
Kriiiiiing...
Kriiiiiing..!
"Hallo pak Lamhot."
"Bang Tigor. Mereka telah membuat persiapan. Terhitung sampai siang ini, sudah ada 15 unit mobil yang di sewa oleh orang-orang asing ini dengan berbagai alasan." Kata lelaki yang disebut oleh Tigor dengan nama Lamhot itu.
Lamhot, adalah anak buah Lalah yang ditugaskan untuk mengurus perusahaan penyewaan kendaraan roda dua dan empat cabang kota Kemuning.
Di kota Kemuning ini mereka membuka empat cabang rental di setiap pelosok kota. Jadi, kemanapun mereka menyewa, jatuhnya ya ke perusahaan milik Lalah itu juga.
"Hmmm.. terimakasih pak Lamhot. Berarti banyak juga jumlah mereka ini." Kata Tigor.
"Setiap mobil katakanlah bisa ditumpangi sebanyak empat orang. Empat dikali lima belas, berarti ada enam puluh orang." Jawab Lamhot.
"Gila. Berarti mereka benar-benar ingin membunuh dan berhasil. Hanya untuk mengejar satu orang anak remaja saja, mereka mengerahkan sampai enam puluh orang pembunuh bayaran. Tidak masuk akal." Kata Tigor sambil menggeram.
"Mereka ini mungkin orang berduit bang. Lagi pula mengapa heran? Sebelumnya mereka pasti sudah melakukan penelusuran terlebih dahulu tentang siapa-siapa saja yang memiliki hubungan baik dengan Tuan besar. Makanya mereka mengirim banyak orang. Karena mereka sudah menduga akan menghadapi kekuatan kita di sini." Kata Lamhot.
"Masuk akal juga teori mu itu. Baiklah pak Lamhot. Bersikap wajar saja ya. Biarkan mereka tau bahwa mereka salah sasaran." Kata Tigor sebelum mengakhiri panggilan telepon itu.
"Bagaimana Paman?" Tanya Joe yang berada di kursi dengan Aline.
"Mereka menyewa mobil di perusahaan mertuanya Roger yang berada di kota ini, Ketua. Jumlah yang cukup ramai sebenarnya jika di pikir. Hanya untuk menargetkan satu orang, mereka sampai mengirim sekitar enam puluh orang ke kota Kemuning ini. Ini masih hitungan kasar." Kata Tigor menjelaskan.
Prak!
"Sialan mereka itu. Ku bunuh mereka dan sisakan hanya satu orang saja untuk mengirim berita ke MegaTown bahwa orang-orang yang mereka kirim sudah mati tanpa kubur di perbatasan kota Batu dan kota Kemuning ini." Kata Joe sambil membanting gelas di atas meja sehingga pecah berderai.
"Semuanya bersiap sedia! Sebelum kita berangkat, buat satu kehebohan agar aku menjadi pusat perhatian. Biarkan semua orang tau bahwa aku akan berangkat menuju ke kota Tasik Putri. Aku ingin mereka membuntuti kita." Kata Joe memberi perintah.
"Siap ketua!" Kata Tigor, Ameng, Andra, Sugeng dan yang lainnya.
"Bibi Aline tidak boleh pergi kemana-mana! Sekarang aku sedang serius dan jangan ada yang membantah perkataan ku. Serahkan semua alat telekomunikasi anda kepada ku! Maaf bukannya aku tidak mempercayai anda. Tapi aku harus lebih berhati-hati dalam masalah ini." Kata Joe sambil menampung tangannya ke arah Aline.
Mendengar permintaan ini, Aline hanya menurut saja dan langsung menyerahkan tas tangan bawaannya kepada Joe William.
"Terimakasih atas pengertian anda Bibi." Kata Joe sambil membungkuk hormat. Lalu bergegas keluar dari kamarnya itu.
Tak lama setelah Joe dan yang lainnya berangkat, kini sekitar dua puluh orang lelaki berbadan tegap berdatangan ke kamar tempat Joe menginap tadi.
"Maaf Miss Aline. Kami adalah pengawal yang di tugaskan oleh Ketua untuk menjaga keselamatan anda." Kata mereka kompak.
Mendengan ini, Aline hanya mengangguk saja lalu mengalihkan perhatiannya ke arah luar melalui jendela kamar hotel tersebut.
...*********...
Perbuatan pemuda itu persis seperti orang yang kurang waras. Namun siapa tau dalam hatinya kini sedang panas membara dan sudut ekor matanya tidak henti-hentinya melirik ke kiri dan ke kanan memperhatikan setiap pergerakan.
"Menargetkan aku seperti binatang buruan? Kalian salah besar. Setelah ini, gantian aku yang akan menargetkan kalian." Kata pemuda itu dalam hati.
"Paman. Perhatikan di bagian penginapan ujung sana itu! Ada empat orang lelaki yang kemarin berada di depan Tower apartemen." Bisik Joe kepada Tigor dan Ameng.
"Benar Ketua. Mereka terus memperhatikan kita." Kata Tigor pula.
"Berpura-pura saja tidak mengetahui!" Kata Joe.
Setelah mereka tiba di area parkir, Joe pun langsung melompat dari troli yang dia naiki dan di dorong oleh Ameng tadi lalu memberi kode kepada Tigor.
Tigor yang mengerti tentang isyarat ini langsung berkata dengan keras. "Kalian jaga keamanan di Martins Hotel ini! Kami akan berangkat dulu ke kota Kemuning untuk menemani Tuan muda Joe William, putra dari Jerry William dari Starhill untuk meninjau proyek yang ada di sana." Kata Tigor dengan suara yang sangat-sangat dikeraskan sehingga terdengar oleh semua orang yang berada di sekitar area parkir depan Martins Hotel tersebut.
"Siap Bang Tigor!" Kata mereka serentak.
"Silahkan ketua!" Kata Ameng membukakan pintu mobil untuk putra Jerry William itu.
Saat ini, sambil mengedipkan matanya, Joe pun memasuki mobil tersebut lalu di susul oleh Tigor di sampingnya, Ameng di posisi Co-pilot dan seorang lagi sopir.
Beberapa menit berselang, kini rombongan Joe William dan Tigor yang berjumlah tiga unit mobil itu pun bergerak perlahan meninggalkan area parkir Martins Hotel menuju jalan raya lalu segera mengarah ke jalan yang menghubungkan tiga kota besar lainnya yaitu kota Batu, Kota Tasik Putri dan Dolok ginjang.
"Sean. Mereka sudah mulai bergerak."
Tampak seseorang yang duduk di sebuah restoran dekat Martins Hotel itu melalui pesan suara.
"Ya. Aku juga melihatnya."
Kini lelaki yang berada di restoran itu langsung membayar makanya, kemudian bergegas menghampiri keempat orang asing yang berada di penginapan sebrang jalan sana.
"Bagaimana Basten?" Tanya salah seorang dari keempat lelaki yang berada di depan penginapan itu kepada lelaki yang baru tiba dari restoran tadi.
"Benar seperti yang diberitakan oleh mereka semalam bahwa mereka hari ini memang memiliki agenda untuk meninjau langsung proyek real estate yang berada di kota Tasik Putri." Jawab lelaki bernama Basten itu.
"Bagus. Hahaha. Segera kirim pesan di group! Suruh mereka bersiap-siap! Lima menit dari sekarang, kita bergerak menyusul mereka lalu seperti yang telah kita rencanakan, cegat mereka di perbatasan kota Batu." Kata lelaki bernama Sean itu sambil tertawa senang.
Dalam hatinya saat ini, jutaan Dollar sedang menunggu mereka karena berhasil dalam menjalankan tugas untuk membunuh putra Jerry satu-satunya itu.
Jika dikaji dengan nalar yang dangkal, memang tidak sulit untuk menuntaskan tugas ini dengan tingkat kesuksesan yang menurut pemikiran mereka sama sekali tidak sulit dan pasti akan berhasil tanpa hambatan yang berarti. Hal ini wajar karena menurut jumlah orang, mereka unggul jauh dengan lima belas kendaraan dan yang akan mereka cegat, hanyalah orang-orang yang menggunakan tiga kendaraan saja. Mereka tidak menghitung sopir dan Joe William sendiri. Ini karena mereka menganggap bahwa Joe hanyalah seorang anak remaja yang pastinya sangat mudah untuk di bunuh.
Lima menit dari Basten mengirim pesan suara tadi, kini tampak lima kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi menyusul rombongan Tigor. Di susul lima unit kendaraan lagi dan dalam jarak waktu beberapa menit kemudian, tampak lima unit kendaraan lagi berangkat menuju jalur yang sama yaitu Jalan raya penghubung tiga kota besar.
...BERSAMBUNG...