
"paman Tigor. Sepertinya paman Rio akan mendapat ikan besar kali ini." Kata Joe sambil tersenyum.
"Apakah anda mencurigai sesuatu ketua? Atau mungkin keempat orang asing itu?" Kata Tigor menebak.
"Ternyata paman mencurigai mereka juga. Hehehe." Kata Joe sambil tertawa.
"Apakah anda punya rencana?" Tanya Tigor.
"Sepertinya orang-orang ini harus di jebak, Paman! Mereka bermain kotor seperti ini, mengusik ketenangan ku, maka aku juga akan mengusik mereka. Aku yakin masalah Marven yang paman ceritakan itu, paman pasti lebih dari mampu untuk menangani. Karena mereka telah memburu aku sampai ke sini, maka aku juga akan memburu mereka sampai ke MegaTown. Kita selesaikan mereka kali ini. Setelah itu, aku akan kembali ke Starhill dan mengganggu mereka di sana. Sesekali biar mereka tau bahwa menargetkan aku sebagai sasaran adalah kesalahan yang sangat fatal dalam hidup mereka." Kata Joe.
"Apakah kita harus melibatkan pihak kepolisian?" Tanya Tigor yang kurang senang dengan idea dari Joe ini. Bagaimanapun, dia rindu dengan bau anyir darah setelah 17 tahun lamanya mendekam dalam penjara.
"Aku berniat berbagi rejeki dengan paman Rio. Tapi jika anda menginginkan agar orang-orang asing ini hilang tanpa bekas, ya terserah paman saja."
"Harus hilang tanpa jejak. Penjara terlalu enak bagi mereka. Sisakan satu orang untuk membawa kabar bahwa yang lainnya telah mati kita bantai di kota Kemuning ini." Kata Tigor.
"Hehehe. Aku suka itu paman. Sekarang, mungkin mereka sedang melaporkan sesuatu yang mereka temui kepada bos mereka. Besok sore, kita pancing mereka keluar sarang. Lalu.., Krek!" Kata Joe sambil menirukan gaya sembelih di lehernya.
"Ketua. Sayya akan menghembuskan kabar bahwa besok anda akan berangkat ke kota Tasik Putri untuk meninjau beberapa proyek. Sementara itu, saya akan mengatur anak buah di beberapa titik. Mereka akan saling berhubungan. Ketika ada pergerakan dari buruan kita, maka semuanya sudah siap untuk bergerak. Kepung, lalu bantai. Bagaimana?" Tanya Tigor.
"Masalah ini, paman jauh lebih berpengalaman dari aku. Dengan segala hormat, Joe William mengucapkan terimakasih kepada anda." Kata Joe sambil membungkuk hormat.
"Ah. Anda terlalu sungkan." Kata Tigor sambil mencegah pemuda itu untuk terus membungkuk.
"Paman. Apakah paman sering berhubungan dengan paman Arslan?" Tanya Joe.
"Ya. Lumayan sering juga. Ada apa ketua?"
"Begini paman. Dulu waktu di Mountain Slope, aku punya dua orang sahabat yang sangat baik. Mereka ini bernama Harvey dan Lilian.
Aku ingin agar paman menghubungi paman Arslan dan katakan kepadanya bahwa aku meminta agar dia menemukan dua sahabat ku ini kemudian meminta nomor ponsel mereka. Sejujurnya aku sangat merindukan kedua sahabat ku itu." Kata Joe.
"Oh. Baiklah Ketua. Anda tidak perlu khawatir." Kata Tigor sambil tersenyum.
Obrolan kedua orang itu akhirnya berhenti ketika Tigor menerima pesan masuk di WhatsApp nya.
Dia lalu membuka pesan itu yang ternyata dari Miss Aline.
"Pak Tigor. Apakah Tuan muda baik-baik saja. Tolong katakan kepadanya bahwa saya ingin mengundang dirinya untuk makan malam malam ini di restoran yang berada di samping Tower Club." Begitulah bunyi pesan itu.
Joe yang mendengar isi pesan suara itu hanya tersenyum saja sambil memain-mainkan ujung plastik kresek tempat uang yang baru dia keluarkan dari bank tadi.
"Pintar sekali Miss Aline ini. Dia ingin melihat wajah ku lalu mencari alasan untuk mengundang ku makan malam." Kata Joe sambil tersenyum penuh arti.
"Lalu bagaimana ketua?" Tanya Tigor.
"Katakan aku menolak undangan itu. Eh jangan. Katakan bahwa aku sedang sakit." Kata Joe beralasan. Karena tidak mungkin dia menolak undangan secara mentah-mentah. Ini bisa menimbulkan rasa canggung di hati Miss Aline nantinya.
"Baik." Kata Tigor lalu segera membalas pesan dari Miss Aline seperti yang dikatakan oleh Joe tadi.
Kemudian mereka kembali merencanakan sesuatu yang harus mereka lakukan untuk menjebak orang-orang yang dikirim oleh musuh dari MegaTown itu.
*********
Persis seperti yang diperkirakan oleh Joe dan Tigor. Bahwa keempat mata-mata dari MegaTown itu memang menghubungi Tuan Meraka yang saat ini sedang berada di MegaTown.
Kriiiiiing...
Suara telepon memenuhi ruangan pertemuan antara Honor Miller, Tuan Paul, Frank dan Diana Regnar.
Pertemuan mereka ini memang membahas izin proyek yang berhasil mereka dapatkan dari kota Garden Hill bagian Timur yang rencananya mereka akan membangun Casino, pusat hiburan seperti club malam, karaoke, diskotik dan banyak lagi.
Tak lupa juga mereka membahas tentang puluhan anak buah yang mereka kirim ke Indonesia bagi melacak keberadaan putra satu-satunya dari calon lawan mereka kali ini dalam dunia bisnis.
Sebenarnya tidak tepat jika dikatakan calon lawan. Hal ini karena sudah sering kali perusahaan Arold Holding Company ini memancing perseteruan dengan perusahaan Future of Company yang dipimpin oleh Jerry William.
Mungkin karena perlawanan yang dilakukan oleh Jerry dan orang-orangnya tidak terlalu agresif, hal ini yang membuat mereka merasa besar kepala dan menganggap bahwa perusahaan Future of Company ini tidak menginginkan silang sengketa atau lebih tepatnya tidak berani terhadap perusahaan mereka. Padahal mereka tidak tau bahwa bukan Jerry dan perusahaannya yang akan menghadapi komplotan Honor Miller ini. Tapi putranya yang telah dipersiapkan.
"Hallo." Kata Tuan Paul setelah mengangkat gagang telepon itu.
"Tuan. Ini saya Sean."
"Hmmm... Bagaimana dengan tugas mu apakah ada kemajuan?" Tanya Lelaki botak bagaikan seorang profesor itu.
"Benar Tuan. Tadi pagi sampai tengah hari, kami terus memantau keadaan di Tower Mall. Dan benar saja. Kami telah menemukan keberadaan generasi ke-empat dari keluarga William itu. Tadi dia dengan sengaja berkunjung ke Tower Mall." Kata lelaki bernama Sean itu menjelaskan.
"Apakah kau terus membuntuti putra Jerry William itu?" Tanya Tuan Paul.
"Sampai saat ini kami masih terus membuntutinya Tuan. Kabar yang saya dengar, besok sore mereka akan berangkat menuju kota Tasik Putri untuk melihat langsung proyek milik Tower Sole propier. Dan ini adalah kunjungan pertama putra Jerry ini semenjak mengambil alih perusahaan itu dari tangan Ayahnya." Kata Sean.
"Hahaha. Bagus. Apakah kau tau seberapa jauh jarak antara kota Kemuning dan kota Tasik Putri?" Tanya Tuan Paul.
"Jarak antara kedua kota ini memakan waktu 10 jam dengan mengendarai mobil."
"Hmmm. Begini saja. Kau tarik semua anak buah mu ke kota Kemuning. Lalu besok, buntuti mereka! Perhatikan juga berapa jumlah dalam rombongan itu. Jika jumlah mereka lebih sedikit, maka kau boleh menyerang rombongan itu. Namun jika jumlah mereka melebihi jumlah kalian, maka bersabarlah dan sebaiknya kalian terus mencari dukungan di sana. Kau mengerti?" Tanya Tuan Paul.
"Saya sudah menganalisis semuanya Tuan. Ternyata ada dua organisasi di sini yang telah dihancurkan dengan bantuan dari Jerry. Mereka adalah geng tengkorak yang hancur total, lalu yang ke dua adalah Geng kucing hitam. Tapi untuk organisasi kucing hitam ini, mereka masih memiliki ketua yang masih berada di dalam penjara bernama Marven. Kelak jika orang bernama Marven ini bebas, kemungkinan terbesar adalah geng ini akan bangun kembali. Dan ini adalah kesempatan kita untuk menjalin kerjasama dengan mereka. Karena walau bagaimanapun, ketika pusat cabang dari orang-orangnya Jerry di sini bisa dimusnahkan, maka perhatian mereka akan terpecah. Kita bisa dengan leluasa menghancurkan mereka."
"Baiklah. Apa kau tau berapa lama lagi masa tahanan Marven ini?" Tanya Tuan Paul.
"Menurut laporan yang saya dapat, sekitar dua tahun lagi. Namun Marven ini meninggalkan seorang istri dan Ibu yang saat ini sangat menderita sekali. Anda bisa memanfaatkan ini untuk membuat Marven ini berhutang budi kepada anda Tuan. Setelah itu, mereka ini pasti akan tunduk kepada Arold Holding Company." Kata Sean menjelaskan.
"Bagus. Aku sudah memiliki gambaran tentang apa yang bisa aku kerjakan menurut informasi dari mu ini. Kau jangan fikirkan hal itu. Akan ada orang lain yang akan aku kirim. Sebaiknya kau fokuskan pada putra Jerry ini. Jika kau bisa, pastikan anak itu mati." Kata Tuan Paul.
"Baik Tuan."
"Nah. Untuk bayaran mu, aku akan membincangkan terlebih dahulu kepada Tuan muda Honor Miller. Setengah akan kau terima dan setengahnya lagi akan kau dapatkan setelah kau berhasil menjalankan misi mu kali ini." Kata Tuan Paul berjanji.
"Siap Tuan. Jika begitu saya akhiri dulu panggilan ini." Kata Sean lalu mengakhiri panggilan telepon itu.
"Bagaimana Paul?" Tanya Honor yang sedang duduk dengan kedua kakinya berada di atas meja.
"Mereka sudah menemukan keberadaan putra satu-satunya dari musuh anda Tuan muda." Kata Tuan Paul lalu menceritakan isi dari percakapan antara dirinya dengan Sean tadi.
Mendengar penjelasan ini, bukan hanya Honor saya yang tertawa. Frank dan Diana Regnar pun juga ikut tertawa.
Di hati mereka saat ini sudah membayangkan betapa hancurnya perasaan Jerry nantinya setelah mendapat kabar bahwa putranya semata wayang itu akan mati.
Dia ingin menyaksikan sendiri seperti apa wajah hitam Jerry ketika menerima kiriman peti mati dari Indonesia itu di Starhill.
"Bagus sekali. Kita tinggal menunggu kabar baiknya saja. Setelah itu, perang total dengan Future of Company akan segera dimulai." Kata Honor sambil tertawa.
Di benaknya saat ini hanya ada satu. Ketika dia bisa menghancurkan perusahaan Future of Company, kemudian menghancurkan keluarga William, dengan begitu, posisi kepala keluarga Miller akan jatuh ke dalam genggamannya.