Joe William

Joe William
Joe membuat Tiara jengkel



Sore itu, setelah pulang dari kampus, Tiara dikejutkan dengan kedatangan beberapa staf dari pabrikan sepeda motor dan menurunkan satu unit sepeda motor tepat di halaman rumah kontrakannya tersebut.


Kemarin sore, tanpa ada drama penghinaan seperti di dalam cerita di mana, seorang yang tampak dekil dan miskin akan dihina terlebih dahulu sebelum membuat kejutan. Bagaimanapun, itu sangat basi dan sudah tidak relevan untuk di muat ke dalam cerita.


Joe yang tanpa banyak cing-cong langsung saja membeli satu unit sepeda motor automatis dan berpesan kepada staf di showroom tersebut agar mengantarkan sepeda motor tersebut ke alamat yang telah dia berikan dan juga kapan waktunya.


Tiara, yang menerima kejutan tersebut merasa sangat terharu dan segera mengirim pesan kepada Joe yang kini tampak sedang asik menonton serial kartun Tom and Jerry. Dia suka ketika Jerry berhasil mempecundangi si Tom. Dan akan sangat kesal ketika Tom mengintimidasi si Jerry.


"Hi Joe!" Sapa Tiara dalam pesan teks tersebut.


"Iya sayang. Apakah sepeda motor mu sudah sampai?" Jawab Joe sekaligus bertanya.


"Sudah."


"Apa kau suka?"


"Ya. Aku sangat menyukai apapun pemberian darimu."


"Dengan orang nya?" Tanya Joe ingin menggoda.


"Orangnya? Aku bisa suka jika sedikit saja kau kurangi ketengilan mu itu!"


"Itu memang sudah dari pabriknya. Sudah menjadi darah daging," ujar Joe.


"Eh sayang. Mengapa kita tidak Video call saja?"


"Untuk apa? Jika mau, datang saja ke sini. Aku ingin mencoba sepeda motor ku ini."


"Baiklah. Aku akan ke sana. Nanti kita jalan-jalan sore ya!"


Joe segera mematikan televisi dan segera menyambar helm kura-kura miliknya. Tak lupa dia membawa dompet. Ini karena, dia trauma dengan penggadaian handphone miliknya beberapa bulan yang lalu.


***


Dua puluh menit kemudian.


Seorang pemuda mengendarai sepeda motor Vespa antik dengan helm kura-kura berhenti tepat di depan rumah bercat putih.


Dengan susah payah, pemuda itu menopang sepeda motor Vespa tersebut. Dan ketika berhasil, dia pun menarik nafas lega seraya tersenyum.


"Hi sayangku, cintaku, pujaan ginjal ku, paru-paru ku, empedu, limpa dan lain sebagainya," kata Joe sambil mencolek dagu Tiara yang tampak salah tingkah diperlakukan seperti itu.


"Apaan sih? Tidak lucu!" Tiara pura-pura acuh. Padahal dalam hatinya dia nyaris ingin tertawa.


"Bagaimana dengan helm kura-kura ku ini? Bagus kan? Ini sengaja aku tempah. Baru saja dikirim dari kota Kemuning!" Kata Joe dengan bangganya.


"Asal jangan helm proyek aja. Jika di tilang, kau tanggung sendiri!" Kata Tiara cemberut.


"Ayah ku pernah bilang. Katanya, jika ibu ku cemberut, maka dunianya terasa suram. Kau juga seperti itu. Jika kau cemberut, dunia ku akan terasa kelam," Joe kini menggoda Tiara.


"Hahahaha. Jadi jalan atau tidak?" Tanya Tiara yang akhirnya tertawa juga.


"Jadi lah. Kau jangan terlalu ngebut ya! Nanti kalau Vespa ku mogok, kau bisa menolong ku!" Kata Joe yang mengkhawatirkan kesehatan Vespa antik miliknya itu.


Tiara hanya mengangguk saja mendengar ungkapan kekhawatiran dari kekasihnya tersebut.


Jadilah mereka jalan-jalan sore itu dengan mengendarai sepeda motor masing-masing.


Awalnya sih lancar-lancar saja. Tapi setelah satu jam kemudian, Vespa butut milik Joe akhirnya batuk juga.


Diawali dengan tersendat-sendat, sampai akhirnya Vespa butut itu benar-benar mogok. Joe yang berada di atas sepeda motor tersebut langsung kalang-kabut dan segera melompat.


"Tiara!"


Sekali pun, tidak ada sahutan dari gadis cantik itu. Entah karena terlalu asyik dengan sepeda motor barunya, atau karena memang mereka sedang berada di jalan raya yang ramai pengendara lainnya, membuat gadis itu tidak mendengar jeritan Joe yang memanggil namanya.


"Duh. Mana bengkel tidak ada, lagi!" Rutuk Joe dalam hati.


"Dasar Tiara. Nyelonong terus tanpa mau melihat kebelakang. Bagaimana ini?"


Joe mendorong Vespa bututnya ke bahu jalan dengan nafas terengah-engah.


"Duh Tiaraaaaa. Tega sekali!" Kata Joe lagi.


Sementara itu, Tiara yang sudah tiba di taman merasa aneh. "Mengapa aku merasa sendirian?" Tanya nya dalam hati. Dia pun lalu menoleh ke belakang. Dan benar saja. Joe ternyata tidak ada.


"Pasti mogok!" Tiara merengut dan memutar sepeda motornya untuk menyusul kembali pemuda itu.


Begitu melihat Tiara dari kejauhan, Joe mulai merasa lega. Dia langsung melambaikan tangannya ke arah gadis itu.


"Huh. Motor mu ini menyusahkan. Sudahi saja sandiwara mu itu Joe! Kamu yang punya motor, aku yang pegel lihatnya!" Kata Tiara jengkel.


"Jangan marah, sayang! Udah takdir!" Joe berkelit agar tidak dimarahi lagi oleh Tiara.


"Takdir kata mu? Itu bukan takdir. Tidak ada beban, batu kau galas! Beli lah motor yang sedikit sehat. Jangan Vespa jaman kuda makan besi begini!"


"Kau ketika merah, terlihat tambah cantik. Itulah mengapa aku sangat mencintaimu!" Kata Joe merayu gadis itu.


Bersemu merah wajah Tiara mendengar gombalan dari Joe. Siapa yang tidak suka mendapat pujian dari kekasihnya. Tiara juga tidak terkecuali.


Gadis itu sejenak melupakan kemarahannya. Kemudian dia segera bertanya. "Lalu, bagaimana ini?"


"Bagaimana apanya? Tarik lah!" Jawab Joe.


"Tarik menggunakan apa?"


"Kau tenang saja. Aku ada tali," jawab Joe yang segera membuka bagasi motornya.


"Berarti kau sengaja kan? Kau sudah mempersiapkan tali. Kau sudah memprediksi bahwa motor mu ini akan mogok. Haduh. Vespa mu ini berat. Entah sanggup atau tidak motor ku menarik Vespa antik ini,"


"Ayo lah sayang! Kau jangan terlalu perhitungan dengan ku. Kapan lagi kita bisa romantis seperti ini?"


Joe segera mengikatkan tali ke bagian belakang sepeda motor baru milik Tiara, lalu segera mengikatkan pula kebagian depan sepeda motor Vespa miliknya.


"Tarek sis! Semongko..!" Kata Joe memberi aba-aba agar Tiara segera menarik sepeda motornya menggunakan sepeda motor baru milik Tiara.


Awalnya, Tiara tampak sangat kesulitan menjaga keseimbangan. Tapi, setelah beberapa lama, akhirnya dia bisa juga mengendalikan sepeda motornya. Kini, mereka berdua telah berkeliling taman dengan Joe tetap berada di belakang sambil nyengir-nyengir.


Beberapa orang yang berada di taman ini terheran-heran melihat cara sepasang muda-mudi itu menghabiskan waktu sore mereka di taman. Benar-benar pasangan yang sangat unik.


"Ayo Tiara! Persetan dengan penilaian mereka. Yang penting kita bahagia!" Teriak Joe di belakang.


"Kau bahagia. Aku yang bengek!" Maki Tiara di depan.


"Hahaha. Bahasa apa lagi itu, bengek?" Tanya Joe dengan suara keras.


"Bodo amat lah! Jaga keseimbangan mu! Atau kita akan jatuh,"


"Kau takut jatuh? Aku berkali-kali jatuh cinta kepada mu. Tapi aku tidak pernah mengeluh!" Kata Joe. Masuk lagi rayuan gombalnya.


"Huh. Tau begini, mendingan tadi boncengan saja!" Sesal Tiara dalam hatinya.


Bersambung...