Joe William

Joe William
Kejutan dari Tiara



Malam itu, dengan diterangi cahaya rembulan yang menggantung bagaikan bola emas di angkasa, sepasang muda-mudi itu pun saling bercerita mengenai masa lalu masing-masing.


Kebetulan kedua muda-mudi ini juga sama-sama tidak memiliki pengalaman menarik dalam kehidupan masa lalu mereka, kemungkinan hal ini lah yang membuat mereka berdua sedikit nyambung dalam obrolan yang entah sudah memakan waktu beberapa jam itu.


"Tiara. Apakah Ibu mu nanti tidak mencari mu? Pulanglah. Nanti kau dimarahi oleh Bibi." Kata Joe memperingatkan.


"Aku sudah permisi tadi kepada Ibuku. Lagi pula kan tidak terlalu jauh dari rumah. Ibuku pasti dapat melihat kalau kita sedang duduk di sini dari pintu rumah." Kata Tiara pula.


"Kau Joe. Apakah kau tidak akan dicari oleh maha guru nanti?" Kata Tiara balik bertanya.


"Sama seperti mu. Aku juga sudah pamit tadi. Lagi pula tidak terlalu jauh dari depan rumah. Lihat itu kakek ku duduk di depan teras sambil makan sirih." Kata Joe sambil menoleh ke arah kanan.


Memang saat itu Tengku Mahmud sedang duduk di beranda depan dengan diterangi lampu teplok. Lelaki tua itu tampak sedang asyik mengunyah sirihnya yang entah sudah ke berapa kali.


"Joe. Andai nanti kau kembali ke negara asal mu, apakah kau akan merindukan kampung Kuala Nipah ini?" Tanya Tiara.


Dia sengaja bertanya seperti itu sekedar ingin mengetahui tentang perasaan hati Joe terhadap kampung Kuala Nipah yang hampir tiga tahun ini ditempatinya.


"Pasti lah aku akan merindukan kampung Kuala Nipah ini. Bagaimanapun, aku memiliki banyak kenangan di kampung ini. Walaupun aku tidak terlahir di sini, namun aku juga merasa bahwa diriku adalah bagian dari kampung ini. Mungkin kelak aku akan sering berkunjung kemari." Kata Joe sambil mengambil sebutir kerikil lalu melemparkannya ke laut yang berombak itu.


"Apakah kau juga akan merindukan ku?" Tanya Tiara.


Sejenak dia tersadar dari pertanyaan bodoh yang baru saja terlontar dari bibirnya itu lalu cepat-cepat membuang wajah ke samping.


Joe tau bahwa Tiara kini sedang salah tingkah dan malu. Untuk mencairkan kembali suasana, maka dia cepat-cepat menjawab. "Ada dua alasan mengapa aku bertahan di kampung ini. Yang pertama adalah aku sedang berguru dengan kakek Tengku Mahmud. Yang kedua karena dirimu." Jawab Joe membuat wajah Tiara menjadi bersemu merah.


Andai tidak karena saat itu sedang malam hari, sudah pasti tampak jelas wajah gadis itu seperti udang yang di panggang.


Tiara yang sudah mulai berbunga-bunga semakin menundukkan wajahnya.


Dia sama sekali tidak sanggup membalas tatapan mata Joe yang memandangi dirinya dengan senyum yang sangat manis.


"Tiara!"


"Hmmm.."


"Mengapa kau hanya tertunduk seperti itu?"


"Ah tidak apa-apa. Aku hanya penasaran. Seberapa sih jumlah pasir di pantai ini." Kata Tiara yang kembali mengeluarkan perkataan bodohnya.


Dia tau itu bukanlah jawaban dari pertanyaan Joe tadi. Tapi apa boleh buat. Jawaban itu sudah terlanjur. Mana mungkin bisa di tarik lagi.


Joe juga merasakan jawaban itu adalah ekspresi mendadak dari seorang gadis yang sedang dirasuki perasaan malu.


Saat ini Joe menggenggam jemari lembut gadis itu lalu berkata. "Tiara. Andai nanti aku berada di salah satu puncak yang tinggi. Kemudian aku mengajak mu untuk naik dan mendampingi ku. Apakah kau mau?" Tanya Joe sambil terus menggenggam tangan gadis itu.


Mendengar pertanyaan ini, Tiara mau tak mau mengangkat kepalanya dan menatap wajah tampan pemuda yang ada di sampingnya itu.


"Apa maksudmu Joe?" Tanya Tiara yang tidak mengerti.


"Maksud ku begini Tiara. Dari beberapa kejadian yang aku alami beberapa hari ini, bahkan kau pun juga tau itu. Aku malah berfikir bahwa aku ini adalah anak orang kaya. Walaupun bukan anak orang kaya, setidaknya aku bisa membeli mobil dan membuat usaha sendiri seperti membuka kafe atau restoran."


"Jadi, pertanyaan ku adalah, setelah kau tau identitas ku, kemudian kau juga sudah melihat sendiri seperti apa orang sekelas Paman Tigor sangat menghormati ku, apakah kau mau menjadi teman hidup dan pingsan ku?" Tanya Joe.


"Teman hidup dan mati lah Joe." Kata Tiara membenarkan ucapan pemuda itu.


"Jangan mati dulu. Kita belum menjalani kebahagiaan." Kata Joe sambil merangkul gadis itu.


"Apa kau yakin Joe? Kita masih sangat muda. Aku khawatir saat ini kita berfikir dengan labil. Hal itu biasa karena kita sama-sama belum dewasa. Seiring berjalannya waktu, mungkin akan ada perubahan dari cara kita berfikir. Masih terlalu dini untuk menanyakan dan menyatakan hal-hal seperti itu." Kata Tiara.


"Hanya saja, kelak jika kita berpisah, jangan ucapkan selamat tinggal kepada ku. Jangan juga melupakan aku. Bawa aku di dalam hati mu." Kata Tiara sambil membalas genggaman tangan Joe di tangan nya.


"Apaan sih. Hahaha." Kata Tiara lalu bangkit berdiri.


"Joe. Kau tunggu di sini ya. Jangan pergi! Aku pasti akan datang sebentar lagi." Kata Tiara lalu bergegas melangkah meninggalkan pemuda itu duduk sendirian di pantai.


Hampir lima belas menit, gadis itu datang kembali dengan membawa sesuatu di tangannya.


"Joe. Tinggal menunggu beberapa menit lagi kau akan ulang tahun. Aku akan menemanimu dan ingin menjadi orang yang pertama mengucapkan selamat ulangtahun kepada mu." Kata Tiara lalu memberikan kotak yang tidak begitu besar ke tangan Joe.


"Terimakasih Tiara. Kau adalah orang pertama dalam hidupku yang mengucapkan kata-kata ini. Tapi apa ini Tiara?" Tanya Joe heran sekaligus merasa terharu.


"Kau buka saja! Bagaimana bisa tau apa isinya jika tidak di buka." Kata Tiara lalu kembali duduk di samping pemuda itu.


Dengan tangan gemetar, Joe pun membuka kotak kecil itu.


Kini setelah kotak itu di buka, tampaklah bahwa isi dari kotak pemberian Tiara tadi adalah kue ulangtahun dalam ukuran mini.


Kini Tiara membantu Joe untuk meletakkan lilin di atas cake ulang tahun itu lalu mengeluarkan korek api dari saku bajunya.


"Kau nyalakan lilinnya Joe!" Kata Tiara sambil menyerahkan korek api ke tangan pemuda itu.


Setelah Joe menyalakan lilin yang dia pasang di atas kue ulangtahun nya itu, kini Tiara pun menyanyikan lagu selamat ulang tahun sambil bertepuk tangan.


Perasaan Joe saat ini benar-benar sangat terharu. Dia ingin menangis tapi itu tidak mungkin. Dia ingin berterimakasih. Tetapi ucapan terimakasih itu terlalu miskin untuk menggambarkan perasaannya saat ini.


Terakhir, dia hanya meletakkan kue ulangtahun itu di atas balok kayu dengan lilin belum di tiup. Kini dengan lembut dia merengkuh tubuh Tiara kemudian...,


Cup!


"Aw..."


Tampak Tiara terpekik begitu mendapat ciuman dari Joe. Walaupun hanya tipis, tapi itu adalah ciuman pertama dalam hidupnya. Tentunya bukan dari kedua orang tuanya.


"Maafkan aku Tiara. Aku tidak tau cara meluapkan ekspresi kebahagiaan ku. Sekali lagi maafkan aku." Kata Joe.


"Untung ini adalah hari ulangtahun mu. Jika tidak, nih!" Kata Taira sambil mengacungkan tinjunya membuat Joe tertawa.


"Ternyata kau galak juga." Kata Joe.


"Induk singa itu betina. Tapi coba usik. Pasti menggigit dan mencakar." Kata Tiara.


"Iya aku salah. Mohon dimaafkan." Kata Joe sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada seperti orang yang sedang memohon pengampunan.


"Sudah waktunya Joe. Ayo tiup lilinnya!" Kata Tiara.


"Oh iya. Aku akan berdoa dulu." Kata Joe lalu segera memanjatkan doa kepada Tuhan yang maha esa.


Kini bibir Joe sudah mulai termonyong-monyong untuk meniup lilin tersebut.


Baru saja dia akan meniup, tiba-tiba dari arah tengah laut tampak beberapa kapal menembakkan sinar lampunya ke arah pantai.


Kekagetan Joe juga tidak berhenti sampai di situ saja.


Kini dari arah jalan aspal juga tampak berjejer puluhan mobil sambil menyorotkan lampu nya.


Puluhan mobil itu tidak berhenti di pinggir tambak, melainkan langsung bablas ke pinggir pantai dan membuat lingkaran dimana Joe dan Tiara sedang duduk sehingga kini di pinggir pantai itu menjadi terang benderang dengan cahaya dari lampu mobil, lampu dari arah tengah laut dan juga lampu yang ada di tangan masing-masing pengendara mobil tadi.


BERSAMBUNG...