Joe William

Joe William
Tiba di rumah Ruby



Setelah selesai makan di restoran yang berada di kawasan Quantum entertainment, Sylash yang makan seperti kesurupan hanya bisa bersandar di kursi mobil milik Tye sambil mengusap-usap perutnya.


"Haduh. Enak sungguh makanan di restoran tadi. Belum lagi minumannya. Pelayan di sana ramah-tamah pula walau awalnya nyaris saja kita di usir," Ucap Sylash sambil beberapa kali bersendawa.


Tye dan Joe hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah dari sahabatnya ini.


"Joe. Berapa kandang lagi sapi milik Ayah mu?" Tanya Sylash tiba-tiba.


"Kau ini. Apa maksud mu bertanya tentang sapi milik Ayah ku?" Tanya Joe sambil mendelikkan matanya menatap ke arah Sylash.


"Kapan-kapan, kalau ayahmu menjual sapi lagi, ajak aku makan di restoran itu lagi ya. Seumur-umur aku belum pernah makan di restoran mewah seperti itu. Paling hanya makan di warung pinggir jalan," Sylash tidak malu-malu lagi mengatakan yang sebenarnya kepada kedua sahabatnya itu.


"Kau tenang saja Lash! Kami tidak akan melupakanmu ketika kami makan enak," kata Joe berjanji kepada sahabatnya itu.


Joe ini bukanlah orang yang kikir dan pelit. Dia tidak bisa perhitungan dengan orang-orang di sekitarnya. Selagi orang itu baik terhadap dirinya, maka, sepuluh kali dia akan baik terhadap orang itu.


"Nanti, kau jangan terlalu banyak makan di acara ulang tahun Ruby ya Lash! Hanya itu saja pesan ku. Malu nanti kita jika dilihat oleh mereka," kata Joe memperingatkan sahabatnya yang satu ini.


"Iya. Kau tenang saja lah Joe. Aku tidak akan berbuat yang macam-macam di acara itu nanti,"


"Apakah sudah, Sylash? Kalau sudah, ayo kita berangkat!" Ajak Tye.


"Beli baju, sudah. Ganti pakaian, juga sudah. Makan, sudah. Ok Tye. Ayo kita berangkat!"


Suara gelak tawa ketiga orang itu pun langsung pecah ketika mobil BMW yang dikemudikan oleh Tye itu bergerak meninggalkan kawasan Quantum Jewelry menuju ke perumahan kelas menengah di Quantum Housing.


"Kau bisa mengemudi, Joe?" Tanya Tye.


"Ya bisa. Dulu aku pernah belajar mengemudi. Lalu menabrak pohon kelapa," jawab Joe sambil kenangannya melayang kembali ke masa beberapa bulan yang lalu ketika dia berada di Kuala Nipah.


"Kamu, Sylash? Bisa mengemudi?" Tanya Tye kepada sahabatnya yang satu lagi.


"Bisa lah. Ayah ku punya satu unit mobil Chevrolet butut untuk mengangkut padi. Aku dulu sering belajar mengemudi menggunakan mobil itu. Sebenarnya ada apa sih kau menanyakan kami bisa mengemudi atau tidak?" Tanya Sylash.


"Bukan apa-apa. Hanya ingin menjelaskan kepada para pembaca supaya nanti tidak banyak pertanyaan mengapa tiba-tiba kalian yang miskin, kok bisa tau cara mengemudi. Belajarnya kapan? Maklumlah. Kau tau sendiri lah. Mengkritik dan mencari-cari kesalahan itu adalah pekerjaan yang paling mudah dilakukan. Tapi ketika di balas, malah ngatain kita baper dan tidak bisa menerima kritikan. Kan sialan itu namanya," ucap Tye seadanya.


Joe hanya diam saja tampa menanggapi semua itu. Lagi pula, buat apa dia baper. Bukankah urat baper nya selama ini telah lama putus?


...**********...


Sore kini berubah menjadi malam.


Di salah satu deretan rumah dua lantai di Housing area, sudah tampak beberapa kendaraan baik itu roda empat dan roda dua. Mereka kebanyakan adalah para mahasiswa dari Globe's University yang mendapat undangan untuk menghadiri acara ulangtahun salah satu mahasiswi di sana.


Mahasiswi itu bernama Ruby. Seorang gadis yang menuntut di fakultas ekonomi jurusan akuntansi. Gadis ini bersahabat sejak kecil dengan Tye. Gadis yang peramah, berkulit kuning langsat dan memiliki tinggi badan semampai. Keistimewaan gadis ini adalah, ketika dia tersenyum, maka gula pun akan terasa manis di mulut. Setidaknya begitulah gambaran singkat tentang gadis ini.


Sementara itu, mobil yang dikendarai oleh Tye, Joe dan Sylash telah sampai di rumah dua lantai milik Keluarga Ruby. Setelah memarkir mobil tersebut, mereka bertiga pun langsung keluar dari mobil sambil membawa seuntai bunga dan kotak kado di tangan masing-masing.


Beberapa pasang mata mulai melihat ke arah mereka yang baru saja tiba itu.


Bisik-bisik diantara mereka pun terjadi sambil sesekali menatap dengan tatapan penuh cemoohan kepada ketiga pemuda itu.


"Hei teman-teman.., lihatlah. Pangeran Krypton telah sampai," kata salah seorang pemuda kepada temannya.


"Hi, Tye. Masih betah saja kau memakai mobil tua milik ayah mu itu. Aku khawatir sebentar lagi ayah mu akan datang kemari sambil marah-marah lalu menjewer telinga mu seperti beberapa waktu yang lalu," kata pemuda di sebelah pemuda yang berkata pertama tadi.


Tye.., dia sama sekali tidak menanggapi ocehan dari pemuda barusan. Baginya, lebih baik diam daripada mencari perkara dengan mereka. Karena, mereka ini adalah anak orang yang berkuasa di Quantum City ini.


"Kemana kau, Tye. Duduk lah dulu bersama kami!" Kata seorang pemuda mencegah sambil menarik kerah baju di bagian belakang milik Tye.


"Lepaskan, Daren! Aku tidak punya urusan dengan mu. Aku datang ke sini hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada sahabat ku!" Tampak Tye berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan pemuda bernama Daren itu di kerah bajunya.


"Lagak mu dari dulu tidak pernah berubah. Pantas saja dari dulu sahabat mu selalu gembel. Lihatlah penampilan kedua sahabatmu itu. Yang satu memakai pakaian bermerek. Tapi tetap saja gayanya kampungan. Yang satu lagi lebih mengenaskan. Baju T-shirt dan celana sobek. Apa dia kira ini tempat pertunjukan sirkus?" Kata Daren sambil memperhatikan keadaan Joe dari atas sampai ke bawah.


"Bukan urusan mu, Daren. Terserah aku, mau berteman sama siapa saja yang aku suka. Aku sadar akan kekurangan ku. Yang terpenting bagiku, aku tidak seperti dirimu yang menjilat kepada tuan muda dari keluarga Clifford," balas Tye tanpa tedeng aling-aling.


"Kurang ajar kau, Tye. Berani sekali kau menghina ku. Aku pastikan kau akan mendapatkan pelajaran dari ku," kata Daren lalu bergegas bangun dari duduknya dengan niat untuk menarik kerah baju Tye agar dia jatuh terduduk. Namun, belum lagi dia sempat bertindak, satu tangan yang kokoh telah meremas tangannya yang mencengkram kerah baju milik Tye.


"Lepaskan saja, Sobat! Atau tangan mu ini akan aku remukkan?!"


Ketika Daren memandang ke arah pemilik tangan yang meremas tangannya, dia melihat seorang pemuda yang dia katakan kampungan tadi sedang menatap kearahnya dengan mata merah memancarkan aura yang mengerikan.


Sylash tidak bisa diam melihat sahabatnya diperlakukan seperti itu. Oleh karena itu, dia langsung bertindak menahan agar Daren tidak menarik kerah baju Tye dengan paksa, yang bisa menyebabkan sahabatnya itu akan jatuh terduduk. Jika itu terjadi, pasti wajah sahabatnya itu akan terasa seperti dilumuri dengan kotoran dan itu pasti sangat memalukan.


Jangan lupa like setelah selesai baca!


Bersambung...