
Seorang wanita gemuk berwajah galak tampak sedang berkacak pinggang didepan seorang pemuda yang sedang membersihkan lantai kamar mandi di asrama tempat mahasiswa tinggal.
Bagaikan seorang diktator ulung bertangan besi, dengan tangan kanan masih berada di pinggang, tangan kiri wanita itu menunjuk ke sana dan kesini membuat pemuda itu terpaksa harus mengikuti gerakan tangan wanita itu. Dan dapat dibayangkan, pemuda yang mondar mandir menyikat lantai kamar mandi itu persis seperti strika butut.
Butir-butir keringat mulai membasahi kening pemuda itu. Namun, dia tetap bersabar menerima hukuman dari wanita gemuk tersebut karena menyadari akan kesalahan yang telah dia perbuat.
Ini adalah hukuman pertama yang dia dapat akibat tidak kembali tadi malam ke asrama dan dia juga ketahuan menyelinap tadi malam meninggalkan asrama dengan cara melompati tembok. Jadi, atas kasus ganda inilah yang menyebabkan pemuda ini mendapat hukuman membersihkan kamar mandi, toilet dan kamar tidur di asrama tempatnya tinggal.
"Miss Lorenz, saya tidak bisa bebas bergerak. Bisakah anda jangan berdiri di hadapan saya?! Keberadaan anda di sini memakan banyak ruang," kata pemuda itu dengan merangkak sambil mendorong ember berisi air.
Dia merasa terganggu dengan keberadaan wanita gemuk itu di depannya. Bagaimana tidak, dengan bodi yang nyaris seperti lemari es empat pintu, wanita itu berdiri di depannya dengan perut membusung ke depan. Benar-benar merusak pemandangan.
"Diam kau anak jin! Itu hukuman untuk mu. Sekali lagi kau melakukan kesalahan, aku tidak akan bertoleransi lagi. Kau akan aku keluarkan dari asrama ini!" Bentak wanita tambun berbadan subur, makmur dan sentosa itu membentak.
"Hukuman ya hukuman. Ini kan sedang dijalani. Tapi keberadaan anda di tempat itu mengganggu pergerakan saya. Karena, anda akan menjitak kepala saya ketika air di ember ini memercik ke kaki anda. Sebaiknya, anda menjauh sedikit. Kalau begini, kapan selesainya pekerjaan saya ini?" Rungut pemuda itu dengan wajah tertekan.
"Ah sudahlah. Sama saja. Pokoknya kau kerjakan saja tugas mu. Awas kalau kau sengaja mengintip ke depan. Ku congkel biji mata mu itu!" Ancam wanita itu yang kebetulan memakai daster.
Sebenarnya daster wanita itu cukup panjang. Tapi, karena tubuhnya yang tambun kelewat subur, serta perut yang buncit, akhirnya daster itu tidak mencukupi dan menjadi terlihat pendek termakan ukuran tubuh yang melebihi kapasitas itu. Hal itu lah yang menyebabkan daster itu tidak mampu menutupi lutut si wanita. Dan setiap pemuda itu mendongak, pemandangan mengerikan selalu terlihat olehnya.
Bayangkan saja! Jika paha pun sebesar anak kambing beranjak dewasa, apa itu tidak mengerikan?
Dengan mengutuk panjang pendek didalam hati, pemuda itu pun terus saja mengerjakan pekerjaan yang dibebankan terhadapnya.
*********
Sementara itu, di kampus saat ini tengah terjadi keributan.
Para mahasiswa tampak berdiri di bawah beramai-ramai sambil mendongak ke atas. Ini termasuk Sylash dan Tye.
Beberapa mahasiswa yang lain saling berbisik ke arah temannya yang lain dan ada pula sebagian yang ketakutan melihat ke atas.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Diketahui, bahwa seorang mahasiswi sedang dilanda rasa frustasi dan ingin mengakhiri hidupnya dengan cara melompat dari atas bangunan Globe's University ini.
Entah apa yang menjadi permasalahannya, tidak ada yang tau. Karena, gadis itu tiba-tiba saja menjerit histeris dan langsung berlari menuju tingkat paling atas di bangunan kampus itu dengan niat untuk melompat ke bawah.
Beberapa sahabatnya dan juga dosen berusaha untuk menenangkan dan membujuk gadis itu agar tidak nekat.
Di bawah, Tye dan Sylash tampak saling berbisik dan mencoba menebak apa sebenarnya pemicu gadis itu mengambil tindakan bodoh dengan memilih mengakhiri hidupnya.
"Ada apa sebenarnya, Tye?" Tanya Sylash.
"Mana aku tau. Aku juga sama seperti mu. Sama-sama baru sampai di sini," jawab Tye seadanya.
"Apakah kau melihat Joe?" Tanya Sylash lagi.
"Tadi ada. Tapi katanya, selepas kelas berakhir, dia akan menjalani hukuman dari pengawas asrama. Entah karena apa dia di hukum, aku juga tidak pasti," jawab Tye.
"Kasihan sekali nasib gadis itu andai dia mati muda seperti itu. Andai dia putus cinta, aku mau menjadi pengganti dan mengobati lukanya. Andai aku seperti Superman, aku pasti sudah terbang dan menolong gadis itu," gumam Sylash sambil mendongak dengan sebelah tangan nya menutupi agar tidak silau.
"Apa maksud mu, Tye?" Tanya Sylash kurang senang.
"Superman itu mana ada. Bisa terbang dan BLA BLA BLA. Sebuah pembodohan yang dipuja-puja,"
"Maksud ku kan andai. Kau ini," Sylash tampak merajuk dengan ucapan Tye barusan. Bagaimanapun, dia adalah penggemar film Superman.
"Sebaiknya kita beritahu saja, Joe. Ayo! Biar nanti dia tidak banyak bertanya," kata Tye sambil bergegas menuju ke sepeda motor miliknya.
"Kau saja, Tye! Aku biar di sini. Siapa tau ketika gadis itu nanti melompat, aku bisa menangkap nya," kata Sylash beralasan.
"Huuuu. Gaya mu selangit tembus. Tapi ya sudahlah. Aku ke asrama dulu. Mungkin Joe sudah selesai dengan hukuman yang dia jalani,"
Tanpa menunggu tanggapan dari Sylash, Tye pun segera berlari ke arah sepeda motor miliknya yang dia parkir tidak jauh dari tempat itu.
Tak lama kemudian terdengar suara mesin mengaum dan tampak Tye dengan lagak bak Ali topan anak jalanan mengemudikan sepeda motor miliknya.
Beberapa menit kemudian, dia segera tiba di depan asrama dan segera berlari menuju kamar milik Joe.
Ketika dia tiba di kamar itu, dia melihat Joe tidak berada di sana.
Lamat-lamat dia mendengar suara perdebatan yang jelas suara itu sangat dia kenal.
Ketika mendatangi sumber suara tadi, kini dia melihat Joe sedang membersihkan toilet sambil dimandori oleh Miss Lorenz.
"Joe. Ada kabar buruk dari kampus," teriak Tye begitu dia tiba di depan pintu.
Joe dan Miss Lorenz terpaksa memalingkan wajah ke arah datangnya suara tadi dengan fikiran masing-masing.
"Kabar buruk apa Tye?" Tanya Joe penasaran.
"Teruskan pekerjaaan mu. Dan kau Tye! Jangan coba-coba mencari dalih untuk membawa kabur anak jin ini!" Bentak Miss Lorenz sambil mendelikkan matanya.
"Ada mahasiswi di kampus ingin bunuh diri," kata Tye tanpa memperdulikan mata Miss Lorenz yang melotot ke arahnya.
"Serius, Tye?"
"Serius. Ayo cepat lihat ke sana!" Ajak Tye buru-buru.
Entah karena terlalu buru-buru atau memang disengaja, Joe yang segera ingin berlari malah menyepak ember air yang ada di depannya hingga mencelat. Dan sialnya, ember itu terbalik dan langsung menyungkup kepala Miss Lorenz sehingga kata-kata mutiara pun berhamburan dari bibir wanita tambun itu.
"Mati aku, Tye!" Kata Joe salah tingkah antara pergi atau menolong Miss Lorenz terlebih dahulu.
"Sudah, jangan di tolong! Atau kau mau celaka karena wanita subur ini?"
"Ya sudah ayo!" Kata Joe lalu segera menghambur menuju ke kamarnya untuk mengambil sesuatu lalu segera menuruni tangga.
Tiba di dekat sepeda motor milik Tye, mereka pun langsung tancap gas menuju ke kampus yang semakin ramai dikerumuni oleh para mahasiswa.
Bersambung...