
Malam itu, rombongan yang terdiri dari ratusan orang itu akhirnya mendirikan tenda besar di halaman depan rumah Tengku Mahmud. Hal ini karena rumah tua milik lelaki yang juga sudah sangat tua namun memiliki jiwa muda itu tidak akan sanggup menampung banyaknya manusia.
Kini, tiba lah bagi semua orang untuk memberikan hadiah kepada Joe di hari ulangtahunnya ini.
Di mulai dari Roger yang ketika itu sempat mendapat hukuman dari Joe atas kejadian di pesta rakyat beberapa hari yang lalu.
Sambil mendehem beberapa kali menghilangkan perasaan malu di hatinya, Roger pun akhirnya menghampiri Joe lalu berkata. "Ketua. Maafkan atas kesalahan saya beberapa hari yang lalu. Sebagai tanda permintaan maaf dari saya sekaligus untuk merayakan hari ulang tahun ketua, dengan ini saya memberikan lampu antik ini kepada ketua." Kata Roger yang di sambut oleh Joe dengan senyuman.
"Terimakasih paman Roger. Yang lalu itu biarkan saja berlalu." Kata Joe yang memang memiliki sifat pemaaf dan tidak pendendam.
"Ketua. Karena ketua sangat suka dengan lampu, ini saya hadiahkan sebuah lampu semprong yang tidak kalah uniknya dari lampu milik Roger." Kata Tigor sambil menyerahkan sebuah lampu semprong berwarna biru kepada Joe.
"Terimakasih paman Tigor." Kata Joe sambil memaksa tersenyum.
Setelah Roger dan Tigor selesai dengan hadiahnya, kini tiba pula giliran Ameng yang tampak sedang mengangkat sebuah kotak berukuran besar.
"Ketua. Ini adalah hadiah lampu Petromax dari saya. Lampu ini dulu pernah di pakai oleh Sultan di masa Belanda. Harap Ketua sudi menerima hadiah ini." Kata Ameng pula.
"Oh iya paman Ameng. Terimakasih." Kata Joe.
Kali ini dia tidak bisa lagi menyembunyikan kerutan pada keningnya.
"Mengapa hadiahnya lampu semua?" Pikirnya dalam hati.
Setelah Ameng, kini masuk giliran Andra dan Hendro pula.
"Ketua. Karena anda suka lampu, saya dan putra saya sengaja memesan lampu ini dari Baghdad Irak. Lampu ini adalah lampu Aladin tapi sudah tidak memiliki jin lagi." Kata Andra pula.
Kali ini bukan hanya Joe saja yang mengernyitkan kening. Jerry, Clara dan semua rombongan dari Starhill pun ikut mengernyitkan kening karena merasa heran dengan hadiah ini.
Selesai dengan Andra dan Hendro, kini giliran Namora pula yang maju memberi hadiah.
"Ketua. Ini adalah hadiah yang tidak berharga dari saya. Harap Ketua sudi menerima. Jangan lihat dari bentuk nya. Ini adalah lampu teplok yang saya bikin sendiri. Sumbunya dari sumbu kompor mendiang kakek saya. Sedangkan tabung nya terbuat dari kaleng susu cap Nona. Harap tuan Sudi menerima." Kata Namora pula.
Kali ini bukan hanya Joe yang tersenyum kecut. Bahkan Tengku Mahmud pun ikut memperhatikan dengan bibir komat-kamit seperti membaca mantra.
Satu persatu mereka memberikan hadiah kepada Joe William. Dan semua hadiah itu adalah lampu dengan berbagai model dan bentuk.
"Ketua. Karena di sini lumayan tidak terang, bagaimana jika kita nyalakan saja pelita yang kami bawa tadi?" Tanya Ameng.
"Oh. Iya! Silahkan paman!" Kata Joe.
Beruntung rumah Kakek Tengku Mahmud tidak masuk listrik. Andai keadaan saat ini terang benderang, sudah pasti mereka akan melihat kerutan di kening Joe karena merasa heran dengan hadiah dari mereka ini.
"Maaf ketua. Memang memerlukan tenaga serta kesabaran yang ekstra." Kata Ameng mulai berkeringat memompa lampu Petromax itu.
Setelah suasana menjadi terang benderang, kini tibalah giliran Tengku Mahmud pula yang memberikan hadiah kepada Joe.
Tengku Mahmud kini mengeluarkan sebuah peti kecil terbuat dari kayu Cendana, lalu membuka peti tersebut.
"Joe. Kau sudah mengakhiri masa belajar mu. Namun kau tidak boleh merasa bahwa kau telah tamat. Hadiah dari ku ini berupa senjata tajam." Kata Tengku Mahmud sambil mengeluarkan sebilah pisau terbuat dari emas. Pisau ini dulunya pernah dia pinjamkan kepada Tigor. Kini dia berencana akan mewariskan senjata pusaka tersebut kepada Joe. Muridnya satu-satunya.
"Pisau ini bernama Rencong. Ini adalah senjata tradisional dari Aceh. Jika kau terdesak dan dalam pertarungan jarak dekat, senjata seperti ini sangat berguna sekali. Namun kau jangan sesekali mencabut senjata ini jika kau benar-benar merasa tidak perlu. Karena setiap senjata ini di cabut, dia harus meminum darah. Atau, kau sendiri yang akan celaka." Kata Tengku Mahmud memperingatkan membuat buku roma Joe William langsung berdiri.
Jelas lah dia tau bahwa perkataan dari Tengku Mahmud ini bukanlah omong kosong belaka. Jika orang tua itu sudah berkata dengan keseriusan yang seperti itu, berarti itu adalah peringatan yang tidak boleh untuk dilanggar.
"Ambil peti kecil pemberian dari Malik. Sandingkan rencong ini dengan belati peninggalannya!"
"Baik Kek." Kata Joe lalu segera masuk ke dalam rumah.
Tak lama kemudian dia pun keluar lagi dengan membawa peti yabg sedikit lebih besar dari peti tempat rencong milik Tengku Mahmud tadi.
Dengan perasaan yang sangat sayang, Joe lalu membuka peti peninggalan mendiang kakek Uyut nya itu lalu menerima Rencong emas dari Tengku Mahmud kemudian meletakkannya berdampingan dengan belati bergagang kepala ular kobra itu.
"Kini senjata mu sudah lengkap. Bola besi, dua belas jarum perak, dan sepasang pisau emas. Hati-hati dengan keempat senjata itu terutama jari hantu yang sudah kau kuasai. Jika kau tidak mampu menakar tenaga, kau pasti akan membunuh orang. Makanya rajin-rajinlah berlatih agar kau bisa menakar seberapa tenaga yang akan kau keluarkan." Kata Tengku Mahmud memberi wejangan.
"Joe akan mengingat semua pesan dari kakek Tengku." Kata Joe sambil bersimpuh lalu mengambil tangan keriput lelaki itu kemudian mencium nya.
"Joe. Kakek tidak bisa memberikan mu sesuatu yang istimewa kecuali sebuah Villa top di Garden Hill. Villa ini di bangun atas permintaan dari ku sendiri dan hanya ada satu-satunya di Garden Hill. Tepatnya di bukit yang memang tanah di perbukitan itu adalah hak milik ayah mu. Ini adalah kunci Villa tersebut. Kelak jika kau kembali dan mengurus bisnis ayah mu di sana, kau bisa menempati Villa itu kapan saja kau mau."
Kali ini Drako pula yang memberikan hadiah kepada cucu satu-satunya itu.
"Joe. Kau sudah berusia genap 17 tahun sekarang. Aku tidak tau batas berapa tahun di negara ini untuk bisa memiliki izin mengemudi. Namun jika itu di Metro City, Starhill, Country home dan sekitarnya, aku bisa mengaturnya. Namun tidak apa-apa jika sekarang aku menghadiahi dirimu sebuah Super Car Ferrari 488 Pista. Saat ini super car itu berada di garasi Villa Garden. Kelak kau bisa menggunakannya sesuka mu." Kata Tuan Syam pula sambil mengerahkan kunci mobil super car itu kepada Joe William.
"Kakek Syam, Kakek Drako, saya cucu mu mengucapkan banyak terimakasih. Tapi apakah ini tidak berlebihan?" Tanya Joe kepada kedua kakek nya itu.
"Hahaha. Apa yang berlebihan? Sudah saatnya kau harus tau siapa dirimu itu. Mungkin kau bangga dipanggil ketua oleh orang-orang dari kota Kemuning dan sekitarnya. Kelak kau akan tau berapa ratus ribu orang yang akan kau ketuai. Ini belum termasuk organisasi tentara bayaran dari Tiger. Memang jumlah mereka tidak sampai sepuluh ribu orang. Namun untuk tugas-tugas tertentu, mereka lebih berbahaya dari pada Ninja Jepang." Kata Drako.
"Namun aku heran. Mengapa hadiah yang kau dapatkan di hari ulangtahun mu kali ini kebanyakan lampu?" Tanya Tuan Syam.
"Hahaha. Panjang ceritanya kek. Tapi memang aku sangat menyukai lampu antik." Jawab Joe membuat Roger kembali menarik nafas lega.
Andai Joe menceritakan semua kejadian antara dirinya dengan Roger, bukan mustahil saat ini Roger akan dilemparkan ke dalam laut oleh mereka.
Bersambung...