati.
"Baiklah Tuan. Begini saja. Sejujurnya kami masih belum tau apa sebenarnya yang anda inginkan dari kami bertiga ini." Kata Ryan.
"Tuan Ryan. Sebaiknya anda ikuti saja pengawal saya yang bernama Leo itu. Kita bisa mengadakan pertemuan dan membahas lebih lanjut tentang kerjasama kita nantinya. Bagaimana?" Tanya Adolf.
"Baiklah jika begitu. Mari kita lakukan pertemuan ini. Tapi jangan terlalu berharap bahwa kami akan bekerja untuk anda. Kami hanya ingin tau seperti apa kerjasama yang anda inginkan itu." Kata Ryan pula.
"Baik. Saya mengerti Tuan Ryan. Mari kita akhiri dulu panggilan ini. Saya akan mempersiapkan penyambutan untuk anda." Kata Adolf lalu mengakhiri panggilan telepon itu.
"Hmmm... Tidak apa-apa. Hari ini kau menang. Kelak jika tujuan ku tercapai, kalian akan tau seperti apa aku ini." Kata Adolf dalam hati lalu segera meminta kepada putranya yaitu Honor untuk memanggil kepala pelayan dan mempersiapkan segala sesuatunya bagi menyambut kedatangan Ryan, Riko dan Arslan ini.