Joe William

Joe William
Nasehat dari alam lain



Awan gelap tampak menggantung di atas langit menutupi cahaya sang rembulan.


Sepertinya itu adalah pertanda bahwa hujan lebat akan turun.


Walaupun cuaca sangat mendung, namun tetap tidak dapat membuat padang luas tempat seorang pemuda yang sedang berdiri itu serta merta manjadi gelap.


Dengan keadaan linglung, sang pemuda memperhatikan dirinya, lalu dia memperhatikan keadaan disekelilingnya.


"Ada di mana aku ini?" Batin pemuda itu dalam hati.


Kemanapun dia memandang, seolah dia sedang berada di lautan pasir putih yang luas tanpa ada tepiannya.


"Joe. Apa kau sedang bersedih?"


Sayup-sayup Joe mendengar suara lelaki tua yang sangat dia kenal. Bahkan, sudah lama dia tidak mendengar suara itu.


"Cucu ku. Apakah kau sedang bersedih?" Tanya suara itu lagi.


"Kakek Uyut. Kakek Uyut Malik. Di mana kakek?" Tanya Joe sambil memutar-mutar tubuhnya untuk mencari dari mana sumber suara tadi. Namun itu sia-sia saja. Dia tidak menemukan apa yang dia cari.


"Kau belum menjawab pertanyaan ku. Apa kau sedang bersedih?"


"Kakek Uyut. Iya. Joe sedang bersedih," jawab pemuda itu dengan manja antara keluhan atau rengekan.


Terdengar jelas di telinga pemuda itu suara hembusan nafas berat yang dilepaskan dengan berat pula.


"Apa kau ingin membuat aku merasa gagal dalam mendidik mu menjadi seorang lelaki yang kuat? Kuat jasmani maupun rohani. Apa kau ingin aku bersedih di dalam alam keabadian ku? Kau di tempah untuk urusan yang berhubungan dengan keluarga mu. Bukan untuk mengurus urusan yang hanya akan melemahkan semangat mu. Ingat Joe! Kau adalah penerus keluarga William. Kau juga adalah harapan bagi keluarga Smith yang tidak memiliki keturunan lagi. Jangan buang waktu mu hanya untuk urusan cinta. Bagaimanapun, tantangan kedepannya akan sangat berat. Kau harus bisa mengesampingkan urusan pribadi mu demi memenangkan sebuah pertarungan yang apa bila kau tidak bisa menanggulanginya, maka kejayaan keluarga besar mu hanya akan tinggal sejarah saja,"


"Uyut. Apakah Joe salah dalam mencintai seorang wanita? Joe kan juga berhak untuk bahagia. Bukan seperti bidak catur yang bisa maju tanpa bisa mundur."


"Bidak catur memang akan terus maju. Tapi ketika dia sukses mencapai garis akhir, maka dia bukan hanya bisa mundur. Tapi bisa ke kiri, ke kanan, dan juga bisa bergerak secara diagonal. Kau harus mengesampingkan urusan perasaan demi mencapai titik akhir dari sebuah perjalanan. Berapa banyak raja-raja di dunia ini yang hancur hanya karena terlalu mengutamakan kepentingan perasaan terhadap seorang wanita berbanding kemaslahatan rakyatnya. Harusnya kau bisa mencontoh para pendahulu mu. Marc Anthony, Julius Caesar, Edward princess of Wales yang rela turun tahta hanya karena wanita, dan lain sebagainya, adalah beberapa contoh yang bisa kau ambil pelajaran dari kehancuran mereka karena terlalu menurutkan hawa nafsunya kepada mahkluk yang bernama Wanita."


Joe kini jatuh terduduk dengan perasaan campur aduk ketika dia mendapatkan nasehat dari suara tanpa wujud tersebut.


"Kau jangan melakukan kesalahan yang bisa membuatmu menyesal seumur hidup. Lihat kebelakang. Kau memiliki Ayah dan Ibu yang sangat mengandalkan dan membanggakan dirimu. Kau punya kakek William dan Smith. Kau punya seorang paman yang menantikan kesuksesan mu. Kau memiliki tiga orang sepupu yang harus kau makmur 'kan! Kau punya kakek Drako mu. Nenek Roxana mu, Tengku Mahmud mu. Kau juga memiliki orang-orang yang menyayangi mu. Kau ada Future of Company, Dragon Empire, Tiger Syam dan banyak lagi yang apabila ditukar hanya dengan urusan perasaan mu, itu akan terlalu murah. Bahkan sangat-sangat tidak sebanding hanya untuk seorang gadis. Kalau kau kalah, berapa banyak karyawan yang akan kehilangan pekerjaan? Negara akan kekurangan pasukan karena tidak mendapatkan lagi pajak dari perusahaan. Jutaan orang yang pengangguran akan mengutuk dirimu andai kau kalah. Daripada kau mengurus perasaan sialan mu itu, maka sebaiknya kau persiapkan dirimu untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Kau memiliki waktu setidaknya delapan belas bulan lagi. Maka, kembali kepada mu. Apakah kau akan berlarut-larut seperti lelaki yang lemah syahwat atau, kau akan bangkit untuk mengesampingkan hal pribadi demi kepentingan orang banyak. Itu kembali kepadamu. Hanya saja, jika kau menuruti perasaan pribadi mu, maka aku tidak sudi untuk kau ziarahi. Aku menganggap bahwa kau adalah bangkai hidup yang tidak berguna!"


Hening. Tidak ada lagi tanda-tanda bahwa ada orang di sekitarnya.


"Uyut?!"


Tidak ada jawaban.


"Kakek Uyut...!"


Tetap tidak ada jawaban.


Suara petir menggelegar memekakkan gendang telinga. Joe sangat ketakutan dengan suara petir tersebut.


Cetar!


Satu sambaran kilat menghantam tepat di samping tubuh pemuda yang sedang terduduk di lautan pasir tersebut hingga membuat dirinya sungguh sangat terkejut.


"Aaaaaargh.... Mati aku!"


"Heh? Apakah aku tadi bermimpi?" Joe tampak celingukan memandang ke sekeliling.


Dengan mengucak-ngucak matanya dengan punggung tangannya, dia berusaha bangun. Dan ternyata dia tadi tertidur di bawah jendela bagian luar tepat di kamar Tiara.


"Ternyata aku bermimpi. Tapi, mengapa begitu nyata?" Kata Joe yang saat ini mandi keringat.


Dia kini memandangi jendela kamar Tiara yang tertutup rapat.


"Apakah aku sudah terlalu bodoh?" Pikir Joe dalam hati. Dia kini mengeluarkan ponselnya lalu melihat bahwa jam kini menunjukkan angka 4-30.


"Ternyata sudah subuh. Baiklah. Aku rasa sudah cukup," kata Joe sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.


Joe masih memandangi jendela yang tertutup rapat itu. Tak lama dia pun berujar. "Baiklah, Tiara. Aku rasa semuanya sudah cukup. Aku dilahirkan bukan untuk menjadi pengemis. Tapi untuk menjadi seorang raja. Lagi pula, sebuah hubungan itu harus didasari oleh saling jujur dan percaya. Jika sudah tidak ada kesempatan lagi, maka setahun pun akan tetap saja percuma untuk menunggu mu. Maafkan aku. Ini adalah dunia nyata. Bukanlah sebuah drama romantis dimana sang pemeran rela kehujanan demi sebuah kata maaf. Aku tidak seperti itu. Semoga kau bahagia!" Joe lalu berjalan dengan langkah mantap meninggalkan rumah Tiara.


Lamat-lamat dia mendengar kumandang suara Adzan subuh di surau terdekat di kampung Kuala Nipah tersebut.


Sementara itu dari dalam kamar, Tiara yang mendengar suara tegas dari Joe tadi segera membuka pintu jendelanya. Dia berharap bahwa kata-kata dari Joe tadi hanyalah sebuah ancaman. Namun dia sangat kecewa begitu melihat bahwa Joe sudah tidak berada lagi di luar.


"Joe!!!" Panggil Tiara. Namun, tidak ada lagi sahutan.


Entah karena terlalu panik, sampai-sampai Tiara melompati jendela seperti pencuri.


Gadis itu segera berlari ke arah ujung jalan di depan rumahnya. Dia berharap akan melihat kelibat bayangan Joe. Namun tetap saja dia tidak menemukan pemuda itu.


"Mungkin aku terlalu egois," kata Gadis itu dalam hati.


Gadis itu lalu kembali ke rumahnya. Dengan susah payah dia memanjat jendela tersebut untuk masuk kembali ke kamarnya.


Setelah tiba di kamar, dia segera menutup kembali jendela dan bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu dan melaksanakan sholat subuh.


Dalam sholatnya, gadis itu memanjatkan doa semoga Joe selalu dalam keadaan baik-baik saja. Masih belum ada kata terlambat. Dalam hati dia hanya pasrah saja. Kalau Jodoh, pasti akan dipertemukan kembali.


Bersambung...