
Setelah memperhatikan keadaan di sekitar pusat hiburan yang tampak seperti kapal pecah tersebut, ada juga rasa geram di hati Tigor, Andra dan Ameng. Tapi, sekuat tenaga mereka meredam perasaan geram agar tidak meledak, dan bisa mengacaukan sesuatu yang telah direncanakan oleh Joe William.
Begitu ketiga sahabat itu sampai di depan pintu masuk, Zacky yang saat itu sedang berusaha untuk terus mengganggu Rachel terpaksa menghentikan aksinya, lalu melirik ke arah pintu masuk.
"Heh. Siapa lagi yang ingin mencari penyakit, berani datang ke tempat ini. Apakah kau tidak melihat semua orang telah melarikan diri?" Ejek Zacky dengan lagak angkuhnya. Tidak hanya sampai disitu, dia berdiri lalu menghampiri Tigor dan kawan-kawanya.
"Pulang lah sobat! Aku saat ini sedang ingin bersenang-senang!" Kata Zacky lagi sambil menepuk pundak Tigor.
"Begini kah cara orang asing datang? Kalian benar-benar tidak tau tatakrama. Datang ke negara orang, lalu berusaha untuk menjajah. Singkirkan tangan mu atau akan aku patahkan!" Dingin suara Tigor memberi teguran.
"Wah wah wah. Hebat sekali. Apa kau datang kemari untuk memberikan ceramah kepada kami?"
"Zacky. Jaga sikap mu! Biarkan orang itu masuk!" Tegur Tiger Lee yang tampak masih tenang-tenang saja.
Tidak menunggu jawaban, Tigor langsung menepis tangan Zacky dipundaknya. Ketika Zacky ingin kembali mencengkram pundak Tigor, Tigor segera memberikan sentilan ke arah telapak tangan Zacky.
Mendapat sentilan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk Tigor, Zacky segera mengibaskan tangannya yang terasa kesemutan.
"Kurang ajar! Aku menantang mu bertarung!" Bentak Zacky karena merasa tertantang oleh tindakan Tigor tadi.
Tigor tidak memperdulikan. Dia, Ameng dan Andra tetap melangkah ke arah tempat Tiger Lee duduk. Menarik kursi yang sudah tunggang langgang, lalu segera duduk.
Sambil duduk, Tigor segera bertepuk tangan, lalu sedikit berteriak. "Bawakan anggur termahal. Aku ingin minum bersama dengan tamu yang tak tau diri ini!"
Belum hilang gema suara Tigor, kini dari ruangan lain, keluar tiga orang gadis dengan masing-masing di tangan mereka membawa satu botol anggur dan satu gelas kaca kristal.
Kini, di atas meja tersebut sudah ada tiga gelas dan tiga botol anggur.
"Hahaha. Aku tidak menduga bahwa ada ruangan rahasia di pusat hiburan ini. Bagus. Ini sungguh sangat menarik!" Puji Tiger Lee bersungguh-sungguh.
"Kita belum berkenalan. Apakah anda salah satu orang penting yang berdiri di pihak Joe William?" Tanya Tiger Lee lagi sambil mengulurkan tangannya.
Tigor menyambut uluran tangan tersebut, lalu menyebutkan namanya. "Namaku adalah Tigor Habonaran!"
Mendengar ini, Zacky yang baru saja ingin duduk segera menyela. "Oh. Ternyata anda adalah Tuan Tigor Habonaran yang selalu disebut-sebut oleh Marven. Tidak ku sangka anda datang mengantar nyawa kemari! Baiklah. Kami tidak akan susah-susah lagi untuk memburu anda. Asal anda tau. Marven adalah rekan bisnis kami. Musuhnya, adalah musuh Arold Holding Company!"
"Apakah seperti itu? Apa kau mampu? Atau, kau hanya mengandalkan jumlah orang-orang mu yang ramai itu?" Tanya Tigor masih tetap tenang. Dia lalu membuka sebotol anggur, menuangkan ke dalam gelas bening yang sudah terletak di atas meja. Lalu, tanpa mempersilahkan, dia langsung menenggak isi dari gelas tadi hingga kandas.
"Wah. Nafsu minum anda besar juga, Tuan Tigor. Tapi, jangan panggil aku Tiger Lee jika tidak bisa menandingi anda!" Kata Tiger Lee yang langsung menuang segelas anggur kemudian meminumnya hingga kandas pula.
"Hmmm. Ini anggur baik. Benar-benar anggur baik!" Pujinya sekali lagi.
"Anggur ini lebih mahal dari perabotan yang anda rusakkan itu! Bagi ku, ini belum seberapa. Mari lanjut minum lagi!" Ajak Tigor. Kali ini dia menuangkan untuknya, sekaligus untuk Tiger Lee.
"Bersulang!" Ajak Tigor.
"Bersulang!" Balas Tiger Lee yang langsung mengangkat gelasnya.
Ting!
Glek glek glek..! Terdengar suara tegukan anggur tadi melewati tenggorokan mereka berdua.
"Aku suka dengan ketenangan yang anda miliki, Tuan Tigor. Jelas-jelas saat ini anda berada dalam pengepungan anak buah ku dan anak buah Marven. Tapi, jelas terlihat bahwa anda tidak merasakan ketakutan!" Kata Tiger Lee berbasa-basi.
"Hahaha. Apakah aku harus merasa sungkan kepada pendatang?"
"Baiklah! Aku sudah terlalu muak dengan basa-basi ini. Sekarang aku ingin bertanya. Apa maksud anda dengan semua yang anda lakukan ini, Tuan Tiger Lee?!"
"Apakah jawaban itu diajarkan oleh majikan anda, Tuan Tiger Lee?" Cibir Tigor dengan senyuman samar.
Merah padam juga wajah Tiger Lee dan Zacky mendengar pertanyaan dari Tigor ini. Namun, Tiger Lee tetap tenang dan memaksakan untuk tersenyum.
"Baiklah. Saya akan jujur kepada anda. Majikan kami menegaskan bahwa dia tidak ingin ada dua raja dalam satu kerajaan. Mungkin anda faham maksud saya,"
"Lalu, apakah anda ingin mengambil alih pusat hiburan yang didirikan secara legal dan memiliki badan hukum ini? Jika anda ingin melakukannya, maka anda akan berhadapan dengan undang-undang di negara ini. Perusahaan anda tidak akan mampu melawan republik Indonesia ini jika sudah bersangkutan dengan hukum!" Tetap tenang namun menghanyutkan pertanyaan dari Tigor tadi.
"Hahaha. Aku sudah menduga jauh-jauh hari bahwa pertanyaan ini akan anda utarakan. Baiklah. Kami memang tidak ingin mengambil alih perusahaan pusat hiburan anda ini. Tapi, sebagai pengusaha di kota ini, kami ingin agar anda membayar pajak keamanan kepada kami setiap bulannya. Mau tidak mau, harus mau!"
"Itu tidak berada dalam kuasa ku. Bagaimanapun, Joe William adalah pemegang keputusan akhir," kata Tigor pula.
"Tuan Tiger Lee. Jangan dengar omongannya! Bila perlu, bunuh saja bangsat itu, lalu bakar semua milik Tower Sole propier yang ada di kota Tasik Putri ini! Untuk apa anda membuang waktu dengan melakukan negosiasi seperti ibu-ibu menawar harga minyak goreng?!" tiba-tiba, satu suara menegur dari arah pintu masuk.
Semua orang kini menatap ke arah datangnya suara tadi. Dan, ternyata Irfan adalah pemilik suara tersebut.
"Membunuh adalah perkara mudah bagi kami. Akan tetapi, apa yang bisa aku dapatkan jika aku membunuh ketiga orang ini?" Tanya Tiger Lee.
.
"Tuan. Mengapa begitu berbelit-belit. Bukankah kau sudah ditugaskan untuk menumpas komplotan mereka? Sekarang, ketuanya sendiri yang datang. Apakah kau merasa bahwa dengan menaklukkan satu pusat hiburan, itu sudah cukup? Samasekali itu tidak cukup, Tuan!" Kata Irfan sengaja untuk memanasi.
"Oh. Irfan. Lama tak bersua. Sudah lepas menyusu kau rupanya. Dari dulu, sampai sekarang kau hanya pandai berkicau. Kemana kau selama dua puluh tahun ini hah? Kau itu adalah pecundang yang selalu bersembunyi dibalik bayang-bayang orang lain. Kalau aku, sudah ku potong barang antik ku, lalu lempar kepada anjing biar jadi santapan. Jadi lelaki juga tak berguna. Mati lebih baik!" Kata Tigor yang langsung berdiri.
"Aku tidak akan berbasa-basi lagi. Kedatangan ku ke sini untuk meminta gadis penjaga bar itu. Atau, keadaan akan semakin rumit!" Kata Tigor yang hampir habis kesabarannya.
"Kau...!"
"Diam kau Irfan. Seorang pecundang dilarang terlalu banyak omong!" Potong Tigor yang membuat Irfan gelagapan.
"Apakah anda menantang saya, Tuan Tigor?" Tanya Tiger Lee tersenyum kecut.
"Kesempatan itu akan datang. Bahkan sangat terbuka. Tapi, tidak sekarang, Tuan Tiger Lee. Masih banyak pekerjaan yang bisa kita lakukan sebelum hari itu tiba. Sekarang, katakan apa maksud anda menyerang kawasan milik Tower Sole propier? Dan, apa yang anda inginkan?" Tanya Tigor lagi menegaskan.
"Keinginan kami sudah final. Anda harus membayar uang keamanan kepada kami, terhitung dari tanggal 1 bulan depan. Jika tidak, maka hal yang lebih parah akan melanda seluruh properti milik Tower Sole propier! Tadinya aku mengira akan ada peperangan besar seperti yang selalu mereka katakan bahwa, Joe William ini sangat kuat dengan Dragon Empire yang dia miliki. Tapi, kenyataannya sungguh bertolak belakang. Lemah seperti kerupuk yang masuk angin." Kali ini Zacky pula yang menegaskan keinginan mereka.
"Lemah kata mu? Hahahaha. Semoga saja kelak, kau tidak terkejut!" Kata Tigor dalam hati.
"Baiklah. Kita akan bertemu lagi tanggal 1 bulan depan. Sekarang, aku menginginkan gadis itu untuk pulang bersama ku!" Kata Tigor menunjuk ke arah Rachel.
"Itu di luar kesepakatan!" Elak Zacky yang sudah terujung dengan gadis cantik tersebut.
"Bagiku, itu berada di dalam kesepakatan!" Balas Tigor ngotot.
"Ayo kita bunuh saja mereka! Serang!!!" Bentak Irfan memang sangat ingin membunuh Tigor.
"Heeei. Tetap di tempat kalian!"
"Baiklah, Tuan Tigor. Anda boleh kembali bersama dengan gadis itu. Ingat untuk membayar uang keamanan tanggal 1 nanti!" Kata Tiger Lee. Dia langsung berdiri, menyambar sebotol anggur, lalu keluar meninggalkan ruangan itu.
"Mari R1! Kita pulang!" Ajak Tigor yang langsung diikuti oleh Rachel dan ketiga gadis lainnya. Sedikitpun dia tidak memperdulikan tatapan geram dari Irfan dan Zacky yang saat ini sedang berada dalam keadaan tegangan tinggi.
Bersambung...