Joe William

Joe William
Joe berpenampilan cupu



Motor Yamaha R1 yang dikendarai oleh Namora dan Joe akhirnya tiba juga di rumah dinas milik AKBP Rio Habonaran.


Setelah memberikan salam, kedua pemuda itu pun dipersilahkan masuk oleh seorang wanita paruh baya.


"Inang Uda. Apakah Bapa Uda bertugas hari ini?" Tanya Namora kepada wanita paruh baya tersebut.


(Bapa Uda adalah adik laki-laki dari Ayah dalam bahasa Batak. Sedangkan Inang Uda, adalah Istri dari Bapa Uda)


"Bapa Uda mu ada di dalam. Kalian masuk lah dulu! Ajak juga teman mu itu!" Suruh wanita paruh baya itu yang tidak mengenali Joe walaupun mereka pernah dulu bertemu sekali ketika merayakan hari kebebasan Tigor di Martins Hotel.


"Salam untuk anda, Bibi!" Kata Joe sambil memberi hormat.


"Silahkan, Nak! Anggap saja rumah sendiri!"


Joe dan Namora lalu memasuki rumah dua lantai tersebut lalu berjalan ke arah ruang belakang di mana di sana telah duduk seorang lelaki yang kira-kira lebih muda sepuluh tahun dari Ayahnya Namora Habonaran. Dia lah Rio Habonaran.


"Hallo, Paman Rio! Kita bertemu lagi!" Kata Joe sembari menyalami lelaki itu.


"Hahaha. Silahkan duduk, Joe! Kau tentu sangat kelelahan,"


"Hehehe. Tidak juga, Paman," jawab Joe sambil nyengir.


"Lagian. Kau ini sungguh aneh sekali. Untuk apa kau berlagak seperti gelandangan?"


"Aku pusing, Paman. Sekalian ingin melihat-lihat keadaan di kota ini. Ternyata, di sepanjang jalan, terlalu banyak perubahan yang terjadi,"


"Semuanya memang tidak ada yang kekal, Joe! Harus ada perubahan."


Oh ya?! Kemana tujuan mu setelah ini? Jangan katakan bahwa kau ingin selamanya menjadi gelandangan lagi!"


"Tidak, Paman. Aku berencana untuk melanjutkan pendidikan ku yang tertunda di kota Batu ini," jawab Joe bersungguh-sungguh.


"Bagus lah. Aku mungkin akan membutuhkan dirimu kelak. Dan kau juga pasti akan membutuhkan ku,"


"Maksud, Paman?" Tanya Joe yang tidak mengerti.


"Saat ini, pihak kepolisian dari beberapa negara mulai kelabakan mengatasi para sindikat pengedar narkoba yang mulai merajalela. Semuanya bermula dari Hongkong, Macau, Taiwan bahkan telah merambah ke daratan China. Jepang juga telah dimasuki oleh para penyelundup ini.


Saat ini, Indonesia tinggal menunggu waktu saja untuk menghadapi invasi besar-besaran. Kuncinya adalah Thailand, semenanjung Malaysia dan Singapura. Jika tiga negara itu berhasil disusupi oleh para sindikat ini, maka Indonesia tinggal menunggu waktu saja!" Kata Rio menjelaskan. Ada riak kekhawatiran di raut wajahnya.


"Hongkong?! Aku dapat menebak siapa pelakunya. Namun, ini hanyalah tebakan saja. Bagaimanapun, aku akan terlebih dahulu menghubungi orang-orang ku di sana untuk menyelidiki dari mana barang haram tersebut terlarang ini bersumber," kata Joe.


"Itulah maksud dari yang aku katakan kepadamu tadi, Joe! Aku membutuhkan dirimu dan kau membutuhkan diriku."


"Paman adalah seorang anggota kepolisian yang memiliki pangkat yang tinggi. Kalian juga memiliki segala macam kemudahan dan fasilitas. Negara mendukung kalian. Tapi, mengapa Paman mengatakan bahwa Paman membutuhkan ku?" Tanya Joe tidak mengerti.


"Semuanya akan terjawab. Saat ini, kita hanya bisa berspekulasi. Tidak baik mendahului sesuatu yang kita sendiri pun tidak mengetahuinya dengan pasti."


"Baiklah, Paman. Aku memiliki segala yang anda butuhkan. Tapi satu hal yang harus aku tegaskan kepada Paman. Jika Dragon Empire dan Tiger Syam ku yang bergerak, tidak ada kata tangkap. Semuanya adalah hukum rimba. Menang, atau tergilas!"


"Aku mengerti. Saat ini, kau fokus saja terlebih dahulu ke pendidikan mu!"


"Siap, Paman!" Kata Joe bersemangat.


*********


Senin pagi.


Sedemikian rupa Joe berusaha menyembunyikan identitasnya.


Agar tidak terlalu mencolok, dia kini berpenampilan layaknya seperti seorang yang sangat kampungan.


Kacamata, tebal. Rambut sisir belah pinggir. Baju dimasukkan ke dalam dan celana di tarik sampai ke atas pinggang. Benar-benar penampilan mahasiswa yang sangat lucu. Bahkan, mahasiswa tahun 60-an pun tidak separah penampilan Joe ini.


Sambil cengar-cengir menatap dirinya di cermin kaca, Joe pun akhirnya keluar dari kamar tumpangannya di rumah dinas milik Rio.


Rio dan istrinya serta Namora hampir saja tersedak melihat penampilan Joe ini.


Sambil geleng-geleng kepala, Rio pun akhirnya bergumam. "Entah ulah apa lagi yang akan ditimbulkan oleh Joe ini," katanya.


"Hahaha. Tenang saja Paman. Aku berusaha untuk melepaskan bayang-bayang Joe William yang sangat berkuasa. Jika ada yang tau bahwa Joe William sedang melanjutkan studinya di kota Batu ini, maka seluruh jajaran Tower Sole propier akan gempar. Mana enak di kawal kemanapun aku pergi. Lagi pula, aku lebih suka memberi kejutan daripada terkejut. Hahahaha," kata Joe terpingkal-pingkal sendiri dengan ucapannya tadi.


"Paman. Perasaan ku jadi tidak enak," kata Namora.


Rio lalu mengernyitkan dahinya ketika mendengar ucapan dari Namora ini. Sorot matanya jelas ingin meminta penjelasan dari keponakannya itu.


"Joe ini adalah orang yang tidak suka di ganggu. Di Globe's University saja, dia membuat keluarga terkaya di kota itu bangkrut hanya dalam waktu lima menit," kata Namora sambil menunjukkan lima jarinya kepada Rio.


"Oh ya?!"


"Beneran, Paman. Nama keluarga itu adalah Clifford. Hanya butuh waktu lima menit saja keluarga itu selesai. Dan yang paling sadisnya, dia segera mengajak ku kabur setelah itu," kata Namora mengadukan.


"Joe. Jika kau tidak suka di ganggu, maka jangan berpenampilan seperti itu! Nanti entah siapa lagi yang kau buat bangkrut," tegur Rio kepada atasan abangnya itu.


"Paman tenang saja. Ini adalah bagian dari rencana. Ada delapan belas bulan lagi, Paman!"


"Apa maksud dari delapan belas bulan mu itu?" Tanya Rio.


"Paman ingin tau kan kapan invasi dari Hongkong itu? Tebakan ku, delapan belas bulan lagi,"


"Tunggu tunggu tunggu..! Delapan belas bulan lagi? Apakah itu..?"


"Marven!" Jawab Joe memotong perkataan dari Rio.


"Hmmm. Paman tau sekarang. Baiklah! Asalkan, kau jangan membuat ulah!"


"Oh ya Joe. Apakah kau akan tinggal di sini?" Tanya Rio.


"Tidak, Paman. Aku akan menyewa rumah, atau kondominium, atau apalah. Tinggal di bawah jembatan juga aku bisa," jawab Joe sambil menoel hidungnya.


"Joe. Jika di bawah jembatan, aku mohon kepada mu untuk tidak mengajak ku!" Kata Namora yang mendadak mulas di perutnya.


"Hahaha. Kau takut? Malang bagimu karena aku tidak!" Ujar Joe sengaja menakut-nakuti Namora.


Wajah Namora benar-benar jelek saat ini. Persis seperti wajah orang yang ingin buang air besar sekaligus kecil.


"Aku tau kau sangat terkenal di sini. Makanya aku menginginkan agar kau berpura-pura tidak mengenaliku. Tepatnya, kita berpura-pura tidak saling kenal. Apapun yang terjadi kepada ku, kau jangan ikut campur apa lagi membela. Ok?!" Kata Joe sambil tersenyum jahat.


"Baiklah, Ketua!" Jawab Namora sambil membungkuk hormat.


"Kata-kata sialan itu lagi!" Kata Joe sembari menyalami tangan Rio kemudian berpamitan untuk berangkat ke kampus barunya.


Bersambung...