Joe William

Joe William
Irfan mengunjungi Marven



...Pusat tahanan kota Batu...


Seorang sipir petugas di penjara menghampiri salah seorang tahanan di penjara kota Batu ini kemudian memukul terali besi itu dengan tongkat pendek yang berada dalam genggaman.


Kreng!


"Yang bernama Marven silahkan berdiri. Ada seseorang yang mengunjungi mu. Temui dia sebelum waktunya besuk nya habis!" Kata petugas sipir penjara itu dengan kasar.


Dari beberapa orang tahanan di dalam sel itu, tampak seorang lelaki setengah baya berdiri dan melangkahkan menghampiri sang sipir tadi.


Orang ini tampak sangat tidak terurus dan dari kedutan pada wajahnya menggambarkan bahwa orang ini memiliki tekanan batin atau tepatnya dikatakan seperti ada api dendam yang belum terlampiaskan.


"Siapa orang yang mencari aku itu Pak?" Tanya lelaki setengah baya yang bernama Marven ini.


"Kau temui saja dia. Cepatlah!" Bentak sang sipir.


"Baik pak." Kata Marven lalu bergegas memasuki ruang besuk.


Seorang lelaki yang sedikit lebih muda dari Marven ini tampak sedang duduk di sebuah kursi yang terdapat di ruangan itu dan langsung tersenyum begitu melihat Marven datang memasuki ruangan tempat dia menunggu.


"Kau datang Fan?!" Kata Marven lalu menarik kursi dan duduk berhadap-hadapan dengan lelaki pembesuk tadi.


Jarak mereka kini hanya terpisah oleh meja kayu usang yang terdapat di dalam ruangan itu.


"Iya bang. Hari ini aku sengaja datang mengunjungi mu."


"Bagaimana kabar ibu dan istri ku, Irfan?" Tanya Marven.


"Mereka baik-baik saja bang. Abang tidak perlu khawatir. Selagi aku masih ada, mereka akan baik-baik saja." Jawab Irfan.


"Syukurlah kalau begitu. Aku terlalu merasa bersalah sama kakak mu. Sejak bersama dengan ku, dia selalu menderita. Ini semua karena ulah ku. Oh bukan. Ini semua karena si Tigor itu. Jika bukan karena dia, geng kucing hitam tidak akan hancur, ibu ku tidak akan akan masuk rumah sakit jiwa. Kandungan istri ku tidak akan rusak karena stres memikirkan aku. Dia harus membayarnya." Kata Marven dengan wajah mendadak tegang.


"Sabar Bang. Kau jalani saja masa tahanan mu ini dengan tenang. Dua tahun tidak akan terasa. Jika kau mampu menjalani selama 18 tahun, inikan lagi hanya dua tahun. Kecil kali lah ya kan?" Kata Irfan sambil berusaha menguatkan semangat Abang satu ayah lain ibu nya itu.


"Bang. Aku ada kabar baik untuk kau ini bang." Kata Irfan sambil menggeser kursinya agar sedikit mendekat.


"Bah. Kabar baik apa itu?" Tanya Marven.


Wajar jika dia merasa heran. Ini karena, selama delapan belas tahun ini hampir semua kabar yang dia terima adalah kabar buruk belaka. Namun, ketika melihat wajah adik tirinya itu yang begitu berbinar-binar, hal ini menyebabkan Marven mau tak mau merasa penasaran juga.


"Makanya aku meminta mu untuk bersabar menjalani sisa tahanan mu ini. Jangan membuat ulah yang dapat mengakibatkan masa tahanan mu bisa bertambah."


"Ok. Kita langsung saja ya bang?!" Kata Irfan sambil menarik nafas sejenak.


"Cepat lah ceritakan sama aku ada apa? Lama kali pun muncung kau itu menceritakannya. Aku tak sabar ini." Kata Marven yang sudah mulai tidak sabaran.


"Selow lah bang."


"Begini bang. Abang tau tidak orang-orang yang membantu geng Tigor dulu itu yang menyerang kota batu?"


"Dragon empire itu maksud mu?" Tanya Marven.


"Betul bang."


"Lalu? Ada apa dengan mereka itu?" Tanya Marven.


"Gini ceritanya bang. Ternyata, ketua dari Dragon Empire ini memiliki saingan bisnis. Entah kalau Abang pernah mendengar nama perusahaan Arold Holding Company. Mereka ini ternyata sudah saling sikut sejak puluhan tahun yang lalu yang mengakibatkan terpinggirkannya perusahaan ini. Sekarang ini, mereka ingin mengungkit lagi perseteruan lama. Jadi, mereka kini merekrut orang-orang baik itu dari pengusaha, investor maupun ketua sebuah organisasi, untuk bekerja sama guna melawan orang-orang yang berada dalam organisasi Dragon Empire ini."


"Lalu apa jawab mu?" Buru Marven ingin mengetahui kelanjutannya.


"Ya aku mana bisa memutuskan. Kan Abang itu ketua nya. Nanti aku pandai-pandai pulak bikin keputusan tak taunya Abang tidak setuju."


"Karena itulah mengapa aku mengunjungi Abang di sini. Tidak lain dan tidak bukan ingin mengetahui bagaimana tanggapan Abang tentang tawaran ini?" Tanya Irfan.


"Aku pun bingung membuat keputusan. Kalau aku di luar, tentu akan mudah bagiku menerima atau menolak ajakan kerjasama ini. Tapi kau tau sendiri lah aku masih menjadi pesakitan di sini. Hotel bangsat ini telah merenggut masa depan ku selama dua puluh tahun." Kata Marven sambil mengepalkan tinjunya kuat-kuat sehingga urat-urat tangannya bersembulan.


"Bang. Abang tinggal katakan iya atau tidak. Itu saja. Kalau tidak, maka aku akan mengatakan kepada orang itu bahwa Abang tidak berminat. Tapi kalau Abang bilang iya, berarti Abang setuju. Kalau sudah begitu, Abang tenang aja di sini. Biar aku yang mengurus semuanya di luar. Bagaimana?" Tanya Irfan.


"Gini lah bang. Kita ini orang yang sudah jatuh. Orang yang sudah sangat terpuruk sekali. Nama baik keluarga kita di mata masyarakat itu benar-benar sudah hancur. Andai bebas pun, kemana Abang akan pergi? Semua orang tidak akan mempercayai Abang lagi. Mana ada perusahaan yang mau mempekerjakan seorang mantan narapidana. Jika Abang menerima tawaran ini, maka keluarga kita terjamin. Kelak jika Abang keluar dari tahanan ini, pekerjaan sudah menunggu Abang. Mereka ini adalah pemilik perusahaan raksasa bang. Asal kita iyakan saja kata mereka, uang dan uang akan terus mengalir. Coba Abang pikirkan pakai akal sehat Abang itu!" Kata Irfan dengan sangat bersemangat.


"Fan. Aku masih khawatir jika mereka hanya memanfaatkan kita saja." Kata Marven masih ragu-ragu.


"Alah bang. Memanfaatkan apanya bang. Sudah sepantasnya kita saling memberi dan menerima. Abang pikir bisa membalas dendam kepada Tigor hanya mengandalkan dendam saja? Tidak bang! Lihat Tigor sekarang! Jangankan manusia. Lalat pun sulit untuk menjangkau nya. Pikir sikit bang. Tak mungkin lah selama delapan belas tahun ini Abang di dalam penjara, tapi otak Abang ikut juga terkungkung di sini. Ah. Macam mana pulak ceritanya itu?" Kata Irfan. Dia heran mengapa Marven ini begitu ragu sekali padahal kesempatan untuk mendapatkan dukungan jelas-jelas sudah di depan mata.


"Baiklah. Jika begitu, kau katakan saja iya dan tunggu aku keluar dari hotel sialan ini. Untuk sementara, kau atur saja lah bagaimana baiknya." Jawab Marven.


Teng teng teng...!


"Waktu besuk habis!"


Terdengar suara pak sipir memberitahu bahwa waktunya sudah habis untuk lawatan kali ini.


"Bang. Aku pulang dulu. Ingat kata-kata ku tadi! Jangan berulah di sini ya!" Kata Irfan berpesan.


"Kau tenang saja lah! Jaga ibu kan kakak ipar mu baik-baik ya! Titip salam sama bini mu si bidan desa itu. Entah siapa pun namanya lupa pulak aku." Kata Marven.


"Hahaha. Namanya Debora bang."


"Ok lah. Aku pulang dulu. Baik-baik kau di sini bang!" Kata Irfan lalu memeluk Abang nya itu dengan hangat sebelum meninggalkan tempat itu.


Ketika Irfan keluar dari pusat tahanan itu, satu unit mobil BMW hitam dari jarak yang cukup aman tampak menurunkan kacanya sedikit yang sepertinya penumpang dalam kendaraan itu memperlihatkan semua yang terjadi.


"Bagaimana Geng?"


"Jelas bahwa kunjungan Irfan ini berhubungan dengan kedatangan dua orang asing di kediaman mendiang Beni kemarin itu." Jawab Sugeng.


"Lalu?" Tanya sahabatnya.


"Cok. Kau terus memata-matai mereka ya. Aku harus kembali ke kota Kemuning untuk memberi kabar kepada bang Tigor dan Ketua." Kata Sugeng.


"Baiklah. Antar aku ke kafe depan sana! Kita berpisah di situ." Kata Ucok.


Berjarak lima menit dari kendaraan Irfan meninggalkan pusat tahanan itu, mobil BMW yang dikendarai oleh Sugeng dan Ucok pun bergerak menuju sebuah Kafe bekas milik Birong yang terletak tidak jauh dari jalan lintas Medan-Jakarta.


"Kita berpisah di sini Cok. Ingatlah untuk terus memberi kabar!" Kata Sugeng.


"Ok Geng. Kau juga hati-hati berkendara. Jangan ngebut-ngebut! Asalkan tekan gas sampai kandas udah mantap lah itu." Kata Ucok bercanda.


"Kau mengajarkan aku jalan pintas menuju kubur itu namanya. Ok lah. Aku gerak dulu." Kata Sugeng lalu segera menginjak pedal gas dan tak lama setelah itu, mobil BMW hitam itu pun meluncur dengan kecepatan sedang meninggalkan Ucok yang masih berdiri di pinggir jalan itu.


Bersambung...