
...EPISODE TERAKHIR...
Tigor benar-benar jadi bahan olok-olok ketika para bawahan dan atasannya mengetahui bahwa istrinya telah mengandung.
Suasana di ruangan itu menjadi semakin berisik ketika seorang pemuda berwajah dingin memasuki ruangan itu.
Tiba di hadapan Tigor, pemuda itu langsung menyalami tangan lelaki paruh baya itu, kemudian menciumnya. Setelah itu, dia melakukan hal yang sama terhadap Mirna. Barulah dia berbalik, lalu membungkuk hormat di hadapan Jerry William.
"Salam hormat saya untuk Tuan besar!" Kata pemuda itu.
"Hmmm. Anak baik. Mengapa kau terlambat. Dan, kemana perginya Joe?" Tanya Jerry kepada pemuda itu.
"Menjawab anda, Tuan besar. Tadi saya sempat diberitahu bahwa pagi-pagi sekali Ketua telah berangkat ke Kuala Nipah. Katanya akan menjemput Tiara," jawab pemuda berwajah dingin itu.
"Siapa Tiara ini?" Tanya Jerry.
"Kak. Kau sudah bertemu dengannya ketika kita merayakan hari ulang tahun putra kita di Kuala Nipah. Gadis itulah yang menemani Joe merayakan hari ulang tahunnya. Apa kakak lupa?" Tanya Clara kepada Jerry William.
"Hmmm. Gadis itu. Ya aku ingat. Kau sempat mengatakan bahwa kau melihat bayangan dirimu pada gadis itu," kata Jerry mengerti.
"Lalu, mengapa kau terlambat datang?" Kali ini Tigor pula yang mengajukan pertanyaan.
Mendadak wajah pemuda itu menegang. Sepertinya, dia baru saja mendapat tekanan. Bukan tekanan dari pertanyaan Tigor tadi. Melainkan ada yang lain yang membuat pemuda berwajah dingin itu tertekan. Dan pertanyaan mengapa wajah pemuda itu tertekan akhirnya terjawab ketika dari kerumunan orang-orang, menyeruak seorang gadis centil yang sangat imut, setengah berlari ke arah Ivan Patrik.
"Ayah...!" Kata gadis itu dengan lagak manjanya.
"Hmmm. Terjawab sudah mengapa kau datang terlambat," kata Tigor membuat jakun pemuda itu turun naik.
"Putri kesayangannya Ayah. Dengan siapa kau datang kemari? Lalu, kemana Talia?" Tanya Ivan Patrik lembut kepada putrinya itu.
"Ayah. Aku kemari bersama Namora. Itu dia!" Jawab Xenita Patrik sambil menunjuk seorang pemuda yang sedang tertunduk.
"Lalu, kemana Talia?" Tanya Ivan sekali lagi.
"Talia di sini Paman!" Terdengar suara jawaban dari arah ujung lorong.
Kini, tampak seorang gadis berjalan bergandengan tangan dengan seorang pemuda berusia sekitar tiga puluh lima tahun.
"Albern?" Gumam Jerry ketika melihat siapa yang sedang berjalan dengan putri sahabatnya dari keluarga Gordon itu. Dalam hatinya dia merasa lega ketika melihat gadis itu bersama dengan pemuda lain. Dengan begini, gadis itu akan berhenti mengejar putranya yang terkenal dengan sikap tidak suka dijodohkan itu.
"Ayah..!" Kata Talia pula ketika dirinya dan Albern tiba di hadapan lelaki yang sebaya dengan Jerry, Ivan dan Tigor.
"Hmmm. Kau telah tiba," kata Gerrard Gordon membelai rambut putrinya.
"Ayah. Perkenalkan! Ini adalah Albern Miller. Kepala keluarga Miller yang baru!" Kata Talia sambil menyikut rusuk pemuda itu.
Sejenak Albern gelagapan. Namun dia segera menguasai keadaan lalu menyalami lelaki paruh baya yang ternyata adalah ayah dari Talia.
"Selamat sore Tuan Gordon. Nama saya Albern Miller. Sahabat putri anda," kata Albern malu-malu sambil mengulurkan tangannya.
"Semua sudah lengkap. Lalu, kemana perginya anak jin iprit itu?" Tanya Ivan Patrik pula.
"Hahaha. Biarkan saja dia. Anak itu memang sesukanya!" Jawab Jerry William tertawa lucu.
"Sambil menunggu ketua tiba, bagaimana jika kita merayakan kehamilan kakak Mirna?" Celetuk Ucok yang membuat pemuda berwajah dingin tadi terkejut.
"Kau kaget Namora? Kau akan menjadi Abang sebentar lagi!" Kata Ameng pula.
Untuk pertama kalinya dalam hidup Namora tersenyum manis, lalu tertawa sangat antusias.
Dia segera menghampiri ibunya, lalu segera bertanya. "Bu. Benar Namora akan punya adik?" Tanya pemuda itu. Hilang sudah kesan dingin dan kaku pada wajahnya.
Sebagai jawaban, Mirna hanya mengangguk saja. Hal ini tentu membuat Namora sangat bahagia.
"Aku akan jadi Abang. Hahahaha...!" Namora tertawa lepas. Tanpa sadar dia merangkul pundak Xenita membuat gadis itu kaget bukan main.
"Ehem ehem!" Ivan berpura-pura batuk membuat Namora segera menarik kembali tangannya.
"Selesaikan dulu kuliah kalian. Setelah itu, baru fikirkan masa depan. Aku akan menitipkan keselamatan Xenita Patrik kepada mu. Jika putri ku terluka baik fisik maupun batin, aku akan mencari dirimu dan akan memberi hukuman!" Tegas Ivan.
"Bagaimana menurut mu, Tuan Tigor?" Tanya Ivan pula.
"Sebagai lelaki, aku terlalu menyukai tantangan. Apa lagi itu untuk seseorang yang sangat berarti bagi hidup ku. Jika kau telah memilih Xenita sebagai tambatan hatimu, maka perjuangkan! Jika kau gagal melindunginya, tidak sempat Tuan Ivan yang memberikan hukuman, aku akan terlebih dahulu mematahkan leher mu!" Kata Tigor pula dengan tegas.
"Namora. Kau harus merahasiakan kepada Joe bahwa kau akan memiliki seorang adik. Jika dia sampai tau, maka habislah riwayat kami!" Kata Jerry pula. Dia sangat mencemaskan andai Joe juga akan sama seperti Namora. Menuntutnya untuk mencetak adik baru.
Kini, semua mata tertuju ke arah sepasang pemuda-pemudi yang sedang duduk berdesak-desakan di atas sebuah troli sambil didorong oleh empat orang gadis cantik.
"Mati kita," kata Jerry berbisik ke telinga Clara.
"Ngeeeeng..., Ngeeeeng..., Ngeeeeng...! Criiiiiiiiit...! Pelan-pelan R1! Jika troli ini terbalik, aku bisa malu!" Kata pemuda itu. Dia sibuk memegangi besi pada troli itu. Kelakuannya ini persis seperti anak monyet yang terlepas dari kurungan.
"Pegang! Pegang kuat-kuat! Aku akan turun!" Kata pemuda itu lagi. Lalu, dengan ringan dia melompat turun dari Troli itu. Kemudian, dengan lagak bak pangeran, dia sedikit menekuk lututnya, lalu mengangkat tangannya untuk menyambut gadis yang bersama dengannya di dalam troli tadi.
"Nyonya Joe William! Silahkan anda turun!" Katanya membuat gadis itu nyaris tersedak menahan tawa.
Gadis itu segera menyambut uluran tangan pemuda tengil itu, lalu segera turun dari Troli tersebut.
"Jaga troli ku ini dengan baik. Jika lecet, potong gaji!" Katanya seenaknya saja kepada salah satu penjaga di ruangan itu.
Kini, sambil menggandeng tangan gadis tadi, diapun segera berjalan ke arah Jerry William dan Clara.
"Selamat sore Tuan besar Jerry William. Maafkan jika saya, Joe William telah terlambat tiba tepat waktu. Akan tetapi, saya tegaskan bahwa saya tidak suka kekalahan. Di sini saya sampaikan bahwa saya juga ingin punya adik baru!"
Setelah pemuda itu selesai bicara, tiba-tiba seisi ruangan itu penuh dengan suara gelak tawa, membuat Jerry William dan Clara tersenyum kecut.
"Kau ini ya! Aku pastikan akan menjewer telinga mu itu tiga hari tiga malam!" Kata Jerry sambil mengulurkan tangannya.
"Ampun, Ayah. Joe berjanji tidak akan nakal lagi. Namun, tuntutan tetap tuntutan!" Katanya sambil berlari dan bersembunyi di punggung gadis yang bersama dengannya tadi.
"Tiara. Apa selama ini kau tidak tertekan dengan anak jin ini?" Tanya Clara kepada gadis tempat Joe bersembunyi tadi.
Tiara hanya tersenyum malu dan melirik ke belakang.
"Lindungi aku, Tiara! Jika tidak, kuping ku akan di jewer!" Kata Joe semakin merapatkan tubuhnya ke punggung gadis itu.
"Kak Joe. Kalian jangan membuat ku iri!" Teriak Xenia menggoda.
"Diam kau!" Bentak Ivan membuat gadis centil itu mengatupkan bibirnya.
"Hahaha. Kapok kalian kan!" Ejek Joe. Lalu, dia segera berdiri tegak namun, masih dibelakang Tiara. "Ayah. Misi ku telah selesai. Keluarga Miller yang lama telah tumbang. Kini, keluarga Miller akan diteruskan oleh sahabat ku itu!" Kata Joe menunjuk ke arah Albern.
"Hmmm. Kerja bagus. Tidak sia-sia kau di didik selama ini oleh dua guru. Jika begini, aku bisa tenang menikmati hari tua ku. Cepatlah menikah, lalu warisi perusahaan Future of Company. Dengan begitu, Ayah dan ibu mu akan tenang menikmati sisa umur," kata Jerry. Ada riak bangga pada wajahnya.
"Ayah. Jika ayah ingin mewariskan Future of Company kepada ku, aku ingin William group dilepaskan. Kemudian serahkan perusahaan itu kepada sepupu ku!"
"Mengapa? Bukankah lebih baik jika perusahaan itu tetap bernaung dibawah FOC?" Tanya Jerry heran.
"Aku telah bersumpah dihadapan kakek Uyut William bahwa aku tidak akan mewarisi William group. Apa lagi aku tidak menuruti keinginannya untuk menikah dengan Talia," kata Joe pula.
"Itu bisa diatur nanti. Sekarang, mari kita rayakan kemenangan ini. Dengan kemenangan ini, berakhir sudah perselisihan antara dua keluarga besar William dan Miller. Dan kau Albern! Jangan ulangi kesalahan yang sama. Kami tidak pernah mencari lawan. Namun, jika lawan mencari kami, pantang untuk lari!" Kata Jerry kepada Albern.
"Tuan besar dapat memegang kata-kata saya. Bahwa, saya dan Arold Holding Company akan berada di bawah perusahaan Future of Company. Itu janji saya," kata Albern dengan yakin.
"Baiklah. Sekarang, mari kita lakukan kesepakatan. Aku juga akan menarik kembali embargo ekonomi terhadap perusahaan Arold Holding Company," kata Jerry berjanji.
"Terimakasih Tuan!" Albern segera memberikan hormat kepada Jerry.
"Hmmm. Kau anak jin. Jangan lagi meminta adik. Jika kau ingin, bikin saja sendiri!" Kata Jerry lagi sambil menarik tangan Clara untuk menuju ke arah meja.
Kini, tinggallah Joe melongo sambil garu-garu kepala.
...TAMAT...
***Dear teman-teman pembaca sekalian. Terimakasih yang tak terhingga dari saya karena telah mengikuti kisah Joe William ini dari episode awal hingga episode terakhir.
Permohonan maaf dari saya karena sering terlambat dalam meng-update bab baru. ini karena, saya juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Tidak ada karya yang benar-benar sempurna. Terlebih lagi, karya itu dihasilkan oleh Author receh seperti saya ini. Maafkan jika saya tidak bisa memuaskan hati setiap orang dengan suguhan karya saya ini. Bagaimanapun, plot cerita mutlak hak saya dan tidak bisa di gugat. Maaf jika alurnya tidak seperti yang anda inginkan. Karena, saya menulis sesuai dengan konsep yang telah saya pikirkan. dan saya tidak akan mau diintervensi oleh segelintir pembaca.
Di sini, saya Edane Sintink, Ingin meminta maaf kepada pembaca sekalian andai ada kata-kata yang kasar dalam karya saya, maupun dari balasan komentar anda sekalian. Saya dengan rendah hati memohon maaf yang sebesar-besarnya.
Akhirnya kata sari saya, tidak ada yang sempurna. Karena kesempurnaan hanya milik Allah***.
**Salam hormat dari saya, sang Author receh.
...Edane Sintink**...