
Gadis berpakaian seksi bernama Lestari itu menundukkan kepalanya lalu berjalan ke arah meja dimana Joe sedang duduk.
Semua mata di ruangan itu nyaris tak berkedip melihat seorang pemuda dengan aura yang begitu mendominasi duduk dengan sebelah kakinya di atas meja.
"Siapa wanita yang sangat galak itu, Paman?" Tanya Joe kepada Roger.
"Ketua. Wanita itu adalah manager di sini. Dia adalah bawahan dari Bang Ameng," jawab Roger.
"Hmmm. Mood ku saat ini sedang tidak bagus. Kau pergi sebelum aku marah!" Kata Joe sambil mengibaskan tangannya.
Sang manager tidak langsung beranjak. Sebaliknya dia terlebih dahulu memandang ke arah Roger. Setelah Roger memberi tanda bahwa dirinya memang harus pergi, barulah wanita itu berlalu meninggalkan tempat itu.
Kini di meja yang memiliki empat kursi itu, Lestari telah disuruh duduk oleh Joe. Sedangkan Namora dan Roger hanya berdiri saja dibelakang pemuda tersebut.
"Kau, Lestari. Mengapa bisa sampai bekerja di sini?" Tanya Joe.
Lestari ini adalah sahabat Tiara sejak kecil. Lestari ini juga adalah salah satu gadis yang mendampingi Joe ketika itu untuk menghadiri pesta penyambutan kebebasan Tigor dari penjara bersama dengan Tiara.
"Ceritanya panjang, Joe. Jika punya pilihan, aku juga tidak mau bekerja di sini, dan merelakan tubuhku di jamah oleh orang lain," jawab sang gadis berpakaian seksi itu sambil menunduk.
"Setiap segala sesuatunya, pasti ada penyebab. Jika tidak bisa menjelaskan secara panjang lebar, kau bisa mempersingkat!"
Sebelum menjawab pertanyaan dari Joe, terdengar suara ******* nafas berat dari gadis itu. Namun, tidak selamanya dia hanya diam saja. Dia harus menjawab pertanyaan dari Joe ini. Karena, dia tau siapa pemuda yang duduk di seberang meja tempatnya duduk itu. Dan, seberkuasa apa pemuda itu.
"Ayah ku telah berutang di pusat hiburan gemerlap malam. Dia kalah dalam berjudi. Bahkan sampai tiga ratus juta rupiah. Aku terpaksa harus bekerja keras untuk membayar hutang ayahku tersebut. Orang-orang nya Irfan memberikan waktu selama sepuluh bulan. Jika tidak, maka rumah, dan seluruh isinya akan disita oleh mereka. Jika tidak mencukupi, maka aku juga akan ditarik ke pusat hiburan gemerlap malam untuk menjadi pelayan pemuas nafsu. Beruntung aku sempat berkenaan dengan Paman Ameng. Awalnya dia tidak mengizinkan aku bekerja di sini. Namun, setelah aku merengek, maka dia mengizinkan juga. Dan, aku sudah tiga bulan bekerja di sini," jawab Lestari apa adanya.
"Huhf...,"
Hembusan nafas berat dengan kuat dihempaskan oleh Joe. Baru saja beberapa bulan dia tidak di sini, namun perubahan di kota ini sudah sangat pesat.
"Sudah berapa juta rupiah yang kau bayar kepada orang-orang dari kota Kemuning ini?" Tanya Joe.
"Sudah enam puluh juta, Joe!" Jawab Lestari.
"Kau pulang saja! Besok aku akan datang ke rumah mu. Aku akan membantumu menyelesaikan tunggakan hutang keluarga mu!" Kata Joe sambil mengeluarkan ponselnya. Lalu, dia segera mengirim pesan kepada Ameng agar menyuruh orang-orangnya di pusat hiburan ini untuk mengantar Tiara kembali ke kampung Indra sakti.
Berjarak lima belas menit, tiga orang lelaki menghampiri meja tempat Joe tadi. Mereka membungkuk dihadapan pemuda itu kemudian menyampaikan maksudnya.
"Salam untuk anda, Ketua. Bang Ameng meminta kami untuk mengantar Nona Lestari. Mohon diizinkan!" Kata mereka dengan hormat.
"Pulanglah Lestari! Besok aku akan ke rumah mu. Jangan khawatir. Aku pasti akan membantumu," kata Joe sambil tersenyum seolah-olah senyuman itu memberikan nafas baru kepada Lestari.
*********
"Duduk lah Paman Roger dan kau Namora. Aku tidak betah seperti ini," kata Joe mempersilahkan Roger dan Namora agar duduk.
"Terimakasih, Ketua."
Tadinya kedua wanita itu hendak duduk menemani mereka minum. Namun, buru-buru dilarang oleh Joe. Karena kehadiran mereka tidak diinginkan, mereka pun akhirnya pergi meninggalkan ketiga orang tersebut.
"Ternyata sudah sejauh ini mereka melakukan bisnis mereka," kata Joe merujuk kepada bekas orang-orang geng kucing hitam yang dimotori oleh keluarga Miller.
"Benar, Ketua. Sebenarnya kami sudah membahas masalah ini, dan akan memberitahu semuanya kepada anda. Namun, atas beberapa pertimbangan dari Bang Tigor, maka kami mengurungkan niat kami untuk melaporkan semuanya. Ini karena, ketika itu anda baru saja masuk university. Jadi, kami tidak ingin pendidikan anda terganggu dengan kabar ini," kata Roger.
"Aku tidak menyalahkan siapapun dalam hal ini. Walau bagaimanapun, bisnis mereka adalah urusan mereka. Selagi tidak mengusik kita, biarkan saja mereka menjalankan bisnisnya. Hanya saja, jika mereka mengusik kita, maka sudah pasti aku akan melakukan tindak balas dua kali lipat dari yang mereka lakukan. Dan itu sangat sepadan."
"Lalu, apa rencana anda, Ketua?" Tanya Roger pula.
"Aku akan tetap di negara ini. Aku akan menunggu Honor di sini. Salah satu dari kami harus ada yang tewas. Jika tidak, permusuhan antara keluarga Miller dan William tidak akan pernah berakhir. Saat ini hanya ada dua orang saja penerus dari keluarga Miller ini. Yang satunya adalah Albern. Namun, Albern ini telah berada dalam pengawasan ku. Tinggal Honor Miller ini saja. Yang paling berambisi untuk menuntut balas terhadap kekalahan yang mereka derita di negara Abjad adalah Honor Miller ini. Yang bisa aku lakukan hanya menunggu. Aku tidak ingin memulai. Jika dijual, maka akan aku borong!" Kata Joe. Dia lalu menenggak isi gelasnya hingga tandas.
Karena tidak terbiasa meminum minuman yang mengandung Alkohol, maka wajahnya sungguh sangat merah ketika ini.
"Akkh. Minuman apa ini, Paman? Aku tidak suka," kata Joe sambil mendorong gelas anggur miliknya jauh-jauh.
Joe lalu mencoba mengatur pernafasannya. Dan dia merasakan sesuatu yang tidak biasa.
"Ini pasti tidak baik untuk kesehatan," pikirnya dalam hati.
"Jangan di minum Namora! Minuman ini tidak mendatangkan faedah kepada tubuh," kata Joe kepada Namora.
Namora mengangguk saja. Dia juga tau bahwa minuman mengandung Alkohol tidak baik untuk tubuh. Bahkan, dia juga tidak merokok. Sama seperti Tigor dan Rio yang juga tidak merokok.
"Ketua. Apakah anda sudah mabuk?" Tanya Roger.
Joe melambaikan tangannya. Dia lalu merogoh sebuah kotak kecil di dalam sakunya. Kotak tersebut sama besarnya dengan kotak earphone. Mengeluarkan sebutir pil sebesar isi kacang tanah lalu menelannya.
"Tidak ada Alkohol yang bisa membuat ku mabuk. Bahkan racun pun akan segera tawar dengan obat racikan ku ini," kata Joe lalu menyerahkan sebutir kepada Roger.
Roger menerima pemberian dari Joe lalu menelannya. Ajaib.., perasaan mabuk yang tadi dia rasakan berangsur hilang. Bahkan dia sanggup menghabiskan dua botol anggur sekaligus tanpa berhenti.
"Ini sih gila beneran!" Kata Roger dalam hati.
Untuk anggur tua yang sudah berusia lebih dari enam puluh tahun tersebut, menghabiskan satu botol saja sudah membuat puyeng. Apa lagi dua botol sekaligus. Dan ajaibnya, dia masih belum merasakan pusing. Ini benar-benar obat yang bagus.
"Ketua. Saya akan mengantar anda ke Tower Hotel. Jika anda ingin menginap, maka anda bisa menginap. Tower Hotel terletak tidak jauh dari Gang Kumuh ini. Dan itu adalah salah satu dari proyek milik anda yang telah selesai dan sudah beroperasi. Tuan Ryan, Riko dan Daniel yang meresmikan pengoperasian Hotel tersebut," kata Roger.
"Baiklah. Mari Paman!" Ajak Joe.
Mereka bertiga lalu berangkat meninggalkan lantai tiga pusat hiburan itu untuk segera menuju ke penginapan. Gagal sudah kegilaan Joe yang ingin mencoba menjadi gelandangan bersama dengan Namora.
Bersambung...