Joe William

Joe William
Namora akan punya adik lagi



Bonus bab.


Pagi-pagi sekali, satu unit mobil super sport Lykan hypersport berhenti di salah satu rumah berdinding papan di perkampungan pinggir laut Kuala Nipah.


Dari dalam mobil tersebut, keluar lah seorang pemuda yang ketampanannya mampu menggetarkan tubuh orang yang sedang kedinginan.


Begitu keluar dari dalam mobil, dia segera berjalan melenggak-lenggok bagaikan seorang peraga busana tiruan lalu dengan lagak tengilnya, pemuda itupun segera mengetuk pintu.


"Sampurasun...," Katanya dengan sekuat tenaga menahan tawa.


Di dalam, terlihat sepasang pasangan paruh baya saling pandang. Mereka merasa heran dengan orang yang berada di luar.


Dalam keadaan keheranan tersebut, sang istri pun segera bertanya kepada suaminya. "Pak. Ada tamu tuh. Tapi bahasa apa yang dia gunakan itu?"


"Entahlah Bu. Mungkin dia orang luar negri! Paling tidaknya dari Spanyol lah!" Jawab sang suami sekenanya.


"Mengapa tidak kita lihat saja ke depan pak?"


"Husy! Jangan sembarang. Siapa tau dia orang jahat. Kau tau kan kejadian dua hari yang lalu? Apa yang telah terjadi di Kuala Nipah ini?" Tanya sang suami memperingatkan sang istri.


Dalam keragu-raguan itu, dari arah kamar kini keluarlah seorang wanita muda yang terlihat sangat cantik dengan mengenakan gaun berwarna merah jambu.


Melihat ke arah orang tuanya yang terlihat seperti sedang berbisik-bisik, gadis itu pun segera menghampiri.


"Ayah.., Ibu. Ada apa?" Tanya sang gadis.


"Heh, Tiara! Pagi-pagi begini kau sudah berdandan? Apa kau kesambat hantu laut?" Tanya sang ibu sambil memandangi putrinya yang sudah berpenampilan bak putri seorang raja yang baru lengser dari tahta.


"Bu.., hari ini Joe akan menjemput ku. Katanya, di kota Kemuning akan diadakan acara syukuran," jawab gadis itu polos.


"Cukuran? Siapa yang akan di cukur?" Tanya sang Ayah.


"Hahaha. Syukuran. Bukan cukuran!" Jawab sang gadis yang langsung pecah tawanya.


"Oh. Siapa yang punya hajatan?" Tanya sang ayah.


"Kabarnya, Paman Rio, adiknya paman Tigor telah sukses membongkar sindikat narkoba di negara ini, lalu membekuk mereka. Konon katanya, Paman Rio akan segera naik pangkat! Dia juga berhasil memburu Marven yang melarikan diri, dan menjebloskannya ke dalam penjara!"


"Hmmm. Lalu, apa hubungannya dengan dengan pintu rumah kita diketuk oleh orang Spanyol itu?" Tanya sang ibu pula.


"Di ketuk? Emang ada yang mengetuk pintu?" Tanya Tiara.


"Kau lihat saja sendiri. Bahasanya sulit dimengerti," kata sang Ayah pula.


Tok tok tok..!


"Sampurasun..!" Kembali terdengar suara ketukan di luar.


"Nah. Itu dia!" Kata sang ayah sambil menunjuk ke arah pintu.


"Itu adalah Joe, Ayaaaah. Bukan orang Spanyol!" Kata Tiara pula yang langsung berjalan menuju ke arah pintu.


Begitu pintu di buka, benar saja. Seorang pemuda terlihat berdiri di depan pintu sambil cengengesan.


"Hai Pak.., hi Bu. Selamat pagi," kata Joe sedikit membungkukkan badannya.


"Ayo masuk!" Ajak Tiara yang langsung menyambar lengan pemuda yang ketampanannya tidak ketulungan tersebut.


"Ternyata itu kamu Joe. Maaf, tadi paman pikir siapa. Silahkan duduk!" Kata pak Madun mempersilahkan.


"Terimakasih pak. Oh ya pak.., kedatangan saya kemari untuk menjemput bapak sekeluarga untuk menghadiri acara di Martins Hotel kota Kemuning," kata Joe menyampaikan maksud kedatangannya.


"Hehehe. Begini nak. Kalian saja lah yang pergi. Biar Tiara yang mewakili kami. Bapak dan Ibu tidak biasa berada di acara mewah seperti itu. Kami ini hanya orang kampung. Takutnya nanti nak Joe merasa malu," kata Pak Madun sambil menepuk pundak pemuda itu.


"Benar nak Joe. Biarkan saja Tiara yang mewakili kami. Kami tidak biasa berada di dalam sebuah acara yang mewah. Di hotel pula. Jangankan untuk memasuki Hotel. Duduk di lobby nya saja kami tidak pernah," kata sang ibu pula menguatkan perkataan dari pak Madun tadi.


"Benar tidak apa-apa Pak.., Bu?" Tanya Joe merasa tidak enak.


"Baiklah Pak.., Bu. Jika begitu, kami berangkat dulu!" Kata Joe, lalu dia menyalami dan mencium tangan kedua orang tua kekasihnya tersebut.


"Ayo sayang! Kita harus berangkat segera. Karena, sore ini, acaranya sudah di mulai!" Kata Joe sambil membukakan pintu mobil untuk kekasihnya itu.


Setelah melambaikan tangan kepada kedua orang tua Tiara, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Joe pun melesat dengan kecepatan tinggi menuju ke tanjung karang sebelum nantinya berputar ke kota Kemuning.


*********


...Martins Hotel....


Acara yang diadakan di Hotel bintang lima di kota Kemuning itu terlihat sangat meriah.


Terlebih lagi, saat tiga unit Helikopter mendarat di bagian Rooftop hotel. Dari helikopter yang mendarat itu, keluar lah seorang lelaki paruh baya mengenakan blazer putih yang masih menyisakan ketampanannya, dengan didampingi oleh wanita paruh baya yang terlihat sangat anggun.


Begitu sepasang pasangan paruh baya itu menginjakkan kakinya di lantai Rooftop hotel itu, kini kesemua orang yang berada di tempat itu serentak menundukkan kepala mereka sembari berucap, "selamat datang Tuan besar!"


Lelaki yang baru saja turun dari helikopter tadi segera mengangkat tangannya, dan mempersilahkan semuanya untuk kembali menegakkan tubuh mereka.


"Terimakasih Tuan besar. Semoga anda panjang umur!" Kata mereka serentak.


Lelaki paruh baya tadi berjalan sambil menggandeng tangan sang istri. Di samping kanan kirinya terlihat Ivan Patrik bersama dengan istrinya. Sedangkan di kiri, ada Kenny William yang juga bersama dengan istrinya. Sementara itu belakangnya, berjalan empat orang lelaki bersama dengan pasangan mereka masing-masing.


Terlihat juga di sana ada Tuan Gerrard Gordon bersama dengan istri, juga ada David dan Kevin. Ada juga Arslan bersama dengan Lisa, dan ada juga Herey bersama dengan Joanna.


Begitu rombongan itu melewati salah satu dari sekian banyaknya orang yang berdiri, tiba-tiba lelaki paruh baya yang dipanggil dengan sebutan Tuan besar itu pun berhenti. Kini dia menoleh ke arah salah satu dari lelaki tadi, kemudian menghampiri.


"Tuan Tigor. Mengapa anda berdiri di sini? Apakah anda merasa tidak layak untuk duduk sama rendah dengan ku?" Tanya lelaki berpakaian blazer putih tadi.


"Oh. Maafkan saya Tuan besar Jerry William. Bagi saya sama saja. Saya adalah bawahan Anda. Jangan terlalu sopan!" Kata Tigor.


"Sudahlah Tuan. Jangan berdiri di situ. Mari masuk ke dalam rombongan ini!" Ajak lelaki yang mengenakan blazer putih tadi. Ternyata dia adalah Jerry William, ayah dari Joe William.


Tigor terlihat salah tingkah. Tapi, dia akhirnya melangkah juga ke barisan rombongan itu sambil menggandeng tangan Mirna.


Kini, rombongan itu telah tiba di tempat pusat acara. Di mana di sana terlihat sangat mewah sekali dengan meja-meja yang di buat dan dirancang menggunakan giok hijau. Kursi-kursi yang berkilau laksana emas.


Ruangan itu tampak dirancang sedemikian rupa. Sehingga, lantainya pun terbuat dari kaca tebal, dengan air mengalir berada di bawahnya.


Semua orang takjub melihat ruangan itu. Mereka merasa seperti berjalan mengambang di atas air. Mereka semakin takjub ketika sesekali terlihat ikan-ikan berenang tepat di bawah kaki mereka.


"Wah wah wah..!" Kata mereka berdecak kagum.


"Tuan Tigor. Selera seni anda cukup tinggi!" Puji Jerry William kepada Tigor.


"Saya tidak akan berbohong, Tuan besar. Ini semua bukan saya yang merancang. Melainkan, semua ini adalah pekerjaan dari istri saya!" Kata Tigor sambil tersenyum manis menatap ke arah istrinya.


Clara, sang Istri tercinta dari Jerry William dan Ibu oleh Joe William pun sampai berdecak kagum. Dia lalu mendekat ke arah Mirna sambil berbisik. "Wajah mu terlihat lain. Kau pasti tidak sedang sendirian!" Bisik nyonya besar itu ke telinga Tiara. Tapi, jelas Jerry dan Tigor dapat mendengar bisikan Clara tadi.


"Apa maksudmu Istriku?" Tanya Jerry lembut.


"Nyonya Tigor memiliki selera yang tinggi. Mungkin itu adalah bawaan dari benih yang dia kandung. Semoga saja anak itu perempuan!" Kata Clara yang langsung membuat heboh seisi ruangan.


"Sayang. Ka.., ka.., kau?!"


Mirna tersenyum melihat ke arah suaminya. "Aku tidak akan merahasiakannya lagi. Ini adalah kejutan untuk suami ku. Bahwa, saat ini aku sedang hamil tiga bulan!" Jawab Mirna.


"Apa? Hahaha. Seharusnya kita jadi kakek dan nenek. Ini.., seperti kita akan punya momongan lagi. Doa Namora terkabul! Hahaha... Tuan besar. Aku akan punya anak lagi!" Kata Tigor seperti orang yang lupa diri.


"Jangan sampai Joe tau. Jika dia tau, bisa naas nasib kami!" Kata Jerry becanda.


"Bang. Ternyata masih hebat juga senjata warisan nenek moyang mu. Hebat kau bang!" Puji Ucok sambil mengacungkan jempolnya.


"Setan kalian! Jangan menggoda ku!" Merah padam wajah Tigor menahan malu. Karena, di sana saat ini sedang berada orang-orang besar yang memiliki kedudukan tidak rendah. Siapalah dirinya jika dibandingkan dengan orang-orang itu.


Bersambung...