Joe William

Joe William
Pak Madun mulai merasakan tekanan



Sepuluh orang lelaki berbadan tegap berdiri di belakang seorang pemuda yang tampak sedang melihat ke arah luar dari tingkat paling atas di Martins Hotel.


Kesepuluh lelaki yang mengenakan celana loreng ala tentara dan baju hitam ketat, berdiri laksana patung. Mereka siap menerima perintah. Hanya saja, pemuda tadi masih terus berdiam diri. Sepertinya, ada sesuatu yang sedang dia pikirkan.


Setelah lama berdiam diri, pemuda tadi segera bersuara. "Tiger Syam!"


"Kami Ketua! Berikan perintah!"


"Di dalam organisasi, jika ada pengkhianat, hukuman apa yang pantas untuk si pengkhianat ini?" Tanya pemuda itu.


"Di buru, di bunuh!" Jawab mereka serentak.


"Aku tidak menyukai apapun bentuk dari pengkhianatan. Kalian lihat foto itu?"


"Kami melihat, Ketua!"


"Aku menginginkan orang itu, hidup atau mati!"


"Boleh kami tau siapa orang ini, Ketua?" Tanya salah seorang yang berdiri paling depan.


"Orang itu bernama Ferdy. Satu-satunya anggota kepolisian yang paling senior di kota Batu. Di balik foto itu ada alamatnya. Kalian tau seperti apa cara kalian bekerja. Buat se-rapi mungkin!" Kata pemuda itu sembari menunjuk ke arah selembar foto.


Kesepuluh orang berbadan tegap tadi membungkuk hormat, lalu salah satu dari mereka mengambil selembar foto tersebut, kemudian berbalik untuk meninggalkan ruangan khusus di Martins Hotel itu.


"Sepertinya, tidak akan lama lagi pertumpahan darah akan segera terjadi. Aku tidak ingin main-main lagi. Semuanya harus segera dipersiapkan!" Kata pemuda itu dalam hati. Diana segera menutup tirai di jendela tempatnya menatap ke luar tadi. Sambil menoel hidungnya, dia berbalik dan melangkah meninggalkan ruangan tempat dia memberikan perintah tadi.


*****


Di Kuala Nipah, saat ini tampak Pak Madun sedang duduk sambil mengipas-ngipas bagian tubuhnya dengan topi yang biasa dia kenakan. Ada raut kerisauan pada wajah paruh bayanya yang mulai sedikit bergurat keriput termakan usia.


Baru saja dia kembali dari bekerja. Dan, tampaknya dia kembali dengan berhampa tangan. Mungkin hal ini lah yang membuat lelaki paruh baya itu tampak seperti mengeluh.


Seorang gadis cantik tampak berjalan menuju ke bagian belakang. Di tangannya terdapat satu piring kecil dengan segelas air kopi yang mengepulkan asap.


"Ayah..! Tiara lihat akhir-akhir ini ayah seperti mengalami masalah. Kalau boleh Tiara tau, apa yang merunsingkan pikiran ayah?" Tanya gadis itu.


Lelaki paruh baya itu berulang kali menarik nafas. Dia berusaha untuk menjawab pertanyaan dari sang putri. "Usaha yang baru Ayah rintis ternyata hanya bertahan tidak sampai dua bulan," jawab pak Madun lesu.


"Loh. Kok bisa? Apakah ayah memiliki saingan?" Tanya Tiara penasaran.


Lelaki paruh baya itu segera menggelengkan kepalanya. Dia tidak tau apa penyebabnya.


"Ayah juga heran. Entah mengapa para nelayan akhir-akhir ini tidak mendapatkan hasil tangkapan seperti biasanya. Jika dulu laut kita ini melimpah dengan ikan-ikannya, sekarang sepertinya ikan-ikan pada menjauh. Jika ingin menangkap ikan dengan hasil seperti biasa, maka mereka harus pergi ke tengah. Padahal, dengan peralatan alakadarnya, mustahil mereka bisa sampai di tengah. Belum sampai di tengah, mungkin perahu mereka sudah karam duluan," jawab Pak Madun mengeluarkan apa yang dia rasakan, dan para nelayan rasakan juga akhir-akhir ini.


"Apa sebenarnya yang telah terjadi dengan laut kita ya?" Gumam Tiara seolah sedang bertanya kepada dirinya sendiri.


"Entahlah. Kau kan mahasiswa. Mengapa tidak kau cari tau saja? Apa sebenarnya yang menjadi sebab larinya ikan-ikan ke tengah. Pasti ada sesuatu yang menyebabkan!" Tegas Pak Madun.


"Benar kata Ayah. Memang harus ada penyelidikan. Adanya akibat pasti ada sebab. Dua hal ini tidak dapat dipisahkan!" Balas Tiara pula.


Kedua anak dan Ayah itu terus saling bertukar fikiran, sampailah pada akhirnya beberapa orang lelaki mengendarai sepeda motor mendatangi rumah mereka.


"Permisi..!" Sapa salah seorang dari penunggang sepeda motor tersebut.


Beberapa saat kemudian, pintu pun terbuka dan dari dalam muncullah seorang wanita paruh baya.


"Maaf Bu. Apakah pak Madun ada?" Tanya lelaki itu dengan sopan.


"Oh. Ada pak. Ada apa ya?" Tanya istri pak Madun.


"Begini Bu. Kami dari koperasi simpan pinjam Kuala Nipah. Sudah tiga hari Pak Madun belum menjelaskan tagihan hutangnya!" Jawab lelaki tadi.


Serrr...!


Berdesir darah wanita itu begitu mengetahui bahwa kedatangan beberapa orang lelaki tadi adalah utusan dari koperasi simpan pinjam Kuala Nipah.


"Sebentar ya pak. Saya panggilkan dulu suami saya!" Kata istri pak Madun. Lalu, tanpa menunggu jawaban, dia langsung berjalan menuju ruang dapur, kemudian keluar dari pintu dapur untuk menemui suaminya yang saat ini sedang terlibat diskusi dengan Tiara.


"Pak. Ada orang-orang dari koperasi simpan pinjam Kuala Nipah. Mereka menunggumu di luar!" Kata sang istri menyampaikan kepada suaminya bahwa orang-orang utusan dari koperasi telah menunggu di depan.


Pak Madun dengan muka kusut mencakar rambutnya.


"Sepertinya, mobil pengangkut yang kita miliki memang harus di jual untuk menutupi tagihan hutang tersebut untuk beberapa bulan ke depan," kata Pak Madun sambil berdiri.


"Lalu, bagaimana caramu untuk mengangkut hasil tangkapan nelayan, Pak?" Tanya sang istri seperti keberatan.


"Hasil apa? Apa kau tidak melihat bahwa beberapa hari ini aku pulang dengan tangan kosong?" Pak Madun balik bertanya.


"Sudahlah! Kau tunggu saja di sini. Aku harus menemui orang utusan itu!"


Pak Madun pun segera meninggalkan istri dan anaknya di belakang. Sejenak dia mengelus dada sekedar ingin menenangkan hatinya. Lalu, dengan wajah dibuat sebagus mungkin, dia pun menemui beberapa orang petugas dari koperasi simpan pinjam Kuala Nipah tersebut.


"Sudah lama menunggu?" Tanya Pak Madun sekedar berbasa-basi.


"Ah. Tidak juga pak. Maaf kami telah mengganggu hari bapak. Kami di utus oleh Tuan Kim, untuk menagih hutang bapak kepada koperasi," kata lelaki itu menjelaskan maksud kedatangannya.


"Begini dik. Tolong sampaikan kepada Tuan Kim, bahwa saya meminta tempo tiga hari. Saat ini saya sedang mengusahakan uang pembayaran tersebut. Nanti, jika sudah ada, saya sendiri yang akan mengantarkan langsung ke kantor koperasi!" Jawab pak Madun dengan senyum malu.


"Baiklah pak. Kami akan menyampaikan. Tapi, ini hanya sekadar untuk bapak ketahui. Bahwa, jika hal seperti ini terus berlanjut, maka bapak terpaksa harus menanggung beban bunga yang mungkin akan meningkat,"


"Iya. Saya mengetahui akan hal itu. Tapi, untuk saat ini, saya memang belum memiliki uang untuk membayar tagihan tersebut. Tolong sampaikan kepada Tuan Kim agar memberi saya sedikit kelonggaran!" Pak Madun seperti memohon kali ini.


"Tiga hari terhitung dari besok. Jika hari ke empat bapak tidak datang ke kantor, maka kami akan datang lagi. Maaf telah mengganggu hari bapak. Kami permisi!" Kata lelaki itu.


Setelah mereka bersalaman dengan pak Madun, mereka pun segera meninggalkan rumah berdinding papan milik lelaki paruh baya itu.


Kini, tinggallah pak Madun berdiri lemas memandangi kepergian orang-orang utusan dari koperasi simpan pinjam Kuala Nipah tadi.


Bersambung...