
"Joe..! Tunggu aku, Joe!" Teriak Sylash yang baru keluar dari toko tempat mereka belanja tadi. Terlihat dengan jelas bahwa dia sangat kepayahan membawa barang-barang belanjaannya.
Terhitung ada enam atau tujuh kantong plastik besar ditangan kiri dan kanannya.
Brugh!!!
Sylash yang tertatih-tatih itu akhirnya jatuh terduduk di lantai dan sialnya, dia terjatuh tepat di depan wanita pramuniaga yang tadi sempat menolak kedatangan mereka.
"Hehehe. Hi Nona. Apakah anda bisa menolong saya membawakan barang-barang saya ini. Jika anda bersedia, saya akan memberi Anda upah seratus USD!" Kata Sylash sambil cengengesan.
Wanita pramuniaga itu tidak kuasa menahan kejengkelan di hatinya. Dengan wajah yang berubah seperti jeruk purut busuk, dia pun langsung bangkit dan berjalan terburu-buru ke dalam toko yang dia jaga.
"Tye. Kau bantu dulu Sylash itu. Aku akan ke toilet sebentar. Sepertinya keran air ku bocor ini," kata Joe lalu segera berjalan menuju ke toilet di mana tiga orang manager yang terus mengamati dirinya kemudian langsung membuntuti.
"Tuan muda. Ini kartu anda!" Kata manager wanita sambil terbungkuk-bungkuk menyerahkan kartu tersebut ke tangan Joe.
"Ada banyak cctv di sini. Jaga tingkah laku kalian! Apakah kau telah berubah menjadi wanita jompo?" Tanya Joe yang terus melangkah sambil berpura-pura tidak mengenal manager wanita itu.
Terkejut dengan perkataan dari Joe tadi, wanita itu pun langsung berpura-pura membungkuk untuk memperbaiki sepatunya dan kembali berdiri lalu masuk ke dalam toilet.
Di dekat pintu, dia memberikan kartu yang diberikan oleh Joe tadi kepadanya sambil berkata, "maafkan saya Tuan muda. Ini kartu anda!" Manager wanita itu menyerahkan dua keping kartu Kredit dan kartu Diamond VIP member kepada Joe.
"Ingat! Katakan kepada kedua teman mu! Jaga bicara kalian tentang diriku dan anggap kita tidak pernah bertemu. Aku di sini dalam misi. Jika bocor, kalian tau sendiri akibatnya!" Ancam Joe memperingatkan.
"Anda tenang saja, Tuan muda. Kami tidak akan berani melanggar perkataan anda,"
"Hmmm. Baiklah. Terimakasih atas layanan kalian selama aku di sini. Aku merasa senang. Lain kali aku akan datang lagi," kata Joe sambil mengusap tangannya dengan tisu, lalu meninggalkan toilet tersebut.
Bangga benar hati manager wanita itu memungut tisu yang dibuang oleh Joe tadi. Dalam hatinya, semoga Joe melihat bahwa dirinya memungut tisu tersebut.
Joe tau akan hal itu. Namun dia tetap acuh. Baginya, dia sudah sangat sering bertemu dengan staf penjilat seperti itu.
***
"Mimpi apa aku tadi malam. Lihatlah barang-barang belanjaan ku. Semuanya adalah pakaian bermerek. Kau lihat ponsel ku ini, Tye! Sama seperti yang dipakai oleh Gubernur Quantum City ini," kata Sylash tersenyum senang.
"Mengerikan sekali kau ini, Sylash. Kau seperti orang yang baru turun gunung," kata Tye menegur sahabatnya itu.
"Tye.., bukan setiap tahun aku bisa seperti ini. Kau tau bahwa aku melanjutkan studi ku di sini atas beasiswa yang diberikan oleh Globe's University. Jika tidak, kemungkinan aku tidak akan melanjutkan kuliah ku. Seumur hidup, aku belum pernah memakai pakaian yang bermerek. Makanya itu, hari ini aku langsung mengambil apa saja yang bisa aku ambil. Beruntung sekali aku hari ini,"
"Kemana Joe pergi?" Tanya Tye. Dia malas mendengar celotehan dari Sylash yang tak berhenti layaknya seperti cerobong asap kereta api tersebut.
"Iya. Joe ini kemana menghilang? Mana perut ku sudah lapar. Semakin cepat kita tiba di rumah Ruby, kan semakin baik. Dengan begitu, kita bisa segera makan!" Kata Sylash lagi.
"Ah kau ini. Jangan memberi ku malu nanti di sana!" Sergah Tye yang merasa bahwa Sylash pasti akan membuat malu jika hal itu benar-benar terjadi.
"Hehehe. Maaf!" Kata Sylash sambil nyengir.
"Maaf membuat kalian lama menunggu. Apakah kita berangkat sekarang? Jika tidak, aku ingin mengajak kau dan Sylash makan dulu. Makan yang kenyang supaya nanti tidak membuat malu di sana!" Kata Joe sambil memandang ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan restoran.
"Kalau mau makan, jangan di sini Joe! Bunuh diri itu namanya," kata Tye ketakutan.
"Mengapa? Apakah makanan di sini mengandung racun?" Tanya Joe heran.
"Bukan begitu. Makanan di sini sangat mahal. Untuk kita bertiga ini, mungkin tidak akan kurang dari lima ratus atau bahkan seribu dolar. Aku mana punya uang segitu?!" Kata Tye.
"Barang-barang belanjaan kita tadi kan gratis. Mengapa tidak uang itu saja digunakan untuk membeli makanan di restoran itu?" Tanya Joe.
"Oh Joe. Tidak. Jangan kau tatap aku seperti itu. Uang yang tidak jadi aku gunakan untuk berbelanja tadi akan aku gunakan untuk membeli sabun dan perlengkapan lainnya. Maklum lah. Kuliah di sini dengan uang saku alakadarnya membuat aku harus berhemat cermat," kata Sylash membentuk gestur ketakutan.
"Ayo lah. Aku punya uang. Jika kau tidak mau, maka silahkan menjadi penonton! Aku lapar dan aku mau makan. Persetan dengan harga," kata Joe. Dia mengabaikan kedua sahabatnya itu dan langsung berjalan menuju ke restoran.
"Ayo lah. Dia pasti punya uang," kata Sylash. Tye pun mau tak mau terpaksa juga membuntutinya dari belakang.
Bersambung...